“ Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al A’raaf [7] : 36)
Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudhu aku kau sentuh dalam keadaan suci
Aku kau pegang, kau jungjung dank au pelajari
Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra.
Sekarang engkau telah dewasa…
Nampaknya kau sudak tak berminat lagi padaku
Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah?
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu
Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?
Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya
Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
Kadang kala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa
Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dan kesepian
Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan
Dulu..Pagi-pagi..surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau…
Sekarang, pagi-pagi sambil minum kopi, engkau baca Koran atau nonton berita
Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia
Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa
Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan…
Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surah-surahku (Basmallah)
Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
Tak ada kaset yang berisi ayat Allah yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan, radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan stasiun radio yang senantiasa melantunkan ayatku
Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja
Di komputermupun kau putar musik favoritmu
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun
Email temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu
Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku
Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV
Menonton pertandingan Liga Italia, musik atau film dan sinetron laga
Didepan computer berjam-jam engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah
Waktupun cepat berlalu..aku menjadi semakin kusam dalam lemari
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali
Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancer lagi setiap membacaku
Apakah Koran, TV, Radio, Komputer dapat memberimu pertolongan?
Bila engkau dikubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba
Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhan-Nya
Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya
Sekarang engkau enteng membuang waktumu
Setiap saat berlalu…kuranglah jatah umurmu
Dan akhirnya kubur senatiasa menunggu kedatanganmu
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu
Bila engkau baca selalu dan engkau hayati…
Di kuburmu nanti…
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
Yang akan membantu engkau membela diri
Bukan Koran yang kau baca yang akan membantumu dari perjalanan di alam akhirat
Tapi Akulah “Qur’an” kitab sucimu
Yang senantiasa menemani dan melindungimu
Peganglah aku lagi…bacalah kembali aku setiap hari
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
Yang berasal dari Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui
Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah
Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu
Sentuhlah aku kembali
Baca dan pelajari lagi aku, setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu…dulu sekali…
Waktu engkau masih kecil, lugu dan polos
Di surau kecil kampungmu yang damai
Jangan engkau biarkan aku sendiri…Dalam bisu dan sepi
Maha benar Allah, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Minggu, 16 Maret 2008
KEALPAAN MANUSIA
Saat kau bangun pagi hari, Dia memandangmu dan berharap engkau berbicara kepada-Nya, walaupun hanya sepatah kata. Meminta pendapat-Nya atau bersyukur kepada-Nya atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin. Tetapi Dia melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk beraktivitas. Dia kembali menanti saat engkau bersiap, Dia tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapa-Nya, tetapi engkau terlalu sibuk…..
Di satu tempat di sebuah kursi engkau duduk selama limabelas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian Dia melihat engkau menggerakkan kakimu. Dia berfikir engkau akan berbicara kepada-Nya, tetapi engkau berlari ke telepon dan menghubungi seorang teman untuk mendengarkan kabar terbaru.
Dia melihatmu ketika engkau pergi beraktivitas dan Dia menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu Dia berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepada-Nya.
Sebelum makan siang Dia melihatmu memandang sekeliling. Mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada-Nya, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara menyebut nama-Nya dengan lembut sebelum menyantap rizki yang Dia berikan. Tetapi engkau tidak melakukannya. Masih ada waktu yang tersisa dan Dia berharap engkau akan berbicara kepada-Nya, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan televisi. Engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yang ditampilkan. Kembali Dia menanti dengan sabar saat engkau menonton televisi dan menikmati makananmu, tetapi engkau tidak berbicara kepada-Nya.
Saat tidur, Dia pikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tanpa sepatah katapun nama-Nya kau sebut. Engkau menyadari bahwa Dia selalu hadir untukmu.
Dia telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. Dia bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. Dia sangat menyayangimu. Setiap hari Dia menantikan sepatah kata, doa, pikiran dan syukur dari hatimu.
Keesokan harinya engkau bangun kembali dan kembali Dia menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberikan sedikit waktu untuk menyapa-Nya. Tapi yang Dia tunggu tak kunjung tiba, tak jua kau menyapa-Nya. Subuh..Dzuhur..Ashar…Magrib…Isya dan Subuh kembali, kau masih tak mengacuhkan Dia. Tak ada sepatah kata, tak ada seucap doa, dan tak ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepada-Nya.
Apa salah-Nya padamu? Rizki yang Dia limpahkan, kesehatan yang Dia berikan, harta yang Dia relakan, makanan yang Dia hidangkan, teman-teman yang Dia rahmatkan. Apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepada-Nya?!
Percayalah Dia selalu mengasihimu, dan Dia tetap berharap suatu saat engkau akan menyapa-Nya, memohon perlindungan-Nya, bersujud menghadap-Nya, Dia yang selalu menyertaimu setiap saat. Dialah Allah SWT.
Di satu tempat di sebuah kursi engkau duduk selama limabelas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian Dia melihat engkau menggerakkan kakimu. Dia berfikir engkau akan berbicara kepada-Nya, tetapi engkau berlari ke telepon dan menghubungi seorang teman untuk mendengarkan kabar terbaru.
Dia melihatmu ketika engkau pergi beraktivitas dan Dia menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu Dia berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepada-Nya.
Sebelum makan siang Dia melihatmu memandang sekeliling. Mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada-Nya, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara menyebut nama-Nya dengan lembut sebelum menyantap rizki yang Dia berikan. Tetapi engkau tidak melakukannya. Masih ada waktu yang tersisa dan Dia berharap engkau akan berbicara kepada-Nya, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan televisi. Engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yang ditampilkan. Kembali Dia menanti dengan sabar saat engkau menonton televisi dan menikmati makananmu, tetapi engkau tidak berbicara kepada-Nya.
Saat tidur, Dia pikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tanpa sepatah katapun nama-Nya kau sebut. Engkau menyadari bahwa Dia selalu hadir untukmu.
Dia telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. Dia bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. Dia sangat menyayangimu. Setiap hari Dia menantikan sepatah kata, doa, pikiran dan syukur dari hatimu.
Keesokan harinya engkau bangun kembali dan kembali Dia menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberikan sedikit waktu untuk menyapa-Nya. Tapi yang Dia tunggu tak kunjung tiba, tak jua kau menyapa-Nya. Subuh..Dzuhur..Ashar…Magrib…Isya dan Subuh kembali, kau masih tak mengacuhkan Dia. Tak ada sepatah kata, tak ada seucap doa, dan tak ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepada-Nya.
Apa salah-Nya padamu? Rizki yang Dia limpahkan, kesehatan yang Dia berikan, harta yang Dia relakan, makanan yang Dia hidangkan, teman-teman yang Dia rahmatkan. Apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepada-Nya?!
Percayalah Dia selalu mengasihimu, dan Dia tetap berharap suatu saat engkau akan menyapa-Nya, memohon perlindungan-Nya, bersujud menghadap-Nya, Dia yang selalu menyertaimu setiap saat. Dialah Allah SWT.
Selasa, 04 Maret 2008
NONTON AYAT-AYAT CINTA...BOLEH NGGAK YAH?
“Kalo gue nonton ayat-ayat cinta boleh nggak yah?” Tanya temen gue yang cina. Pertanyaan ini dia lontarin waktu gue lagi ngumpul sama temen-temen gue yang cina semua. Bayangkan satu geng “riweuh” enam orang, yang kulitnya berwarna cuma gue doang. Cina dan sipit semua. Gue juga sipit sih tapi item. Item banget malah. Kebayang dong kontrasnya kayak apa.
“Ya boleh lah! Kenapa juga musti gak boleh. Kan Cuma tontonan, hiburan, dan intermezo aja” Jawab gue.
“Nggak boleh tau, haram. Ntar Yesus marah” Kata temen gue cina satunya sambil ketawa ngakak….
“Haram….lo pikir daging babi” Gue ngomong sambil ketawa nggak kalah kerasnya. Gue lupa babi kan haram buat gue doang sementara temen gue yang lima, babi jadi makanan favoritnya apalagi di nasi campur. Part body favorit mereka di nasi campur itu adalah telinga. Igh…..kebayang yah pas digigit bunyi kriuk-kriuk gitu. Alhamdulillah gue sampe sekarang belom tergoda buat nyobain tuh makanan meski mereka bilang enaknya setengah gila. Mudah-mudahan gue nggak sampe tergoda. Kok gue jadi ngomongin babi yah? Padahalkan mo ngomongin acara nonton ayat-ayat cinta ma temen-temen gue yang cina.
Dari awal premier Ayat-Ayat Cinta, mereka udah ngajakin gue buat nonton bareng. Sebenernya gue bukan gak mau tapi gue udah kadung janji sama temen kuliah S1 gue mau nonton bareng. Jadi maaf ya, kali ini gue nggak nonton bareng geng “riweuh” ini.
Di hari H gue mo nonton ayat-ayat cinta itu ternyata penuh banget donk dimana-mana. Ngantri jam setengah 2 aja udah buat yang jam 8 and setengah 11 malem gitu. Yaaaaaaaaaaa BeTe aja. Dan lo tau ga sih, waktu temen gue itu dateng dia bikin pengakuan kalo dia sebenernya udah nonton ayat-ayat cinta. WHAT!!!!!!!!!! Maksud lo? Tapi kayaknya kalo kebagian nonton yang jam 2 apa jam 5 dia mo nonton lagi deh (meureun). Kan kalo dia bilang dari kapan tau , gue gak musti nolak ajakan temen-temen gue yang lain yang juga pada ngajakin nonton, termasuk geng cina gila itu.
Meskipun nggak jadi nonton tapi gue sedikit have fun sama temen S1 gue itu. Sedikit yah soalnya di mindset gue hari itu mo nonton. Secara temen-temen gue yang lain udah pada euphoria nyeritain tuh film. Malah si Bayu sms gue 2 halaman nyeritain pengalaman dia nonton ayat-ayat cinta sambil mewek-mewek. Sms 2 halamannya sih nggak masalah, tapi sms jam setengah 1 malemnya itu yang bikin BT. Tunduh nyaho! BTnya lagi 3 hari berturut-turut gue ketemu dia, yang dia omongin cuman film itu aja, secara gue belom nonton gitu ya. Sialan. Dasar Bayu Sinting. Dia bilang gue nggak up to date, nggak maen. Nggak sopaaaaannnnnnnnnn!
Di hari H yang gue nggak jadi nonton, sepulang jalan sama temen S1 gue itu, si Arvin (salah satu cina gila pengisi geng “riweuh”) nelpon. Katanya anak-anak cina itu ngajakin gue clubbing ntar malem. Clubbing? Mauuuuuuuuuuuuuuuuu.Hehehehehe. Tetep yah kalo gue mah diajak clubbing teh meni semangat 45. Yudaaaa!. Pas gue Tanya si Arvin kalo geng riweuh udah pada nonton ayat-ayat cinta ato belom, ternyata jawabannya menggembirakan. MEREKA BELOM NONTON. Horeeeeeeeee. Gue ajakin aja mereka sekalian nonton sebelom pergi clubbing (kalo kebagian tiket).
Alhamdulillah ternyata Allah baik ma gue, gue bisa nonton di BSM yang jam sebelas seperempat. Tiket udah di tangan meski duduknya ketiga dari depan. Nasib. Gak papa yang penting bisa nonton dan clubbing at the same time. Di saat jalan ke bioskop itulah di mobil kita ketawa-tawa gara-gara polemik kalo cina boleh nggak nonton ayat-ayat cinta? Haram gak ya? Dasar orang-orang setengah waras. Kalo gue sih tetep, nggak waras sama sekali. Wakakakakak.
Gue nggak mau nyeritain gimana tuh film karena gue yakin semua orang pasti udah pada nonton. Buat gue sih rame, meskipun jauh yah sama novelnya. Temen-temen gue yang cina juga bilang seru sama tuh film. Makanya pas keluar dari bioskop si cina-cina itu pada ngaku-ngaku semua kalo mereka itu Fachri. Gila kali ya……Si Tommy pas kita lagi ketawa-tawa tiba-tiba nyeletuk “Aduh kayaknya Yesus marah deh sama gue gara-gara gue nonton film islam. Apalagi sekarang gue jadi Fachri”. Idih Najis.
Di mobil kita masih ketawa-ketawa padahal malem buta. Nggak buta denk, buat ukuran malam minggu jam 1 mah malam baru meletek istilahnya, baru mekar. Ya iya lah, jam 1 kan tempat clubbing baru warming up kalo istilah si Arvin. Gue dengan sepenuh hati tiba-tiba nunjuk ke arah dashboard dan bilang “ih…takut dimarahin Yesus udah ngajak kalian nonton ayat-ayat cinta. Barusan dia melotot sama gue” ( di dashboard mobil si Arvin kan ada boneka porselen Yesus yang cuma palanya doank). Anak-anak pada ngakak sambil nimpukin gue. “Tenang, Yesus nggak bakalan marah sama kita, karena kita udah kembali ke jalan yang lurus” si Andrew nimpalin. “Iya sekarang kita udah kembali ke jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang di berkati. Jalan ke tempat clubbing”. Gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Untung gue punya banyak temen. Nggak jadi nonton sama temen yang itu masih ada temen-temen yang lain. Ughhhh I love for being me!
“Ya boleh lah! Kenapa juga musti gak boleh. Kan Cuma tontonan, hiburan, dan intermezo aja” Jawab gue.
“Nggak boleh tau, haram. Ntar Yesus marah” Kata temen gue cina satunya sambil ketawa ngakak….
“Haram….lo pikir daging babi” Gue ngomong sambil ketawa nggak kalah kerasnya. Gue lupa babi kan haram buat gue doang sementara temen gue yang lima, babi jadi makanan favoritnya apalagi di nasi campur. Part body favorit mereka di nasi campur itu adalah telinga. Igh…..kebayang yah pas digigit bunyi kriuk-kriuk gitu. Alhamdulillah gue sampe sekarang belom tergoda buat nyobain tuh makanan meski mereka bilang enaknya setengah gila. Mudah-mudahan gue nggak sampe tergoda. Kok gue jadi ngomongin babi yah? Padahalkan mo ngomongin acara nonton ayat-ayat cinta ma temen-temen gue yang cina.
Dari awal premier Ayat-Ayat Cinta, mereka udah ngajakin gue buat nonton bareng. Sebenernya gue bukan gak mau tapi gue udah kadung janji sama temen kuliah S1 gue mau nonton bareng. Jadi maaf ya, kali ini gue nggak nonton bareng geng “riweuh” ini.
Di hari H gue mo nonton ayat-ayat cinta itu ternyata penuh banget donk dimana-mana. Ngantri jam setengah 2 aja udah buat yang jam 8 and setengah 11 malem gitu. Yaaaaaaaaaaa BeTe aja. Dan lo tau ga sih, waktu temen gue itu dateng dia bikin pengakuan kalo dia sebenernya udah nonton ayat-ayat cinta. WHAT!!!!!!!!!! Maksud lo? Tapi kayaknya kalo kebagian nonton yang jam 2 apa jam 5 dia mo nonton lagi deh (meureun). Kan kalo dia bilang dari kapan tau , gue gak musti nolak ajakan temen-temen gue yang lain yang juga pada ngajakin nonton, termasuk geng cina gila itu.
Meskipun nggak jadi nonton tapi gue sedikit have fun sama temen S1 gue itu. Sedikit yah soalnya di mindset gue hari itu mo nonton. Secara temen-temen gue yang lain udah pada euphoria nyeritain tuh film. Malah si Bayu sms gue 2 halaman nyeritain pengalaman dia nonton ayat-ayat cinta sambil mewek-mewek. Sms 2 halamannya sih nggak masalah, tapi sms jam setengah 1 malemnya itu yang bikin BT. Tunduh nyaho! BTnya lagi 3 hari berturut-turut gue ketemu dia, yang dia omongin cuman film itu aja, secara gue belom nonton gitu ya. Sialan. Dasar Bayu Sinting. Dia bilang gue nggak up to date, nggak maen. Nggak sopaaaaannnnnnnnnn!
Di hari H yang gue nggak jadi nonton, sepulang jalan sama temen S1 gue itu, si Arvin (salah satu cina gila pengisi geng “riweuh”) nelpon. Katanya anak-anak cina itu ngajakin gue clubbing ntar malem. Clubbing? Mauuuuuuuuuuuuuuuuu.Hehehehehe. Tetep yah kalo gue mah diajak clubbing teh meni semangat 45. Yudaaaa!. Pas gue Tanya si Arvin kalo geng riweuh udah pada nonton ayat-ayat cinta ato belom, ternyata jawabannya menggembirakan. MEREKA BELOM NONTON. Horeeeeeeeee. Gue ajakin aja mereka sekalian nonton sebelom pergi clubbing (kalo kebagian tiket).
Alhamdulillah ternyata Allah baik ma gue, gue bisa nonton di BSM yang jam sebelas seperempat. Tiket udah di tangan meski duduknya ketiga dari depan. Nasib. Gak papa yang penting bisa nonton dan clubbing at the same time. Di saat jalan ke bioskop itulah di mobil kita ketawa-tawa gara-gara polemik kalo cina boleh nggak nonton ayat-ayat cinta? Haram gak ya? Dasar orang-orang setengah waras. Kalo gue sih tetep, nggak waras sama sekali. Wakakakakak.
Gue nggak mau nyeritain gimana tuh film karena gue yakin semua orang pasti udah pada nonton. Buat gue sih rame, meskipun jauh yah sama novelnya. Temen-temen gue yang cina juga bilang seru sama tuh film. Makanya pas keluar dari bioskop si cina-cina itu pada ngaku-ngaku semua kalo mereka itu Fachri. Gila kali ya……Si Tommy pas kita lagi ketawa-tawa tiba-tiba nyeletuk “Aduh kayaknya Yesus marah deh sama gue gara-gara gue nonton film islam. Apalagi sekarang gue jadi Fachri”. Idih Najis.
Di mobil kita masih ketawa-ketawa padahal malem buta. Nggak buta denk, buat ukuran malam minggu jam 1 mah malam baru meletek istilahnya, baru mekar. Ya iya lah, jam 1 kan tempat clubbing baru warming up kalo istilah si Arvin. Gue dengan sepenuh hati tiba-tiba nunjuk ke arah dashboard dan bilang “ih…takut dimarahin Yesus udah ngajak kalian nonton ayat-ayat cinta. Barusan dia melotot sama gue” ( di dashboard mobil si Arvin kan ada boneka porselen Yesus yang cuma palanya doank). Anak-anak pada ngakak sambil nimpukin gue. “Tenang, Yesus nggak bakalan marah sama kita, karena kita udah kembali ke jalan yang lurus” si Andrew nimpalin. “Iya sekarang kita udah kembali ke jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang di berkati. Jalan ke tempat clubbing”. Gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Untung gue punya banyak temen. Nggak jadi nonton sama temen yang itu masih ada temen-temen yang lain. Ughhhh I love for being me!
KENAPA SIH MUSTI NGELUH?
Kenapa sih musti ngeluh? Sering kali pertanyaan itu gue ungkapkan sama diri gue sendiri. Memang gue sadari, salah satu hobi gue mungkin ngeluh meskipun ngeluhnya belom nyampe stadium akut. Tapi tetep aja gue suka ngerasa jengah (kalo lagi sadar) tapi sesaat kemudian pasti ngeluh lagi.
Biasanya semua hal yang terjadi sama kehidupan gue hari itu pasti gue keluhin, untungnya gue ngeluh gak sama orang lain. Ditelen sendiri aja. Kalo gue ngeluh-ngeluh ke orang mungkin gue bisa digampar kali ya sama mereka saking bosennya denger gue ngeluh. Banyak sih sahabat-sahabat gue yang mau denger keluhan-keluhan gue meski gue nggak tau di dalam hatinya mereka kesel apa nggak. Pokoknya waktu gue ngeluh mereka musti denger, tapi kalo mereka lagi ngeluh gue kadang suka cuek-cuek aja (salah satu kelemahan gue lagi).
Berdasarkan ilmu psikologi (cieee), mengeluh itu berasal dari ketidakpuasan kita akan sesuatu hal yang terjadi atau menimpa sama diri kita. Padahalkan manusia adalah biangnya ketidakpuasaan dalam artian selalu merasa tidak puas akan sesuatu hal, jadi normalkan kalo manusia itu sering ngeluh? Kok gue jadi nyari pembenaran yah, padahal niatnya gue mau mereview sifat gue yang kadang ganggu. Maaf.
Kalo dipikir-pikir kenapa gue musti ngeluh yah sama semua hal yang menimpa diri gue padahal menurut sebagian besar orang, gue itu udah sangat beruntung. Lahir dari keluarga yang baik, kehidupan lumayan mapan, pendidikan oke, pekerjaan lumayan (ada terus), terjebak dalam raga dengan muka nggak jelek-jelek amat, postur lumayan, drama percintaan menyedihkan (masuk beruntung nggak kalo yang ini? My closest friend pasti mengangguk sepenuh hati deh. Nggak sopan!). Kok gue kayak yang ngumbar kelebihan yah, jadi nampak sombong. Sumpah gak ada niat lho! Kelepasan.
Apa sih yang sebenarnya sering gue keluhin? Yang pasti buanyaaaaaaaaaaaaaaak deh. Mulai kok bokap nyokap gue nggak pernah ngertiin gue yah? Kok gue nggak seberuntung orang yah soal kekayaan, kok sekolah gue cuma bisa ampe S2 yah, susah bener nyari sponsor buat S3 yah padahal temen gue yang gak pinter-pinter amat nggak cuma 1 tapi dua yang mau nyeponsorin (dari hati yang ini mah). Kok gue item banget yah? Kok rambut gue nggak bisa digaya-gayain kayak orang sih? Kok muka gue jerawatan yah? Kok gue susah banget langsing yah? padahal udah nggak makan malem dan jogging kayak orang gila (curhat lagi). Kok gue nggak pernah dapet pacar yang serius yah? Kok pacar gue demennya nyakitin hati gue yah? Kok gue masih belom dikasih kesempatan buat nemuin pasangan jiwa yah? Dan seabreg keluhan-keluhan yang lain. Gue yakin yang baca pasti mikir kok keluhan gue banyak banget, padahal itu baru sebagian kecil. Gile, sebagian kecilnya aja segitu, aslinya segimana yah? Makanya lo jalan deh sama gue kapan-kapan pasti lo bakal tau kalo nama tengah gue itu ngeluh. Sifat yang menyebalkan bukan?....Bukan!
Mengeluh memang jadi sifat dasar manusia (terutama gue), tapi kita harus pandai-pandai menyingkapi segala sesuatunya biar kita nggak terus menerus ngeluh. Sedikit mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan sama kita napa…Ingat, Tuhan itu baik dan maha tahu, nggak pernah menzalimi umatnya dan tau apa yang terbaik buat umatnya. Dasar manusianya aja yang sering menyalahartikan maksud yang udah Tuhan gariskan ( I talk to my self!). Selalu ada maksud yang baik dari skenario yang Tuhan kasih buat kita, jadi ngapain musti ngeluh kan? (sebenernya) semua tergantung dari cara kita menyikapinya aja. Kalo kita selalu berfikiran positif dan menganggap bahwa segala sesuatu yang terjadi sama kita merupakan jalan yang terbaik pasti kita nggak bakalan ngeluh deh. Percaya sama gue. Disini gue nggak bermasud menggurui, tapi cuman buat sharing doank. Gue memang sering ngeluh, dan gue udah bisa sedikit memberi obat penawar buat sifat gue yang ini. Nggak haram kok kalo dipraktekkan, mudah-mudahan mujarab.
Gimana cara menghilangkan sifat suka mengeluh kita? Ini versi Yuda yah…….
PERTAMA. Jangan membanding-bandingkan diri kita sama orang lain. Ada pepatah yang bilang kalo rumput tetangga selalu lebih indah dibanding rumput di pekarangan sendiri. Arti pepatah ini, kalo kita selalu membanding-bandingkan diri kita sama orang lain gue jamin pasti kita bakal nggak puas terus dan akhirnya pasti ngeluh. Membadingkan-bandingkan diri dengan orang lain dalam “positive way” itu baik karena bisa meningkatkan motivasi kita buat menjadi lebih baik dan berprestasi. Tapi kalo hasil membandingkan diri itu kita jadi minder dan banyak ngeluh ini yang musti dihindari.
KEDUA. Percaya sama kemampuan diri sendiri. Tuhan menciptakan semua manusia dengan berbagai kelebihan meskipun banyak orang yang gak sadar sama kelebihan yang dimilikinya itu. Dengan percaya sama kemampuan diri sendiri akibat kelebihan yang udah Tuhan kasih, kita pasti nggak bakalan banyak ngeluh deh. Yakin. Selalu tanamkan dalam benak kita bahwa kita pasti mampu menghadapi dan mengerjakan apapun, better than anyone!
KETIGA. Selalu bersyukur atas apa yang udah Tuhan beri. Agama apapun di muka bumi ini mengajarkan bahwa kita harus bersyukur. Hal ini mengandung nilai yang sangat positif. Dengan mensyukuri nikmat Tuhan, kita pasti nggak bakalan ngeluh karena akan muncul kesadaran dalam diri kita bahwa nasib kita lebih baik dari orang lain. Masih banyak kok orang-orang yang gak seberuntung kita. Dengan bersyukurpun kita akan semakin yakin bahwa apa yang kita jalani atau apa yang terjadi sama diri kita sekarang merupakan skenario terindah yang memang udah Tuhan siapkan buat kita.
KEEMPAT. Bergaulah dengan orang-orang dari semua kalangan. Dengan tidak memilih-milih teman kita akan lebih bayak tahu bahwa kadang kita lebih beruntung dibandingkan orang lain. Ketika kita memilih untuk bergaul hanya dengan salah satu golongan saja maka kita akan lebih banyak ngeluh. Kenapa? Manusia cenderung memilih berteman dengan orang-orang yang lebih “baik” setidaknya dengan orang-orang yang memiliki karakter mirip dengan kita. Kalau kita mengkotak-kotakan hidup kita seperti ini niscaya kita akan lebih banyak merasa bahwa temen-temen dari golongan tersebut lebih segalanya dari kita. Inilah pemicu utama ketidakpuasan kita terhadap diri kita sendiri, ujung-ujungnya kita pasti sering ngeluh.
Mengeluh memang sah-sah saja karena itu sangat manusiawi, tapi masalahnya apakah dengan hanya mengeluh semua masalah kita akan teratasi dengan baik? Belum tentu. So saatnya to out of the shell, keluarlah dari cangkang yang mengungkung kita dalam budaya mengeluh. Masih banyak kegiatan yang bisa dilakukan selain mengeluh. Mengeluh hanya akan membuat kita tidak produktif dan hidup dalam ketidaknyamanan. Belajarlah untuk tidak mengeluh! Apabila telah mencoba maka ucapkan selamat datang pada dunia dalam perspektif yang berbeda. Dunia penuh warna pelangi, MeJiKuHiBiNiU.
Biasanya semua hal yang terjadi sama kehidupan gue hari itu pasti gue keluhin, untungnya gue ngeluh gak sama orang lain. Ditelen sendiri aja. Kalo gue ngeluh-ngeluh ke orang mungkin gue bisa digampar kali ya sama mereka saking bosennya denger gue ngeluh. Banyak sih sahabat-sahabat gue yang mau denger keluhan-keluhan gue meski gue nggak tau di dalam hatinya mereka kesel apa nggak. Pokoknya waktu gue ngeluh mereka musti denger, tapi kalo mereka lagi ngeluh gue kadang suka cuek-cuek aja (salah satu kelemahan gue lagi).
Berdasarkan ilmu psikologi (cieee), mengeluh itu berasal dari ketidakpuasan kita akan sesuatu hal yang terjadi atau menimpa sama diri kita. Padahalkan manusia adalah biangnya ketidakpuasaan dalam artian selalu merasa tidak puas akan sesuatu hal, jadi normalkan kalo manusia itu sering ngeluh? Kok gue jadi nyari pembenaran yah, padahal niatnya gue mau mereview sifat gue yang kadang ganggu. Maaf.
Kalo dipikir-pikir kenapa gue musti ngeluh yah sama semua hal yang menimpa diri gue padahal menurut sebagian besar orang, gue itu udah sangat beruntung. Lahir dari keluarga yang baik, kehidupan lumayan mapan, pendidikan oke, pekerjaan lumayan (ada terus), terjebak dalam raga dengan muka nggak jelek-jelek amat, postur lumayan, drama percintaan menyedihkan (masuk beruntung nggak kalo yang ini? My closest friend pasti mengangguk sepenuh hati deh. Nggak sopan!). Kok gue kayak yang ngumbar kelebihan yah, jadi nampak sombong. Sumpah gak ada niat lho! Kelepasan.
Apa sih yang sebenarnya sering gue keluhin? Yang pasti buanyaaaaaaaaaaaaaaak deh. Mulai kok bokap nyokap gue nggak pernah ngertiin gue yah? Kok gue nggak seberuntung orang yah soal kekayaan, kok sekolah gue cuma bisa ampe S2 yah, susah bener nyari sponsor buat S3 yah padahal temen gue yang gak pinter-pinter amat nggak cuma 1 tapi dua yang mau nyeponsorin (dari hati yang ini mah). Kok gue item banget yah? Kok rambut gue nggak bisa digaya-gayain kayak orang sih? Kok muka gue jerawatan yah? Kok gue susah banget langsing yah? padahal udah nggak makan malem dan jogging kayak orang gila (curhat lagi). Kok gue nggak pernah dapet pacar yang serius yah? Kok pacar gue demennya nyakitin hati gue yah? Kok gue masih belom dikasih kesempatan buat nemuin pasangan jiwa yah? Dan seabreg keluhan-keluhan yang lain. Gue yakin yang baca pasti mikir kok keluhan gue banyak banget, padahal itu baru sebagian kecil. Gile, sebagian kecilnya aja segitu, aslinya segimana yah? Makanya lo jalan deh sama gue kapan-kapan pasti lo bakal tau kalo nama tengah gue itu ngeluh. Sifat yang menyebalkan bukan?....Bukan!
Mengeluh memang jadi sifat dasar manusia (terutama gue), tapi kita harus pandai-pandai menyingkapi segala sesuatunya biar kita nggak terus menerus ngeluh. Sedikit mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan sama kita napa…Ingat, Tuhan itu baik dan maha tahu, nggak pernah menzalimi umatnya dan tau apa yang terbaik buat umatnya. Dasar manusianya aja yang sering menyalahartikan maksud yang udah Tuhan gariskan ( I talk to my self!). Selalu ada maksud yang baik dari skenario yang Tuhan kasih buat kita, jadi ngapain musti ngeluh kan? (sebenernya) semua tergantung dari cara kita menyikapinya aja. Kalo kita selalu berfikiran positif dan menganggap bahwa segala sesuatu yang terjadi sama kita merupakan jalan yang terbaik pasti kita nggak bakalan ngeluh deh. Percaya sama gue. Disini gue nggak bermasud menggurui, tapi cuman buat sharing doank. Gue memang sering ngeluh, dan gue udah bisa sedikit memberi obat penawar buat sifat gue yang ini. Nggak haram kok kalo dipraktekkan, mudah-mudahan mujarab.
Gimana cara menghilangkan sifat suka mengeluh kita? Ini versi Yuda yah…….
PERTAMA. Jangan membanding-bandingkan diri kita sama orang lain. Ada pepatah yang bilang kalo rumput tetangga selalu lebih indah dibanding rumput di pekarangan sendiri. Arti pepatah ini, kalo kita selalu membanding-bandingkan diri kita sama orang lain gue jamin pasti kita bakal nggak puas terus dan akhirnya pasti ngeluh. Membadingkan-bandingkan diri dengan orang lain dalam “positive way” itu baik karena bisa meningkatkan motivasi kita buat menjadi lebih baik dan berprestasi. Tapi kalo hasil membandingkan diri itu kita jadi minder dan banyak ngeluh ini yang musti dihindari.
KEDUA. Percaya sama kemampuan diri sendiri. Tuhan menciptakan semua manusia dengan berbagai kelebihan meskipun banyak orang yang gak sadar sama kelebihan yang dimilikinya itu. Dengan percaya sama kemampuan diri sendiri akibat kelebihan yang udah Tuhan kasih, kita pasti nggak bakalan banyak ngeluh deh. Yakin. Selalu tanamkan dalam benak kita bahwa kita pasti mampu menghadapi dan mengerjakan apapun, better than anyone!
KETIGA. Selalu bersyukur atas apa yang udah Tuhan beri. Agama apapun di muka bumi ini mengajarkan bahwa kita harus bersyukur. Hal ini mengandung nilai yang sangat positif. Dengan mensyukuri nikmat Tuhan, kita pasti nggak bakalan ngeluh karena akan muncul kesadaran dalam diri kita bahwa nasib kita lebih baik dari orang lain. Masih banyak kok orang-orang yang gak seberuntung kita. Dengan bersyukurpun kita akan semakin yakin bahwa apa yang kita jalani atau apa yang terjadi sama diri kita sekarang merupakan skenario terindah yang memang udah Tuhan siapkan buat kita.
KEEMPAT. Bergaulah dengan orang-orang dari semua kalangan. Dengan tidak memilih-milih teman kita akan lebih bayak tahu bahwa kadang kita lebih beruntung dibandingkan orang lain. Ketika kita memilih untuk bergaul hanya dengan salah satu golongan saja maka kita akan lebih banyak ngeluh. Kenapa? Manusia cenderung memilih berteman dengan orang-orang yang lebih “baik” setidaknya dengan orang-orang yang memiliki karakter mirip dengan kita. Kalau kita mengkotak-kotakan hidup kita seperti ini niscaya kita akan lebih banyak merasa bahwa temen-temen dari golongan tersebut lebih segalanya dari kita. Inilah pemicu utama ketidakpuasan kita terhadap diri kita sendiri, ujung-ujungnya kita pasti sering ngeluh.
Mengeluh memang sah-sah saja karena itu sangat manusiawi, tapi masalahnya apakah dengan hanya mengeluh semua masalah kita akan teratasi dengan baik? Belum tentu. So saatnya to out of the shell, keluarlah dari cangkang yang mengungkung kita dalam budaya mengeluh. Masih banyak kegiatan yang bisa dilakukan selain mengeluh. Mengeluh hanya akan membuat kita tidak produktif dan hidup dalam ketidaknyamanan. Belajarlah untuk tidak mengeluh! Apabila telah mencoba maka ucapkan selamat datang pada dunia dalam perspektif yang berbeda. Dunia penuh warna pelangi, MeJiKuHiBiNiU.
Langganan:
Komentar (Atom)