<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913</id><updated>2012-01-28T16:16:04.876+07:00</updated><title type='text'>TAMAN AKSARA APISINDICA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>444</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-578257305008872146</id><published>2012-01-26T07:38:00.000+07:00</published><updated>2012-01-26T07:38:00.658+07:00</updated><title type='text'>Sedih</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-rSR3cNsBXO0/Tx_cqIY4GWI/AAAAAAAAA7s/TNpzb2WbZqc/s1600/AB35129.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 108px; height: 170px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-rSR3cNsBXO0/Tx_cqIY4GWI/AAAAAAAAA7s/TNpzb2WbZqc/s400/AB35129.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701518269638777186" /&gt;&lt;/a&gt;Tadi pagi setelah menelepon Papi, saya menangis. Bukan menangis meraung-raung seperti waktu saya kecil saat tidak dibelikan mainan baru atau menangis sambil marah-marah ketika sering kali saya dilarang untuk keluyuran malam hari waktu jaman kuliah. Saya menangis tidak bersuara, hanya air mata yang tiba-tiba meleleh di pipi dan perasaan sakit di dalam hati yang tidak bisa dijelaskan bagaimana rasanya. Hanya perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang cengeng. Cenderung sensitif dan mudah menangis. Untuk hal-hal yang sebetulnya tidak perlu saja saya bisa mengeluarkan air mata. Dulu waktu kecil saya pernah menangis karena melihat ibu-ibu tua penjual kue cincin yang ikut berteduh ketika hujan di depan rumah. Si ibu sambil duduk menyenandungkan tembang sunda yang menyayat hati  seperti sedang dilanda kesedihan yang teramat dalam. Saya yang mengintip dari balik jendela rumah tiba-tiba ikut menangis karena ikut merasakan kepedihan yang ibu itu rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, panggil saja saya berlebihan. Tapi itu memang kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rutin menelepon Papi, sekedar menanyakan kabar beliau atau hanya bercerita mengenai aktivitas saya sehari-hari. Maklum sebagai anak yang tidak lagi tinggal di rumah, saya tidak bisa bertemu dengan beliau setiap hari. Jadi komunikasi melalui telepon kadang menjadi obat ketika saya merindukannya. Tadi pagi setelah bangun tidur saya langsung menelepon Papi, alasannya karena saya bermimpi tentang beliau tadi malam. Dalam mimpi saya, beliau meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menangis bukan karena mimpinya, tapi lebih karena respon yang Papi saya tunjukan ketika saya bercerita perihal mimpi saya tadi malam. Memang, menurut primbon tua yang sebetulnya tidak saya percaya, memimpikan seseorang meninggal dunia artinya bahwa orang tersebut akan panjang umur. Saya mengaminkan arti mimpi yang ini. Saya ingin Papi saya panjang umur. Tapi tetap saya menghubungi beliau untuk bercerita mengenai hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya menanyakan kesehatannya, kemudian saya baru bercerita tentang mimpi kalau beliau meninggal dunia. Beliau menanggapinya dengan tertawa, dan seperti sudah diduga beliau akan mengartikannya sebagai isyarat kalau beliau akan panjang umur. Lagi-lagi saya mengamininya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau kemudian berkata “Doakan saja supaya Papi panjang umur! Papi masih ingin bisa menghadiri pernikahan kamu dan adik kamu” Pernyataan yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Pernyataan yang membuat saya seperti tercekat di tenggorokan. Pengap. Kemudian saya berdiam. Lama. Setelah saya bisa menguasai keadaan, saya pamit kepada beliau karena saya harus siap-siap untuk berangkat kerja. Teleponpun saya tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tiba-tiba menangis. Sedih. Rasanya mendengar orang yang kita sayang mengucapkan keinginannya yang sampai sekarang belum bisa saya penuhi itu seperti merobek hati kita sendiri. Sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papi saya jarang menanyakan mengenai perihal kapan saya akan menikah. Bukan tidak pernah, tapi beliau seperti tidak memaksakan. Beliau mengerti dan tahu benar siapa saya, apa yang saya inginkan terlebih dahulu dalam hidup ini. Karenanya beliau tidak seperti kebanyakan orang-orang di luar lingkungan inti yang selalu mempertanyakan perihal pernikahan yang membuat saya seperti teriritasi. Memang lama-lama saya sudah kebal dengan pertanyaan tersebut, tapi tetap saja saya kesal kalau ada orang mempertanyakan lagi dan lagi mengenai hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan saya tidak ingin menikah. Tentu saja saya ingin, dan bukan untuk alasan utama menyenangkan orang tua. Buat saya menikah itu hal yang prinsipil, yang harus saya lakukan dengan orang yang saya sudah yakin benar kalau dia memang dikirimkan Tuhan untuk saya. Untuk menemani dan berkolaborasi dengan saya yang seringkali &lt;span style="font-style:italic;"&gt;complicated&lt;/span&gt;. Mungkin sekarang Tuhan belum percaya untuk mengirimkan jodoh bagi saya, tapi saya juga tidak berhenti berikhtiar. Pasti ada suara-suara sumbang setelah saya mengungkapkan hal ini, dan saya tidak peduli. Saya hidup demi kebahagiaan saya sendiri dan orang tua saya, bukan untuk kebahagiaan orang-orang di luar sana yang justru tidak mengerti maunya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tetap saja saya sedih mendengar keinginan Papi yang ingin panjang umur agar dapat menghadiri pernikahan saya. Keinginan yang sederhana tapi sulit saya kabulkan dalam waktu dekat ini. Tapi siapa tahu Tuhan kemudian berbaik hati untuk membalikkan hati saya dan mempertemukan saya dengan jodoh yang sudah dipersiapkan oleh-Nya. Dan dengan begitu saya bisa membahagiakan Papi. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-578257305008872146?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/578257305008872146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=578257305008872146&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/578257305008872146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/578257305008872146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2012/01/sedih.html' title='Sedih'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-rSR3cNsBXO0/Tx_cqIY4GWI/AAAAAAAAA7s/TNpzb2WbZqc/s72-c/AB35129.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-2350628046681338333</id><published>2012-01-24T08:38:00.000+07:00</published><updated>2012-01-24T08:38:00.056+07:00</updated><title type='text'>Sang Pengkhianat</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-SRuQfR_oONE/TxrdXjoM4aI/AAAAAAAAA7g/9VNOtWU8UWM/s1600/109157259.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 121px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-SRuQfR_oONE/TxrdXjoM4aI/AAAAAAAAA7g/9VNOtWU8UWM/s400/109157259.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5700111675161371042" /&gt;&lt;/a&gt;Dia mengkhianati saya. Lagi. Bukan sekali dua kali dia mengkhianati saya seperti ini, dan saya selalu seperti terbuaikan kembali. Saya mempercayainya lagi ketika saya sudah lupa, ketika luka yang ditimbulkannya sudah mengering tidak peduli menimbulkan noda keloid atau jaringan parut. Saya tetap menyerahkan segenap kepercayaan kepadanya. Lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan tidak kapok. Saya lebih memilih untuk buta. Dibutakan keadaan, dibutakan oleh janji yang sebetulnya belum genap dia ucapkan. Saya hanya yakin kalau janjinya akan menghasilkan sebuah kenyataan. Tidak perlu tepat, cukup mendekati. Hal itu pasti sudah membuat saya akan bernapas lega. Sering dikhianati olehnya saja saya masih tetap memupuk percaya, apalagi kalau dia sesekali mengabulkan janji yang saya paksa untuk dibuat olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah dulu dia memperkenalkan pada cinta ketika saya beranjak remaja. Penuh tipu daya dia membuat saya tergila-gila, mencandu cinta seperti tidak ada besok lusa. Setengah mati saya menyemai rasa percaya, menikmati sensasi-sensasi baru yang belum pernah saya coba sebelumnya. Tapi dia mengkhianati saya, karena selain cinta dia mengajarkan saya apa yang disebut dengan cemburu. Perasaan yang membuat saya seakan menaiki perahu yang hampir karam. Terombang-ambing ketidakpastian. Sampai akhirnya benar-benar karam dan tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kehilangan cinta pertama saya. Kemudian saya terpuruk. Lama. Berusaha bangkit kembali sambil membenahi hati yang camping karena terlalu banyak mempertaruhkan percaya. Lewat catatan-catatan kaki yang sengaja saya buat ketika melangkah bersamanya saya kembali belajar, menghayati kehilangan yang saya rasakan sebagai bentuk sebuah pembiasaan. Semakin saya terbiasa, maka saya akan semakin cepat pulih ketika hal yang sama terjadi secara berulang. Begitu dia membisikan rapalan mantra yang sampai sekarang saya tidak pernah lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kekuatan apa yang dia punya, karena seperti apapun dia mengkhianati, saya tidak lantas membencinya. Marah pasti, karena bagaimanapun saya bukan benda mati yang hanya akan diam ketika dipermainkan. Tapi untuk  benci sepertinya terlalu berlebihan, karena ketika amarah sudah mereda saya akan kembali menggandengnya untuk kemudian mengajaknya berjalan mengikuti setapak kecil yang terpampang di hadapan. Bersamanya saya menyongsong matahari pagi. Bersamanya saya menanam benih cinta. Lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seperti dua sisi mata uang. Hidup berdampingan tetapi memiliki sifat yang saling berlawanan. Mungkin saling menghilangkan, atau bahkan saling berkomplot menguji keberanian saya untuk terus bergerak tanpa pernah melangkah ke belakang. Buat saya, dia adalah penghkianat sejati. Tapi di lain sisi dia adalah sahabat yang bisa membuat saya percaya kalau saya mampu melewati berbagai rintangan yang sebelumnya tidak yakin bisa saya ampu dan lewati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak kapok dikhianatinya. Saya mau terus berjalan bersamanya. Karena dikhianati waktu sambil berjalan meniti potongan-potongan cerita sampai menjadi sebuah kesatuan cerita adalah ketentuan yang harus saya terima. Bersama waktu saya merefleksi diri, bersama pengkhianatan-pengkhianatan yang dilakukan waktu saya belajar untuk menjadi pemenang. Nanti. Ketika dia sudah bosan bermain di ranah yang akan saya jalani. Bilakah?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-2350628046681338333?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/2350628046681338333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=2350628046681338333&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2350628046681338333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2350628046681338333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2012/01/sang-pengkhianat.html' title='Sang Pengkhianat'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-SRuQfR_oONE/TxrdXjoM4aI/AAAAAAAAA7g/9VNOtWU8UWM/s72-c/109157259.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-7882446064420760662</id><published>2012-01-20T13:47:00.000+07:00</published><updated>2012-01-20T13:47:00.209+07:00</updated><title type='text'>Elegi Memori</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-suUNms4S124/TxjyNnlNS8I/AAAAAAAAA7U/7srEzyMPiRc/s1600/129714169.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 113px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-suUNms4S124/TxjyNnlNS8I/AAAAAAAAA7U/7srEzyMPiRc/s400/129714169.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699571644214627266" /&gt;&lt;/a&gt;Makanan dalam mangkok di depan saya sudah tidak lagi mengeluarkan asap. Kepulan yang tadi terlihat menggeliat di permukaan bakmi yang saya pesan menguap dihisap sunyi. Sesunyi hati saya saat itu. Lama saya menunggu sampai akhirnya saya menyimpulkan kalau dia tidak akan datang. Telepon selulernya tidak aktif, sms saya pending digantung ketidakpastian. Saya beranjak tanpa berniat menyentuh makanan yang sudah terlanjur saya pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantin itu menjadi saksi, bagaimana saya mengakhiri kisah saya sendiri. Kantin itu memuat testimoni tentang saya yang memunguti hati yang terserak tak lagi berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain hari sengaja saya datang lebih pagi. Selain untuk mendapatkan tempat parkir yang strategis, saya juga ingin membuktikan tentang sebuah eligi. Saya ingin tahu tentang siapa pengirim serial note yang dijepitkan di wiper mobil saya. Serial note yang selalu tanpa identitas, serial note yang membuat saya penasaran bukan kepalang karena berisi beragam sanjungan yang membuat saya seperti berada di dalam komedi putar. Pusing tetapi membuat ketagihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah mendapatinya sampai suatu hari note itu tidak lagi bisu. Di ujung kalimat pendek yang seperti biasanya dia membubuhkan nomer teleponnya. Penuh penasaran saya mengontaknya, dan sejak saat itu saya tidak lagi hanya seperti dalam komedi putar tapi berasa hidup dalam sebuah taman ria dengan berbagai arena permainan. Baik yang menyenangkan, menakutkan, membuat cemburu, bahkan membuat saya jatuh cinta. Kami menjalin cerita, dan berujung seperti halnya dinamika. Ada awalan yang harus ditutup dengan akhiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat jalanan-jalanan sepi di dalam komplek itu saya berkeliling. Sendirian. Tidak tahu apa yang saya cari. Mungkin cinta, atau mungkin hanya teman. Saya hanya yakin bahwa keduanya mungkin bergelimpangan di jalan-jalan tersebut. Diantara bangunan-bangunan tua yang berbaur dengan bangunan yang lebih baru. Diantara hiruk pikuk orang yang hilir mudik menaniki tangga atau memarkirkan sepeda. Saya yakin disana ada cinta, saya yakin disana ada bagian saya untuk memintal lagi sebuah cerita. Tidak peduli kalau dari awal sudah bisa saya lihat sebuah ujung yang berderai. Saya hanya menikmati hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya mengulanginya lagi. Parkir di tempat yang sama walau tidak berharap akan ada penggemar rahasia yang mengirimkan sebuah sapa tanpa nama berjepit wiper dan kaca. Waktu sudah jauh meninggalkan saya dari masa-masa itu, memahat undakan-undakan menanjak untuk saya terus bergerak ke atas dengan kemungkinan untuk saya mundur beberapa tahap sekedar berwisata. Melakukan napak tilas hati tanpa kesakitan yang sama yang mungkin dulu pernah tercipta. Saya menuruni undakan rasa untuk sekedar bernostalgia. Merasakan bahwa saya pernah disana dengan cerita yang sudah saya bundel dalam bandrol kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya menyusuri lagi jalanan lengang di bagian belakang komplek. Tidak menebar senyum seperti waktu dulu. Tidak berharap akan ada seseorang yang akan melihat aura yang saya umbar berlebihan ketika saya berjalan. Waktu saya sudah dibekukan disana, buka masanya untuk saya melakukan hal-hal tak masuk akal seperti yang dulu sering saya lakukan. Lagi-lagi saya hanya ingin bernostalgia. Menikmati perasaan yang mengembang hanya dengan membaui jejak yang pernah saya toreh disana. Jejak yang sebetulnya sudah hilang diganjar panas dan hujan bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya duduk lagi di kantin itu, mengamati kepulan asap yang keluar dari makanan yang saya pesan. Tidak ingin didahului dingin saya menyendok sedikit demi sedikit makanan ke dalam mulut yang ingin dipuaskan. Tidak seperti dulu, saya tidak ingin kesunyian menyergap saya meskipun saat ini saya juga sedang menunggu. Kali ini saya yakin dia akan datang, kali ini saya yakin waktu akan berbuah pertemuan. Sesekali saya lirik telepon genggam yang saya geletakan sampai akhirnya ada nada panggilan dari nomer yang saya kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apis, Ibu sudah ada di ruangan. Kalau mau bertemu, beliau sudah bisa sekarang” Begitu kabar yang disampaikan sekertaris mantan dosen pembimbing saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya menunggu cinta, hari ini saya menunggu mantan dosen pembimbing saya untuk meminta surat keterangan. Dua jenis penantian yang berbeda tetapi tetap memaksa saya untuk menikmati sepenggal kenangan yang pernah tercipta di kampus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;ITB, 20 Januari 2012. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-7882446064420760662?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/7882446064420760662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=7882446064420760662&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/7882446064420760662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/7882446064420760662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2012/01/elegi-memori.html' title='Elegi Memori'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-suUNms4S124/TxjyNnlNS8I/AAAAAAAAA7U/7srEzyMPiRc/s72-c/129714169.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-6191969166266544838</id><published>2012-01-18T07:31:00.001+07:00</published><updated>2012-01-18T08:49:10.772+07:00</updated><title type='text'>Empat</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-gQXtWpX-UZY/TxPg020T9bI/AAAAAAAAA7I/pU7bM_1uJYM/s1600/94452891.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 110px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-gQXtWpX-UZY/TxPg020T9bI/AAAAAAAAA7I/pU7bM_1uJYM/s400/94452891.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5698145152226555314" /&gt;&lt;/a&gt;Hari ini 4 tahun lalu, sebuah taman bermain didirikan. Berbekal keberanian dan semangat yang menggebu, dengan prosesi ala kadarnya taman tersebut resmi dibuka. Tidak untuk umum pada awalnya, hanya sebatas area pribadi untuk sekedar merebahkan asa dan unek-unek yang membuncah di dalam dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang ditawarkan, hanya berisi sedikit alat bermain yang dibuat dari kayu-kayu usang hasil membongkar kas-kas yang dipungut di sekitar pelabuhan. Ada sebuah ayunan muram di pojokan taman untuk  digunakan ketika sang empunya sedang gundah gulana, menerawang batas asa sambil berayun dari satu titik terbelakang ke titik terdepan. Ada juga jungkat-jungkit mungil yang diletakan di pinggiran kolam untuk dinaiki ketika bahagia dan gembira menyambangi si pemilik taman. Seringkali tidak ada pasangan untuk membuat jungkat-jungkit tersebut bergerak seperti takdirnya, sehingga si pemilik taman itu lama bertahan di dasar permukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-lama taman bermain tersebut tidak lagi asosial. Ada beberapa serangga yang memberanikan diri masuk untuk ikut bermain atau sekedar hinggap di kuncup bunga  yang artifisial. Si pemilik taman merasa senang, karena setidaknya dia tidak lagi merasa sendirian dan kesepian. Ada yang bisa diajak berbincang meski sering kali hanya satu arah tanpa pernah ada tanggapan. Si pemilik lahan tidak keberatan, bahkan pada rayap yang kehadirannya justru merusak beberapa alat permainan yang dasarnya sudah usang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring waktu taman tersebut semakin ramai, banyak yang hilir mudik untuk sekedar menyaksikan drama tanpa suara yang sering dipentaskan. Tapi selayaknya sebuah tontonan, di akhir masa tayang pasti ada yang terhibur dan ada yang tersulut melawan karena merasa terlecehkan. Sang pemilik taman sadar akan semua kemungkinan, dan dia berkilah kalau dia hanya seorang pencerita. Penggagas drama tanpa suara di kepala. Dan dia sadar benar kalau dia bisa saja dielu-elukan kemudian dihujat habis-habisan. Lagi-lagi dia tidak keberatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 tahun bukan waktu yang sebentar untuk si pemilik taman belajar melalui proses pendewasaan. 4 tahun membuatnya berulang kali memasuki siklus kehidupan yang hanya membuatnya berputar-putar. 4 tahun yang berbekas dalam ingatan karena dalam rentang waktu tersebut si pemilik taman tidak hanya mendapatkan sekumpulan teman tapi juga sekelompok musuh yang tidak bisa dihindarkan. Sebuah dinamika hidup yang mengajarkan bahwa tidak mungkin membuat semua orang suka pada sebuah taman bermain atau pada si pemiliknya itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman bermain itu mungkin lama-lama untuk sebagian pengunjung terasa membosankan, apalagi ketika drama yang dipentaskan hanya bersetting tentang kemuraman dan kesedihan. Karenanya si pemilik taman sedikit membuka diri, menyapa pengunjung di luar batas taman untuk memperkenalkan siapa dia sebenarnya.  Masih lewat dunia maya tali silaturahmi terus dikencangkan, lewat hentakan-hentakan pulsa seluler tegur sapa tetap disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenyataan tidak seperti apa yang diharapkan. Banyak pengunjung yang tidak siap dengan siapa sesungguhnya pemilik taman. Mereka menarik diri dari jaring-jaring sosial yang pernah direntangkan, menarik diri dengan istilah unfollow yang sekarang sedang marak dilakukan para pengicau-pengicau melalui ekspresi 140 karakter. Tapi si pemilik taman lagi-lagi tidak keberatan, awalnya sendirian dan ketika harus berakhir sendirian maka itu sudah merupakan ketetapan sebuah permainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun itu sekarang, 4 tahun bukan waktu yang sebentar untuk tidak mengucapkan terima kasih kepada para pelancong yang sudah meramaikan taman bermain sehingga berdinamika penuh kemeriahan. Terima kasih pernah dan masih meramaikan jalinan cerita yang diuntai melalui aksara dan kata tanpa suara. Terima kasih sudah setia menemani perjalanan sebuah taman bermain dari dulu hingga saat ini. Kalianlah saksi dari berbagai perenungan sebuah taman dan pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini taman aksara sedang berulang tahun yang keempat, dan saya apisindica sebagai pemilik taman sekali lagi mengucapkan banyak terima kasih atas semua apresiasi yang sudah diberikan. Tidak lupa saya juga memintakan maaf apabila ada tulisan-tulisan yang tidak berkenan yang membuat luka berkepanjangan di hati para pengunjung taman. Tidak ada maksud berlebihan dan tanpa ada maksud kesengajaan. Semua murni karena faktor kekhilafan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja taman aksara tidak berhenti berbenah hingga nanti usia senja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-6191969166266544838?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/6191969166266544838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=6191969166266544838&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/6191969166266544838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/6191969166266544838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2012/01/empat.html' title='Empat'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-gQXtWpX-UZY/TxPg020T9bI/AAAAAAAAA7I/pU7bM_1uJYM/s72-c/94452891.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-6977344652659902764</id><published>2012-01-16T10:05:00.002+07:00</published><updated>2012-01-16T10:11:51.941+07:00</updated><title type='text'>Kontemplasi</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-QR52kpM8OzU/TxOVWnYAonI/AAAAAAAAA68/P4rBvqjie-M/s1600/104566682.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 127px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-QR52kpM8OzU/TxOVWnYAonI/AAAAAAAAA68/P4rBvqjie-M/s400/104566682.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5698062169313157746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Jangan pernah meminta seseorang untuk tinggal ketika dia benar-benar ingin pergi”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebuah quote yang saya buat sendiri. Hasil dari beberapa kali terjerembab pada lubang yang kurang lebih sama. Mungkin benar saya tidak lebih baik dari keledai karena ternyata berulang kali terperosok pada masalah yang itu-itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menurut slogan salah satu deterjen, “nggak kotor maka nggak belajar” maka saya benar-benar belajar meskipun saya pasti akan digolongkan pada pembelajar yang lambat. Lalai dalam mencatat segala yang seharusnya terekam dalam nalar atau tersimpan dalam memori jangka panjang. Tapi paling tidak akhirnya saya belajar dan kemudian tersadar. Lagi-lagi sebuah pembenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminta seseorang untuk bertahan dan tinggal sementara dia sudah benar-benar ingin pergi adalah perbuatan yang memboroskan energi. Menguras emosi. Tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari sebentuk harapan yang hanya kita gelembungkan sendirian. Mungkin akan membentuk sebuah gelembung utuh tapi tidak akan mampu menerbangkan suatu hubungan ke arah yang lebih baru. Dibutuhkan kerja sama dan pengertian dari dua belah pihak yang sama-sama ingin bertahan. Bukan tarik menarik antara ingin tinggal dan ingin beranjak meninggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa diharapkan dari sebuah permintaan untuk tinggal ketika yang diminta tinggal justru keukeuh ingin berjalan sendirian? Tidak ada. Kalaupun dia berpikir kembali  tentang keinginannya untuk pergi dan kemudian memutuskan untuk bertahan, maka pasti ada motif belas kasihan. Dan itu seperti memelihara bom waktu yang siap meledak kapan saja dengan kekuatan ledak yang dipupuki waktu. Saya saksi hidupnya, penghalusan dari kategori  diri sebagai korbannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berusaha untuk membuatnya tinggal bukan berarti tidak berusaha. Kita pasti tahu kapasitas kita untuk berusaha sampai sejauh mana, dan ketika apa yang kita perjuangkan sudah di luar ambang batas kenormalan maka langkah yang terbaik adalah menyerah. Bertindak tidak egois dengan membiarkannya pergi sesuai dengan keinginannya. Mungkin kebahagiaan akan didapat ketika kita dan pasangan tidak lagi jalan beriringan. Siapa tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminta seseorang tinggal patut dicoba ketika sebuah hubungan sudah di ujung perpisahan, tapi ketika yang diminta tinggal bersikeras untuk pergi maka biarkan dia bergi. Jangan mengiba, karena siapa tahu dengan memaksanya bertahan kita justru menghalanginya bertemu dengan kebahagiaan yang selama ini dia cari. Cinta itu membebaskan dan tidak mengekang. Cinta tidak egois dengan memaksakan apa yang kita rasakan kepada seseorang yang merasa dirinya sudah hambar. Dan saya bersyukur sudah berkali-kali ditempa untuk tidak (lagi) egois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ditulis sebagai hasil kontemplasi semalaman karena tidak bisa tidur diganggu masa lalu &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-6977344652659902764?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/6977344652659902764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=6977344652659902764&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/6977344652659902764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/6977344652659902764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2012/01/kontemplasi.html' title='Kontemplasi'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-QR52kpM8OzU/TxOVWnYAonI/AAAAAAAAA68/P4rBvqjie-M/s72-c/104566682.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-3752010036816723675</id><published>2012-01-09T08:28:00.003+07:00</published><updated>2012-01-09T10:06:18.464+07:00</updated><title type='text'>Judes</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Assalamualaikum,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai, apa kabar? Anda tentu ingat saya. Saya yakin itu. Bagaimana tidak, sudah dua orang teman saya menyampaikan salam anda untuk saya termasuk mengenai insiden buku atau apalah yang katanya pernah anda alami dengan saya. Jujur, insiden buku yang anda bewarakan kepada teman atau teman-teman saya tidak sedikitpun menempel di dalam kepala saya. Saya benar-benar lupa, bahkan mengenai anda sendiri saya hanya ingat bahwa anda teman satu kelas saya ketika SD. Hanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sombong, tapi coba anda ingat-ingat kapan terakhir kita bertemu? Dan mungkin waktu terakhir bertemu itu kita hanya saling menyapa tanpa berbincang mengenai banyak hal, tidak seperti dua orang karib yang mendadak dilanda euforia karena bertemu setelah rentang waktu memisahkan sekian lama. Kita tidak seperti itu, mungkin hanya sepatah kata “hai” dan saling melempar senyum kemudian terlupakan begitu saja. Waktu yang sudah begitu lama ternyata tidak mampu melemparkan kita pada dimensi yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai insiden buku, mungkin ada baiknya kalau anda menceritakan kepada saya seperti apa kejadiannya. Jadi sebelum teman-teman saya mentertawakan, saya sudah dibekali amunisi untuk tertawa bersama mereka tentang kebodohan atau mungkin kenaifan saya waktu itu. Ya, jaman saya berseragam putih merah, yang saking lamanya atau tidak berkesannya buat saya tidak terlintas di ingatan sedikitpun. Tapi sepertinya untuk anda itu berkesan dan membekas hingga anda mengingatnya sampai sekarang dan menceritakannya pada orang lain selayaknya kejadian yang baru terjadi kemarin sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin buat anda itu sepele, terlebih buat saya yang tidak bisa mengingatnya. Tapi ketika itu menjadi bahan lawakan atau ledek-ledekan antara teman-teman saya, saya jadi menganggapnya tidak lagi lucu. Apalagi saya tidak ingat seperti apa kronologisnya. Saya ataupun teman-teman yang lain sering menjadikan masa lalu sebagai  bahan guyonan, dan saya atau mereka tidak pernah mempermasalahkan itu karena saya tahu konteksnya. Tapi mengenai insiden buku yang anda sampaikan kepada salah satu teman saya itu kemudian menjadi banyolan, saya sedikit teriritasi. Saya keberatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apa motif anda. Mungkin anda (maaf) berpikir dengan berlaku seperti itu anda akan dianggap pernah menjadi teman atau bahkan sahabat saya, tapi anda salah. Sekarang saya malah menjadi antipati terhadap anda. Mungkin sekarang anda hebat dengan karier yang bagus, yang karenanya anda jadi sering hilir mudik ke luar negeri bahkan tinggal beberapa lama disana, tapi itu ternyata tidak membuka pola pikir anda yang sempit. Saya mungkin tidak sehebat anda, tapi saya juga pernah bersekolah di luar negeri yang saya yakin anda tidak tahu. Maaf saya lupa, anda sepertinya lebih mengurusi insiden ketika kita masih “bodoh” ketimbang urusan ketika kita sudah dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat surat ini sebetulnya saya hanya ingin mengungkapkan keberatan saya. Maaf kalau anda terganggu dan tidak suka. Saya berhak keberatan karena yang anda umbar adalah hidup saya, masa kanak-kanak saya yang mungin telah saya ubah sedikit demi sedikit ketika saya beranjak dewasa. Bukankah itu yang namanya hidup? Selalu berbenah selagi berjalan mengelilingi khitah waktu. Anda boleh saja mengabari teman-teman saya kalau anda saya kirimi surat seperti ini, tapi alangkah bijaksananya kalau tidak anda lakukan. Cukuplah ini hanya antara saya dan anda. Demi masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir saya berdoa semoga anda dan keluarga senantiasa diberi kebahagiaan oleh Tuhan, dan saya mohon dimaafkan apabila ada kata atau kalimat saya di surat ini yang tidak berkenan. Dan perlu anda tahu saya tidak mendendam, jadi kalau suatu hari nanti kita bertemu (lagi) mari kita bersapa seperti waktu terakhir kita bertemu walau yang keluar hanya sepenggal “hai”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Apis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam, saya tinggal mengklik tombol send dan kemudian surat ini akan sampai ke tangannya via jejaring sosial facebook. Tapi saya urung, karena setelah saya pikir-pikir sekarang giliran saya yang mungkin berlebihan. Masa lalu tetaplah masa lalu, kalaupun itu adalah sebuah kesalahan maka sekarang saat saya untuk terus memperbaikinya. Semoga Tuhan selalu memberi saya waktu untuk terus membenahi diri ke arah yang lebih baik. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-3752010036816723675?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/3752010036816723675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=3752010036816723675&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3752010036816723675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3752010036816723675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2012/01/judes.html' title='Judes'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-2006789710031401633</id><published>2011-12-31T13:57:00.003+07:00</published><updated>2011-12-31T14:04:53.550+07:00</updated><title type='text'>Review 2011</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-YOJxFXUKElw/Tv6ziBOQVlI/AAAAAAAAA6w/cwO8so3vl1Q/s1600/84379504.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 113px; height: 170px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-YOJxFXUKElw/Tv6ziBOQVlI/AAAAAAAAA6w/cwO8so3vl1Q/s400/84379504.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5692184376068036178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;Well, mari kita riview apa-apa saja yang sudah saya alami selama tahun 2011 ini. Memang banyak kalau dirunut satu-satu, tapi mari kita lihat dari momen-momen paling dramatis atau paling membahagiakan, atau mungkin paling lebay sekalipun. Ini dari kacamata saya lho yah, jadi jangan berharap yang macam-macam.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tahun ini saya masih belum boleh sekolah. Ya tahu lah kalau di lembaga riset milik kementrian begini, banyak yang ngantri. Dan yang di posisi paling depan tampak nggak maju-maju sampai rasanya pengen jorokin mereka ke kolam hiu. Wooy, yang ngantri di belakang banyak wooy...Kalau situ nggak bergerak-bergerak gimana yang belakang mau sekolah. Tapi menurut saya sekolah itu rezeki, jadi kalau saya belum diijinkan dan belum lolos beasiswa yang saya lamar diam-diam artinya rezeki saya belum tiba. Dan kata agama juga, Allah akan memberikan sesuatu itu indah pada waktunya. Tahun ini belum indah, jadi ya terima nasib aja. (Baca: paragraf ini intinya membesarkan hati sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung sekolah masih belum boleh dan saya tetap harus merasa eksis, saya kasak-kusuk mencari dimana saya bisa mengaktualisasikan diri (tampil, red). Dan Alhamdulillah tahun ini saya dipercaya mengelola 9 proyek penelitian di berbagai daerah yang artinya tahun ini saya banyak perjalanan dinas. Dan berkat proyek-proyek tersebut saya bisa mencicip tempat-tempat yang tidak pernah saya bayangkan bisa menginjakan kaki kesana. Saya berkenalan dengan tanah di pedalaman Mamuju, Sulawesi Barat, dengan persawahan di desa adat Tana Toraja, dengan panas sengatan matahari di pinggiran pantai wilayah Gunung Kidul, dan terakhir dengan banci-banci transgender di kawasan jalur Gaza di Bali. Maaf, yang terakhir tidak termasuk dalam penelitian. Tapi dikunjungi saking penasarannya saat jadi nara sumber di salah satu kampus di Bali. (Baca: paragraf ini intinya uang saya banyak. Seharusnya. Tapi yah tahu juga birokrasi pemerintahan kita seperti apa. Banyak sunat sana-sini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kegiatan wara-wiri ditambah sok totally into diet dan hit the gym like crazy bikin tipes saya berulang. Walhasil saya terpaksa harus mengucapkan salam perpisahan kepada aktivitas diet dan jadwal fitness yang padat. Untuk urusan wara-wiri saya tidak melepaskannya karena ini masalah kepercayaan donatur dan lebih ke masalah uang. Kalau saya tidak wara-wiri, saya nggak punya uang, yang artinya saya akan terganggu jadwalnya dalam menyambangi berbagai midnite sale di mall-mall Jakarta. Jadi sepanjang tahun ini saya selalu berdoa semoga diberi kesehatan yang purna. (Baca: paragraf ini intinya “selamat datang kegemukan” Sixpacks di perut saya tinggal garis-garisnya, garis imajiner tentu saja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk urusan cinta jangan ditanya, tahun ini saya memecahkan rekor. Tidak ada sekalipun patah hati menyambangi pelataran hidup saya. Bukan hebat, tapi karena sepanjang tahun ini saya tidak pacaran. Terdengar menyedihkan kan? Memang *lari ke pojokan* *sesenggukan* Ada sih beberapa prospekan, tapi ternyata sebelum semuanya jelas sudah keburu saya buang ke keranjang sampah karena satu dan lain hal. Eh bahkan tahun ini saya didatangi seseorang yang pendekatan dari awal sudah mengarah ke soal pernikahan. Tapi seperti biasa, semua hanya angin surga. Sebelum terealisasi, saya dibangunkan paksa dan berjalan lagi sendirian. (Baca: paragraf ini intinya I’m unlucky lover).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galau adalah satu kata yang overused di tahun ini. Dan saya mencandunya sangat, mengawinkannya dengan drama. Jadi kalau soal drama nan galau saya pasti jawaranya, tapi jangan khawatir,  itu semua hanya artifisial. Tipuan. Jangan terlalu percaya dengan apa yang saya tulis, saya hanya seorang pencerita, penggagas drama tanpa suara di dalam kepala. Dan sebagai orang yang sangat kekinian, saya juga ingin menjual kegalauan yang lagi trend di tahun ini. Sekedar mengikuti alur jaman. Eh tapi tahun lalu, tahun lalunya lagi saya tetap galau kan yah? Berarti.... (Baca: paragraf ini intinya saya penipu ulung. Yang galau).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, apalagi yah? Kayaknya udah kepanjangan. Eh satu lagi deh, tahun ini saya belum berhasil move on dari dia yang sekarang tinggal di negara tetangga. Bukan move on dari mencintai dia sih, tapi move on dari perasaan bahwa diantara saya dan dia pernah ada sesuatu. Move on dari masa lalunya yang susah, kalau dari rasa cintanya sih udah dari jaman kapan tau. Tapi mau bagaimana lagi, salah satu cara memaknainya hanya dengan menikmati aja perasaan nggak bisa move on ini aja. Lumayan bisa jadi ide tulisan, bukan? (Baca: paragraf ini intinya saya masih hidup di masa lalu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang beneran udahan ah, saya kemudian hanya berharap kalau hidup saya ke depan seperti saat-saat saya menjelang sidang skripsi dan tesis dulu, karena menjelang sidang saya menjadi pribadi yang rajin beribadah dan dekat dengan Tuhannya serta jauh dari perbuatan maksiat. Amin. Sekiyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya Apisindica mengucapkan: “Selamat tinggal 2011 dan selamat datang tahun yang baru 2012” Semoga semua berjalan dengan baik, damai dan tentram ke depannya dalam semua lini kehidupan. Amin. *ciyum yang baca satu-satu* *celepoooot* *digampar terompet*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-2006789710031401633?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/2006789710031401633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=2006789710031401633&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2006789710031401633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2006789710031401633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/12/review-2011.html' title='Review 2011'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-YOJxFXUKElw/Tv6ziBOQVlI/AAAAAAAAA6w/cwO8so3vl1Q/s72-c/84379504.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-4683403692579303430</id><published>2011-12-29T08:03:00.002+07:00</published><updated>2011-12-29T08:10:35.125+07:00</updated><title type='text'>Mahal Nggak?</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-O_VEUw3IPWQ/Tvu9bEztQSI/AAAAAAAAA6Y/Q5-1yPFtfeI/s1600/109391689.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 110px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-O_VEUw3IPWQ/Tvu9bEztQSI/AAAAAAAAA6Y/Q5-1yPFtfeI/s400/109391689.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691350826957488418" /&gt;&lt;/a&gt;Semalam saya pulang agak terlambat dari kantor. Masih ada puluhan DNA yang harus dianalisis sehingga saya harus merelakan jam pulang kantor lebih lama dari biasanya. Ini sudah menjelang akhir tahun tapi pekerjaan saya masih menumpuk dan lembur adalah bentuk konsekuensi yang harus saya hadapi karena terlalu banyak bepergian ke luar kota dan meninggalkan DNA-DNA itu tersimpan rapi di dalam lemari pendingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dan semalam saya sendirian. Setelah menyelesaikan proses retriksi hampir belasan DNA saya memutuskan untuk pulang. Mata dan tenaga rasanya sudah tidak bisa lagi diajak kompromi, keduanya berebutan minta diistirahatkan karena terlalu saya porsir hari itu. Saya hanya keluar lab untuk keperluan ke kamar kecil dan makan. Selebihnya saya menjelma menjadi seorang peneliti (baca: sungguhan) yang dikejar target para donatur penelitian saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya pulang, sudah bisa ditebak kalau kondisi laboratorium sudah sunyi senyap. Tidak ada lagi aktivitas orang atau bunyi alat-alat yang biasanya ribut mengisi lorong-lorong laboratorium yang panjang. Begitupun area parkir, hanya tersisa kendaraan saya yang terlihat menggigil kuyup karena diguyur hujan sepanjang sore. Untung saya memarkirkan kendaraan itu tidak telalu jauh dari pos satpam jadi saya masih bisa melihat aktivitas para satpam yang sebagian malah sibuk menonton tayangan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum genap saya membuka kendaraan saya, dari jarak agak jauh saya melihat segerombolan orang, lebih dari 3 orang jalan sedikit tergesa mendekat ke arah saya. Kondisi yang agak temaram dan mata yang sudah ngantuk berat membuat saya tidak dengan jelas bisa melihat siapa mereka, yang pasti saya tahu mereka berjalan ke arah saya. Buru-buru saya membuka kendaraan saya, tapi sebelum masuk saya bisa dengan jelas melihat gerombolan yang semakin mendekat itu. Mereka adalah para office boy dan cleaning service di kantor ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau apa mereka? Apa ada barang-barang saya yang tercecer di laboratorium atau ruang kerja saya? Apa mereka punya motif lain melihat ketergesa-gesaan mereka mendekat ke arah saya? Maklum hari ini beberapa orang dari mereka memang saya marahi. Bagaimana tidak marah kalau ketika saya datang, ruangan yang biasanya sudah rapi tersapu dan terpel ternyata masih kotor dan berantakan, kemudian galon air mineral kosong yang dari kemarin sorenya saya minta diisi belum juga diganti. Tekanan pekerjaan menjelang limit akhir membuat sumbu emosi saya terbakar lebih dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin mereka mendekat tergesa, semakin saya gemetar menyalakan kendaraan saya. Semua jendela sudah tertutup rapat, jadi setidaknya saya lebih merasa aman. Saya menunggu, tidak menggerakan kendaraan saya. Di tengah deraan takut saya masih penasaran sebenarnya apa yang mereka mau lakukan. Sesaat setelah mereka berada di sebelah kendaraan saya, salah satu dari mereka mengetuk kaca jendela. Saya turunkan sedikit jendelanya, dan bertanya “ada apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Maaf Pak, saya cuma mau tanya kalau parfum yang Bapak pakai mereknya apa yah Pak? Wanginya enak. Dan maaf lho Pak nanyanya di parkiran, kalau di kantor malu sama temen-temen Bapak yang lain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemas saya terduduk di kursi. Otot yang semula tegang rasanya seperti dilolosi. Perasaan saya campur aduk antara ingin marah dan geli. Dan mau tidak mau, saya menyebutkan merek parfum yang saya pakai meskipun sesaat kemudian saya panik. Bagaimana kalau nanti satu kantor wangi parfumnya sama semua, dan itu dipakai oleh para office boy dan cleaning service. Bisa rusak reputasi saya (#ditampar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah kelegaan saya, salah satu dari mereka bertanya lagi “Mahal nggak Pak?” Sembari memajukan kendaraan saya tersenyum dan menjawab “Lumayan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendaraan saya menjauhi mereka. Saya tertawa seperti orang tolol di tengah jalanan yang mulai lengang tanpa kemacetan seperti biasanya. Dan pertanyaan bodoh terlontar dari benak saya, tadi keteka ada yang bertanya “Mahal nggak Pak?” itu maksudnya parfum saya yang mahal, atau saya yang mahal yah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#kemudianhening&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-4683403692579303430?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/4683403692579303430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=4683403692579303430&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4683403692579303430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4683403692579303430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/12/mahal-nggak.html' title='Mahal Nggak?'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-O_VEUw3IPWQ/Tvu9bEztQSI/AAAAAAAAA6Y/Q5-1yPFtfeI/s72-c/109391689.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-230223607760487624</id><published>2011-12-27T02:38:00.000+07:00</published><updated>2011-12-27T02:38:00.169+07:00</updated><title type='text'>3 Dasawarsa</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ahHHcpfNKT0/TvapFp6Jp6I/AAAAAAAAA6M/KvPs324OcmY/s1600/94117256.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 135px; height: 170px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ahHHcpfNKT0/TvapFp6Jp6I/AAAAAAAAA6M/KvPs324OcmY/s400/94117256.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5689921093843396514" /&gt;&lt;/a&gt;Babak baru dalam kehidupan saya baru saja dimulai. Babak yang seharusnya nanti saya isi dengan berbagai kebaikan dan kebenaran yang tidak lagi penuh kompromi. Dulu sebelum sampai pada tahapan ini saya selalu berdoa agar segera terbebaskan dari belenggu kelabu, terlepas dari area abu-abu. Tapi sepertinya saya masih sedemikian betah terayunambingkan ketidakpastian, hidup dengan pembenaran yang sebetulnya adalah sebuah penyangkalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus begerak tak bisa ditahan, mengantarkan saya dari satu undakan ke undakan di atasnya. Memapah saya pada tujuan yang entah seperti apa karena saya juga belum tahu akhir ceritanya. Dan malam ini ribuan detik mengantarkan saya pada gerbang babak baru yang harus saya jalani. Saya masih terjaga dalam senyap guna melakukan ritual sederhana sebelum saya melangkah pada gerbang baru yang akan terbuka perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya duduk dalam perasaan sederhana. Berusaha merefleksi apa-apa saja yang sudah saya lakukan di waktu terdahulu sebelum saya melangkah melalui gerbang baru. Saya ingin di waktu yang masih tersisa, saya bisa menandai hal-hal yang tidak boleh saya ulangi ketika kaki saya genap menjajak pada babak baru yang tidak bisa saya undur-undur lagi. Saya ingin di akhir saya merefleksi saya bisa lebur dalam perasaan syukur luar biasa karena lagi-lagi saya masih diberi kesempatan yang luar biasa oleh Tuhan. Menjejak usia 30 Tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pesta. Tidak ada acara keriaan semisal menghentak lantai dansa seperti yang sering saya lakukan ketika saya mendapatkan berkah yang sama di tahun-tahun yang telah silam. Saya hanya ingin diam sambil menatap redup lilin yang menyala di atas tart yang untuk tahun ini saya beli sendiri sambil terus bersyukur dan bersyukur. Menghitung semua hadiah yang telah diberikan Tuhan dalam perjalanan seorang Apisindica, termasuk perasaan mengerti bahwa kadang banyak mimpi yang hanya bisa dipelihara sebagai mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersukur kepada Tuhan, bahwa sampai umur saya yang ke-30 Tuhan tidak pernah pergi meninggalkan saya bahkan ketika saya sedang alpa. Tuhan selalu ada ketika saya sedang butuh perbincangan misterius yang berujung sebuah ketenangan. Kapan saja dan dimana saja. Saya juga bersyukur kepada Tuhan karena telah diberikan keluarga, sahabat, teman dan kolega yang turut juga menghiasi dan memberikan arti tersendiri dalam kehidupan saya. Tanpa dukungan dari mereka semua maka saya tidak akan menjadi siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijinkan  saya di babak baru ini mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut campur tangan dalam mendewasakan saya, baik dengan cara yang menyenangkan ataupun yang menyakitkan. Semua saya maknai sebagai cara yang memang harus dilalui agar saya keluar sebagai pemenang dan bukannya pecundang. Kalianlah yang membuat saya menjadi sekuat ini, karena itu saya bersyukur dan berterima kasih. Mengenal dan memiliki kalian adalah hal yag tidak akan pernah saya sesali sampai mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa saya yang paling utama hari ini (masih) sama dengan tahun-tahun sebelumnya, semoga saya diberi kesempatan untuk terus bertransformasi menjadi manusia yang lebih baik dari hari ini. Merangkak dan belajar menjadi seseorang yang hidup dalam kebenaran menurut Tuhan, bukan lagi kebenaran menurut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, saya hanya ingin bahagia. Kalaupun bahagia menurut saya sangat sulit untuk dikabulkan, maka ijinkan saya meminta diberi kebesaran hati untuk berdamai dengan jalan yang telah Engkau gariskan. Ijinkan saya meminta perasaan sederhana yang terus bertambah subur dalam memaknai takdir yang telah Engkau tuliskan. Biarkan saya terus belajar mengerti bahagia yang telah engkau tentukan. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ulang tahun Apisindica...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-230223607760487624?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/230223607760487624/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=230223607760487624&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/230223607760487624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/230223607760487624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/12/3-dasawarsa.html' title='3 Dasawarsa'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ahHHcpfNKT0/TvapFp6Jp6I/AAAAAAAAA6M/KvPs324OcmY/s72-c/94117256.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-2587592101135884255</id><published>2011-12-25T09:10:00.001+07:00</published><updated>2011-12-25T09:13:48.783+07:00</updated><title type='text'>Pulang</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ZC1SJ8y1mLo/TvaGr12PE-I/AAAAAAAAA6A/39_Xt1gls6g/s1600/200444442-001.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 127px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ZC1SJ8y1mLo/TvaGr12PE-I/AAAAAAAAA6A/39_Xt1gls6g/s400/200444442-001.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5689883266976256994" /&gt;&lt;/a&gt;Saya senang  pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah tempat saya tumbuh dari belum mengenal dengan jelas apa itu dunia sampai saya dengan jelas mengotori dunia. Rumah tempat saya merasa nyaman dan aman karena saya tidak perlu lagi bersembunyi dari berbagai hal yang membuat saya gentar dan gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua beban dan masalah di luaran saya tanggalkan di depan pintu tanpa saya bawa masuk. Meskipun pada akhirnya semua beban tersebut harus saya kenakan kembali nanti, tapi saya ingin mereka tidak membebani saya ketika saya berada di dalam rumah. Saya ingin lupa sejenak tentang semua yang memberatkan langkah dan pikiran ketika saya selonjoran di sofa depan televisi di rumah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah ini. Bangunan tempat saya melambungkan angan. Tempat saya menggantungkan harapan. Tempat saya menyandarkan kesedihan yang membandel tidak mau saya tanggalkan di halaman. Tempat saya sembunyi-sembunyi memintal perasaan suka terhadap seseorang yang kemudian setelah berani saya undang seseorang itu untuk datang bertandang. Rumah ini saksi semuanya, tempat saya mencetak tawa dan mengenyahkan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbincang di meja makan malam-malam bersama Mami sambil makan es krim berkotak-kotak. Membicarakan dari sesuatu yang penting seperti gambaran masa depan  sampai hanya gosip para tetangga. Keintiman ibu dan anak yang seperti biasa sejak jaman saya balita (akan) selalu diterminasi karena Mami mendapatkan telepon yang mengabarkan bahwa ada pasien yang akan melahirkan, entah dengan cara normal maupun seksio caesaria. Dan kebahagiaan sederhana itu menguap seiring dengan mobil yang pergi  keluar gerbang. Tapi saya tidak pernah khawatir karena momen seperti itu akan berulang esok hari dengan akhir yang (biasanya) sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah ini saya akan tetap menjadi anak kecil yang senang dimanjakan. Tidak peduli sudah sekian angka yang tercetak dalam lintasan usia karena setiap kali saya pulang ke rumah, saya akan menjadi seorang anak yang senang didongengkan cerita khayal sebelum tidur. Atau seorang anak yang dengan bebas berlarian mengitari kursi-kursi di ruang tengah bahkan meloncat-loncat di atas tempat tidur empuk milik orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar bernostalgia bahwa saya pernah bahagia dan masih bahagia dengan cara yang tentu saja berbeda. Sejauh apapun saya melangkah pergi, saya yakin bahwa saya pasti akan melangkah pulang. Ke rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Bandung, 25 Desember 2011 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-2587592101135884255?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/2587592101135884255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=2587592101135884255&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2587592101135884255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2587592101135884255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/12/pulang.html' title='Pulang'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ZC1SJ8y1mLo/TvaGr12PE-I/AAAAAAAAA6A/39_Xt1gls6g/s72-c/200444442-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-3687880669708590742</id><published>2011-12-22T07:02:00.000+07:00</published><updated>2011-12-22T07:02:01.077+07:00</updated><title type='text'>Mother's Day</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-BMV4JkBN8bQ/Tu6uSc16EfI/AAAAAAAAA50/hrXRjyCk8ms/s1600/S717554-01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 225px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-BMV4JkBN8bQ/Tu6uSc16EfI/AAAAAAAAA50/hrXRjyCk8ms/s400/S717554-01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5687675011418690034" /&gt;&lt;/a&gt;Selamat hari ibu, Mami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih untuk selalu menjadi seorang ibu lebah yang bijaksana. Ibu lebah yang tidak pernah lelah mengumpulkan madu dari kuntum-kuntum bunga beraneka warna demi aku anakmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat keuletanmu memelihara sarang tempat aku melabuhkan nyaman, aku belajar dan bersyukur. Belajar bahwa tidak ada yang mudah diraih dalam kehidupan. Tidak ada kenikmatan dan kekayaan yang serta merta datang tanpa kerja keras dan cucuran peluh penuh perjuangan. Karena itu aku bersyukur kepada Tuhan karena telah diberi seorang ibu berhati malaikat sebagai model untukku mengarungi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti banyak hal yang telah aku lakukan dan ternyata membuat mami keberatan serta tidak merasa senang. Tapi Mami tidak lantas meninggalkan aku atau menghentikan kasih sayang yang selalu tercurah seperti hujan. Lewat kalimat-kalimat bijaksana dan menyejukkan mami ungkapkan keberatan serta rasa tidak senang yang mami rasakan. Dan itu menurutku lebih ampuh dibanding makian bahkan pukulan sekalipun. Aku menjadi mengerti serta bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat aku mami layaknya malaikat yang selalu membimbingku menapaki jalan hidup yang tidak gampang. Memang sesekali aku tergelincir karena aku lebih memilih tergoda hasutan yang dibisikan setan, tapi mami tidak pernah bosan untuk terus mengingatkan bahwa kebenaran itu harus tetap dijalankan.  Mami selalu ada ketika aku sedang merasa sangat kotor, dan mami seperti biasa tidak pernah merasa jijik untuk memandikanku dan menjadikanku bersih kembali. Untuk itu sekali lagi aku bersyukur kepada Tuhan karena telah menghadiahiku mami sebagai kado terindah sepanjang zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat hari ibu, Mam..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga mami senantiasa diberi limpahan kesehatan untuk terus mengarungi hidup yang tidak pernah sepi cobaan. Semoga mami tetap istiqomah dalam menjalankan tugas yang telah diamanatkan Tuhan, baik itu tugas membimbing aku maupun menolong ribuan pasien yang membutuhkan bantuan. Aku sangat tahu mami memiliki kapasitas lebih dari itu. Dan aku bangga karenanya. Memiliki Mami yang canggih luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I love my mom no matter what we go through and no matter how much we argue because i know, in the end, she’ll always be there for me. I love you Mom!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-3687880669708590742?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/3687880669708590742/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=3687880669708590742&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3687880669708590742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3687880669708590742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/12/mothers-day.html' title='Mother&apos;s Day'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-BMV4JkBN8bQ/Tu6uSc16EfI/AAAAAAAAA50/hrXRjyCk8ms/s72-c/S717554-01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-1899456989664732961</id><published>2011-12-19T08:12:00.001+07:00</published><updated>2011-12-19T08:14:50.876+07:00</updated><title type='text'>(sekedar) Unek-Unek</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-MaWEZdDbdlM/Tu6P0TzWGxI/AAAAAAAAA5o/SemMy-Y7HVQ/s1600/886850-001.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 113px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-MaWEZdDbdlM/Tu6P0TzWGxI/AAAAAAAAA5o/SemMy-Y7HVQ/s400/886850-001.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5687641508247116562" /&gt;&lt;/a&gt;Aku rindu sebuah hubungan intelektual. Hubungan yang akan saling menggali isi di balik tempurung kepala dua orang yang saling mencinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bosan dengan hubungan yang kosong layaknya cangkang kepompong yang sudah ditinggalkan kupu-kupu purna bertransformasi dari sebentuk larva. Hubungan tanpa isi yang hanya mengumbar penggalan-penggalan drama tanpa makna. Hubungan yang lebih banyak mempertontonkan hal yang sebetulnya tidak perlu. Hubungan tak sarat kualitas karena dasar hubungan tersebut tidak pernah jelas mengenai apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku bosan dengan itu. Aku tidak ingin (lagi) hubungan yang hanya banyak diisi oleh saling bergenggaman tangan di bawah meja saat aku dan dia menikmati santapan makan malam di sebuah restauran yang temaram. Atau hubungan yang lebih banyak diisi dengan kegiatan mencuri-curi kesempatan untuk berduaan karena aku dan dia sebetulnya tidak ingin ketahuan. Aku bosan dengan semua ritual-ritual tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah tidak lagi muda. Kalau diibaratkan makanan dalam kemasan mungkin aku sudah bisa dibilang menjelang waktu kadaluarsa. Karena itu aku ingin sebuah hubungan yang berkualitas, hubungan intelektual yang akan mensejajarkan aku dan dia dalam cara pandang yang sama dalam melihat sesuatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bukan orang yang memiliki intelektualitas tinggi, sehingga aku juga tidak mengharapkan seseorang yang memiliki kapasitas lebih dari itu. Tapi setidaknya aku ingin sebuah hubungan yang lebih banyak diisi dengan saling mendengarkan. Kalau perlu sesekali diselingi dengan perdebatan tentang sesuatu yang memiliki dasar keilmuan. Bukan diisi dengan banyak perdebatan mengenai misalnya kenapa seharian aku tidak ada kabar. Atau mengapa aku terlambat membalas sms yang dia kirimkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan intelektual. Mungkin terdengar berat untuk dijalankan. Tapi tidak, karena dalam hubungan intelektual, aku dan kamu tidak perlu membahas mengenai relativitas Einstein sebagai dasar dibangunnya mesin waktu. Aku hanya ingin sebuah hubungan yang lebih banyak diskusi, bukan hanya tentang hari ini tapi juga tentang masa depan dan bagaimana kita merencanakannya dalam kerangka impian. Apa itu sebuah hal yang muluk-muluk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengharapkan seseorang yang tidak hanya bisa diandalkan untuk memeluk ketika aku sedang risau. Aku butuh pasangan yang bisa dijadikan sebagai lawan diskusi mengenai masalah yang aku temui dalam pekerjaan. Dan aku akan berlaku sebaliknya. Berusaha ikut memecahkan masalahnya yang dia hadapi dalam pekerjaannya. Mungkin tidak kontekstual, tapi setidaknya bisa berdasarkan akal dan nalar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak lagi muda sehingga aku mengharapkansebuah  hubungan intelektual. Hubungan berkualitas yang terus akan mendewasakan dua orang pelaku yang bergenggaman di dalamnya. Aku tahu, aku terlalu banyak mau jadi tidak heran kalau sampai saat ini aku belum juga bertemu dengan sosok yang aku harapkan. Tapi aku sudah dilatih bersabar sekian lama, jadi kalau aku masih disuruh untuk menunggu, maka kalian keliru kalau aku tidak mau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-1899456989664732961?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/1899456989664732961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=1899456989664732961&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1899456989664732961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1899456989664732961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/12/sekedar-unek-unek.html' title='(sekedar) Unek-Unek'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-MaWEZdDbdlM/Tu6P0TzWGxI/AAAAAAAAA5o/SemMy-Y7HVQ/s72-c/886850-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-1889686506171481010</id><published>2011-12-16T10:20:00.002+07:00</published><updated>2011-12-16T10:23:26.912+07:00</updated><title type='text'>Jalanan Lengang</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-4l3BIEEMfz4/Tuq5Ob00l2I/AAAAAAAAA5c/N3ntDt6rCNc/s1600/104796626.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 170px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-4l3BIEEMfz4/Tuq5Ob00l2I/AAAAAAAAA5c/N3ntDt6rCNc/s400/104796626.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5686561137147287394" /&gt;&lt;/a&gt; Lengang. Jalanan sunyi serupa pernah aku lewati beberapa kali. Jalanan tak beraspal yang menyimpan banyak jebakan berupa kubangan di tempat-tempat yang tak terduga sama sekali. Jalanan yang harus kulalui karena tidak ada jalan lain sebagai alternatif, dan kalaupun ada harus memutar jauh dan menghabiskan banyak waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak memilih jalan memutar, karena aku belum tahu medan. Belum tentu jarak yang lebih jauh menjanjikan kemulusan tanpa lubang di jalanan. Bagaimana kalau ujungnya sama saja membuat kakiku terjerembab pada kubangan yang hampir sama? Aku tidak mau bertaruh karena seringkali aku tidak beruntung. Menggadaikan perasaan percaya yang tetap tercuri simalakama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, aku terlalu penakut. Tidak mau mengambil banyak resiko dengan mencoba hal-hal baru. Aku memilih jalanan lengang yang harus dilalui tanpa penerangan. Lebih memilih meraba-raba dalam gelap dan hati-hati dalam melangkahkan kaki agar tidak berdarah saat terkatuk kerikil tajam yang acak tersebar. Aku memilih jalanan lenggang yang sepi dari lalu lalang kendaraan, sehingga aku benar-benar harus mengandalkan instuisiku sendiri. Percaya kepada apa yang aku percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat aku berguru pada matahari, menyerap sinarnya sepenuh mungkin dan berharap biasnya dapat kusesapkan dalam setiap sendi tubuhku sehingga dapat berpendar ketika aku dalam kegelapan. Tapi sia-sia. Matahari tidak memperbolekanku berpendar kala malam. Dia membagi sinarnya pada rembulan dan gemintang, tapi memadamkan pendarnya dalam tubuhku. Sementara bulan dan bintang seakan cemburu sehingga tidak mau menuntunku dengan cara bersembunyi di balik awan kelabu. Lagi-lagi aku berjalan dalam kegelapan. Sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memilih jalanan lengang ketimbang jalanan yang ramai. Ketika sepi aku bisa menjadi diriku yang sebenarnya, tidak perlu bertopeng untuk sekedar menyenangkan hati orang yang sibuk hilir mudik di trotoar jalanan yang ramai. Dalam senyap aku menemukan banyak kedamaian, terhindar dari banyak pertikaian atau paling tidak dari debu dan asap hitam knalpot kendaraan. Aku bisa menjadi aku. Aku bebas berekspresi tentang sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, mungkin aku terlalu penakut untuk menghadapi kerasnya hidup di jalanan. Aku belum cukup bekal untuk dilepas di rimba yang penuh dengan kepalsuan. Dengan cahaya-cahaya benderang yang yang justru menyesatkan, aku takut tidak bisa lagi pulang. Dengan warna-warna yang memabukkan, aku khawatir malah tidak mau pulang sementara aku sadar bahwa akhirnya aku harus hidup dengan benar. Tanpa embel-embel kepalsuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya saya menanggalkan baju yang selama ini saya pakai, menggantinya dengan kain yang akan saya kenakan dalam keabadian. Merintis lagi kepercayaan bahwa kehakikian akan datang meski belakangan dan lewat jalan sepi yang temaram. Bukan lewat jalan yang penuh gegap gempita yang selama ini aku bayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ketakutan aku memilih jalanan lengang yang pasti penuh cobaan. Dalam ketakutan aku berserah pada doa agar aku selamat sampai tujuan, tidak peduli kalau perjalanan ini menghasilkan ribuan benjol kapalan. Setidaknya aku ingin hidup lebih baik dari sekarang, tidak lagi menyangkal dan bernafas lega tanpa banyak penyesalan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-1889686506171481010?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/1889686506171481010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=1889686506171481010&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1889686506171481010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1889686506171481010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/12/jalanan-lengang.html' title='Jalanan Lengang'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-4l3BIEEMfz4/Tuq5Ob00l2I/AAAAAAAAA5c/N3ntDt6rCNc/s72-c/104796626.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-5130557423551360421</id><published>2011-12-14T08:27:00.000+07:00</published><updated>2011-12-14T08:27:02.477+07:00</updated><title type='text'>Ilalang</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-8clWpJloT1k/TuQjvsDRzwI/AAAAAAAAA5Q/W1hkdD9iPFk/s1600/78320753.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 169px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-8clWpJloT1k/TuQjvsDRzwI/AAAAAAAAA5Q/W1hkdD9iPFk/s400/78320753.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5684707931834142466" /&gt;&lt;/a&gt;Sebut saja dia ilalang. Gulma perusak tanaman budidaya yang mudah sekali tumbuh tanpa perlu perawatan yang berarti. Tidak perlu pupuk, tidak perlu pengairan yang cukup, dan dia akan tetap hidup dengan subur menghimpun suatu kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat geragih yang tidak tampak mata dia beranak pinak membentuk suatu perkumpulan sehingga semakin sulit dihilangkan. Dan dia pintar, ketika lingkungan sebegitu tidak menguntungkan dia meranggaskan tajuknya hingga tampak seolah-olah mati. Tapi di dalam tanah dia bersinergi, mengumpulkan kepercayaan-kepercayaan baru untuk diretasnya kembali ketika hujan mulai datang di penghujung kemarau panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja dia ilalang. Musuh yang paling ditakuti tanaman budidaya yang disayangi petani. Penuh rakus ilalang akan menghabiskan nutrisi yang digelontorkan petani untuk tanaman yang mereka sayangi. Tanpa kenal ampun ilalang akan berkompetisi untuk memperoleh area hidup yang sedemikian luas dengan cara tumbuh lebih cepat dari semestinya. Lewat mekanisme alelopati, ilalang mengeluarkan racun untuk membunuh saingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apakah dengan segala usaha kerasnya itu dia lantas mendapatkan kasih sayang petani? Jawabannya tetap tidak. Petani akan berusaha lebih giat untuk melenyapkannya, tidak peduli harus mengeluarkan biaya ekstra bahkan mengutang pada tengkulak. Atau ketika sang petani sudah sampai pada tahap frustasi, dia akan membiarkan ilalang berkembang di lahannya tanpa pernah dia perhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku pernah hidup seperti ilalang. Tumbuh subur di pekarangan orang, berharap kalau suatu saat pemilik pekarangan tidak lagi merawat bunga layu yang tumbuh di sudut halaman dan berpaling ke arahku sekedar mencari penyegaran. Bunga itu sudah layu, sudah tidak pantas dipertahankan menghiasi pekarangannya yang nyaman. Karenanya aku berusaha keras menjalar ke semua penjuru untuk mencuri sedikit perhatian. Menyemai kepercayaan kalau suatu saat dia akan tersadar dan memilihku sebagai pengganti bunga yang layu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga itu tetap di tempatnya. Mengeringkan sisa kelopaknya yang pernah menjadi bagian indah dari pekarangan yang nyaman. Aku tahu bunga itu tidak ingin dipertahankan, aku tahu bunga itu hanya menuntaskan sisa-sisa harapannya untuk kemudian mati total. Tidak peduli pada pemilik pekarangan yang bersikukuh ingin mempertahankan meski dia tahu alur cerita yang akan dia hadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku salah. Memilih menyemai benih ketika bunga itu sepenuhnya belum meranggas kering. Dan aku salah. Melancarkan banyak usaha ketika pemilik pekarangan masih gamang antara bertahan atau bergerak meninggalkan. Pemilik pekarangan dilimbung bingung, sehingga akhirnya dia memilih untuk tidak memperhatikan ilalang kusam yang tumbuh disudut yang berlainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja aku ilalang. Tumbuh liar di pekarang yang masih menjadi milik orang. Penuh upaya aku membuktikan kalau aku mampu bertahan walau tidak banyak kasih yang dicurahkan. Sebut saja aku ilalang, gulma pengganggu hubungan orang. Tanpa bermaksud ingin dibandingkan, aku hanya hadir dalam sebuah kekeliruan. Hingga akhirnya aku lelah dan meranggas kerontang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selayaknya ilalang, akan ada saatnya untuk aku menepi kemudian mati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-5130557423551360421?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/5130557423551360421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=5130557423551360421&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/5130557423551360421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/5130557423551360421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/12/ilalang.html' title='Ilalang'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-8clWpJloT1k/TuQjvsDRzwI/AAAAAAAAA5Q/W1hkdD9iPFk/s72-c/78320753.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-8661566235181428169</id><published>2011-12-12T08:57:00.000+07:00</published><updated>2011-12-12T08:57:00.728+07:00</updated><title type='text'>Jendela Tua</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ooWrx5CoxNE/TuOB_fYZCAI/AAAAAAAAA5E/u46_Sag3bh8/s1600/88639964.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 96px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ooWrx5CoxNE/TuOB_fYZCAI/AAAAAAAAA5E/u46_Sag3bh8/s400/88639964.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5684530082427242498" /&gt;&lt;/a&gt;Tidak ada yang tahu kalau diam-diam aku sering bercerita kepada jendela tua di rumah itu. Jendela tanpa tirai yang menjadi semacam tempat pelarianku dari berbagai macam persoalan. Kepadanya aku tidak hanya bercerita, tapi aku menggambarkannya dengan serangkaian huruf-huruf yang mungkin hanya dipahami oleh aku dan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bingkai kayunya, aku membisikan semua rahasia yang sejak lama aku simpan. Aku mempercayainya sehingga aku tidak khawatir kalau dia akan mengkhianatiku dengan membewarakannya kepada angin. Aku mempercayai dia segenap hati, apalagi aku dan dia sudah melakukan sumpah darah yang tidak akan kami langgar. Kulukai ujung jariku dengan peniti kemudian kuteteskan ke salah satu bagian bingkainya yang berlubang. Sumpah sakralpun kemudian aku rapal dalam diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dia tidak bicara apa-apa, aku tahu kalau dia mengerti tentang kesepakatan kami. Karena itu jugalah aku mempertaruhkan kepercayaanku kepadanya. Menampilkan diriku yang paling polos tanpa berbalut lagi banyak kebohongan. Di hadapannya aku ingin tampil selayaknya anak kecil yang tidak pernah bisa menyembunyikan apa yang tengah dia rasakan. Di hadapannya aku ingin muncul sebagai aku yang belum pernah mengenal dusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering malam-malam aku mengendap ke arahnya. Suara aku buat seminim mungkin karena aku tidak ingin membangunkan banyak orang yang justru akan merusak ritualku bercerita pada sebuah jendela tua. Dengan menyenandungkan syair lirih aku mulai bercerita tentang lagi-lagi cinta. Kuharap dia tidak akan pernah bosan dengan penggalan-penggalan cerita yang aku utarakan. Cerita mengenai cinta yang mungkin membosankan. Cinta yang seringkali tidak pernah tersampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak peduli. Aku terus bercerita. Aku terus memupuk  kepercayaan kepada sebuah jendela tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia memang setia. Sampai suatu saat ketika dia tergoda oleh sebungkus kembang gula. Dengan lancar dia menceritakan apa saja yang sudah aku percayakan kepada orang asing yang berteduh di dekatnya kala hari hujan. Hanya demi sebuah kembang gula murah dia mengkhianatiku. Demi sebuah sensasi manis perantaraan kembang gula yang dijanjikan orang asing itu dia mengumbar rahasiaku sampai ke yang paling kelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja aku marah. Merasa dikhianati oleh seorang sahabat yang diikat oleh sumpah darah tempo hari. Dengan berlari aku mendatanginya. Nafasku tersenggal-senggal karena diburu amarah seperti sumbu yang tersulut minyak di bagian bawahnya dan api di atasnya. Aku berteriak-teriak di hadapan jendela tua yang selama ini menjadi sahabatku. Meminta penjelasan atas apa yang sudah dia lakukan. Mengkhianati sumpah untuk tidak pernah menceritakan apapun yang aku ceritakan pada orang lain, apalagi orang asing. Aku benar-benar marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung penggugatanku, aku menangis. Rasanya dikhianati oleh jendela tua yang sudah aku anggap sebagai sahabat yang paling setia itu seperti dibenamkan pada pasir hisap tanpa bisa bernafas lagi. Aku terus menangis. Menggugatnya dengan berbagai pertanyaan sambil kutunjuk-tunjuk tempat dimana aku meneteskan darahku pada bagian bingkainya yang berlubang. Tapi dia tetap diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama hening membalut kami. Aku kelelahan setelah menuntaskan amarahku yang menggebu, sementara dia masih saja diam tidak menggubris kata-kata yang sudah aku lontarkan. Di ujung kelelahanku,  perlahan aku melihat sekelompok embun menutupi kacanya yang tidak bertirai. Embun itu berkumpul dan lama-lama berubah menjadi tetes-tetes air yang membanjiri bingkainya yang usang dimakan usia. Dia menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian aku mendengar dia berbisik pelan. Aku dekatkan telingaku ke arahnya agar bisa dengan jelas menangkap apa yang ingin dia utarakan. Masih sambil menangis dia berbisik “Aku menceritakan kepada orang lain karena aku sangat menyayangimu. Aku ingin ada orang lain yang tahu kalau kamu sebetulnya butuh pertolongan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian hanya bisa diam. Tanpa daya. Kemudian yang kulihat hanyalah gelap.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-8661566235181428169?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/8661566235181428169/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=8661566235181428169&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8661566235181428169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8661566235181428169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/12/jendela-tua.html' title='Jendela Tua'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ooWrx5CoxNE/TuOB_fYZCAI/AAAAAAAAA5E/u46_Sag3bh8/s72-c/88639964.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-4352582870470017705</id><published>2011-12-08T15:21:00.002+07:00</published><updated>2011-12-08T15:26:06.434+07:00</updated><title type='text'>Asimtot</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-FbkdrN5zjVs/TuB0gIhDdvI/AAAAAAAAA44/7iRzbavESyM/s1600/download.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 282px; height: 179px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-FbkdrN5zjVs/TuB0gIhDdvI/AAAAAAAAA44/7iRzbavESyM/s400/download.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683670825132324594" /&gt;&lt;/a&gt;Gedung Kuliah Umum (GKU) lama, Institut Teknologi Bandung, Pertengahan tahun 1999. Untuk kesekian kalinya pada mata kuliah kalkulus 1 aku mendengar dan mengerjakan latihan soal mengenai asimtot. Seperti bahasan-bahasan lain sebetulnya dimana aku tidak pernah mengerti untuk apa sesuatu yang absurd seperti itu dipelajari. Entah apa kepentingannya sampai aku harus bersusah payah mengerjakan soal tentang suatu garis lurus yang didekati oleh kurva lengkung dengan jarak semakin lama semakin kecil mendekati nol di jauh tak terhingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak pernah mengerti apa itu asimtot. Mengapa ada garis yang mendekati suatu garis lain yang berbentuk kurva tanpa pernah bisa menyentuhnya hingga saling berpotongan? Aku tidak mengerti konsep asimtot sampai aku mengenalmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari asimtot aku kemudian mengenal konsep pasangan rel kereta api, yang juga tidak aku mengerti. Seperti asimtot, pasangan rel tersebut terus beriringan tanpa pernah bisa saling beririsan. Tidak ada satu titik tujuan yang membuat keduanya untuk saling bertemu atau paling tidak bersentuhan. Asimtot mungkin lebih beruntung karena garis yang satu terus mendekati garis yang lainnya sampai batas tak hingga meski hasil akhirnya juga tetap tidak berpotongan. Tapi rel kereta berbeda, sepanjang jalan dari satu tujuan ke tujuan berikutnya mereka dipisahkan oleh jarak yang sama tanpa bisa bersinggungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita selayaknya mereka. Bisa saling berpandangan tanpa pernah bisa disatukan. Aku dalam jalur yang satu dengan leluasa bisa mengamatimu yang berada di jalur yang lainnya tanpa bisa berbuat apa-apa. Kita saling berdekatan, tapi karena sesuatu yang sudah ditakdirkan kita tidak bisa saling berpegangan. Hanya bisa saling mengutarakan rasa lewat getaran-getaran tak kasat mata yang tercipta ketika serombongan gerbong-gerbong itu melintas di atas kita. Sebuah sarana yang aku manfaatkan betul keberadaanya hanya untuk sekedar melepaskan rasa yang entah bisa dikatagorikan sebagai apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memilih berbagi kesakitan yang sama. Membagi sama rata titik berat ketika kereta melindasi  kita sehingga tidak ada yang menanggung lebih dari kesengsaraan yang tercipta. Lewat cara-cara yang sederhana seperti itu kita mengumbar cinta. Lewat banyak ketidakpastian kita mempertaruhkan segala hal untuk sekedar terus berpandangan sambil mengucap banyak harapan yang sebutulnya kita tahu benar kalau itu tidak bakal kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melewati satu pemberhentian, entah itu sebuah stasiun atau sebuah area luas tanpa bangunan yang hanya dijaga oleh seorang pria berseragam, aku berharap ada rekonstruksi yang akan menyatukan kita walau sesaat. Mungkin tidak akan berwujud kenyataan karena jarak sepertinya telah ditasbihkan untuk selalu berada diantara kita, tapi aku tidak lepas berdoa. Aku hanya ingin menyentuhmu dan kemudian berkata kalau aku setia kepadamu. Tidak peduli kalau itu akan merubah sebuah tatanan menjadi kongruen dan membentuk suatu bangun ruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti asimtot aku akan berusaha terus untuk mendekat ke arahmu sampai waktu yang tak hingga. Sebuah bukti tentang kesetian yang sering kamu perbincangkan. Selayaknya bagian dari sepasang rel kereta yang akan terus mendampingi pasangannya dari satu satu pemberhentian ke pemberhentian berikutnya, aku akan setia mengumbar rasa yang lagi-lagi entah untuk apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti asimtot yang konsepnya tidak pernah aku mengerti, kita juga tidak akan pernah saling memahami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-4352582870470017705?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/4352582870470017705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=4352582870470017705&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4352582870470017705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4352582870470017705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/12/asimtot.html' title='Asimtot'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-FbkdrN5zjVs/TuB0gIhDdvI/AAAAAAAAA44/7iRzbavESyM/s72-c/download.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-3749272933001458283</id><published>2011-12-06T12:05:00.001+07:00</published><updated>2011-12-06T12:11:36.521+07:00</updated><title type='text'>Iklan</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ny2vHAR16OY/Tt2j1XsKiHI/AAAAAAAAA4s/imPZwZQSygU/s1600/82822664.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 127px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ny2vHAR16OY/Tt2j1XsKiHI/AAAAAAAAA4s/imPZwZQSygU/s400/82822664.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682878442099083378" /&gt;&lt;/a&gt;Aku menganggapnya sebagai iklan yang hadir dalam fragmen panjang cerita hidup yang seringkali membosankan. Dengan rutinitas yang hanya itu-itu saja, aku butuh hiburan. Sekedar pengalihan untuk sedikit mencuri-curi waktu dan bernafas leluasa. Terbebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku butuh banyak kejutan sebagai sarana memelihara imajinasiku yang liar tentang sesuatu. Karenanya sering aku memanfaatkan semua kesempatan sekecil apapun sambil berdoa bahwa di akhir langkah aku akan memperoleh kejutan. Entah yang menyenangkan atau justru malah menyedihkan. Tak jadi soal, aku pasti akan menikmatinya. Convekti atau air mata semua aku nikmati dengan caraku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kemarin terjadi aku anggap hanya iklan. Selingan sesaat yang menyenangkan. Ketika waktu tayangnya telah habis, maka aku akan kembali kepada fragmen-fragmen yang sudah baku tertulis di kitab takdir. Jalan hidup yang senantiasa harus aku titi sambil menunggu iklan-iklan berikutnya hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang iklan sebegitu menggodanya, memaksa kita merogoh lebih dalam untuk membelanjakan hati. Berharap bahwa kesenangan yang dia tawarkan dalam kemasannya memang benar adanya. Tapi hidup tidak demikian, terlalu banyak tipuan pandangan, terlalu banyak manipulasi paralaks yang membuat kita salah dalam mengartikan apa yang kita lihat. Dan semuanya sudah terlambat ketika akhirnya sadar bahwa itu adalah salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bukan lagi anak kecil yang akan menangis ketika kenyataan tidak seperti yang ditawarkan dalam iklan. Sudah terlalu banyak keperihan yang justru menguatkan. Sudah terlalu kebal telapak kaki ini untuk merasakan tajam kerikil di jalanan. Aku menyikapi iklan benar-benar hanya sebuah selingan yang menyenangkan. Mewisatakan mata dan perasaan pada bentuk kemasan yang menjanjikan kesemuan. Enak dipandang tapi belum tentu  nyaman dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah tumbuh dewasa. Tidak ada lagi air mata ketika dipaksa untuk mempercepat waktu tayang sebuah iklan padahal hati masih ingin menikmati titik-titik melodi. Aku sudah dewasa sehingga tidak lagi gamang membedakan mana kenyataan dan mana sebuah selingan, meski kadang aku terduduk lama sebelum berkemas kemudian beranjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu kemarin, hanya aku anggap sebagai iklan. Jadi ketika di ujung waktu yang pendek itu ternyata kamu memberiku kepedihan, aku sudah membekali hati. Tidak ada penyesalan telah menikmati buaian perasaan  dalam waktu yang sesaat. Tidak ada amarah ketika kamu berjalan meninggalkan, karena seperti sudah aku bilang bahwa kamu selayaknya iklan. Sebuah selingan menyenangkan, sebuah kejutan yang membuat hidupku tidak hambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan khawatirkan aku. Sudah sering aku mengalami hal yang serupa, jadi aku akan baik-baik saja. Kalaupun sekarang aku menghilangkan semua sarana kita berkomunikasi, itu hanya karena aku tidak ingin menikmati iklan yang sama dua kali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-3749272933001458283?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/3749272933001458283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=3749272933001458283&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3749272933001458283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3749272933001458283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/12/iklan.html' title='Iklan'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ny2vHAR16OY/Tt2j1XsKiHI/AAAAAAAAA4s/imPZwZQSygU/s72-c/82822664.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-8776742938184683854</id><published>2011-11-29T21:07:00.000+07:00</published><updated>2011-11-29T21:18:02.111+07:00</updated><title type='text'>Penting (Banget)</title><content type='html'>Lokasi : Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu : Senin, 28 November 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian: sesuatu yang membuat saya seperti ABG. Senyum-senyum sendiri setelah pertemuan singkat yang hambar dan diakhiri dengan saling bertukar nomer telpon dan pin BBM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek: Sepanjang perjalanan Makasar – Sidrap – Toraja, wajah dia menari-nari di ingatan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek lanjutan : Perang batin antara menghubunginya duluan atau menunggu signal kalau dia benar-benar tertarik. Tapi yang pasti saya sering mengecek display picture BBM-nya sambil senyum-senyum tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek lebih lanjut : Saya jadi bodoh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis : Ya, saya murahan. Dengan gampang saya memberikan nomer-nomer pribadi saya kepada orang asing hanya karena pujian yang membuat saya melambung. Pujian tidak penting sebetulnya, hanya saja berefek seperti gendam yang membuat saya hilang akal sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis lanjutan : Mungkin saya terlalu putus asa dalam mencari cinta sehingga saya menangkap semua peluang yang mungkin sebetulnya tidak bisa dilanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis lebih lanjut : Saya menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setidaknya saya tahu kalau saya belum mati rasa. Saya masih bisa merasakan euphoria kesenangan yang ditimbulkan oleh sesuatu yang tidak penting sekalipun. Dan saya menikmati sensasinya. Seperti dulu, saat saya untuk pertama kalinya berusaha mengenali apa itu cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note : Tidak ada cerita tambahan, jadi saya tidak menerima BBM, email, DM, “kepo” atau apapun yang ingin penjelasan mengenai narasi di atas. Cukup saya, dia dan Tuhan yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note Lanjutan: Iya, saya sok penting banget!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-8776742938184683854?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/8776742938184683854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=8776742938184683854&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8776742938184683854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8776742938184683854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/11/penting-banget.html' title='Penting (Banget)'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-96240973920467613</id><published>2011-11-23T10:13:00.001+07:00</published><updated>2011-11-23T10:15:23.860+07:00</updated><title type='text'>Aku Membunuhnya</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-fXAlA9PRmQk/TsxlIgDpxvI/AAAAAAAAA4g/Bvrz9K_gxOs/s1600/83161234.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 162px; height: 170px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-fXAlA9PRmQk/TsxlIgDpxvI/AAAAAAAAA4g/Bvrz9K_gxOs/s400/83161234.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678024426925967090" /&gt;&lt;/a&gt;Darah. Aku melihat darah dimana-mana. Bau amis dan warna merah menyumbat semua lubang panca inderaku, membuatnya kelu dan bisu. Sesaat aku limbung tak bisa mencerna rentetan kejadian yang membuat darah itu berceceran di lantai kamarku. Mataku perih, bukan ingin menangis, tapi aroma darah itu seperti membakar korneaku. Membutakan, merebut cahaya yang harusnya tampak dan menggantikannya dengan warna merah dan hitam. Bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pisau itu masih kugenggam. Gemetar. Tetesan darah segar menetes dari ujungnya kemudian merayap di dinding buram kamarku yang temaram. Sekali lagi aku limbung hampir hilang kesadaran, hanya warna merah dah hitam yang bergantian menghantam penglihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhempas pisau itu dari genggaman. Suara berdentang yang dihasilkan besi dan lantai menjalar melalui udara pengap yang memberangus keberanianku yang mulanya tersulut tertantang. Gemetar masih aku rasakan di setiap bagian tubuhku, menggigilkan dan membuatku beringsut ke pojokan sambil memeluk lutut hingga mencium dada. Masih kulihat darah dengan jelas tersimbah di lantai keramik putih sehingga warnanya semakin jelas tergambar. Dalam kubangan darahnya sendiri dia terlentang tak lagi bernyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membunuhnya. Melalui tanganku dia menemui ajalnya, menyapa kematian yang mungkin belum mau dia temui. Perantaraan keberanian dan ketakutan yang teraduk sempurna dalam rongga otakku, dia aku tikam menggunakan pisau berkarat yang sudah lama aku persiapkan. Butuh waktu lama hingga akhirnya hari itu tiba. Butuh banyak konflik batin sampai akhirnya aku benar-benar berani melenyapkannya dengan tanganku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam tadi aku membunuhnya. Menguras habis darah yang mengalir dalam urat-urat nadinya hingga terburai membasahi hampir seluruh bagian lantai kamarku. Disana dia berkubang tanpa nyawa, dalam genangan darahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sedikit perasaan lega di tengah ketakutan yang menghadang. Tapi ada juga perasaan seperti seorang penjahat yang tertangkap basah dan siap dihakimi oleh masa. Keduanya menghasilkan sensasi gemetar yang maha dahsyat karena di ujung langkah aku takut menyapa sebentuk penyesalan. Perang batin lagi-lagi berkecamuk mempertanyakan apakah tepat bagiku mengakhiri hidupnya dengan cara yang sedemikian keji. Apakah keberanianku menghujam pisau berkarat tepat ke ulu hatinya sebetulnya hanya reaksi sesaat akibat kesakitan yang sudah sering dia beri. Aku dihantam banyak pertanyaan yang membuatku semakin mengkeret di pojokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sudah sepantasnya mati. Bahkan harusnya dari dulu aku memiliki keberanian untuk membunuhnya atau paling tidak memasukan bubuk arsenik kedalam minumannya yang selalu dia minta di setiap kunjungan. Dia layak mati karena keberadaannya hanya mempersulitku yang ingin terbang dengan bantuan sayap rapuh kepercayaan yang tak kasat mata. Begitu kalimat-kalimat pembenaran berdengung dalam rumah siput di dalam telingaku. Memekakkan karena kalimat-kalimat itu seperti berpesta pora di sana, menarikan tarian kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pantas mati. Dan orang yang paling tepat membunuhnya adalah aku sendiri. Lewat aku dia harus membaui ajalnya. Perantaraan tanganku dia harus melepas nafasnya satu per satu. Tidak boleh ada penyesalan, karena semua sudah dilakukan. Tidak boleh ada penyesalan, karena semua ini demi kebaikan. Lebih lama dia hidup, maka akan lebih banyak kesakitan yang akan dia hidangkan dalam altar pemujaan. Karenanya aku lega dan tidak menyesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam tadi, dengan pisau berkarat yang sudah aku persiapkan lama, aku membunuh dia. Mengirimnya pada alam kematiam yang katanya abadi sehingga kuharap tidak ada lagi reinkarnasi yang akan membuat dia kembali. Malam tadi, aku membunuhnya. Masa lalu tentang kamu. Selamanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-96240973920467613?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/96240973920467613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=96240973920467613&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/96240973920467613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/96240973920467613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/11/aku-membunuhnya.html' title='Aku Membunuhnya'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-fXAlA9PRmQk/TsxlIgDpxvI/AAAAAAAAA4g/Bvrz9K_gxOs/s72-c/83161234.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-7577512572492489415</id><published>2011-11-16T07:52:00.000+07:00</published><updated>2011-11-16T07:52:00.652+07:00</updated><title type='text'>No, Thank You</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/--NEGZ8RIUJg/Tr-y7IyMvBI/AAAAAAAAA4U/E8bKiI9sOVY/s1600/98841723.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 170px;" src="http://2.bp.blogspot.com/--NEGZ8RIUJg/Tr-y7IyMvBI/AAAAAAAAA4U/E8bKiI9sOVY/s400/98841723.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5674450784550173714" /&gt;&lt;/a&gt;Buat saya cobaan terbesar dalam menjalin suatu hubungan itu adalah mencintai kekasih orang. Tidak dapat dieliminir memang, tapi saya pasti punya sejumput pilihan untuk kemudian berlari menghindar. Sulit, terus terang, apalagi ketika kenyataan tersebut baru diketahui belakangan saat saya sudah terlanjur banyak membelanjakan perasaan atas nama sebuah pengharapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tanyakan pengalaman saya mengenai mencintai kekasih orang. Berulang-ulang saya dilimbung perasaan yang ternyata itu-itu saja. Mabuk oleh candu yang sebetulnya bisa saya buang dari awal. Tapi sepertinya pada beberapa keadaan saya memilih buta untuk berjalan di lorong yang sebetulnya terang. Saya memilih mengerat urat nadi saya sendiri secara perlahan sehingga menimbulkan sensasi sedih berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa pedih tersebut mau tidak mau harus saya telan tanpa berhak mempertanyakan. Saya terlanjur menyepakati perjanjian dengan kesakitan yang efeknya sudah saya kenal benar. Tapi tetap saya memilih untuk buta, memilih membebalkan rasa karena mungkin saya pikir saya akan kuat bertahan. Tidak lagi peduli pada luka yang akan menganga lebar di akhir batas sebuah kesabaran. Acuh pada air mata yang pastinya siap ditumpahkan saat saya menyerah di akhir langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodoh. Tentu saja saya tahu kalau itu tindakan bodoh. Memilih sesuatu yang saya tahu salah dengan alasan yang seringnya tidak logis adalah tindakan bodoh yang tidak dapat dibenarkan. Dan saya selalu bertahan dalam kebodohan itu, tanpa takut pada ganjaran yang akan saya pampang. Saya bertahan dalam kubangan yang awalnya saya pikir akan membahagiakan karena saya anggap saya bisa berteman dengan konsekuensi dari menggenggam tangan kekasih orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu dulu. Sekarang saya kapok berjalan pada acuan yang keliru. Mencintai kekasih orang hanya akan membuat hati saya semakin kerontang. Bukan hanya karena diganjar kemarau tak berkesudahan, tapi juga karena perasaan kerdil yang pasti ditimbulkan. Saya lebih baik sendirian ketimbang memunguti remah-remah sisa di pekarangan orang seperti pencuri yang takut ketahuan. Saya memilih tidak membelanjakan perasaan daripada saya harus membayar banyak kerugian yang tidak setimpal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasih orang tetaplah kekasih orang. Seperti apapun saya memagarinya agar tidak sering meloncat ke tanah tempatnya berasal, saya tidak akan mampu membuatnya terus diam. Dia akan kembali pulang untuk meretas mimpi yang telah lahir duluan. Bersama saya mimpi lahir belakangan, dan dengan cara apapun tidak akan pernah bisa menang. Tidak peduli kalau menurut dia mimpi yang dia semai duluan ternyata sekarang sudah tidak membuatnya nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sekarang hanya lebih berpikir realistis. Kalaupun dia berjanji akan menterminasi mimpi yang lahir duluan untuk menjajaki mimpi yang lahir belakangan, jangan harap saya akan bersedia dibegitukan. Karena tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada saya-saya lain setelah saya yang sekarang. Saya akan ditinggalkan oleh mimpi barunya yang mungkin tidak bisa saya kembangkan. Dan saya percaya bahwa karma akan kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya saat ini Tuhan sedang mengajak saya bercanda, karena lagi-lagi dia kirim seseorang dengan judul kekasih orang. Tapi jangan khawatir, saya akan mengencangkan tutupan pintu hati sambil berujar, “tidak, terima kasih”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-7577512572492489415?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/7577512572492489415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=7577512572492489415&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/7577512572492489415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/7577512572492489415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/11/no-thank-you.html' title='No, Thank You'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/--NEGZ8RIUJg/Tr-y7IyMvBI/AAAAAAAAA4U/E8bKiI9sOVY/s72-c/98841723.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-677483739247194959</id><published>2011-11-14T08:03:00.000+07:00</published><updated>2011-11-14T08:03:00.500+07:00</updated><title type='text'>Sahabat Kala Galau</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-XCCxyjQ-Hgw/TrvpISS23xI/AAAAAAAAA4I/4JOPBDw5olA/s1600/103752386.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 114px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-XCCxyjQ-Hgw/TrvpISS23xI/AAAAAAAAA4I/4JOPBDw5olA/s400/103752386.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5673384484162428690" /&gt;&lt;/a&gt;Saya berkenalan dengannya ketika saya menginjak dewasa. Kedua orang tua saya yang menginisiasi perjumpaan pertama kami, dan semenjak saat itu saya seperti ketagihan. Mengunjunginya di hampir setiap akhir pekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ibu peri, dia mengerti saya. Kepadanya seringkali saya membawa gundah gulana atau keluh kesah. Memang dia tidak bisa menghilangkannya, tapi ketika saya berada di dekatnya saya seperti lupa. Dia menyihir saya sehingga saya melayani permainannya, bahkan saya tidak mempedulikan peluh yang bercucuran di tubuh saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa bahagia. Menemukan jalan pelarian dari setiap masalah yang waktu itu saya punya. Umur yang belum terlalu matang membuat saya kadang tidak bisa memutuskan dan menyelesaikan. Karenanya saya selalu kembali kepadanya berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya saya tidak pernah bosan. Bahkan ketika saya tersadar kalau sebetulnya dia tidak pernah memiliki solusi dari semua pertanyaan yang saya bawa lari. Dia hanya berperan sebagai tempat pengalihan dari segala bingung, bimbang dan galau sehingga sebetulnya setelah saya mengakhiri waktu kunjungan, saya tidak mendapatkan apa-apa. Saya tidak sepenuhnya terbebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya bahagia setiap menjelang waktu pertemuan, penuh persiapan saya berdandan. Deg-degan seperti mau bertemu dengan selingkuhan, gemetar seperti menunggu pengumuman kelulusan. Saya menikmati momen-momen tersebut sambil saya beranjak dewasa, belajar bahwa dia memang tidak pernah punya jawaban dari semua apa yang saya takutkan. Dia hanya sebuah bentuk pengalihan yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sekarang saya masih menyambanginya terkadang, tidak sesering dulu karena saya merasa sudah bisa menemukan jalan keluar dari setiap masalah yang menghadang. Kalaupun saya mengunjunginya, itu hanya sekedar untuk mewisatakan hati, menikmati masa-masa dulu ketika saya masih tergila-gila kepadanya. Sudah banyak yang berubah, dan sayapun tidak lagi merasakan apa yang dulu saya pernah rasakan. Saya tidak merasa lagi adrenalin saya terpompa kencang ketika saya bercengkrama dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menyesali apa yang terjadi sekarang ketika saya sudah merasa tidak lagi memiliki ikatan batin sekuat dulu dengannya. Rasa yang dulu pernah terpupuk subur lambat laun meluntur dihajar pergerakan usia. Saya juga tidak menyesali kalau saya pernah dibuat gila olehnya. Itu hanya sebagian kecil dari perjalanan hidup yang kemudian mengantarkan saya menjadi saya yang seperti sekarang. Dari dia saya pernah belajar bagaimana menyelesaikan bimbang, bagaimana mengatasi gamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa berjanji kalau saya akan berhenti menemuinya ketika saya merasa rindu. Terlalu banyak hal yang dia sudah pernah torehkan sehingga saya seperti tidak bisa lepas dari jeratan buaiannya. Berada di dekatnya saya tidak mengharapkan mendapatkan sesuatu, karena dari awal saya sudah yakin kalau dia hanya bakal  menjadi sahabat saya yang pendiam. Yang tidak akan banyak berkelakar ketika saya dirundung kesedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya yakin dia akan tetap demikian, setidaknya buat saya. Tidak peduli ketika semakin banyak orang yang juga berlari ke arahnya ketika butuh hiburan atau sekedar membuang galau. Dia akan setia kepada saya, hadir ketika saya butuh teman untuk berbincang dalam ramai. Dia akan tetap begitu selamanya, siap saya hentak kapanpun saya mau. Dia akan tetap menjadi sebuah lantai dansa yang saya puja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-677483739247194959?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/677483739247194959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=677483739247194959&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/677483739247194959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/677483739247194959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/11/sahabat-kala-galau.html' title='Sahabat Kala Galau'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-XCCxyjQ-Hgw/TrvpISS23xI/AAAAAAAAA4I/4JOPBDw5olA/s72-c/103752386.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-7192637843149615691</id><published>2011-11-11T07:49:00.000+07:00</published><updated>2011-11-11T07:49:00.430+07:00</updated><title type='text'>11-11-11</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-vql_wcd2psQ/TrvnUnkH76I/AAAAAAAAA38/v4pcs97FW-4/s1600/CA15963.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 111px; height: 170px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-vql_wcd2psQ/TrvnUnkH76I/AAAAAAAAA38/v4pcs97FW-4/s400/CA15963.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5673382497007169442" /&gt;&lt;/a&gt;Coba tengok almanakmu hari ini! Bukankah sekarang itu tanggal yang cantik? 11-11-11. Tanggal yang diributkan banyak orang bahkan dari setahun silam. Katanya triple 11 itu bisa jadi sebuah angka keberuntungan, tanggal yang bakal mudah dikenang apabila sebuah momen diabadikan dalam bingkai ketiga angka tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tertarikkah kamu untuk berlaku seperti kebanyakan orang? Membuat tanggal yang seharusnya biasa saja menjadi sesuatu yang patut dikenang dalam ranah perayaan. Memang sebetulnya tanggal tersebut adalah tanggal yang biasa, seperti tanggalan pada umumnya. Tanggalan ketika kita berdua sibuk dengan aktivitas yang beraneka ragam sampai kadang kita lupa hari apa sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi aku bertanya, tak tertarikkah kamu untuk berlaku seperti orang kebanyakan? Membuat 11-11-11 menjadi sebuah titik awal yang akan kita kenang pada tahun-tahun mendatang. 3 angka yang pastinya akan kita lewatkan seperti orang asing yang tidak pernah saling mengenal, berjibaku dengan urusan masing-masing tanpa memikirkan bahwa seharusnya sekarang kita sudah menjadi pasangan. Kita hanya lupa bahwa dulu sekali kita pernah bersua dan berjanji untuk bertemu suatu hari nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin setting 11-11-11 bukan waktu yang tepat untuk kita memenuhi janji yang sudah kita tandatangani. Pasti belum waktunya karena sampai detik ini aku masih belum bisa membaui tanda-tanda kalau kita akan bersama seterusnya. Pasti ada tanggalan lain yang bisa jadi lebih unik untuk kita saling melunasi janji yang pernah terucap. Pasti ada angka-angka lain yang dianggap ajaib yang akan menjadi prasasti dari kita saling berikrar sehidup semati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak pernahkah kamu disana membayangkan kalau mungkin seharusnya tanggal ini kita menikah? Berdiri di pelaminan menyalami ratusan atau ribuan tamu undangan.  Atau kita membayangkan sesuatu yang spektakuler semisal kalau pada tanggal ini kita akan mendapatkan banyak ucapan suka cita dari kerabat dan handai taulan atas kelahiran anak kita yang pertama. Banyak seharusnya-seharusnya yang belum kita realisasikan dalam koridor nyata seperti yang sudah kita sepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seperti halnya kamu tidak lantas khawatir dengan apa yang sekarang berlaku. Pasti ada keyakinan di hati kita masing-masing kalau semua ini hanya masalah waktu. Tanggalan tidak akan menjadi persoalan, angka-angka menawan tidak akan menjadi sebuah beban. Perjanjian dulu sudah kadung pernah diucapkan, kita hanya lupa bagaimana caranya merealisasikan karena terlalu sibuk mencari jalan yang ujungnya akan saling bertautan. Mempertemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada istilah terlambat untuk melunasi janji. Hari ini masih menyisakan sekian jam perjalanan. Kalaupun kamu tidak ingin ketinggalan seperti orang kebanyakan dan menjadikan 11-11-11 lebih istimewa dalam frame kenangan, mari kita berjumpa dan melunasi semua janji-janji yang pernah tertulis dalam lembar-lembar buram daun lontar. Kutunggu kamu di pinggir jalan yang sudah kita hapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kamu masih terlampau sibuk, jangan takut aku akan berpaling. Membelanjakan hari demi hari kedepan dalam penantian tidak akan membuatku lantas bosan karena seperti yang sudah aku janjikan, aku akan tetap bertahan sampai kita akhirnya dipertemukan. Kita hanya masih terbuai untuk mengurai jalanan kusut yang terpampang. Kamu hanya perlu yakin seperti halnya aku bahwa di salah satu jalan yang sebetulnya kita sudah kenal, kita akan berpapasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak di tanggalan 11-11-11 bagaimana seandainya kita gagas ulang pertemuan kita di tanggalan 1-2-12 tahun mendatang. Aku menunggu jawaban.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-7192637843149615691?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/7192637843149615691/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=7192637843149615691&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/7192637843149615691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/7192637843149615691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/11/11-11-11.html' title='11-11-11'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-vql_wcd2psQ/TrvnUnkH76I/AAAAAAAAA38/v4pcs97FW-4/s72-c/CA15963.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-4262417204358276973</id><published>2011-11-09T07:55:00.000+07:00</published><updated>2011-11-09T07:55:00.298+07:00</updated><title type='text'>AKUPUN SAMA</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-eq-px-VRUxw/TrVnUyUjmWI/AAAAAAAAA3w/3LS4kuvly-8/s1600/78321115.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 169px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-eq-px-VRUxw/TrVnUyUjmWI/AAAAAAAAA3w/3LS4kuvly-8/s400/78321115.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5671552912546044258" /&gt;&lt;/a&gt;Akupun sama, tidak memiliki alasan kenapa harus menunda-nunda. Bahkan waktu seperti sudah tidak bersahabat memburu minta dihentikan untuk kemudian kembali diputar. Nanti, ketika aku sudah menemukan pegangan yang tidak lagi membuatku gamang merapal langkah di jalanan. Tapi sekarang waktu masih saja memburu, membuatku lelah dan terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja akan aku hadiahkan sebuah kebahagiaan. Sesuatu yang sudah aku persiapkan ketika aku mulai tersadar beberapa tahun silam. Sayang, bentuk kebahagiaan itu belum juga menemukan ruang untuk kemudian ditampilkan. Semua masih semu, masih berselimutkan seludang kelabu yang sulit disibak bahkan oleh seperangkat doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun sama, tidak lepas merapal doa sambil menengadahkan tangan ke udara. Seringkali merasa sia-sia dan tidak berguna, tapi untungnya aku masih diberi sehelai rasa percaya. Sehelai yang beranak pinak menjadi tameng kokoh yang aku rasa melindungiku dari segala mara bahaya. Atau setidaknya dari salah langkah yang seringkali aku coba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mungkin bukan orang baik, tapi sekuat tenaga aku berusaha untuk melakukan yang terbaik. Mungkin aku masih saja bingung dilimbung persimpangan yang menghadang, tapi aku berusaha untuk lepas dari segala cengkraman yang sudah sekian lama meninabobokan.Keluar dari nyaman sarang yang membuatku lupa akan dosa. Aku berusaha walaupun seringkali aku justru balik lagi pada titik yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tahu kenapa godaan itu seperti sukar untuk dienyahkan, terus membuntutiku yang sebetulnya ingin berubah. Sudah cukup berbagai pengalaman aku gambar dalam dinding perasaan, sudah banyak sari yang aku ambil sebagai bentuk sebuah pembelajaran. Tapi seperti tidak pernah cukup, godaan itu datang dan datang lagi menggoyahkan kaki yang sudah lelah berlari. Membuatku akhirnya menyerah dan kembali berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak sekuat apa yang aku bayangkan. Kerap kali aku berusaha keluar tapi malah terperosok semakin dalam. Aku mencoba menghindar, tapi selalu saja aku diketemukan. Dipaksa mereguk manis dosa yang dihadirkan sosok yang diam-diam aku puja. Mereka datang tanpa diundang, mereka bertandang tanpa tahu aturan. Tanpa mengindahkan tanda mereka menerobos masuk membelaiku kembali dengan rasa yang sebetulnya aku ingin lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun sama, ingin segera keluar sebagai juara. Tidak peduli ketika harus kugadaikan nyawa sebagai tanda bukti untukku melupakan masa lalu. Hitam sudah tertoreh tebal, tapi jangan khawatir, lewat doa akan aku beli sebuah pengampunan untuk menghapusnya perlahan. Noda sudah tercetak, tapi jangan khawatir karena lagi-lagi lewat doa aku akan mengiba sebuah bentuk pemaafan. Tidak ada yang mustahil untuk dikerjakan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permudahlah jalanku. Begini saja, bagaimana kalau nanti malam kita bertemu dalam mimpi. Nilai aku sepuasnya, setelah itu kamu boleh pergi. Tidak kembali. Berpikir ulang setelah pergi untuk kemudian kembali. Atau tidak pergi sama sekali sehingga tidak perlu kembali. Kamu yang menentukan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-4262417204358276973?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/4262417204358276973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=4262417204358276973&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4262417204358276973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4262417204358276973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/11/akupun-sama.html' title='AKUPUN SAMA'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-eq-px-VRUxw/TrVnUyUjmWI/AAAAAAAAA3w/3LS4kuvly-8/s72-c/78321115.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-4527495211162996950</id><published>2011-11-07T08:45:00.001+07:00</published><updated>2011-11-09T07:51:31.850+07:00</updated><title type='text'>Drama di Kepala</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-KQ3H2bGtoRk/TrVaWOgGfBI/AAAAAAAAA3k/NBJ1Q5stQ54/s1600/104505634.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 137px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-KQ3H2bGtoRk/TrVaWOgGfBI/AAAAAAAAA3k/NBJ1Q5stQ54/s400/104505634.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5671538643639368722" /&gt;&lt;/a&gt;Aku menjadikan kepalaku sebagai panggung tempat pementasan drama. Puluhan cerita siap dipentaskan ketika aku menekan tombol on di sebelah tulang mata. Tanpa perlu aba-aba, babak demi babak akan runut dimainkan sesuai dengan skenario yang aku gubah sendirian. Kadang penuh persiapan tapi seringkali spontan ketika aku sedang butuh tontonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pementasan drama di kepalaku cenderung asosial. Tidak ada penonton yang bertepuk tangan di akhir pertunjukan, atau mengeluarkan sumpah serapah karena sudah membayar sejumlah uang dan tontonannya tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Bahkan tidak ada penonton yang tertidur pulas di bangku keras karena keburu bosan sebelum cerita sampai pada klimaksnya. Pementasan drama di kepalaku sepi pengunjung, tapi tidak pernah berhenti berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak peduli dengan rating karena sebetulnya drama yang aku cuplik bukan untuk konsumsi publik. Aku tidak peduli dengan tidak adanya komersial yang katanya akan meningkatkan nilai jual. Aku hanya ingin panggung yang memang sudah ada tidak miskin cerita, aku ingin mereka tetap gempita meskipun kenyataannya banyak yang kontra. Aku hanya ingin pemeran-pemeran tanpa casting yang sudah aku reka menemukan nyawanya dalam alur sebuah laga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang aku membuka sedikit sekat agar pementasan drama yang tengah diputar di kepala menemukan udara. Membuatnya sedikit lega karena terlepas dari pengap yang mendera. Lewat jendela imaji paparan demi paparan aku unggah penuh makna. Bukan untuk mengumbar ataupun membanggakan atas apa yang sedang dirasakan, aku hanya ingin sosok-sosok yang kerap aku pelihara dalam bandrol drama mengenal dunia. Aku ingin mereka lantas bercerita bahwa mereka sebetulnya ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terlalu berlebihan rasanya ketika mereka aku hadirkan layaknya nyata. Menunggang aksara mereka membungkuk memperkenalkan perannya dalam sebuah jalan cerita. Menitis dalam kata mereka memainkan skenario yang digubah penuh prahara. Tapi jangan kasihani mereka, karena mereka hanya bersandiwara. Jangan kasihani aku karena aku hanya seorang penggubah cerita, seorang penggila drama dalam pentas tanpa suara di kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat jendela imaji aku berbagi. Menyapa serakan ribu maya yang berkunjung merapal kidung. Bagai cermin di pinggiran trotoar aku berdiam, menyediakan awahan bagi pejalan kaki yang sekedar ingin merefleksi. Berdiri sebentar kemudian meraba hati, berharap setelah itu sebuah senyum terulas di wajah sang pejalan kaki. Meski tipis tapi aku tahu kalau dia merasa tidak pernah hidup sendiri. Ada orang sepertinya yang memainkan peran yang sama dalam drama yang pentas di kepala. Bedanya hanya karena dia itu nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku penggila drama, karenanya aku gagas banyak pertunjukan di dalam kepala. Meski tanpa riuh deru penonton yang gemuruh, pertunjukan tetap harus dijalankan. Mengikuti jadwal kesepakatan antara pihak-pihak yang tidak kelihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku penggila drama, dan kalaupun aku umbar ceritanya melalui aksara, aku hanya ingin membersihkan panggung dari debu yang menggunung. Agar ketika sudah sedikit bersih, aku bisa menciptakan lagi babak baru yang kusenandungkan dalam nyanyian. Sendirian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-4527495211162996950?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/4527495211162996950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=4527495211162996950&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4527495211162996950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4527495211162996950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/11/drama-di-kepala.html' title='Drama di Kepala'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-KQ3H2bGtoRk/TrVaWOgGfBI/AAAAAAAAA3k/NBJ1Q5stQ54/s72-c/104505634.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-1678840054690262237</id><published>2011-11-04T08:40:00.001+07:00</published><updated>2011-11-04T08:42:15.374+07:00</updated><title type='text'>Bersemi (Kembali)</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-QM1hA0mcpI8/TrNC1cguKEI/AAAAAAAAA3Y/-sUQDhVck9c/s1600/109350538%2B%25281%2529.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 128px; height: 170px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-QM1hA0mcpI8/TrNC1cguKEI/AAAAAAAAA3Y/-sUQDhVck9c/s400/109350538%2B%25281%2529.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5670949841743521858" /&gt;&lt;/a&gt;Hilang kata. Semua menguap ke udara ketika sosok itu berdiri tersenyum di hadapanku kemarin senja. Tanpa kabar dia tiba-tiba bertandang, membuat limbung seketika. Mengoyak semua tatanan yang tersusun rapi di dalam kepala, membuatnya bergerak acak berlarian tanpa pola. Kebanyakan berebut minta disembunyikan, tapi ada beberapa bagian yang justru menantang ingin ditampilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian tahun tidak ada yang berubah. Hanya gurat kedewasaan yang semakin banyak dipertontonkan wajahmu yang tetap rupawan. Senyummu masih sama, senyum yang pernah membuatku seperti hilir mudik diantarkan ke nirwana. Senyum yang senantiasa mengembang mengiringi bergulirnya hari. Senyum yang pernah padam seperti api terguyur hujan ketika selepas ashar kita bersitegang dan memutuskan tidak lagi berpegangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bertanya apakah saat itu aku merasa kehilangan, atau apakah aku tidak menyesal. Berminggu-minggu aku sakaw mencandu kehampaan sampai akhirnya bebal. Berhari-hari aku selayaknya setan yang bergerak melayang. Tidak aku rasakan kaki yang menapak menopang massa seakan teori relativitas Einstein bekerja tanpa kerangka. Aku kehilangan meskipun sebetulnya sakit yang tengah dia hidangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah seharusnya ada segumpal maaf yang menggelembung di ujung ketersiksaan? Bukankah seharusnya aku bisa memilih buta dan berdamai dengan apa yang sudah dia lakukan? Sayang aku tidak bisa memilih opsi itu, aku lebih memilih membuka mata tentang kenyataan bahwa dia sudah membagi apa yang seharusnya tidak dia bagikan. Aku lebih memilih melepaskan karena mungkin itu bisa membuat dia lebih bahagia. Aku belajar tidak egois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lihat, setelah sekian tahun aku belajar melupakan, sekarang dia datang lagi. Menimbulkan turbulensi yang masih tetap memporakporandakan. Membuatku menaiki mesin waktu ke masa lampau untuk merinci apa yang tidak bisa hilang dari pekarangan kenangan. Dia begitu indah, karenanya dia dan aroma memorinya aku bingkai dalam pigura tanpa kaca. Menyisakan secuil kemungkinan untuk aku rogoh dan aku hadirkan ketika aku ingin bertamasya. Berjalan di pematang yang sering aku dan dia lewati dalam bayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan pertanyaan berawalan ingatkah bermunculan perantaraan tatapannya yang melumat diriku hingga lekat. Tidak banyak suara yang menggetarkan udara, tidak banyak pertanda yang harus diterjemahkan rasa. Aku dan dia hanya duduk dalam hening dengan jalan pikiran yang saling bertumbukan, mencipta momentum-momentum jawaban dari semua pertanyaan yang keluar bergantian. Merapal semua kemungkinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa menjanjikan taman untuk saling bercengkrama seperti dulu. Dia juga tidak menjanjikan untuk menyemai ratusan benih bunga beraneka warna sebagai hiasan. Masa lalu telah mengajarkan aku dan dia bahwa terlalu berharap hanya akan menimbulkan kesakitan berkepanjangan. Terlalu dalam menggali perasaan hanya akan menjadikan semuanya sebagai jeratan yang siap menghadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk saat ini aku dan dia hanya memulainya dengan rasa percaya. Mengobati luka yang masih menganga, entah untuk berapa lama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-1678840054690262237?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/1678840054690262237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=1678840054690262237&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1678840054690262237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1678840054690262237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/11/bersemi-kembali.html' title='Bersemi (Kembali)'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-QM1hA0mcpI8/TrNC1cguKEI/AAAAAAAAA3Y/-sUQDhVck9c/s72-c/109350538%2B%25281%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-3000893426498343536</id><published>2011-11-02T07:39:00.002+07:00</published><updated>2011-11-02T08:22:13.470+07:00</updated><title type='text'>Aksaraku Mati</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-d1stJKvetsQ/Tq-w9rGF5wI/AAAAAAAAA3A/iu_bFxEX0q4/s1600/85211975.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 170px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-d1stJKvetsQ/Tq-w9rGF5wI/AAAAAAAAA3A/iu_bFxEX0q4/s400/85211975.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5669945029469529858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aksaraku mati&lt;br /&gt;Semalam dia meregang nyawa di jalanan&lt;br /&gt;Menyisakan cerita yang menggenang belum usai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksaraku mati&lt;br /&gt;Tercerabut dari media tumbuhnya yang menawan&lt;br /&gt;Membawa kelukaan yang tidak bisa dijelaskan&lt;br /&gt;Berdarah kemudian melepas nafas satu satu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia datang telanjang&lt;br /&gt;Membelai harapan dengan raut muka yang menantang&lt;br /&gt;Kurapal dengan tangan yang sepenuhnya gemetar&lt;br /&gt;Memberinya pakaian agar sesuai dengan tema dan ruang&lt;br /&gt;Semenjak itu kucandu dia sampai Tuhan cemburu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia datang&lt;br /&gt;Menemani aku yang tengah kesepian&lt;br /&gt;Menarikan sebuah penghiburan dalam temaram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksaraku mati&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali sekarat dan akhirnya kehabisan nafas&lt;br /&gt;Dia menyerah pada awal sebuah alenia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksaraku mati&lt;br /&gt;Membusuk khusuk dalam liang tak bertuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksaraku mati&lt;br /&gt;Meninggalkan sebuah prosa tanpa akhiran&lt;br /&gt;Meninggalkan duka di ujung sebuah pengharapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksaraku mati&lt;br /&gt;Dan aku yakin pasti akan hidup lagi&lt;br /&gt;Nanti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-3000893426498343536?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/3000893426498343536/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=3000893426498343536&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3000893426498343536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3000893426498343536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/11/aksaraku-mati.html' title='Aksaraku Mati'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-d1stJKvetsQ/Tq-w9rGF5wI/AAAAAAAAA3A/iu_bFxEX0q4/s72-c/85211975.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-186277147502695586</id><published>2011-10-31T07:29:00.000+07:00</published><updated>2011-10-31T07:29:00.164+07:00</updated><title type='text'>Saya (bukan) Cina</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-FVQignKjFAI/Tq09D_nV3OI/AAAAAAAAA20/qTxco2BkiaI/s1600/78417195.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 113px; height: 170px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-FVQignKjFAI/Tq09D_nV3OI/AAAAAAAAA20/qTxco2BkiaI/s400/78417195.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5669254644754668770" /&gt;&lt;/a&gt;Saya bukan cina. Dan kalaupun ada darah cina yang (masih) mengalir dalam tubuh saya, itu sudah mengalami pengenceran beberapa kali sampai kadarnya mungkin tidak bisa terdeteksi lagi. Memang ada jejak yang masih terekam seperti prasasti di bagian mata, membuatnya tidak sebesar orang kebanyakan, tapi itu tidak lantas menjadikan saya terlihat seperti cina. Banyak pribumi yang matanya seperti orang keturunan, dan itu tidak menjadikan mereka seperti cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan saya tidak bangga dengan (sedikit) darah cina yang mengalir dalam pembuluh darah saya. Bukan saya tidak mengetahui bagaimana silsilah atas kelahiran saya terbentuk secara pasti dan tidak terbantahkan. Saya hanya sudah tidak merasakan bagaimana aura kecinaan dalam diri saya bisa saya umbar karena konsentrasinya yang bisa disebut minim. Tapi bagaimanapun saya tetap bangga. Saya bangga nenek saya seorang cina tulen, saya bangga ibu saya setengah cina. Dan saya bangga menjadi seperempat cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bangga menjadi seperempat cina selayaknya saya bangga menjadi seorang sunda. Darah sunda yang kental membuat penampakan saya menjadi sangat indonesia meskipun tidak bisa dibilang “terlihat” seperti sunda sejati. Melanin yang diwariskan turun temurun sebagai pigmentasi dalam kulit saya berkadar lebih dari orang sunda kebanyakan, menjadikan saya “murtad” dari kekhasan orang sunda itu sendiri yang kebanyakan berkulit bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit saya juga bersih, tapi hitam bersih. Sesuatu yang kadang membuat orang salah tafsir mengenai asal usul saya. Tidak nampak seperti cina, dan tidak nampak seperti sunda. Kemudian bolehlah saya mengkatagorikannya sebagai unik, keunikan yang sering saya tertawakan sendiri ketika saya sedang bercermin. Hal yang mulai sering saya lakukan ketika saya sudah mengerti bagaimana pohon keturunan atas saya terbentuk. Mentertawakan keunikan saya, yang seperempat cina dan tiga perempat sunda tetapi tidak mewakili keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu tidak membingungkan saya, saya hanya terlahir seperti ini. Born this way. Tetapi yang membingungkan saya adalah ketika ada orang yang tidak saya kenal kemudian menebak kalau saya memiliki keturunan cina. Beberapa hari yang lalu, saya sedang berkumpul dengan teman-teman cina saya, yang pasti akan membuat saya semakin terlihat “berbeda” dari mereka. Dan ketika saya pulang dari toilet dan sedang berjalan ke arah meja kami seorang bapak-bapak cina menyapa saya dan bertanya, “Kamu masih ada keturunan cina yah?” Seketika saya bengong, dan hanya “Hah?” yang muncul dari mulut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana si Bapak bisa membaui kalau saya masih ada keturunan cina walau encer? Padahal saya merasa sudah tidak nampak cina sama sekali malam itu, jangankan nampak, darah “pelit” dan “irit” khas golongan cina saja sudah hengkang dari darah saya. Bukan rasis, tapi saya banyak belajar dari teman-teman cina dan nenek saya tentang “kepelitan” mereka. Jadi bagaimana Bapak itu menerka kalau saya masih ada keturunan cina? Apa karena teman-teman gaul saya malam itu semuanya cina? Tapi bukankah kalau seperti itu saya malah nampak menonjol seperti dakocan di tengah area salju. Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seperempat cina. Tetapi saya merasa sudah kehilangan esensi dari menjadi seperempat keturunan ras itu. Sudah tidak ada ciri menonjol yang bisa saya guar berlebihan karena saya memang tidak punya. Kalaupun ada yang masih melekat erat di darah saya mengenai kecinaan itu, itu hanya karena saya lebih menyukai cina. Sekiyan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-186277147502695586?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/186277147502695586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=186277147502695586&amp;isPopup=true' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/186277147502695586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/186277147502695586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/10/saya-bukan-cina.html' title='Saya (bukan) Cina'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-FVQignKjFAI/Tq09D_nV3OI/AAAAAAAAA20/qTxco2BkiaI/s72-c/78417195.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-149769881310611028</id><published>2011-10-27T09:31:00.001+07:00</published><updated>2011-10-27T09:35:10.794+07:00</updated><title type='text'>Berkatmu</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-4IqM0J3cGMk/TqjDJKFZ4-I/AAAAAAAAA2c/CFBkHCsmzEk/s1600/103430129.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 127px; height: 170px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-4IqM0J3cGMk/TqjDJKFZ4-I/AAAAAAAAA2c/CFBkHCsmzEk/s400/103430129.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5667994693139031010" /&gt;&lt;/a&gt;Berkatmu aku rela berbincang-bincang lama dengan Tuhan dalam doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya aku belum tahu kalau itu kamu. Terlalu banyak rambu malah membuatku bingung untuk menterjemahkan semua pertanda kemana harus melangkah. Karenanya aku lebih banyak diam berharap setidaknya ada kunang-kunang yang datang dan menunjukkan kemana jalan untuk pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkatmu aku jadi lebih sering meraba hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengeliminir apa yang dianggap tidak lagi pantas untuk dipajang di dinding perjalanan dan menggantinya dengan hiasan sesuai umur yang terpampang. Bukan berarti aku merubah diri menjadi orang lain yang mungkin asing, karena itu tidak mungkin. Aku hanya sekedar memperbaiki riasan yang pastinya tidak lagi sesuai dengan jaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkatmu aku seringkali larut dengan malam beserta gerimis yang turun perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berharap. Mendamba. Atau paling tidak melambungkan impian tentang masa depan yang masih belum jelas gambarannya. Tapi itu tidak menggoyahkan tekadku untuk terus mengerami mimpi yang masih dalam cangkangnya. Belum tahu akan menetas seperti apa tapi setidaknya pasti membawa kebaikan. Bukan sesumbar, hanya yakin karena kebaikan niscaya akan berbuah kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkatmu aku ingin tetap menjadi aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau itu benar-benar kamu, maka kamu pasti akan menerima aku apa adanya. Mencinta tanpa syarat, mengasihi tanpa pamrih. Sederhana tapi mengalir deras seperti air bah yang meluncur dari puncak gunung, dan aku akan berusaha menampungnya tanpa tumpah. Karena bila benar itu kamu, maka aku harus melakukan hal yang sama. Mencinta dengan sepenuh nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkatmu aku terus berjalan. Tidak peduli pada rintangan yang pasti banyak menghadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkatmu aku terus menguntai doa. Tidak takut Tuhan akan bosan mendengar pinta yang hanya berkisar seputaran itu melulu. Hanya kamu dan kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkatmu aku beranjak dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkatmu aku belajar bersabar dan menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkatmu aku tidak bosan bertanya. Benarkah itu kamu? Jodohku?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-149769881310611028?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/149769881310611028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=149769881310611028&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/149769881310611028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/149769881310611028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/10/berkatmu.html' title='Berkatmu'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-4IqM0J3cGMk/TqjDJKFZ4-I/AAAAAAAAA2c/CFBkHCsmzEk/s72-c/103430129.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-1834657022912777370</id><published>2011-10-24T08:06:00.000+07:00</published><updated>2011-10-24T08:06:00.519+07:00</updated><title type='text'>RINDU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-CI9FQOHVxsU/TqKCRAPd8lI/AAAAAAAAA2Q/OCHHZuoDZKs/s1600/83833000.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 204px; height: 128px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-CI9FQOHVxsU/TqKCRAPd8lI/AAAAAAAAA2Q/OCHHZuoDZKs/s400/83833000.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5666234509819769426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rindu itu adalah ketika aku masih bisa merasakan rumput basah yang menggelitik telapak kakiku di halaman belakang rumahmu, padahal waktu sudah bergulir seiring dengan sobekan-sobekan almanak yang bertempo dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengendap dalam labirin-labirin panjang tanpa sekat di sebuah padang ilalang subur tak terurus. Mempertontonkan ranum tarian angin yang membelai bulir-bulir kembang ilalang seakan menggoda dan mengajaknya berdansa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu itu adalah ketika aku masih bisa membaui aroma tubuhmu bahkan ketika kamu belum sepenuhnya masuk pintu. Menunggang udara, mereka menyapa lebut syaraf-syaraf penciumanku kemudian mencumbunya perlahan. Berkarat dalam rongga ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perantaraan segala wahana, mereka minta dihadirkan meskipun aku tidak menghamba. Membuat limbung seketika karena aku seringkali tidak siap menerima hantamannya yang membabi buta. Mendesirkan selaksa lewat darah yang kuat terpompa menjelajahi setiap inchi bagian tubuhku, menjajahnya dengan leluasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu itu adalah ketika aku masih seperti dalam rengkuhanmu padahal dulu itu malam terakhir kita berjumpa. Kamu pamit, tapi pori-poriku selayaknya terbungkam keringat yang meleleh gemetar dari erat yang tercipta. Mereguknya dan disimpan di jambangan rahasia untuk diuapkan sedikit demi sedikit sesukanya, bahkan ketika aku sudah hampir lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menari. Bercanda. Bahkan tertawa lepas dalam palung-palung emosi yang memenuhi halaman rasa yang aku pelihara. Mereka sengaja menjebakkan diri pada palung buntu tanpa saluran sehingga tidak bisa lepas dari jeratan. Menenggelamkan diri dalam ceruk dangkal yang mudah tergambar membentuk bayangan. Memutar kisah antara aku dan kamu dalam bumbu kerinduan yang tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu itu ketika kita berlarian di jalanan aspal tanpa sandal. Berebut berburu layang-layang yang putus tanpa tujuan. Tidak peduli lagi pada luka parut yang mungkin akan tergores, tidak takut pada matahari yang garang memanggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam selokan mereka berdiam, dorman ketika lingkungan dirasa tidak menguntungkan. Seperti spora cendawan yang menyelubungi diri dengan selimut tahan ancaman, mereka hidup menghimpun tenaga untuk pecah suatu masa. Menyebarkan anak panah untuk menancap pada simpul-simpul syaraf yang membuatku tak bergeming menghadapi serangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertahan, meski kadang kala air mata meleleh perlahan. Membentuk alur memanjang sebagai pertanda suatu kepedihan. Aku menguatkan diri dengan mengkerut di pojokan, menonton kilas balik masa lalu yang menggantung dalam layar ingatan. Seperti godam yang berulang-ulang memukul ujung saluran pencernaan, tidak berhenti hingga semuanya termuntahkan tanpa sisa dan meninggalkan perasaan lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu itu adalah seperti saat ini. Ketika aku rindu merindukan seseorang. Sepertimu. Dulu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-1834657022912777370?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/1834657022912777370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=1834657022912777370&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1834657022912777370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1834657022912777370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/10/rindu.html' title='RINDU'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-CI9FQOHVxsU/TqKCRAPd8lI/AAAAAAAAA2Q/OCHHZuoDZKs/s72-c/83833000.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-5060323442347561296</id><published>2011-10-22T11:54:00.002+07:00</published><updated>2011-10-22T11:59:50.949+07:00</updated><title type='text'>Unfaithful (repost)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-PMf35Zhyr3I/TqJNnR_FAQI/AAAAAAAAA2E/sczwlIu5bko/s1600/200425160-001.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 186px; height: 167px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-PMf35Zhyr3I/TqJNnR_FAQI/AAAAAAAAA2E/sczwlIu5bko/s400/200425160-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5666176618423714050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya selingkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu saya salah. Saya melayani tawaran hati ketika hati saya sebenarnya telah termiliki. Saya bermain api yang saya sadari bisa membakar diri saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu saya salah. Tidak perlu kemudian saya menyalahkan orang lain atau pasangan saya sebagai pemicu tindakan itu. Cukup saya menyadari kemudian merefleksi langkah yang selanjutnya harus ditempuh. Belajar dari segala kebodohan yang telah terlajur dilakukan. Menjadi dewasa dengan cara yang sebenarnya tidak dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan saya tidak salah. Meskipun dia posesif, meskipun dia banyak melarang saya untuk melakukan ini dan itu bahkan dengan alasan yang seringnya tidak masuk akal, dia tetap tidak salah. Harusnya saya bangga dicintai sedemikian rupa. Harusnya saya bersyukur dianugerahi pasangan yang menyayangi saya melebihi kapasitas saya menyayangi dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selingkuhan saya tidak salah. Dia datang dari masa lalu, menggagas cerita lama untuk dirunut kembali, kemudian menawarkan hati warna merah jambu untuk direguk sarinya. Dia tidak salah, dia hanya datang disaat yang tidak tepat. Datang disaat hati saya sudah berlabel milik seseorang. Hati yang sedang dilanda berontak karena aturan yang makin hari dirasa memberatkan. Hati yang bimbang antara ingin bertahan dan ingin menyelesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya salah. Saya tergoda. Saya selingkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manusia biasa, meskipun saya tahu saya bersalah, saya ingin membela diri. Bukan mencari pembenaran, karena jelas-jelas salah. Bukan mencari bala bantuan yang akan mengiyakan karena sejuta iya tetap akan membuat saya sebagai yang bersalah. Saya hanya ingin menjelaskan, atau mungkin lebih tepatnya bercerita. Jangan dihakimi, saya sedang tidak butuh itu. Biarkan saya menghakimi diri saya sendiri. Dengan cara saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak suka dilarang-larang. Tidak boleh gym, tidak boleh online di YM atau Gtalk, tidak boleh mengumbar cerita di blog, bahkan lebih parah saya dibatasi untuk bertemu teman-teman saya. Hidup saya tidak melulu soal dia, saya punya hidup saya sendiri. Saya ingin menjalani apa yang ingin saya jalani, meskipun tetap akan mengorbit pada dia. Jadi kenapa harus melarang-larang. Toh saya akan tetap hadir mengelilingi lintasan orbit dengan dia sebagai porosnya. Kenapa harus takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-lama saya bosan. Saya terkekang. Saya mencari pelarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya sedang berlari membawa hati yang bimbang, saya bertemu godaan. Manis. Godaan selalu manis, meski akhirnya pasti pahit. Saya salah karena saya melayani, saya salah karena saya kemudian tidak bertutur tentang kebenaran kalau saya sudah bersama seseorang. Entahlah, waktu itu saya memilih bungkam. Saya pikir saya akan keluar sebagai pemenang, ternyata saya jadi pecundang. Saya terlena. Hati saya terobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung saya menyadari dengan cepat sebelum semuanya menjadi rumit. Saya membuat pengakuan kepada keduanya. Membuat semacam list dosa. Saya tidak membela diri di hadapan mereka karena saya salah. Saya hanya ingin menyelesaikan semua urusan, mengakui apa yang memang harus saya akui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melepas keduanya. Hanya untuk bersikap adil menurut versi saya. Saya beranjak dari dua hati yang sama-sama ingin bertahan. Saya sudah terlanjur menyakiti keduanya, jadi saya tidak ingin menyakiti lebih salah satunya dengan memilih satu diantara mereka. Biarkan saya tetap menjadi saya yang bersalah, yang telah terlena dan tergoda. Saya yang berlari membawa kekeliruan kedalam kekeliruan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, untuk kesekian kalinya ijinkan saya untuk kembali mengucap maaf!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Note: Artikel ketiga yang diterbitkan di book of cheat jilid 3 oleh publisher Nulis Buku&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-5060323442347561296?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/5060323442347561296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=5060323442347561296&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/5060323442347561296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/5060323442347561296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/10/unfaithful-repost.html' title='Unfaithful (repost)'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-PMf35Zhyr3I/TqJNnR_FAQI/AAAAAAAAA2E/sczwlIu5bko/s72-c/200425160-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-5467436829529171690</id><published>2011-10-20T07:30:00.000+07:00</published><updated>2011-10-20T07:30:01.469+07:00</updated><title type='text'>I Love My Ally</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-I2SBVuiJxWc/Tp7tWzr56DI/AAAAAAAAA14/t9uo_WBzFW4/s1600/110684872.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 202px; height: 136px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-I2SBVuiJxWc/Tp7tWzr56DI/AAAAAAAAA14/t9uo_WBzFW4/s400/110684872.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5665226357365925938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya mengenal Ally ketika saya masih berpakaian putih biru. Perkenalan yang tidak disengaja tetapi memberikan kesan yang begitu mendalam. Ally memberi saya pengalaman jatuh cinta pada pandangan pertama. Entah bagaimana awalnya, tetapi sejak saya melihatnya hati saya berucap bahwa dia sosok yang menyenangkan. Seorang perempuan yang bisa membawa saya merasakan arung jeram perasaan yang sering kali dia pertontonkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan saya dan dia memang dibatasi oleh waktu. Saya hanya memiliki kesempatan bertemu dengannya seminggu sekali, itupun tidak jarang saya melewatkan pertemuan itu karena saya ketiduran. Bodoh, padahal sedari pagi saya sudah menuliskan jadwal dalam hati untuk bertemu dengannya. Kalau sudah seperti itu, ketika saya terbangun dan Ally sudah tidak ada di tempatnya maka saya akan merasakan kosong. Seperti ruh saya diambil paksa dan hanya meninggalkan raga yang bebal rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ally seorang perempuan yang mandiri. Perempuan yang dengan keunikan karakternya justru membawanya menapaki setingkat demi setingkat undakan hidup menuju kesuksesan menurut takarannya. Saya banyak belajar dari dia, termasuk bagaimana mentertawakan banyak kebodohan ketika hal tersebut dilakukan tanpa sadar dan berefek panjang. Saya berkaca pada perempuan itu, mengambil intisari hidup dalam mata saya yang masih bocah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang saya mengamatinya ketika sedang menangis sendirian di kedai kopi, atau melampiaskan kekesalan serta kesedihannya pada berbotol-botol minuman keras. Saya tidak bisa melarangnya, saya tidak memiliki kapasitas itu karena saya dan dia seperti dipisahkan sebuah sekat kaca. Tembus pandang tapi tidak bisa saling bersentuhan. Karenanya saya hanya mengamati sambil berharap andai saja saya bisa mendatanginya dan merengkuhnya atau paling tidak menangis bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ally mengajarkan saya bagaimana menjadi sentimentil. Mendahulukan perasaan daripada logika dan akal nalar meskipun pada akhirnya tetap tersadar dan bangkit mengejar ketertinggalan. Ally sering membuat saya menangis dan tertawa disaat yang bersamaan lewat tingkahnya yang kocak sekaligus membuat haru. Sebal sebetulnya saya kalau dia sudah berlaku seperti itu, mengaduk-ngaduk perasaan saya sampai kadang saya bingung harus ikut tertawa atau justru mengeluarkan air mata. Tapi Ally pintar, di ujung setiap cerita yang dia pertontonkan dia selalu membuat saya tersenyum lega dan bertekad untuk menemuinya lagi di minggu berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bersahabat, atau lebih tepatnya saya bersahabat dengan dia sementara saya tidak tahu dia akan menganggap saya sebagai apa. Saya tidak mempermasalahkannya selama dia masih setia menyambangi saya di jadwal tetap pertemuan kami. Dia tidak pernah absen, tidak seperti saya yang selalu saja ada masa dimana saya melanggar janji untuk bertemu dengannya. Dia tidak pernah marah, tapi saya seperti dibebani karena saya akan luput mengetahui apa yang telah terjadi semenjak pertemuan terakhir kami.  Dan pasti saya akan menyesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat penuturan Ally, saya mencoba memahami hidup. Perbedaan usia tidak lantas membuat saya berhenti mengaguminya. Lewat sosoknya, saya mengecap bahagia luar biasa karena bisa menjadi semacam saksi dari perjalanan hidupnya yang saya akulturasikan dengan kehidupan saya sendiri. Jauh berbeda memang, tapi proses memahami hidup bagaimanapun akan tetap sama karena hidup mengajarkan bagaimana kita harus bertahan. Hidup memaksa kita berstrategi untuk sekedar menjadi seorang pemenang atau seorang yang beruntung. Dari Ally saya belajar semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ally boleh saja pergi, tapi apa yang sudah dia torehkan di hati saya selama beberapa periode waktu tidak akan pernah hilang. Semuanya berbekas tanpa cela, siap diumbar kembali ketika saya ingin melakukan napak tilas seperti minggu kemarin. Saya mendatangkan lagi Ally untuk sekedar bernostalgia, sekedar mengingat kebodohan-kebodohan saya yang percaya bahwa perempuan itu bisa membuat saya bahagia. Tapi memang begitu adanya, ketika saya menghadirkannya lewat sekat kaca yang membatasi kami seperti kemarin saya tetap saja tertawa dan merasa bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bosan mendatangkannya dalam ingatan saya melalui gambar-gambar yang bergerak beraturan. Sampai kapanpun saya akan mengagumi Ally, Ally McBeal. Pengacara sinting yang hadir dalam serial TV berlangganan jaman dulu. Yang kemudian saya koleksi keping DVD-nya lengkap selama 5 season, 10 CD dan 13 episode dalam setiap Cdnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-5467436829529171690?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/5467436829529171690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=5467436829529171690&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/5467436829529171690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/5467436829529171690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/10/i-love-my-ally.html' title='I Love My Ally'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-I2SBVuiJxWc/Tp7tWzr56DI/AAAAAAAAA14/t9uo_WBzFW4/s72-c/110684872.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-961214973837401575</id><published>2011-10-18T07:24:00.000+07:00</published><updated>2011-10-18T07:24:00.464+07:00</updated><title type='text'>Setahun Yang Lalu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-56z1ZlbEuIs/TpxJePyKO4I/AAAAAAAAA1s/rQ-MtiLRq74/s1600/110177875.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 210px; height: 146px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-56z1ZlbEuIs/TpxJePyKO4I/AAAAAAAAA1s/rQ-MtiLRq74/s400/110177875.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664483215307062146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari ini setahun yang lalu, dia menyeberangi lautan untuk mengikuti kata hatinya. Menemui seseorang yang mungkin telah memporak-porandakan dinding pertahanannya tentang sesuatu yang selama ini dia sangkal mati-matian. Dengan tuntunan kepercayaan, dia menantang dirinya sendiri untuk membuktikan bahwa rasa yang selama ini dia pendam tidaklah salah dan patut untuk diperjuangkan. Dengan percaya bermuatan setengah penuh akhirnya dia memutuskan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia ternyata tidak salah prediksi. Tujuan yang semula dia lihat masih berbayang, lambat laun berbuah kejelasan. Seseorang itu melayani tangan yang dia ulurkan, bersedia menyemai benih yang sudah lama dorman dalam lubuk hatinya yang kerontang. Dia merasa tidak sia-sia sudah mempertaruhkan setengah hatinya untuk seseorang yang bisa dia ajak berjalan dalam temaram. Tidak peduli kalau cahaya yang hadir tidak seberapa, karena setidaknya ada seseorang yang bisa dia genggam tangannya untuk membantunya menemukan pintu ke arah terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini setahun yang lalu, dia mengambil langkah paling berani selama perjalanan karirnya. Meminta ijin paksa kepada atasannya untuk datang ke tanah jawa dengan alasan menyelesaikan masalah hati. Dia tidak peduli ketika sang atasan banyak mempertanyakan, memilih bungkam ketika banyak pertanyaan lanjutan. Karena buatnya itu tidak lagi penting ketika dia sudah dapat melihat jawaban yang semakin jelas di hadapan. Sebuah oase yang akan menuntaskan dahaganya tentang perasaan yang selama ini dia kerdilkan dalam pasungan. Perasaan yang membuatnya timbul tenggelam dalam koridor mempertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya dia mengecap cinta yang tidak berwarna merah jambu tapi abu-abu. Mereguk apa yang orang bilang dengan asmara. Dia kemudian berkenalan dengan cemburu dan intrik ala sinema. Hidupnya menjadi berwarna penuh drama, apalagi seseorang yang dia genggam adalah pemuja prosa dengan peran yang sering kali tidak bisa diterka. Dan dia mau berdamai dengan semua itu entah untuk apa. Mungkinkah karena cinta? Atau hanya sekedar bertahan untuk meyakinkan bahwa ini adalah sesuatu yang selama ini dia cari dalam kegelapan? Tidak pernah ada jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini setahun yang lalu, dia dan seseorang itu berjalan beriringan. Mencoba saling meyakinkan diri sendiri bahwa jarak yang terbentang bukan lagi suatu halangan. Semua bisa dimanipulasi perantara suara yang bergetar melalui garputala berbayar pulsa. Mereka saling meyakinkan ditengah banyak keraguan karena sebetulnya mereka sadar benar bahwa jarak adalah suatu rintangan yang tidak pernah gampang. Bagaimanapun jarak tetaplah jarak, tidak bisa diakali. Jarak tetap menjadi sebuah barier bagi kepercayaan yang sedang diretas deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, seseorang itu sedang mengenang. Mengurai lagi dalam diam cerita tentang dia yang pernah menyeberangi lautan hanya untuk menemuinya dan berucap cinta. Memang dia tidak ada lagi dalam genggaman karena dalam perjalanannya ternyata banyak yang tidak bisa dipersatukan. Banyak hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya muncul justru memberatkan, membuat rentang semakin jauh dirasakan. Cerita harus diakhiri dengan cara yang tidak semestinya, saling membenci bahkan hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, seseorang itu sedang mengenang. Melabeli dia dengan predikat salah satu kekasih terbaik yang pernah dikirimkan Tuhan untuk membuatnya merasa sempurna. Dia yang pernah memberinya kebahagiaan, dia yang pernah memberinya air mata, dia yang sampai sekarang masih menimbulkan keraguan apakah dia bersedia diberi kesempatan kedua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, seseorang itu mengenang bahwa setahun yang lalu dia pernah punya pacar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-961214973837401575?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/961214973837401575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=961214973837401575&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/961214973837401575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/961214973837401575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/10/setahun-yang-lalu.html' title='Setahun Yang Lalu'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-56z1ZlbEuIs/TpxJePyKO4I/AAAAAAAAA1s/rQ-MtiLRq74/s72-c/110177875.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-2577247871442325050</id><published>2011-10-13T08:19:00.002+07:00</published><updated>2011-10-13T08:23:26.141+07:00</updated><title type='text'>Hujan Musim Ini (Repost)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-06ltVfyb9BQ/TpY9bpxkCAI/AAAAAAAAA1g/BraJjXRBBJw/s1600/97991910.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 216px; height: 135px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-06ltVfyb9BQ/TpY9bpxkCAI/AAAAAAAAA1g/BraJjXRBBJw/s400/97991910.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5662781126744475650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku menghargai kejujuranmu yang telah mengakui bahwa sebetulnya kamu masih memiliki seorang kekasih. Entah kemudian menurutmu itu kekasih di luar nalarmu, di luar logikamu, tapi tetap dia disebut kekasih, seseorang yang pastinya masih mengisi tempat teristimewa di hatimu. Aku menghargai semua niat baikmu sehingga kamu masih menghormati aku dengan berterus terang. Sebelum semuanya berjalan lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak ingin cinta menjadikanku bodoh. Aku tidak ingin cinta membuat jiwaku menjadi kerdil. Dan apabila kemudian aku mau berkompromi dengan semua keadaanmu itu artinya aku bodoh, dan aku membiarkan jiwaku kerdil. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa menang bersaing dengan cinta yang masa tumbuhnya berkelipatan 365 hari itu. Aku akan selalu kalah tersisih. Tak peduli meskipun kamu bilang bahwa dia sebenarnya kosong, bahwa mencintai dia sungguh di luar akal sehatmu. Aku akan selalu kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku kamu anggap bisa mengisi kosong yang kekasihmu beri, tapi itu artinya aku akan hidup dalam bayang-bayang dia. Dan aku tidak mau seperti itu. Apabila hubungan kalian sudah hitungan tahun, artinya selama ini kamu sudah berkompromi dengan kekosongan itu. Kenapa sekarang kamu justru seperti kebakaran jenggot dengan complain bahwa dia kosong? Jangan jadikan aku sebagai alasanmu mengugat kekosongan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu boleh bilang bahwa mencintainya di luar nalarmu, bahwa mencintainya membuatmu menomersekiankan logika. Tapi, ketika hubungan itu bisa kamu pertahankan sampai sekarang kamu bukan lagi hidup di luar nalar, tidak lagi mengabaikan logika, kamu sudah nyaman. Nikmati kenyamanan itu, jangan kemudian berontak karena kamu pikir aku bisa menutupi kekosongan kekasihmu. Aku mungkin hadir di saat yang tidak tepat, memberikan sensasi baru yang mungkin hanya sebuah selingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar puzzle hati di dadamu mungkin tidak penuh karena kekosongan yang menurutmu dimiliki oleh kekasihmu itu, tapi selama hatinya masih bisa mengalunkan isyarat cinta kenapa harus dipermasalahkan. Aku mungkin bisa pas dengan potongan puzzle yang belum lengkap itu, tapi aku yakin warna gambar hatinya akan berbeda, dan aku hanya akan tetap menjadi potongan puzzle. Bukan gambar hati utuh. Karenanya aku memilih untuk mundur. Aku tidak ingin cinta menjadikanku tidak adil terhadap dia. Kekasihmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan masih menyisakan genangan air meski bau tanahnya sudah menguap. Genting masih basah setelah sesaat dicumbu rinai hujan. Basah hujan musim ini aku memutuskan untuk beranjak dari sana, dari kepingan harapan yang sebelumnya aku kembangkan. Maaf jika aku kemudian menutup akses komunikasi diantara kita. Tolong beri aku waktu untuk menyembuhkan luka, karena layaknya gerimis, kamu hanya datang sesaat. Dan dalam kesesaatannya itu kamu masih meninggalkan jejak. Jejak air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Note: artikel kedua yang dimuat di book of cheat jilid 2 dan diterbitkan oleh publisher Nulis Buku&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-2577247871442325050?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/2577247871442325050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=2577247871442325050&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2577247871442325050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2577247871442325050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/10/hujan-musim-ini-repost.html' title='Hujan Musim Ini (Repost)'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-06ltVfyb9BQ/TpY9bpxkCAI/AAAAAAAAA1g/BraJjXRBBJw/s72-c/97991910.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-6630274793441365321</id><published>2011-10-10T09:28:00.000+07:00</published><updated>2011-10-10T09:28:00.347+07:00</updated><title type='text'>Pertaruhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-udej1HHjWHs/TpBxMtH9E3I/AAAAAAAAA1Y/ucwUTAXACy8/s1600/200551043-002.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 181px; height: 135px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-udej1HHjWHs/TpBxMtH9E3I/AAAAAAAAA1Y/ucwUTAXACy8/s400/200551043-002.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5661149194690040690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Taruhan. Sudah sekian lama saya mempertaruhkan hidup saya di atas meja judi. Tidak ada kekhususan judi jenis apa yang menjadi favorit saya, karena saya hanya ingin bertaruh bukannya berjudi. Andaikan permainan anak-anak semacam galasin bisa diajadikan ajang taruhan, saya pasti sudah mempertaruhkan hidup saya disana. Menikmati ketegangan, mencari keberuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat dadu yang dilempar atau kartu yang dihentak bergantian, saya mempertaruhkan hidup saya. Mengatur beragam strategi untuk mendapatkan kepuasan batin yang tergambar melalui seulas senyuman kemenangan. Saya seringkali tidak tertarik dengan hadiah utama, karena proses bagaimana jantung saya berpacu seiring dengan deru kocokan dadu atau kocokan kartu mejadi hal yang menurut saya lebih penting untuk dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang saya terlewat gila, saya gadaikan tidak hanya sebagian hidup saya tapi hampir keseluruhannya. Yang tersisa mungkin hanya kepercayaan bahwa siapa tahu saya menang. Siapa tahu saya bisa memberikan hidup saya sensasi arung jeram adrenalin yang akan membuatnya lebih kuat. Tempaan-tempaan semacam ini memang saya perkenalkan pada hidup saya agar dia tidak cengeng, agar dia tahu bahwa ada rasa yang disebut dengan kekalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan Tuhan, jadi tidak selamanya saya menang. Saya sering dipaksa menyicip kalah, dan kekalahan itu akan saya nikmati dengan mengemasi hati. Beranjak dari ajang pertaruhan itu untuk menjajal arena pertaruhan baru. Bagi saya mengemasi hati bukan lagi sesuatu yang dirasa sulit, aneka pengalaman telah memberi saya awahan untuk melakukannya sesederhana menghirup udara. Memang kadang arena pertaruhannya meninggalkan jejak yang tidak mudah dihilangkan, merapat erat pada hati selayaknya lintah yang belum puas mereguk darah. Tapi saya tetap berkemas dan terus berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu akan menyembuhkan. Mengikis perlahan ketidakberuntungan yang saya pernah taruhkan di meja perjudian, meski tetap akan meninggalkan sebuah ceruk seperti bopeng akibat jerawat yang digaruk paksa. Kalau sudah seperti itu maka saya akan membungkusnya dalam kristal memori untuk saya telan dan simpan di lobus khusus hati saya. Kristal bening yang bisa saya terawang isinya ketika suatu saat saya ingin bernostalgia. Bukan mengungkit, karena saya hanya melakukan wisata hati. Memutar film dokumenter yang ceritanya sudah pasti usang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu akan menyembuhkan. Memberikan kekuatan baru untuk saya mempertaruhkan hidup di arena perjudian yang berhadiah sama. Saya tidak akan pernah tahu saya menang kalau saya tidak bertaruh. Saya tidak akan pernah bisa mengklaim kalau saya seorang pecundang, apabila saya tidak menggadaikan kepercayaan saya kemudian kalah. Saya hanya menjalani hidup dengan mengecap pertaruhan demi pertaruhan, dengan harapan di salah satu ujung pertaruhan entah yang mana saya akan mendapatkan apa yang saya inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, entah untuk yang keberapa belas kali, saya pasang taruhan kemudian bermain sesuai aturan. Tidak banyak yang saya pertaruhkan, hanya segenggam hati perak kecil berisi anyaman kepercayaan yang saya inisiasi sejak lama. Sesaat sebelum saya melemparkan kocokan kartu ke landasan, saya terpejam dan berharap bahwa pertaruhan saya dengan takdir di permainan ini akan saya menangkan dan mengantarkan saya pada seseorang yang akan saya panggil jodohku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-6630274793441365321?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/6630274793441365321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=6630274793441365321&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/6630274793441365321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/6630274793441365321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/10/pertaruhan.html' title='Pertaruhan'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-udej1HHjWHs/TpBxMtH9E3I/AAAAAAAAA1Y/ucwUTAXACy8/s72-c/200551043-002.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-7922080982101209535</id><published>2011-10-08T18:40:00.002+07:00</published><updated>2011-10-08T18:46:45.277+07:00</updated><title type='text'>Bukan Matematika (Repost)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-h98clmN99ck/TpA3yLh6goI/AAAAAAAAA1Q/r--mC4ICMKE/s1600/sb10063543m-001.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 207px; height: 138px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-h98clmN99ck/TpA3yLh6goI/AAAAAAAAA1Q/r--mC4ICMKE/s400/sb10063543m-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5661086066832736898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Semalam kami bertengkar hebat, dan rasanya setelah pertengkaran itu saya merasa gamang melihat jalan yang terpampang di depan. Saya tidak lagi yakin kemana saya akan membawa hati ini berlari, saya melihat kebuntuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bukan sekali dua kali kami berselisih paham, tapi kejadian semalam itu rasanya berbeda. Tidak hanya koma, saya melihat titik. Saya menginderai hadirnya sebuah akhir, garis finish.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengerti benar posisi saya, saya sangat tahu diri. Karenanya dari awal saya tidak pernah banyak menuntut, tidak pernah meminta untuk ini dan itu. Tapi ternyata dia terlanjur asyik dengan kenyamanan yang tercipta, tenggelam dalam tenang suasana yang saya pilih untuk saya jalani. Bukan saya tidak ingin berkonflik, bukan saya tidak ingin sekedar melakukan konfrontasi, tapi saya lebih ke mencoba memahami posisinya yang tidak gampang. Meraba hatinya yang sedari awal sudah terbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk saya cinta bukan matematika. Dalam cinta tidak ada proses menghitung berapa yang sudah saya berikan kepada pasangan. Tidak ada menghitung persentase keuntungan dari saya menawarkan sebentuk hati. Tidak ada spekulasi linier bagaimana menghitung persamaan sebelah kanan agar bisa seimbang dengan persamaan sebelah kiri. Cinta itu ikhlas. Tanpa perhitungan, tanpa angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi semalam dia memaksa saya menghitung. Semalam dia memojokkan saya sehingga saya dipaksa seperti membuat list laporan pengeluaran bulanan. Saya mendetailkan apa yang sudah saya korbankan. Saya merinci apa-apa yang hati saya sudah belanjakan sekedar untuk berjalan beriringan dengannya yang tidak lagi sendiri. Saya menghitung berapa banyak kerugian yang saya raup semenjak dulu saya berkata iya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahkah ketika saya meminta perhatian lebih? Salahkah ketika saya meminta waktu yang lebih lama untuk berdua? Saya ingin apa yang kami jalani berkualitas meskipun berjalan di acuan yang mungkin salah. Saya hanya ingin dimengerti bahwa meskipun mungkin saya marginal tapi saya juga punya perasaan yang perlu dipertimbangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi saya selamanya akan seperti yang dia bilang tadi malam, selalu salah. Ketika saya banyak menuntut maka hukumnya adalah salah. Dia bilang saya sudah berkomitmen dengan segala konsekuensi yang saya tahu dari awal, jadi menuntut lebih hanya akan membuat saya seperti mengingkari komitmen yang sudah saya sepakati dengan hati saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar, mencintai dia menimbulkan banyak polemik. Menyebabkan banyak konflik. Tapi bukan berarti kalau hanya saya yang harus mengerti, dia juga harus memahami. Menyelami hati saya yang sudah berkomitmen dengan statusnya. Tapi mungkin memang sudah saatnya saya untuk berjalan mundur, meninggalkan jejak keambiguan yang dia ciptakan. Saya harus pintar membaca banyak pertanda, dan mungkin ini tanda kalau memang hubungan ini harus segera diterminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam kami bertengkar hebat. Dan ketika dia berlalu sambil membanting pintu, jangan harap saya akan membukanya kembali. Cukuplah bagi saya dipaksa menghitung cinta yang sesungguhnya bukan matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Note: Direpost karena tulisan ini baru saja dimuat di book of cheat jilid 1 yang akan diterbitkan oleh publisher Nulis Buku&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-7922080982101209535?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/7922080982101209535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=7922080982101209535&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/7922080982101209535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/7922080982101209535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/10/bukan-matematika-repost.html' title='Bukan Matematika (Repost)'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-h98clmN99ck/TpA3yLh6goI/AAAAAAAAA1Q/r--mC4ICMKE/s72-c/sb10063543m-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-8650952309989817610</id><published>2011-10-05T07:39:00.000+07:00</published><updated>2011-10-05T07:39:00.051+07:00</updated><title type='text'>KARAM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-l_reUvS0y4w/Tosp6yRUuQI/AAAAAAAAA1I/S0v0K6cj4qE/s1600/TR006815.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 139px; height: 210px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-l_reUvS0y4w/Tosp6yRUuQI/AAAAAAAAA1I/S0v0K6cj4qE/s400/TR006815.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659663446624745730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kalau tidak sekarang lantas kapan?&lt;br /&gt;Bukankah semua jembatan sudah aku jajal?&lt;br /&gt;Mungkin memang perlahan&lt;br /&gt;Tapi setidaknya aku sampai di ujung pandangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu bergerak ibarat anak panah yang melesat&lt;br /&gt;Lewat busur yang meregang dia terlontar tak bisa dihalang&lt;br /&gt;Mengantarkan aku pada satu pemberhentian ke pemberhentian berikutnya&lt;br /&gt;Setia mengikutiku yang kadang berlari tapi seringnya terpapah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak sekarang lantas kapan?&lt;br /&gt;Ratusan perahu alang-alang sudah aku larung ke lautan&lt;br /&gt;Meskipun tidak ada satupun yang kembali pulang&lt;br /&gt;Aku tetap berdiri menunggu di tepian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karam,&lt;br /&gt;Sepertinya mereka karam sebelum bertemu dengan daratan&lt;br /&gt;Atau jangan-jangan justru tenggelam sesaat setelah mereka terlepas dari tangan&lt;br /&gt;Dihempas angin yang berputar-putar di atas buritan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku terpejam&lt;br /&gt;Sebait pujian aku nyanyikan kepada pencipta alam&lt;br /&gt;Kalau itu masih dirasa kurang&lt;br /&gt;Tak ragu akan aku tarikan sebuah ritual mirip upacara seserahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudengar bisikan yang datang menunggang kepiluan&lt;br /&gt;Dia membewarakan bahwa benar semuanya sudah karam&lt;br /&gt;Membentur karang di negeri seberang&lt;br /&gt;Tercerai dari harap yang aku ucap dalam bimbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kecewa tentu saja&lt;br /&gt;Bagaimana bisa alam membelot dari titah sang raja&lt;br /&gt;Kuludahi langit sebagai bentuk tidak terima&lt;br /&gt;Kurapal serapah untuk menunjukan angkara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak sekarang lantas kapan?&lt;br /&gt;Haruskah menunggu bangkai perahu alang-alang itu terkubur di dasar lautan?&lt;br /&gt;Atau aku harus meronce lagi satu demi satu harapan?&lt;br /&gt;Yang mungkin akhirnya juga akan tetap karam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karam, kau buat aku hidup dalam penyesalan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-8650952309989817610?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/8650952309989817610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=8650952309989817610&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8650952309989817610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8650952309989817610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/10/karam.html' title='KARAM'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-l_reUvS0y4w/Tosp6yRUuQI/AAAAAAAAA1I/S0v0K6cj4qE/s72-c/TR006815.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-4560098647637100194</id><published>2011-10-03T07:32:00.001+07:00</published><updated>2011-10-03T07:32:00.417+07:00</updated><title type='text'>Laki-laki dan Seorang Bocah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-cdqjVQ5KJOE/ToiEl56AbDI/AAAAAAAAA1A/NCnnqsCBN4I/s1600/92292406.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 158px; height: 203px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-cdqjVQ5KJOE/ToiEl56AbDI/AAAAAAAAA1A/NCnnqsCBN4I/s400/92292406.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658918718525172786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bocah itu menangis sesenggukan, seakan kesakitan yang baru saja dia rasakan tidak lagi terperi. Bahkan apabila ada orang lain yang melihatnya, mereka bisa langsung merasakan apa yang bocah itu rasakan, seperti menyilet pergelangan tangan sendiri dengan potongan parut yang tidak sesuai dengan bentuk anatomi ototnya. Luka perih yang berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran kanak-kananknya sebetulnya tidak bisa dengan jelas mencerna apa yang baru saja dia rasakan. Pengalaman baru yang mungkin sebetulnya tidak ingin dia alami apabila situasi sedikit saja lebih berpihak kepada keberuntungan hidupnya. Sayang, sepertinya jalan cerita yang telah dipilihkan untuk dia lakoni mengharuskannya mengecap pedih. Lewat tangan kecilnya dia menjamah sesuatu yang diluar kendalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah itu teraniaya. Bocah tanpa dosa itu terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki setia menemani bocah itu melewati segala macam kepedihan, seperti pasangan sejiwa mereka tidak bisa terpisahkan. Laki-laki itu jatuh kasihan kepada bocah yang seharusnya tidak pernah mengalami kepahitan yang membuat hidupnya berdarah. Laki-laki itu seperti sosok seorang kakak yang selalu hadir ketika bocah itu membutuhkan lawan bicara, atau setidaknya menjelma menjadi sepasang telinga yang rela mendengarkan setiap perih yang terapal dari mulut sang bocah yang tanpa cela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bersahabat. Laki-laki itu menjadi saksi bagaimana nista menyambangi si bocah ketika dia diberondong tak berdaya. Laki-laki itu bagai kumpulan naskah yang menampung air mata sang bocah saat dia berjalan terseok di tengah keterpurukannya. Laki-laki itu seperti layar hitam putih yang kapanpun bisa memutar film yang mengejawantahkan si bocah tanpa ada bagian yang terlewat dan keliru. Mereka bersinergi sedemikian kuat dan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring waktu, bocah itu tetap menjadi seorang pesakitan. Seorang anak kecil yang tidak lantas bisa memberangus semua hal yang pernah menimpanya sampai gamang. Dan laki-laki itu gagal membebaskan si bocah dari kelam masa lalu, laki-laki itu justru tanpa disadari seperti memberi pupuk dan wahana yang mempersubur perasaan sakit yang tetap dirasakan si bocah. Tanpa sadar, laki-laki itu membiarkan si bocah tetap duduk menangis di pojokan serta meratapi dan menyesali kejadian yang dia kutuki sepanjang hidupnya. Laki-laki itu bertahan, si bocah tidak terbebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya laki-laki itu tahu apa yang harus dia lakukan. Membukakan pasungan si bocah dengan memberinya pengertian untuk memaafkan dan bergerak melupakan. Memang semua noda yang telah tergambar tidak akan dengan mudah dihilangkan dalam sekali usapan, tapi berdamai dengan diri sendiri termasuk memaafkan orang yang telah meneteskan noda dalam hidup si bocah lambat laun pasti akan membebaskan. Mengikis masa lalunya yang temaram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada untungnya memelihara kesakitan si bocah, meskipun sampai sekarang laki-laki itu masih sering ikut menangis mengiringi kepedihan yang bocah itu dendangkan. Laki-laki itu setia melindungi si bocah dengan cara yang salah. Membiarkannya terus meratapi noktah-noktah luka yang menggerogoti batin sampai kopong. Membiarkan bocah itu mengutuki dan mempersalahkan dirinya sendiri atas apa yang pernah terjadi. Membuatnya tetap berpikir bahwa si bocah terlalu lemah dan menyesali kelemahannya itu sampai mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaafkan dan melupakan adalah dua kunci yang akan membebaskannya dari trauma yang sepanjang hidupnya membayangi tak berhenti. Mungkin sekaranglah saatnya laki-laki itu membebaskan bocah yang hidup di dalam tubuhnya dari pasung nista dengan cara berdamai dengan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Note: ditulis untuk seorang sahabat di luar sana yang terus menderita akibat trauma masa lalunya yang berkepanjangan. Seperti apapun kamu, saya akan tetap menemanimu dan akan berusaha selalu hadir setiap kamu butuhkan. Kapanpun. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-4560098647637100194?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/4560098647637100194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=4560098647637100194&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4560098647637100194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4560098647637100194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/10/laki-laki-dan-seorang-bocah.html' title='Laki-laki dan Seorang Bocah'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-cdqjVQ5KJOE/ToiEl56AbDI/AAAAAAAAA1A/NCnnqsCBN4I/s72-c/92292406.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-8345500020007923351</id><published>2011-09-30T06:54:00.000+07:00</published><updated>2011-09-30T06:54:00.953+07:00</updated><title type='text'>(Filosofi) Kopi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-1D8rxn3NzPs/ToSVS7iZYrI/AAAAAAAAA04/LKFsEEqH-es/s1600/82631664.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 199px; height: 148px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-1D8rxn3NzPs/ToSVS7iZYrI/AAAAAAAAA04/LKFsEEqH-es/s400/82631664.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5657811184336331442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Apa hebatnya rasa sebuah kopi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun dijanjikan bahwa itu adalah kopi  berkualitas yang prosedur pendatangannya juga harus melewati bea cukai yang sering merepotkan. Aku seringkali tidak bisa membedakan. Rasanya tetap saja sama. Lebih banyak aroma getir yang menyeruak dibanding euforia seperti yang dijanjikan berlembar-lembar jurnal penelitian. Kafein dapat meningkatkan gairah dan semangat, begitu klaim dari berbagai hasil riset para ilmuwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, tidak ada bedanya. Pahit kopi mengingatkanku pada gamang jalan yang terpampang. Pahit kopi membuatku teringat pada perasaan bagaimana aku harus berjuang melupakan setelah dilimbung badai kasmaran. Pahit dan harus tetap ditelan, sebegitu miripnya hal itu dengan pengalaman yang sering aku harus rasakan. Berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah aku bayangkan sebelumnya kalau dari pekat kopi aku justru bisa menemukan sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang seperti sedang Tuhan persiapkan untuk aku cicipi barang sebentar. Atau mungkin bisa jadi malah lama bertahan. Entahlah. Yang pasti dimulai dari satu cup kopi, aku merasa ada sesuatu yang perlu dipertimbangkan. Sesuatu yang membuat perasaan seperti diganjar kecanduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menikmatinya. Sedikit demi sedikit. Karena tidak ingin segera aku kehilangan rasa yang sibuk bermain di pelataran tidak hanya lidah tapi juga perasaan. Aku tidak ingin segera bertemu dengan ampas walaupun kopi jenis ini bisa dinikmati tak bersisa. Tidak meninggalkan jejak kecuali kebahagiaan yang akan terus dikecap papila-papila di indera perasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalaupun satu cup telah lenyap digerus putaran waktu, ada janji yang bersedia untuk membuatkannya kembali. Tidak sekali tapi berulang kali seperti katamu ketika kita menyesap wangi dahan basah selepas hujan di halaman. Katamu kamu tidak keberatan untuk menggunakan keahlianmu mengulangi hal yang sama dan berimprovisasi agar aku tidak merasa bosan. Dan aku setuju, karena aku seperti sudah tidak bisa lepas dari belenggu kafein yang berkarat di cup-cup plastik yang kamu sodorkan tiada henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perantaraan kopi kita bertemu. Lewat kopi kita memulai perbincangan layaknya dua orang awam yang tidak saling mengenal. Dan lewat kental kopi yang keluar dari mesin pembuatnya kita memutuskan untuk menjalani sesuatu yang kita kita yakini bisa untuk dijajal. Perantaraan kopi aku belajar memahamimu meskipun belum sesumbar aku bewarakan hal itu melalui partikel-partikel udara untuk sampai di telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak usahlah kita terburu-buru. Pengalaman aku dan kamu sudah banyak mengajarkan bahwa ketergesa-gesaan hanya akan mengantarkan kita pada perpisahan justru sebelum kita merasa saling membutuhkan. Karenanya, tidak banyak kata yang ingin kusampaikan. Tidak banyak suara yang ingin aku bagikan. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku sungguh mengagumimu. Baristaku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-8345500020007923351?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/8345500020007923351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=8345500020007923351&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8345500020007923351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8345500020007923351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/09/filosofi-kopi.html' title='(Filosofi) Kopi'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-1D8rxn3NzPs/ToSVS7iZYrI/AAAAAAAAA04/LKFsEEqH-es/s72-c/82631664.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-5490530750831811856</id><published>2011-09-28T06:34:00.000+07:00</published><updated>2011-09-28T06:34:00.097+07:00</updated><title type='text'>Siklus (Baca : Hidup)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-EnElBwGhvd0/ToF9i_wkoZI/AAAAAAAAA0o/QjfzGba5dKA/s1600/106617165.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 212px; height: 140px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-EnElBwGhvd0/ToF9i_wkoZI/AAAAAAAAA0o/QjfzGba5dKA/s400/106617165.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5656940647138238866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di dunia ini semuanya bersiklus, mengikuti alur yang itu-itu saja. Bisa jadi kita sendiri yang menjalani putarannya atau justru orang lain yang mengikuti lintasan yang pernah kita lewati sebelumnya. Tanpa kita sadari ternyata kita mengikuti alur yang sudah pernah orang lain lalui, dan banyak orang di luaran sana yang juga mengikuti kita. Dunia memang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah beberapa teman yang membuat pengakuan kalau mereka rajin mengikuti tulisan-tulisan saya di blog ini. Kalaupun mereka baru menemukan blog saya, mereka kemudian tidak keberatan untuk membacanya dari awal. Bayangkan, mereka membaca setiap postingan yang jumlahnya sudah sekian ratus. Entah untuk apa. Entah karena penasaran, entah karena tertarik atau justru karena mereka seperti sedang berkaca. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja jumawa kalau saya mengakui ternyata ada selintas bangga yang muncul di hati saya. Bangga karena ternyata tulisan-tulisan saya yang seringnya berisi curhatan ala ABG, tulisan penuh drama, ada yang mengapresiasi sedemikian rupa. Bangga ketika mengetahui bahwa kemuraman yang seringkali saya bagi ternyata bisa membuat orang lain tersenyum karena mereka merasakan hal yang serupa. Untuk saya apresiasi tersebut adalah bonus dari konsistensi  dalam menulis meskipun tujuan utama menulis buat saya adalah membuat testimoni. Bukti jalanan yang pernah saya titi ketika saya mengikuti sebuah titah takdir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin banyak dari kita yang akan menyangsikan ketika ada orang yang mengaku bahwa telah mengikuti tulisan kita sejak lama. Bisa saja orang tersebut hanya melakukan lip service untuk dekat dengan kita atau apalah. Tapi saya tidak. Saya yakin ketika ada seseorang yang bercerita bahwa dia sudah membaca postingan-postingan kita sejak lama, artinya mereka memang melakukannya. Apa saya terlalu naif? Saya pikir tidak. Kenapa? Karena dulu saya juga melakukan hal yang sama. Mengikuti kehidupan seseorang perantaraan tulisannya di blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang telat mengenal blog. Baru pada awal tahun 2008 saya mengetahui eksistensi blog dan sejak saat itu saya seperti memiliki kewajiban baru. Menulis. Perkenalan saya dengan blog juga diperantarai sebuah buku yang sebetulnya berisi kumpulan postingan seorang penulis di blog pribadinya. Blog tersebut yang kemudian menjadi salah satu blog favorit saya, blog yang menginspirasi saya tiada henti. Melalui tulisan-tulisannya saya berkaca, perantaraan kalimat-kalimat di blognya saya kemudian merasa tidak kesepian. Tidak merasakan berat beban yang sedari dulu saya pikul sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal perkenalan, saya menyempatkan waktu hampir setiap hari menyambangi blognya. Membaca dari awal postingannya yang jumlahnya sudah ratusan, dan saya tidak pernah lelah karena di akhir kunjungan saya selalu tersenyum atau paling tidak mengelus dada. Sebuah hiburan yang seperti mengangkat kisah hidup saya sendiri melalui tangan orang lain. Dari sana saya kemudian mencoba membuat cerita saya sendiri melalui tangan saya. Tidak ada niatan untuk dijadikan cerminan bagi orang lain, saya hanya ingin menjadi penulis kisah hidup saya sendiri. Tapi ketika kemudian ada yang tidak sengaja membaca dan merasa seperti cerita mereka, maka saya bersyukur karena saya bisa membuat orang lain tersenyum melalui prosa yang saya ciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengerti benar kalau tulisan saya sering kali muram. Berisi lebih banyak kesedihan dibandingkan kebahagiaan. Tapi kalau ada diantara kalian para silent reader, yang tidak pernah meninggalkan jejak di setiap kunjungannya, merasa ada kesamaan dengan apa yang kalian pernah atau sedang alami. Saya hanya ingin berbagi dan bukan meratapi kesedihan secara berkepanjangan. Jangan kemudian berpikir bahwa ketika saya sedih maka saya akan berketerusan dan menyebarkan aura muram. Seringnya setelah menulis cerita yang sedih saya menjadi seperti dipulihkan. Menulis sesuatu yang sedih untuk saya adalah sebuah terapi untuk lepas dari kesedihan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila nanti, suatu hari, ketika membaca sebuah postingan di blog ini kemudian merasa ingin berbagi, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya. Saya siap berbagi, saya siap mendengarkan. Dan saya janji tidak akan menghakimi. Jangan mengulang kesalahan saya ketika dulu tidak berusaha mengontak sang inspirasi blog saya ini karena dibelenggu malu. Saya siap berbagi bukan karena saya merasa lebih tapi justru lebih karena saya merasa bukan siapa-siapa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-5490530750831811856?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/5490530750831811856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=5490530750831811856&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/5490530750831811856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/5490530750831811856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/09/siklus-baca-hidup.html' title='Siklus (Baca : Hidup)'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-EnElBwGhvd0/ToF9i_wkoZI/AAAAAAAAA0o/QjfzGba5dKA/s72-c/106617165.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-3493339194262709962</id><published>2011-09-26T07:52:00.000+07:00</published><updated>2011-09-26T07:52:00.044+07:00</updated><title type='text'>Dunia Kaca</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-RPcp3OA3M_k/Tn6mPBCm_hI/AAAAAAAAA0g/XvJlzktdxho/s1600/105225069.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 163px; height: 190px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-RPcp3OA3M_k/Tn6mPBCm_hI/AAAAAAAAA0g/XvJlzktdxho/s400/105225069.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5656140958931549714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;“kamu jauh berbeda dari bayangan saya” Begitu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya setelah sekian lama terkunci senyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya tersenyum. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Sebetulnya ini bukan kali pertama saya menghadapi situasi kikuk seperti ini. Berulang kali saya masuk pusaran yang sama, dan berulang kali juga saya bingung harus berlaku seperti apa. Sepertinya saya tidak banyak belajar, atau mungkin saya lamban dalam mencerna setiap pelajaran yang dibisikan pengalaman mengenai kejadian seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami duduk berhadapan. Tidak banyak suara yang keluar dari mulut kami. Sunyi. Bahkan kalau disimak benar, detak jantung kami berdua  akan terdengar jelas bergantian seperti saling sahut menyahut. Kalimat-kalimat yang mungkin sudah dipersiapkan sebelum pertemuan ini seakan terjerembab dalam jaringan ephitel bersilia di tenggorokan sebelum mereka tiba dan menggetarkan pita suara. Tidak menghasilkan sama sekali bunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran kami mengembara dalam lintasan yang sepertinya berlainan. Dia berusaha menelisik sosok yang duduk di hadapannya. Saya. Sementara saya mengumpulkan kemungkinan-kemungkinan jawaban yang harus saya utarakan kalau dia kemudian memberondong saya dengan pertanyaan yang tidak bisa saya duga. Suasana masih senyap. Lampu yang sedikit temaran di atas kami tidak lantas dapat menunjukan arah mana yang harus kami lalui berdua dalam aktivitas bernama percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“memangnya apa yang kamu harapkan?” sunyi saya lumerkan dengan pertanyaan yang sebetulnya saya sudah tahu jawabannya. Sedari awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebetulnya tidak ada” Begitu ujarnya seraya menatap lurus tepat ke mata saya. “Hanya saja, lintasan atom yang seharusnya berputar beraturan dalam sulkus otak saya tiba-tiba membelot dan meloncat dari satu lintasan ke lintasan yang lainnya secara acak ketika saya mendapati kamu sekarang. Saya hanya bingung. Maaf”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum lagi.  Berusaha memberinya keyakinan bahwa ini memang saya. Seseorang yang dia kenal perantaraan aksara. Seseorang yang wujudnya selama ini mungkin hanya dia reka dan dia imajinasikan dalam kanvas maya sesuka hatinya. Dia hanya berusaha menyusun serakan puzzle menjadi sebuah bentuk dengan petunjuk hanya kumpulan prosa. Dan sepertinya dia salah menyusun. Bentuk lengkap dia dapatkan, tapi itu bukan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hidup di dunia kaca dengan banyak jendela. Saya biarkan orang-orang di luaran saya sepuasnya mengamati tanpa bisa menjamahnya dengan leluasa. Saya membatasi membagi kehidupan saya, bukan untuk menimbulkan kesan misterius atau apalah. Saya hanya merasa bahwa ada bagian-bagian yang tidak perlu saya umbar ke udara. Kalaupun ada sesuatu yang ingin saya bagi, maka saya buka sedikit jendela dan melepaskannya ke angkasa melalui rangkaian prosa yang berderet bagai sinema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggil saya manipulatif, sebutan yang tidak akan saya sanggah sama sekali. Saya hanya perangkai cerita, penyampai kisah tidak fiktif yang saya kemas dalam noktak-noktah diksi. Kejadian yang saya alami mungkin bisa jadi sangat sederhana, sesederhana kucing yang saya lihat di halaman. Tapi dengan bantuan diksi saya bisa mendeskripsikan kucing itu menjadi seperti serigala tanpa merubah jalan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia, seseorang yang saya temui malam itu sepertinya terjebak dalam kumparan yang sama. Salah mengerti tentang saya. Belasan email preliminasi ternyata tidak membuat saya jelas di matanya, padahal di email itu tidak lagi saya libatkan diksi. Saya menelanjangi diri sebisa saya, sejelas yang dia harapkan. Tapi sepertinya hal itu tidak bekerja seperti yang saya harapkan. Dia berjalan dengan pondasi tentang saya yang sudah terekat kuat di kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, saya hanya memintakan maaf kalau malam itu saya seperti mengintimidasinya melalui penampilan dan kepribadian saya yang asli. Di taman aksara, saya memang apisindica. Tapi di luar itu, saya apisindica yang pasti tidak akan pernah sama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-3493339194262709962?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/3493339194262709962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=3493339194262709962&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3493339194262709962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3493339194262709962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/09/dunia-kaca.html' title='Dunia Kaca'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-RPcp3OA3M_k/Tn6mPBCm_hI/AAAAAAAAA0g/XvJlzktdxho/s72-c/105225069.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-3515215376140820121</id><published>2011-09-22T07:27:00.000+07:00</published><updated>2011-09-22T07:27:00.130+07:00</updated><title type='text'>Happy B'Day Mom</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-vkK9W9Xg4jE/TnXmrb77j3I/AAAAAAAAA0Y/bT6pb58KWIE/s1600/219.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 190px; height: 190px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-vkK9W9Xg4jE/TnXmrb77j3I/AAAAAAAAA0Y/bT6pb58KWIE/s400/219.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653678541141413746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Namanya Ika. Hari ini dia berusia 52 tahun. Dia lahir dari ayah yang asli Bandung dan ibu yang peranakan Tionghoa. Sedari kecil katanya dia dididik untuk bekerja keras dan percaya akan kekuatan doa. Berkat doa itu pulalah katanya dia juga mampu tidak hanya mengenyam mimpi tapi mewujudkannya menjadi jalan hidup. Sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika umurnya belum genap 22 bahkan saat gelar yang dibanggakannya belum berhasil dia raih, dia mengambil langkah paling berani sepanjang hidupnya. Dia menerima ajakan menikah dari kakak kelasnya jaman SD yang ternyata juga seniornya waktu di universitas. Dia menikah dengan laki-laki yang baru saja memulai kehidupannya, laki-laki yang juga punya cita-cita sama luhurnya dengan dia. Bahagia, hanya itu yang ada dalam pikirannya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pernikahan itu dan dari rahimnya yang agung kemudian lahirlah apisindica dan apisdorsata. Saya dan adik saya. Dia kemudian tidak hanya menjelma menjadi seorang ibu yang hebat tetapi menjadi wanita tangguh. Wanita yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk ratusan pasien dan kami berdua anaknya. Wanita yang sedemikian rela dibebani oleh ocehan kami sampai saat ini, bahkan menjadi wanita yang sedemikian cekatan membagi waktunya dan seringkali mengabaikan kebahagiaannya sendiri demi kebahagiaan saya dan adik saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memanggilnya Mami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mami, di hari ulang tahunmu ini saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun, semoga mami diberi kebahagiaan dunia akhirat. Diberi umur panjang agar saya bisa membahagiakan mami sampai nanti. Terima kasih atas semua cinta dan kasih sayang yang tercurah tiada henti dari saya lahir sampai sekarang. Saya tahu Mami merasa itu sudah kewajiban Mami, tapi di mata saya itu merupakan pengabdian akan tujuan hidup yang selalu Mami dengung-dengungkan. Saya belajar dari semua itu Mi, mencoba menjalani jalan hidup dengan satu tujuan. Membagi kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu, saya belum bisa membahagiakan Mami menurut versi saya maupun versi Mami. Tapi ketika Mami bilang, kalau saya hidup dengan benar, tidak pernah menyakiti orang, dan selalu percaya akan Tuhan, Mami sudah cukup bahagia. Karenanya saya mencoba untuk berlaku seperti itu walau kadang ternyata sulit sekali menjalankannya. Saya berusaha Mi, tidak lain hanya ingin membuat Mami bahagia. Karena hanya itu satu-satunya yang saya ingin wujudkan selama saya hidup. Melihat Mami bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga meminta maaf kalau masih ada kelakuan yang ternyata tidak Mami harapkan. Saya sadar, diucapkan atau tidak, Mami tahu banyak tentang saya. Banyak yang ternyata diluar kuasa saya. Seandainya saya bisa memilih kemana angin akan menerbangkan saya, tentu saya akan memilih untuk selalu berada di kisaran yang Mami harapkan. Sayang, angin kadang tidak bisa diajak kompromi, tidak bisa diajak berkontemplasi. Tetapi saya tetap berusaha Mi, percayalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari ulang tahun Mami ini, ingin rasanya pulang ke rumah sekedar untuk membasuh kaki Mami dan kemudian meminta doa serta maaf di pangkuan Mami seperti dulu. Saat kenyataan hidup yang menghampiri tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Mami adalah kekuatan saya untuk tetap bertahan, tetap berjuang karena tujuan hidup saya adalah melihat Mami bahagia dan bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mom, there are so many things that I like in this world, such as studying, going out, games. But the best of all the things that I like is having a great mother like you. Thanks for always being there. Being a best mom, best friend and best companion. All the romantic words wouldn’t be able to express the love that I have for you. Just look inside and you would understand.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAPPY BIRTHDAY MOM!!!! I LOVE YOU SO MUCH!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-3515215376140820121?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/3515215376140820121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=3515215376140820121&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3515215376140820121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3515215376140820121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/09/happy-bday-mom.html' title='Happy B&apos;Day Mom'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-vkK9W9Xg4jE/TnXmrb77j3I/AAAAAAAAA0Y/bT6pb58KWIE/s72-c/219.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-438293978430483557</id><published>2011-09-19T08:03:00.000+07:00</published><updated>2011-09-19T08:03:00.160+07:00</updated><title type='text'>Reuni</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-CfpuhQHmhPI/TnXh3qeWwYI/AAAAAAAAA0Q/mCXIoy1zHIs/s1600/892320-004.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 199px; height: 148px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-CfpuhQHmhPI/TnXh3qeWwYI/AAAAAAAAA0Q/mCXIoy1zHIs/s400/892320-004.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653673253644190082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kemarin, saya mendapat undangan untuk acara halal bihalal dari kantor lama. Kantor lama sekali maksud saya. Kantor dimana saya bekerja ketika saya masih mahasiswa. Iya, saya sejak mahasiswa sudah bekerja, bukan karena kekurangan biaya buat bayar semesteran. Tapi karena untuk menyalurkan hobi yang tidak mau diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikenalkan oleh seorang teman yang sudah terlebih dahulu kerja disana, saya akhirnya diterima. Pekerjaan yang menyenangkan karena hobi berbicara saya terwadahi dengan baik. Dipercaya menjadi public relation di salah satu tempat hiburan yang berlokasi di salah satu hotel rasanya luar biasa, padahal yang punyanya tahu kalau background pendidikan saya jauh dari dunia ke-PR-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun memang bukan waktu yang sebentar untuk join dengan salah satu tempat kerja kan? Banyak sekali pengalaman yang tertoreh di hati saya. Empat tahun rasanya sudah menjadikan kami semua keluarga besar, meski akhirnya saya mengundurkan diri karena alasan Tugas akhir yang menyita waktu dan kesempatan yang saya dapat untuk short course di negeri sakura. Saya meninggalkan bagian terindah dalam hidup saya saat itu. Rasanya sedih tapi saya berpikir bahwa saya beranjak untuk sesuatu yang lebih baik. Masa depan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sepulang dari jepang, saya mendengar bahwa tempat hiburan itu akan tutup karena kesalahan pihak manajeman. Tapi saya tidak sempat mendatanginya karena kesibukan saya melanjutkan studi sampai tempatnya kemudian tutup meski hotelnya sampai sekarang masih ada. Mengingat hal itu kadang saya menyesal, padahal dari sana saya mendapatkan banyak pengalaman. Dan juga banyak pacar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin waktu reunian halal bihalal itu, kami berkumpul di restaurant hotel tersebut. Rasanya semua kenangan berlarian minta ditayangkan, kadang kabur, kadang baur. Tapi aromanya masih menusuk-nusuk hidung saya. Rasanya masih seperti kemarin. Bukan hanya kenangan tentang kantor itu yang datang memenuhi rongga dada saya, tapi orang-orang itu juga. Dua orang mantan pacar saya. Iya, disana saya mendapat dua orang pacar. Tentu dalam waktu yang berlainan. Lucu juga kalau diingat-ingat, kok dulu saya seperti piala bergilir. Seperti para pemain film Beverly hills yang pacarannya hanya sama orang di kelompok yang itu-itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaku orang baru, dengan asupan darah segar dan berasa miss congeniality yang ramah sana, ramah sini ternyata menarik perhatian orang, setidaknya dua orang itu. Bayangkan, 4 tahun 2 kali ganti pacar di lingkungan yang sama. Rasanya kok nampak tidak tahu malu sekali saya. Tapi itu jaman muda, jaman-jamannya saya masih laku. Sekarang? Boleh tanya toko sebelah deh. Semakin bertambah umur, mungkin keberuntungan semakin berkurang juga. Atau saya mungkin sudah mempunyai standar baru untuk menata jalan ke depan, jadinya susah mendapatkan yang menurut saya cocok untuk saya ajak serius menata hidup. Dulu lebih banyak untuk senang-senang, atau sebagai ajang pembuktian diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang yang pernah mengisi lobus-lobus hati saya itu datang dengan pasangannya masing-masing, dan saya dengan bloonnya datang sendirian. Padahal kalau mau, saya kan bisa ngajak adik atau kakak sepupu atau teman sekalipun yang kemudian saya bilang pasangan saya. Tapi kemudian saya berpikir, untuk apa menipu diri. Tak ada untungnya buat saya, selain perasaan berdosa. Nurani saya kemudian berkata, nggak laku yah nggak laku saja, tidak usah memaksakan. Toh dengan masih sendiri, tidak berarti saya tidak bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sering saya bilang, melihat mantan-mantan kekasih saya sekarang bahagia dengan pasangannya sudah membuat saya sangat bahagia. Tak ada kebahagiaan yang lebih sempurna dari melihat orang yang (pernah) kita sayangi mendapatkan kebahagiaan dengan cara mereka sendiri. Melengkapkan puzzle memori suka cita dalam ingatan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei kamu…dan kamu..saya senang bertemu dengan kalian hari ini. Menyegarkan kembali ingatan saya akan semuanya. Terima kasih pernah memberi saya kenangan yang tidak akan pernah saya lupa sampai kapanpun. Saya turut mendoakan semoga hubungan kalian saat ini bisa langgeng. Selamanya. Amien.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-438293978430483557?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/438293978430483557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=438293978430483557&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/438293978430483557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/438293978430483557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/09/reuni.html' title='Reuni'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-CfpuhQHmhPI/TnXh3qeWwYI/AAAAAAAAA0Q/mCXIoy1zHIs/s72-c/892320-004.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-3760367095312300100</id><published>2011-09-16T07:49:00.000+07:00</published><updated>2011-09-16T07:49:00.034+07:00</updated><title type='text'>Cin dan Can</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-5yJ7wkZUKYc/TnDC5g1QsrI/AAAAAAAAA0I/XA2R7KIDfz4/s1600/107741591.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 135px; height: 203px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-5yJ7wkZUKYc/TnDC5g1QsrI/AAAAAAAAA0I/XA2R7KIDfz4/s400/107741591.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652231825671631538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya memanggilnya Cin. Entah untuk cina atau untuk cinta. Atau mungkin untuk keduanya, cina yang saya cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cin hadir dengan cara yang tidak biasa, cara yang sama sekali di luar dugaan bisa membuat saya jatuh hati kemudian mencintainya setengah mati. Bertemu pertama kali di depan gerai kebab di kampus kami kemudian dilanjutkan dengan makan siang di salah satu café. Semuanya biasa saja, kesan awal tidak ada yang patut untuk diumbar berlebihan, hanya saja saya suka sekali melihat matanya. Sipit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memanggil saya Can. Pencarian panjang sebelum akhirnya berakhir pada panggilan itu. Saya pernah bertanya kenapa harus Can, dan dia menjawab Can untuk Candu. Katanya saya ibarat candu buat dia. Membuatnya ketagihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak itu Cin dan Can berjalan dalam koridor cinta yang tidak biasa. Berjalan dengan ego dan kepentingan masing-masing tetapi pada akhirnya tetap bertemu di tengah-tengah ketika semuanya sudah lelah. Saling mengelap keringat yang meleleh di dahi untuk sebuah alasan yang seringnya tidak dimengerti. Kami saling menikmati ketidakpastian, mereguk kasih yang membingungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Cin mau pergi. Tidak akan ada lagi ketidakpastian. Tidak akan ada lagi saling memperhatikan dalam ruang yang membingungkan. Semua jalan cerita dan peran sudah saatnya untuk ditamatkan, menunggu episode-episode baru dengan pemain yang pastinya digantikan. Tidak akan ada lagi Cin, tak akan muncul lagi Can. Cin dan Can sudah terbundel dalam satu scenario yang akan disimpan dalam laci kenangan. Mungkin nanti akan bisa ditayangkan lagi, tapi pastinya hanya sebagai film documenter. Atau bisa jadi hanya sebuah dongeng sebelum tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini Can memakai baju pemberian Cin dan membawanya tidur. Berharap Can akan jatuh ke dalam mimpi bersama Cin untuk yang terakhir kalinya. Apapun itu nanti ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan Cin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bila aku tak berujung denganmu…&lt;br /&gt;izinkan rasa ini kukenang slamanya…&lt;br /&gt;Tuhan tolong hapus rasa cintaku…&lt;br /&gt;Bila tak Kau izinkan aku bersamanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalah Arti Cinta dari She, mengalun lembut mengantarkan Can melepas Cin&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-3760367095312300100?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/3760367095312300100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=3760367095312300100&amp;isPopup=true' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3760367095312300100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3760367095312300100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/09/cin-dan-can.html' title='Cin dan Can'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-5yJ7wkZUKYc/TnDC5g1QsrI/AAAAAAAAA0I/XA2R7KIDfz4/s72-c/107741591.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-1817818114484126619</id><published>2011-09-14T08:02:00.000+07:00</published><updated>2011-09-14T08:02:00.599+07:00</updated><title type='text'>KENAPA?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-bl7GgC67CgE/Tm9xzhnOd_I/AAAAAAAAA0A/FG3h-YFhhPM/s1600/10171097.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 211px; height: 140px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-bl7GgC67CgE/Tm9xzhnOd_I/AAAAAAAAA0A/FG3h-YFhhPM/s400/10171097.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5651861187383425010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bocah itu berbaring di pangkuan ayahnya, matanya dipejam-pejamkan padahal hatinya berkecamuk tak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belaian tangan sang ayah tidak lantas membuatnya tenang. Hatinya terus meracau, batinnya mengumandangkan banyak pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah itu menimbang-nimbang antara bertanya atau menelannya perlahan. Dia berpikir mungkin ayahnya akan mempunyai jawaban yang menenangkan, tapi kemudian dia berpikir ulang bagaimana kalau jawaban yang diberikan ayahnya justru membuatnya semakin bimbang dan gamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memilih menelannya perlahan. Tidak lagi berniat bertanya atas gundah yang selama ini dia gadang-gadangkan sendirian. Berharap dengan ditelan maka seiring waktu, kegundahan akan menghilang. Begitu doanya setiap malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dia salah. Pilihan untuk menelannya perlahan justru membuat dia seperti tercengkram dalam lingkaran setan. Kegundahan itu masuk ke dalam setiap sel tubuhnya, bereplikasi dan terus membelah seiring dengan pertumbuhannya yang tidak bisa ditahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hidup dengan kegundahan itu sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bilang dia tidak pernah berontak. Separuh hidupnya dihabiskan dengan pemberontakan atas apa yang dia rasakan. Lebih dari itu, dia pernah menantang Tuhan. Mengajak-Nya bertemu di tanah lapang untuk bertarung pertanyaan satu lawan satu. Dan tentu saja dia menjadi pecundang, kalah oleh sesuatu yang belum bisa terjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kemudian dia kembali memutuskan untuk menelan segala kegundahan yang dia rasakan. Berdamai dengan gamang dan bersahabat dengan bimbang. Baginya berdamai dengan semua dan membiarkannya mengisi setiap sel tubuhnya adalah pilihan yang dirasa paling bijaksana. Melawan justru akan membuatnya semakin banyak ketinggalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transformasi dibuatnya sendiri, jalan Tuhan tetap dilewatinya dengan penuh kekhusuan. Tidak peduli banyak yang mempertanyakan bahkan meragukan keabsahan. Dia terus berjalan penuh kepercayaan kalau Tuhan tidak pernah meninggalkannya sendirian. Tuhan selalu ada ketika dia butuh bala bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah itu tidak lagi bocah. Berubah menjadi manusia tangguh yang sedikit bisa menjawab takdir yang dipilihkan Tuhan untuk dia mainkan. Atau mungkin justru bukan Tuhan yang memilihkan tapi dia sendiri yang membuat perjanjian ketika dia belum dilahirkan, entahlah. Yang pasti dia paham akan satu hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan memilihnya karena dia lemah. Dan orang lemah akan terus berjuang bagaimana hidup dan bertahan. Orang lemah akan mengumpulkan serakan beras yang tercecer di jalanan untuk sekedar bisa makan. Dan sepertinya Tuhan tidak salah pilih. Dengan kelemahannya bocah itu bertahan sampai sekarang. Dengan kegamangannya yang terus bereplikasi dalam sel tubuhnya, dia keluar menjadi pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, dalam doanya,  bocah yang tidak lagi bocah itu kadang-kadang menyelipkan sebuah pertanyaan yang masih sama. “Tuhan, kenapa aku berbeda?”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-1817818114484126619?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/1817818114484126619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=1817818114484126619&amp;isPopup=true' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1817818114484126619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1817818114484126619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/09/kenapa.html' title='KENAPA?'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-bl7GgC67CgE/Tm9xzhnOd_I/AAAAAAAAA0A/FG3h-YFhhPM/s72-c/10171097.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-3005737873826633453</id><published>2011-09-12T07:49:00.001+07:00</published><updated>2011-09-12T15:26:33.502+07:00</updated><title type='text'>Lagu Bisu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-NbY3w-J0Rbo/TmtdvNvcxII/AAAAAAAAAz4/rhiHF0vSxSw/s1600/lagu%2Bbisu.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 211px; height: 143px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-NbY3w-J0Rbo/TmtdvNvcxII/AAAAAAAAAz4/rhiHF0vSxSw/s400/lagu%2Bbisu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650713223190332546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dua buah harmoni lagu bisu mengalun bergantian dari speaker komputer jinjingku. Lagu bisu yang ternyata masih menyelip tersimpan rapih di salah satu folder fileku bertitelkan kenangan. Lagu yang dalam kebisuaannya mampu menyeretku pada potongan ingatan yang sengaja aku bekukan di kamar kos mu sore itu. Potongan ingatan yang tidak lantas meleleh bahkan ketika terpapar panas yang seringkali tidak bisa dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuulang memutar harmoni lagu bisu itu ketika telah mencapai bagian akhirnya, sekali, dua kali, sampai berulang kali, sampai harmoni lagu itu lengket dalam gendang pendengaranku. Harmoni lagu bisu itu terus berdengung, bergantian, mengisi seluruh ruang kenanganku, sampai penuh. Bahkan ketika kupejamkan kedua mataku, dengan jelas aku masih bisa melihat bagaimana proses penciptaan harmoni lagu bisu itu berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemarimu menari lincah di atas tuts-tuts pianomu sore itu. Jiwamu melebur dalam setiap nada yang tercipta dari senar-senar di bagian dalam piano kebanggaanmu. Sesekali kamu memejamkan mata sambil terus meliuk diantara choda yang tercipta. Kamu ulangi choda-choda itu kalau misalnya menurutmu harmoni yang terbentuk tidak sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Begitu banyak coretan di buku not balokmu, kemudian kamu bilang kalau kamu ingin semua itu berlangsung sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk di pinggiran dipan, mengamatimu dari belakang. Melihat punggungmu yang kadang tegang, kadang santai mengikuti bunyi-bunyian yang mengalun mengisi penuh kamar kos mu sore itu. Aku memilih untuk lebih banyak diam, ikut tenggelam dengan semua prosesi pembuatan dua buah lagu bisu. Lagu yang akhirnya mendapati titik temu. Lagu yang akhirnya menyambungkan puluhan not menjadi sebuah harmonisasi lagu lengkap, tapi masih bisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu ulangi lagi memainkan 2 buah lagu bisu tersebut setelah sebelumnya kamu pasang alat perekam di komputermu. Kamu kirimkan lagu-lagu itu ke emailku, dan kamu bilang sekarang adalah giliranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugasku adalah membuatnya tidak lagi bisu. Kamu menginginkanku menaruh kata-kata berima di setiap harmoni yang sudah tercipta. Kamu ingin lagu yang kamu gubah tidak lagi cacat, tidak lagi hanya alunan nada tanpa kata. Kamu kemudian bilang bahwa kamu ingin dua lagu itu menemukan takdirnya, bertemu dengan kata. Menjadikannya sempurna. Seperti impian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, kita berakhir sebelum lagu itu berlabuh mengikuti khitahnya. Kita menyelesaikan apa yang pernah kita sepakati justru sebelum lagu itu mengawinkan harmoni dan syair dalam peraduannya. Dan ketika itu kamu memintaku untuk melupakan semuanya, melupakan mimpi-mimpi kita termasuk di dalamnya memberangus proyek dua buah lagu yang sebetulnya bisa menjadi sebuah testimoni. Saksi kalau kita pernah bersama. Tapi untuk apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun berlalu, dan lagu itu seperti terlupakan. Menguap menjadi awan yang sebetulnya masih menggantung di langit yang tak pernah ingkar berpasangan bahkan ketika hari cerah sekalipun. Jadi ketika malam tadi aku menemukannya lagi dan memutarnya berulang kali, aku merasa masih berhutang untuk menyelesaikan bagianku. Tidak peduli kalau sekarang kamu sudah bahagia dengan orang lain, aku hanya ingin membuat lagu itu bertemu takdirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin lagu itu tidak hanya suara tanpa kata, aku ingin lagu itu tidak lagi bisu. Dan aku berjanji akan kukirimkan kepadamu ketika aku sudah menyelesaikan bagianku, tidak peduli kalau nantinya kamu akan buang lagu itu ke jalanan. Setidaknya lagu itu tidak lagi bisu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-3005737873826633453?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/3005737873826633453/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=3005737873826633453&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3005737873826633453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3005737873826633453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/09/lagu-bisu.html' title='Lagu Bisu'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-NbY3w-J0Rbo/TmtdvNvcxII/AAAAAAAAAz4/rhiHF0vSxSw/s72-c/lagu%2Bbisu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-1706163887888510472</id><published>2011-09-09T07:47:00.000+07:00</published><updated>2011-09-09T07:47:00.097+07:00</updated><title type='text'>Galau</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-7zCSblXhBZM/TmjkLjRB0gI/AAAAAAAAAzw/W3ccb3Y9C4o/s1600/BC7793-001.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 164px; height: 194px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-7zCSblXhBZM/TmjkLjRB0gI/AAAAAAAAAzw/W3ccb3Y9C4o/s400/BC7793-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650016619632644610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perempuan itu berasal dari terowongan yang temaram. Terowongan tanpa jendela yang menyebabkannya asosial terhadap cahaya. Sebetulnya dia bisa saja memilih bersahabat dengan terang, tapi sepertinya dia lebih nyaman terombangambingkan hitam. Dalam gelap dia mencoba membangun apa yang ada dalam benaknya, berusaha berdiri dan meraba-raba untuk menggapai apa yang dia yakini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu berjalan tidak lagi sempoyongan , tidak seperti pada saat awal dia memutuskan untuk berjalan dalan kegelapan. Baginya jati diri wajib untuk diperjuangkan, hidup dengan apa yang diyakininya menjadi suatu keharusan yang tidak bisa lagi ditawar. Dia merasa senang, dia menemukan dunianya yang selama ini dia cari. Tidak peduli kalau ternyata dunianya itu gelap, tidak peduli kalau hidup dalam dunianya itu membuatnya terasing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan yang berasal dari terowongan yang temaram itu terus berjalan. Tidak menoleh bahkan ketika dia menjumpai banyak persimpangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga tidak ada bedanya dengan dia. Berasal dari terowongan yang juga temaram. Terowongan yang dengan sadar telah dipilih untuk dilalui setelah didera banyak pertimbangan. Aku juga bersahabat dengan gelap, mencandu hitam sampai sakau. Bagiku apa yang harus kujalani dalam terowongan ini adalah sebuah takdir, sehingga tidak perlu lagi banyak mempertanyakan. Bertanya tidak menjadikan aku siapa-siapa ternyata, bertanya justru memberangus jiwaku dengan keraguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan perempuan itu suatu hari berbincang. Mencoba mencari kesamaan dalam jejak yang telah ditorehkan dalam alur terowongan masing-masing. Berusaha saling belajar dari pengalaman satu sama lain, memperkaya jiwa dengan sesuatu yang mungkin belum disesap indera perasa. Dan kami menemukan persamaan. Kami sama-sama ingin keluar dari kenyamanan terowongan yang selama ini meninabobokan. Mungkin tidak langsung mengharapkan terang, tapi remang-remang sudah lebih dari cukup atas apa yang kami harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan perempuan itu mencoba beririsan. Saling mengguar masa lalu untuk melihat masa depan yang mungkin bisa diciptakan. Saling mengukur kadar kepercayaan masing-masing untuk mencoba melangkah bergandengan. Mengepaskan bentuk dengan ruang, mencocokkan gambar dalam bingkai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan perempuan itu berproses dalam pergulatan di terowongan masing-masing. Bergumul dalam rangkaian doa yang tidak berhenti diucapkan sekujur badan. Kami mencoba menggapai-gapai meski masih dalam kegelapan, karena kami yakin bahwa terowongan ini akan ada ujungnya. Akhir yang pastinya akan membebaskan walaupun jalan ceritanya entah akan seperti apa. Perempuan itu seperti halnya aku meyakini bahwa ujungnya adalah bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayang, lagi-lagi takdir tidak berpihak pada jalan yang sedang aku dan perempuan itu bentangkan. Sepertinya banyak hal yang tidak bisa disesuaikan, yang tidak mudah dieliminir untuk kemudian dimaklumi. Jalan kami tetap berlainan, dan kami memilih untuk menyudahi sepenggal babak yang awalnya menyenangkan. Perempuan itu kembali temaram, dan aku kembali berselubungkan muram.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-1706163887888510472?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/1706163887888510472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=1706163887888510472&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1706163887888510472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1706163887888510472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/09/galau.html' title='Galau'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-7zCSblXhBZM/TmjkLjRB0gI/AAAAAAAAAzw/W3ccb3Y9C4o/s72-c/BC7793-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-8946151249584863203</id><published>2011-09-07T10:49:00.002+07:00</published><updated>2011-09-07T10:52:56.052+07:00</updated><title type='text'>Sesederhana Kamboja</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-iEKU28-DaS0/TmbqNiihRqI/AAAAAAAAAzo/QDsXaPjIhbg/s1600/kamboja.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 254px; height: 198px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-iEKU28-DaS0/TmbqNiihRqI/AAAAAAAAAzo/QDsXaPjIhbg/s400/kamboja.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5649460300913657506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Andai saja hidup itu bisa sesederhana kuncup kamboja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditunggu merekah – dipuja – kemudian luruh dan menamatkan cerita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin berakhir tragis sebagai hiasan pusara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau justru naik kasta karena dipakai sebagai hiasan pura untuk makanan dewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, andai saja hidup bisa dibuat sederhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga tak perlu ada drama yang berjejer bagai sinema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah jatuh cinta juga bisa dibuat sedemikian sederhana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesederhana kuncup kamboja yang menyembul dari ketiak daun yang sudah cukup usia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu alasan, tidak perlu jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan saja semua rasa meraja di dalam sukma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tanyakan lagi kenapa aku bisa melabuhkan cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mencitaimu itu sederhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesederhana kamboja yang merekah tatkala senja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nb: nulis apaan sih gue?!?!?!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-8946151249584863203?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/8946151249584863203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=8946151249584863203&amp;isPopup=true' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8946151249584863203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8946151249584863203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/09/sesederhana-kamboja.html' title='Sesederhana Kamboja'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-iEKU28-DaS0/TmbqNiihRqI/AAAAAAAAAzo/QDsXaPjIhbg/s72-c/kamboja.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-193028083331658677</id><published>2011-09-05T07:08:00.001+07:00</published><updated>2011-09-05T09:14:12.698+07:00</updated><title type='text'>Surat untuk Semesta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-CDYAFawbwHY/TmMIDO-j1II/AAAAAAAAAzg/UeUBWx8nJ0Y/s1600/118601824.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 209px; height: 138px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-CDYAFawbwHY/TmMIDO-j1II/AAAAAAAAAzg/UeUBWx8nJ0Y/s400/118601824.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5648367209305855106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dear Semesta,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu sekarang kamu sedang mentertawakan aku, atau mungkin kamu tidak sekedar tertawa tapi terpingkal-pingkal sampai meneteskan air mata. Bisa jadi setelah serangkaian kegiatan mentertawakanku itu kamu mengelus dada dan jatuh iba. Jangan, aku tidak butuh dikasihani. Aku tidak butuh dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu khawatir aku akan tersinggung karena kamu mentertawakanku sampai puas, tidak ada sedikitpun aku tersinggung dengan perilakumu itu. Sumpah. Perlu kamu tahu, jangankan kamu, aku sendiri sebetulnya mentertawakan diriku sendiri. Entah setan atau pikiran apa yang mempengaruhiku sampai aku melakukan hal itu. Untungnya aku tidak lantas jatuh iba terhadap diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang salah kalau aku berbicara mengenai pernikahan? Memang aku keliru kalau aku berbincang mengenai jodoh yang aku inderai di ujung penglihatan? Sepertinya tidak karena bukankah seluruh penghuni semesta juga menggunjingkan hal yang sama? Jodoh dan pernikahan. Seakan-akan kalau sudah bertemu jodoh kemudian melangkah ke dalam pintu pernikahan, mereka sudah berada di puncak kebahagiaan. Atau sudah purna tugasnya membahagiakan kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tidak ingin menikah? Bertemu sang belahan jiwanya kemudian beranak pinak dengan alasan untuk melanjutkan silsilah keturunan ‘darah biru’ dan memenuhi pool genetik dengan pohon  pedegree yang baru. Siapa yang menolak menikah ditengah ketakutan hidup sendirian dan tidak akan ada yang mengurus ketika tubuh sudah renta? Semua orang aku rasa pernah berada di titik itu, termasuk aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semesta, lihatlah sebegitu banyaknya reaksi yang timbul ketika aku berbicara mengenai jodoh dan pernikahan. Kamu juga mungkin berkomentar meski dalam hening, tapi aku tahu kamu tidak tahan untuk tidak angkat bicara. Kebanyakan mendoakan, menyelamataiku selayaknya aku sudah menjadi seorang pengantin yang berdiri di atas pelaminan. Dan aku mengaminkan, semoga doa-doa yang keluar indah dari sahabat-sahabat pilihan kemudian diijabah Tuhan dan menjadi kenyataan. Suatu hari nanti. Tidak sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan terus mentertawakan, anggap saja aku gila sekalian karena sudah sesumbar tentang hal-hal yang sebetulnya belum jelas kebenarannya. Aku hanya membicarakan jodohku, membicarakan hari dimana aku akan mengucapkan ijab kabul, dan aku hanya berbicara mengenai sebuah bualan. Apa itu salah? Dilarangkah aku untuk mereka-reka seperti apa jodohku dan bagaimana prosesi jalannya pernikahanku kelak? Aku rasa tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mungkin memang keterlaluan Semesta, bercanda tentang sesuatu yang sebetulnya tidak layak dijadikan sebuah banyolan. Tapi lihat, banyak diantara mereka yang mendoakan. Bukankah itu bagus? Bukankan itu bisa jadi sarana pemicu cepatnya aku bertemu dengan jodohku? Ya ya ya, lagi-lagi aku cuma berhayal dan membual. Tapi biarkan saja begitu, biarkan aku menjalankan peranananku atas cerita yang aku gubah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semesta, aku meminta tolong kemudian. Bewarakan kepada khalayak kalau dalam waktu dekat aku belum akan menikah. Aku belum bertemu dengan jodoh yang mungkin sebetulnya (masih) Tuhan sembunyikan sambil aku membenahi diri dan berubah menjadi orang yang jauh lebih baik lagi. Dan kalau misalnya kamu memiliki kemampuan untuk berbicang dengan Tuhan, tolong sampaikan pesanku kalau aku belum bosan menunggu. Kalau tidak tahun ini, aku yakin masih ada tahun-tahun setelahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mintakan maafku juga kepada mereka yang sudah mendoakan dan merasa tertipu. Bilang, mendoakan itu tidak dosa dan tidak juga merugi. Jadi kalau kemarin mereka sempat mendoakan dan menyelamatiku, suruh mereka terus begitu. Dan aku berterima kasih serta akan terus mendoakan mereka supaya mereka menemukan kebahagiaannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, tolong sampaikan kepada beberapa orang yang sempat mendekat kemudian menjauh lagi. Aku belum termiliki, aku belum akan mengakhiri perjalanan hidupku dengan berlabuh di hati seseorang. Silahkan mendekat kembali, dan akan kita lihat bagaimana semua akan terjadi. Nanti.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-193028083331658677?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/193028083331658677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=193028083331658677&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/193028083331658677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/193028083331658677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/09/surat-untuk-semesta.html' title='Surat untuk Semesta'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-CDYAFawbwHY/TmMIDO-j1II/AAAAAAAAAzg/UeUBWx8nJ0Y/s72-c/118601824.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-2105481510229566209</id><published>2011-09-01T08:15:00.000+07:00</published><updated>2011-09-01T08:15:00.342+07:00</updated><title type='text'>Jangan Dibandingkan (Repost)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-gpJN4UsK5bk/TlufoqXtSZI/AAAAAAAAAzY/t72Ygj8DpLw/s1600/88027089.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 191px; height: 144px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-gpJN4UsK5bk/TlufoqXtSZI/AAAAAAAAAzY/t72Ygj8DpLw/s400/88027089.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5646282078756358546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bukankah ini hanya masalah waktu? Begitu aku membatin ketika pertanyaan itu berputar berulang-ulang memasuki gendang pendengaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selayaknya kelahiran, kita tidak pernah bisa memilih kapan kita dilahirkan. Semua sudah disuratkan tanpa bisa ditawar. Tertulis bagai cetak biru DNA yang terus dihasilkan dari untai yang tidak pernah bisa diubah. Mengikuti takdir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hanyalah soal waktu. Tidak lebih. Hanya kadangkala waktu nampak tidak berpihak pada seseorang, dalam kasus ini kepadaku. Jadi jangan bandingkan aku dengan mereka yang justru dipihaki oleh waktu. Jangan bandingkan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dibandingkan. Memaksakan hanya akan menempatkanku sebagai objek yang selalu kalah, digerus waktu yang terus melaju tanpa bisa dilihat sebagai sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebetulnya tidak bosan mendengar pertanyaan itu menggaung berulang-ulang seperti teriakan di bibir sumur yang meraung dipantulkan berkali-kali. Sudah sangat wajar pertanyaan itu mengarah kepadaku, mengingat angka yang seakan tercetak nyata di keningku. Dua angka yang setiap tahunnya berubah ketika aku sampai pada saat yang dinamakan ulang tahun. Waktu tidak bisa ditahan, membuat ulang tahun seakan terjadi hanya dalam hitungan hari. Mengantarkanku merangkak pada usia yang menurut mereka tidak lagi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukankah angka itu hanyalah angka. Angka tidak bisa dijadikan takaran, bukan ukuran atas seseorang sudah pantas atau tidak. Bukan juga gambaran dari sebuah fase kedewasaan. Tua tidak sama dengan dewasa. Angka tidak sama dengan matang. Angka hanya sebuah tanda sudah sejauh mana kita berjalan. Menapaki titian waktu dari titik nol dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak sedang berlari menghindar karena sampai kapanpun hal ini harus aku hadapi. Menghindar bukan suatu penyelesaian. Berlari hanya akan memberiku muatan lebih dalam beban yang sudah aku pikul sejak lama. Sejak menurut mereka aku sudah cukup untuk menentukan. Aku hanya tidak ingin dibandingkan. Semua hanya masalah waktu. Cukuplah membandingkan aku dengan mereka yang lebih cepat memutuskan, atau dengan mereka yang dalam takdirnya sudah tercatat lebih cepat keluar dari kesendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takdir tidak bisa digugat. Mungkin bisa diubah sedikit dengan doa. Tidak perlulah kalian mendengar semua doa yang selalu aku tasbihkan, karena aku senantiasa memanjatkan doa yang paling baik, yang bisa membawaku ke arah yang tidak lagi temaram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya minta janganlah lagi aku dibandingkan tentang hal itu melulu. Lihatlah dari sudut pandang yang berbeda. Apa yang sudah aku capai dan apa yang tidak mereka capai. Apa yang sudah aku gapai dalam kisaran waktu yang menurut kalian sudah berlebihan. Bandingkan itu dengan mereka yang selalu kalian banggakan. Aku yakin aku menang, aku yakin aku lebih dari apa yang mereka telah dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah semua itu hanyalah masalah waktu? Menikah adalah takdir yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan. Aku yakin akan tiba waktunya nanti ketika Tuhan sudah menentukan. Mungkin tidak sekarang, tapi pasti kelak akan dijelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;PS: ditulis setelah momen lebaran ketika banyak keluarga besar yang (lagi-lagi) mempertanyakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-2105481510229566209?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/2105481510229566209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=2105481510229566209&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2105481510229566209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2105481510229566209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/09/jangan-dibandingkan-repost.html' title='Jangan Dibandingkan (Repost)'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-gpJN4UsK5bk/TlufoqXtSZI/AAAAAAAAAzY/t72Ygj8DpLw/s72-c/88027089.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-200862799999896459</id><published>2011-08-29T03:19:00.000+07:00</published><updated>2011-08-29T03:19:00.234+07:00</updated><title type='text'>Setiap Habis Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-F8ahdpryiGA/TlprHsx7UVI/AAAAAAAAAzQ/FkRbSCLjOuA/s1600/108221252.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 132px; height: 198px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-F8ahdpryiGA/TlprHsx7UVI/AAAAAAAAAzQ/FkRbSCLjOuA/s400/108221252.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645942862886162770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Setiap habis Ramadhan&lt;br /&gt;Hamba rindu lagi Ramadhan&lt;br /&gt;Saat - saat padat beribadah&lt;br /&gt;Tak terhingga nilai mahalnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan akan segera beranjak meninggalkan kita. Bulan yang seharusnya saya isi dengan berbagai ritual ibadah yang akan mendekatkan saya dengan sang Khalik, pencipta saya. Tapi seperti biasa,  saya sering kali alpa, mengabaikan esensi ibadah yang seharusnya diperbanyak selama bulan Ramadhan. Saya terlena dengan banyak hal. Masalah pekerjaan, masalah hati, masalah duniawi. Dan tanpa terasa saya akan ditinggalkan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Setiap habis Ramadhan&lt;br /&gt;Hamba cemas kalau tak sampai&lt;br /&gt;Umur hamba di tahun depan&lt;br /&gt;Berilah hamba kesempatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesadaran beramunisi penuh, saya tahu benar bahwa ada kemungkinan saya tidak bisa bertemu lagi Ramadhan tahun depan. Tidak akan ada lagi kesempatan bagi saya untuk mempertebal keimanan dengan memanfaatkan moment bulan penuh maghfiroh seperti yang Allah janjikan. Saya cemas, saya memintakan diberi kesempatan sekali lagi. Tapi sering kali saya zhalim, ketika saya diberi kesempatan saya tidak memanfaatkannya dengan benar. Apapun itu, di akhir Ramadhan tahun ini, saya tetap meminta diberikan kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Setiap habis Ramadhan&lt;br /&gt;Rindu hamba tak pernah menghilang&lt;br /&gt;Mohon tambah umur setahun lagi&lt;br /&gt;Berilah hamba kesempatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya beri saya umur setahun lagi untuk saya memperbaiki diri. Mungkin saya akan lalai seperti biasa, karena itu saya mohon dibimbing, diberi keistiqomahan dalam menjalankan keislaman saya secara kaffah. Saya tahu saya bukan nabi yang akan langsung diingatkan ketika saya berbuat salah, tapi setidaknya beri saya selalu kesadaran untuk berjalan di koridor yang Allah ridhoi. Berjalan dengan kebenaran menurut Allah dan bukan lagi kebenaran menurut saya, karena sering kali yang benar menurut saya justru salah besar di mata Allah. Untuk itu pulalah saya minta diberikan lagi kesempatan, setidaknya setahun lagi untuk saya membenahi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan&lt;br /&gt;Sekeluarga, sekampung, senegara&lt;br /&gt;Kaum muslimin dan muslimat se dunia&lt;br /&gt;Seluruhnya kumpul di persatukan&lt;br /&gt;Dalam memohon ridho-Nya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan merindukan Ramadhan. Saya akan merindukan saat-saat bagaimana saya menahan diri untuk tidak berkomentar tentang banyak hal. Saya akan merindukan bagaimana saya sekuat tenaga menahan pandangan dari sesuatu yang tidak pantas saya lihat. Saya akan merindukan Ramadhan. Bulan di saat saya sangat rajin mendahulukan sholat di awal waktu daripada berbagai kepentingan. Bulan yang menggembleng saya dengan mewajibkan diri sendiri untuk memperbanyak sholat sunnah dan bersedekah. Saya akan merindukan belenggu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang di akhir Ramadhan, di saat-saat menuju kemenangan, rasanya tidak pantas kalau saya tidak minta dimaafkan. Meskipun saya membelenggu diri dari semua hawa nafsu, bukan berarti saya luput dari dosa ataupun perbuatan yang menyakitkan. Karenanya, dengan segala kerendahan hati saya meminta maaf lahir batin. Izinkan saya melebur segala kesalahan saya dengan dibukakan pintu maaf dari sekalian banyak orang yang pernah terhubungkan. Entah itu kesalahan yang sengaja maupun yang tidak sengaja, termasuk lintasan hati di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Bersama ini Apisindica mengucapkan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1432 H&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita kembali pada kefitrian yang hakiki serta dipertemukan lagi dengan Ramadhan yang agung di tahun mendatang. Amin.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-200862799999896459?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/200862799999896459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=200862799999896459&amp;isPopup=true' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/200862799999896459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/200862799999896459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/08/setiap-habis-ramadhan.html' title='Setiap Habis Ramadhan'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-F8ahdpryiGA/TlprHsx7UVI/AAAAAAAAAzQ/FkRbSCLjOuA/s72-c/108221252.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-995961312199933445</id><published>2011-08-24T07:45:00.000+07:00</published><updated>2011-08-24T07:45:00.326+07:00</updated><title type='text'>Sebuah Pelabuhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-Zj996w7YB6k/TlPQRu9HIeI/AAAAAAAAAzI/GqMsvVAHkb8/s1600/83385611.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 213px; height: 141px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Zj996w7YB6k/TlPQRu9HIeI/AAAAAAAAAzI/GqMsvVAHkb8/s400/83385611.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644083761106067938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya mencari pelabuhan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu daratan dimana saya tidak ragu untuk melempar sauh dan bersandar. Daratannya boleh sebuah pulau secara keseluruhan atau hanya sebidang pantai berpasir putih yang menjanjikan kenyamanan.  Saya hanya ingin menepi, berharap untuk jangka waktu yang panjang karena ternyata saya bosan menarik jangkar kemudian mencari lagi tepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya saya sudah bersahabat dengan gelombang sejak lama, terombang-ambing dalam lautan pencarian. Kadang saya bergerak ke tepian ketika saya melihat ada daratan, tapi tak jarang saya terhempas kembali ke tengah padahal saya belum sepenuhnya mendekat. Daratannya menipu, mirip fatamorgana. Semakin saya mendekat, semakin saya yakin bahwa disana tidak ada pelabuhan yang saya reka dalam imaji. Saya kembali berkelana mencari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali saya berlabuh, menemukan apa yang selama ini saya dambakan. Pelabuhan yang menjanjikan langkah terpadu menuju asa yang mungkin bisa direalisasikan. Kepadanya saya melempar jangkar keterikatan, mencoba menyelaraskan dua kepribadian agar bisa berjalan beriringan. Kepadanya saya menggantungkan harapan bahwa dia adalah ujung dari sebuah pencarian. Sebuah pelabuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebuah cerita selalu memiliki ujung, akhir yang masih bisa diurai meskipun dalam keadaan kusut sekalipun. Saya terombang-ambing lagi badai, angin memaksa saya untuk menarik jangkar dan terhempas lagi ke lautan. Meninggalkan daratan yang dulunya penuh pengharapan. Meninggalkan asa yang mungkin pernah tergambar di bibir pantai. Asa yang lambat laun terhapus ketika ombak menciumi butiran pasir. Menghapus jejak. Selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, saya sedang menginderai adanya daratan terpampang menantang. Daratan yang saya yakini ada pelabuhan disana. Memang masih samar dan masih terhalang kawanan awan yang membentuk jelaga. Tapi entah kenapa kapal saya seperti tidak bisa dikendalikan, saya terus melaju mencoba menyibak kelabu. Saya terus berjalan padahal daratannya seperti timbul tenggelam. Dia mungkin ragu seperti halnya saya dulu. Belum yakin atas apa yang sebetulnya tengah dia rasakan tentang saya yang ambigu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang melihat tepian untuk saya berlabuh, tapi saya juga belum sepenuhnya yakin untuk melempar sauh dan kemudian bersandar. Ketergesa-gesaan hanya akan menimbulkan gelombang, membangunkan laut dari tidur tenangnya yang panjang. Izinkan saya sesaat untuk duduk di buritan kemudian mengamati dari jarak yang sedemikian dekat. Biarkan saya menyulam benang-benang kepercayaan dan keyakinan bahwa dia memang sebuah pemberhentian dimana saya bisa meletakan hati saya disana. Tanpa ada keraguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu juga saya izinkan duduk mengamati di tepian. Memilah dan menilai kelayakan apakah saya pantas untuk bersandar. Gunakan lampu di mercu suar sebagai pertanda ketika kamu sudah membuat sebuah keputusan. Wartakan pada angin bagaimana kata hatimu sehingga angin akan menggerakan gelombang dan membawa saya terdampar atau justru membuat saya karam. Apapun itu, keputusan tetap harus dibuat. Dan dalam prosesnya, saya akan menikmati pelangi yang menghubungkan saya dan kamu, tak peduli bagaimana hasilnya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat pelabuhan, dan mudah-mudahan pelabuhan itu adanya di hatimu. Selamanya, sampai mati,  karena sepertinya saya mulai menyadari kalau namamu memang jodohku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-995961312199933445?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/995961312199933445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=995961312199933445&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/995961312199933445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/995961312199933445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/08/sebuah-pelabuhan.html' title='Sebuah Pelabuhan'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Zj996w7YB6k/TlPQRu9HIeI/AAAAAAAAAzI/GqMsvVAHkb8/s72-c/83385611.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-6860663807618257874</id><published>2011-08-22T07:33:00.001+07:00</published><updated>2011-08-22T08:10:46.276+07:00</updated><title type='text'>Mungkin Dia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Lx3syXIpSgg/TlEz-gTkkHI/AAAAAAAAAzA/VHoe_0rIooM/s1600/103575826.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 226px; height: 142px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Lx3syXIpSgg/TlEz-gTkkHI/AAAAAAAAAzA/VHoe_0rIooM/s400/103575826.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5643348956988870770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sampai saat ini sebetulnya saya sering bertanya, bagaimanakah sosoknya jodoh itu? Seseorang yang sudah dijanjikan Tuhan akan menjadi pasangan saya. Seseorang yang katanya diambil dari tulang rusuk saya yang mulanya menempel pada sternum, tulang dada. Seseorang yang ditasbihkan dalam suratan menjadi pendamping saya sampai mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu bertanya tanpa kunjung ada jawaban. Dan kemudian saya bimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali saya dirundung ketakutan. Bagaimana bila jodoh saya ternyata sudah meninggal ketika justru belum sempat kami beririsan. Bagaimana bila ternyata saya salah mengambil jalan yang ternyata justru menjauhkan saya dari sosoknya yang berdiri mengundang. Semua ketakutan itu saya pelihara dari mulai saya mengerti apa itu cinta sampai detik ini. Ketakutan-ketakutan yang sebetulnya tidak beralasan ketika saya percaya terhadap Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya manusia biasa. Gudang segala keraguan dan ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap saya menjalin sebuah hubungan, saya bertanya kepada semesta, bagaimana saya tahu kalau dia itu adalah jodoh saya yang telah Tuhan persiapkan?  Bagaimana saya yakin kalau dengan dia saya akan menghabiskan sisa hidup saya, menjadi hamba Tuhan secara bersama-sama? Banyak bagaimana yang ternyata membuat saya limbung dan kemudian mengabaikan banyak pertanda. Tapi bukankah jodoh itu ketika saya abaikan dia akan datang lagi dan lagi dengan cara yang mungkin misterius? Saya percaya Tuhan tidak pernah tidur, jadi ketika saya salah membaca pertanda, saya akan kembali ditunjukan dan didekatkan kepada dia. Jodoh saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya saya hanya perlu memupuk yakin. Mempersubur keimanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kemudian dia datang, sosok yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Hadir dari dunia yang tidak pernah terpikirkan akan saya jamah perantaraan senyumnya. Entah bagaimana awalnya, saya hanya merasa bahwa dia adalah orangnya. Beginikah cara Tuhan bekerja? Tanpa awalan Dia hanya menumbuhkan keyakinan yang sebelumnya seperti hilang tidak pernah terundang. Saya hanya merasa kalau bersamanya saya ingin menghabiskan sisa hidup saya. Bersamanya saya ingin membagi hidup saya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan anggap saya seperti memudahkan. Berada di titik ini saya telah melampaui banyak persimpangan, pertentangan dan pertimbangan. Dan di ujung pencarian, hati saya tetap berujar bahwa dia adalah orang yang mungkin selama ini saya cari di setiap pergulatan. Dia adalah mungkin rusuk yang selama ini hilang dari urutan rusuk yang menyusun rangka badan saya. Memang saya masih menggunakan kata mungkin, karena keyakinan saya masih belum sepenuhnya utuh. Setidaknya saya mengalami kemajuan, belum pernah saya merasa seyakin ini ketika merintis sebuah hubungan. Bersamanya saya merasa dilengkapkan, bersamanya volume hidup saya mencapai batas maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya tidak lepas berdoa. Meminta diberi keyakinan yang terus berkembang kian matang. Meminta diberikan pertanda yang tidak lagi harus diraba, karena apabila hanya dipandang sudah nampak cukup meyakinkan maka saya akan yakin bahwa dia adalah orangnya. Jodoh saya. Seorang perempuan yang dikirim Tuhan dari dunia yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Seorang perempuan solehah yang kelak akan menjadi ibu anak-anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, tolong saya dimudahkan agar saya tetap konsisten dengan perasaan yang sekarang tumbuh tidak kenal batasan. Dan tolong saya dibimbing agar saya tidak lagi terjerumus dan kembali pada episode-episode yang telah lampau. Biarkan itu menjadi sejarah saya, yang mungkin buram. Amin.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-6860663807618257874?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/6860663807618257874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=6860663807618257874&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/6860663807618257874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/6860663807618257874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/08/mungkin-dia.html' title='Mungkin Dia'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Lx3syXIpSgg/TlEz-gTkkHI/AAAAAAAAAzA/VHoe_0rIooM/s72-c/103575826.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-5601698338130728833</id><published>2011-08-19T07:31:00.000+07:00</published><updated>2011-08-19T07:31:00.286+07:00</updated><title type='text'>2 tahun Silam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-tguPA5sQkmI/Tk0xlZ9y03I/AAAAAAAAAy4/mp4WqZUYJa4/s1600/109844878.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 209px; height: 171px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-tguPA5sQkmI/Tk0xlZ9y03I/AAAAAAAAAy4/mp4WqZUYJa4/s400/109844878.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5642220426860090226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Masih ingatkah kamu Ramadhan dua tahun lalu? Saat itu dengan tegas kamu mengatakan tidak untuk tawaran hati yang aku ungkapkan dengan terbata. Kamu bilang kamu tidak ingin menjadkan aku sebagai pelarian, meskipun sebetulnya tidak sedikitpun aku keberatan. Memang, saat itu kamu belum sepenuhnya lepas dari kekasihmu yang menurutmu hanya memberimu kekosongan. Kamu masih diambang keraguan diantara pilihan untuk tetap bertahan atau mengambil langkah menyudahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku datang membuat runyam. Memperkeruh keadaan yang sedang tidak jelas juntrungannya. Menawarkan sebongkah hati untuk saling berbagi, mengulurkan tangan untuk saling berpegangan. Awalnya kamu memang gamang, melayani apa yang sedang aku lakukan. Tapi beberapa kali kamu berhenti, menengok ke belakang dan kemudian bimbang. Sesaat melepaskan genggaman, kemudian menyambutnya lagi dan berjalan berdampingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku tidak peduli. Aku memilih buta ketika kamu seringkali beringsut mundur dan menghampiri pacarmu yang kosong untuk sekedar menggugat. Tidak aku pedulikan perasaanku yang sebetulnya juga berdarah-darah, dipermainkan oleh sikapmu yang seringnya ambigu. Tapi aku bertahan juga entah untuk apa. Mungkin aku bodoh, tapi saat itu sepertinya aku tidak punya pilihan selain memperjuangkan apa yang aku rasakan sampai titik akhir yang belum jelas tergambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu ramadhan. Dan kamu menolakku. Memberiku kepedihan yang lumayan karena aku sudah terlanjur membelanjakan banyak hal. Mempertaruhkan persahabatanku dengan banyak orang yang justru menentang apa yang aku lakukan. Menurut mereka aku salah jalan, memboroskan perasaan terhadap orang yang tidak layak. Aku bergeming, memilih diam dan bertahan kepada kebodohanku mencintaimu yang masih bimbang dan belum mau memutuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang salah. Datang seperti rautan yang memperuncing keadaan antara kamu dengan pacarmu yang kosong. Seperti hapusan aku ingin menghilangkan coretan cerita yang pernah kalian torehkan dalam putaran waktu terhitung bulan. Tapi kenapa kemudian kamu melayani? Tapi kenapa kemudian kamu sepertinya nyaman dengan apa yang aku lakukan? Kamu seakan memanfaatkan kebodohanku demi kepentinganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai aku tersadar ketika kamu akhirnya memutuskan untuk tidak lagi melayani. Memilih menjadi bagain kosong kekasihmu yang sering kamu ributkan. Aku menerima dan kemudian beringsrut mundur, memberi kesempatan bagi hatiku sendiri untuk tersembuhkan meskipun harus dengan cara menutup semua akses komunikasi denganmu. Aku tidak ingin kamu dilimbung bimbang, dan aku tidak ingin perasaanku terombang-ambing lagi dengan kebodohan yang bisa saja berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kamu mengikutiku bagai hantu, bahkan sampai saat ini. Untuk apa kamu memfollow twitterku dan sering berkomentar tentang apa yang aku tuliskan? Untuk apa kamu berulang-ulang meng-add pin BB ku. Seperti tidak jera ketika aku hapus dan kamu meng-add-nya kembali, begitu seterusnya sampai aku bosan dan menyerah di ujung jalan. Kamu masih mengungkit cerita lama, menghadirkan perasaan yang sebetulnya belum purna menghilang. Kamu tahu itu, dan lagi-lagi kamu memanfaatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah, aku tidak ingin melakukan kebodohan seperti saat ramadhan 2 tahun silam. Aku memang masih sendirian, tapi bukan berarti aku bisa kembali kepadamu yang sudah aku ibaratkan sebagai barang usang. Pantang bagiku mengorek-ngorek barang lama meskipun mereka menjanjikan rasa baru yang mungkin lebih menawan. Sekian. &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-5601698338130728833?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/5601698338130728833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=5601698338130728833&amp;isPopup=true' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/5601698338130728833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/5601698338130728833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/08/2-tahun-silam.html' title='2 tahun Silam'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-tguPA5sQkmI/Tk0xlZ9y03I/AAAAAAAAAy4/mp4WqZUYJa4/s72-c/109844878.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-614962416143776685</id><published>2011-08-17T03:30:00.000+07:00</published><updated>2011-08-17T03:30:00.362+07:00</updated><title type='text'>Pagi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-jUd5kHnsWYI/TkqGpDWxZOI/AAAAAAAAAyw/idTq3zp7U0o/s1600/88754143.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 208px; height: 120px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-jUd5kHnsWYI/TkqGpDWxZOI/AAAAAAAAAyw/idTq3zp7U0o/s400/88754143.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5641469523068544226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Menangislah, menangislah terus sampai kamu merasa beban yang membatu dihatimu terkikis hingga musnah. Bukankah itu fungsinya glandula lakrimalis si kelenjar air mata yang Tuhan ciptakan menggantung di kedua sudut kelopakmu? Membantu mengenyahkan apa yang menggelayut berat dihatimu ketika hati itu sendiri tidak lagi bisa diajak berkompromi. Menangislah, karena menangis tidak selalu menunjukan kalau kamu lemah. Kadangkala untuk menjadi kuat kita harus berteman dengan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunakan waktumu, tidak peduli kalau beberapa hari ini kamu habiskan waktumu untuk berderai tidak berhenti. Biarkan saja air mata itu membentuk jejak dan mengkristal di wajahmu. Setidaknya kamu akan merasa puas karena telah menumpahkan perasaanmu dalam denting kesedihan, atau mungkin justru penyesalan. Entahlah. Yang pasti menangislah terus ketika kamu merasa masih perlu, dan baru berhenti saat kamu merasa sudah cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum bisa menyibak tirai kesedihanmu. Kamu masih bersembunyi di balik tameng besi seperti tempurung kura-kura yang kuat tersendikan antara plastron dengan epistronnya. Tempurung atas dan tempurung bawah. Kamu masih belum bersedia menguak apa yang menjadi kekhawatiranmu, kesedihanmu dan mungkin bisa jadi penyesalanmu. Aku mengerti, makanya aku memberimu keleluasaan. Tidak ada paksaan untuk kamu menceritakan apa yang sebetulnya kamu rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan aku menerka-nerka. Menelisik dari kumpulan prosa yang mengalir dalam dawai beraromakan cinta. Mungkin aku salah karena aku hanya meraba-raba, mungkin aku berlaku sok tahu karena hanya mengejawantahkan kumpulan kata menjadi sebuah premis yang mungkin akan kamu tentang habis-habisan. Aku hanya khawatir, tidak suka melihatmu terlarut dalam kesedihan panjang seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rasa semua ini karena pagi. Pagi yang kamu inderai lewat ujung cuping hidungmu. Pagi yang datang menurunkan embun yang ternyata memabukkan, sementara kamu terlanjur menyesapnya terlalu dalam. Kamu kemudian terlena karena embun itu menyejukan hatimu yang sedang dihadang kerontang akibat sebuah pengkhianatan. Pagi itu datang, membawa kegembiraan melalui sebuah pengharapan. Dan kamu hidup dalam pengharapan itu, sebut saja berlebihan. Mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu hanya terbuai. Kamu tidak sadar kalau sebetulnya pagi akan berubah siang meski besok pagi pasti akan kembali datang. Kamu terlanjur asik mencumbui apa yang pagi hadirkan seperti ketika kamu memutuskan duduk di tepian danau sambil menikmati tarian angsa yang berputar penuh keindahan. Sambil kamu sesap terus udara pagi, kamu meretas banyak harapan yang tidak sempat terungkapkan. Kamu bertaruh atas dasar keyakinan yang lagi-lagi menurutmu patut untuk diperjuangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pagi beranjak makin terang, kamu dilimbung silau. Tidak siap dengan berbagai kemungkinan yang sebetulnya sudah kamu sadari dari awal. Akhirnya kamu hanya bisa bersedih seperti sekarang karena ternyata kenyataan tidak sejalan dengan apa yang kamu harapkan. Pagi ternyata tidak abadi, pagi ternyata termiliki, dan pagi ternyata punya jalannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun itu, aku harap kamu belajar sesuatu. Tidaklah mudah menurunkan sauh untuk berlabuh meski perlahan tanpa cukup perbekalan. Tidak ada sebuah negeri yang berisi hanya sepenggal pagi, sehingga kamu harus siap berbagi dengan siang, sore bahkan malam. Dan kalau pagi ternyata memutuskan untuk berjalan di pematangnya tanpa kamu dalam gandengan, maka cukup kamu ikhlaskan. Karena pasti akan datang pagi-pagi lain yang membawa kepastian di hari-hari mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangislah. Kalau perlu sampai kamu tertidur karena letih. Tapi kamu perlu tahu bahwa disini masih ada aku, sahabat yang mengamatimu dari jauh. Yang siap untuk mendengar keluhanmu ketika kamu sudah merasa perlu dan mampu. Aku berjanji tidak akan menghakimi, karena seperti halnya kamu, aku juga pernah terlena sebuah negeri bernama pagi.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-614962416143776685?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/614962416143776685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=614962416143776685&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/614962416143776685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/614962416143776685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/08/pagi.html' title='Pagi'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-jUd5kHnsWYI/TkqGpDWxZOI/AAAAAAAAAyw/idTq3zp7U0o/s72-c/88754143.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-5523143747654427278</id><published>2011-08-15T07:31:00.000+07:00</published><updated>2011-08-15T07:31:00.064+07:00</updated><title type='text'>Ingatan tentangmu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-vLe76wKCBlo/Tkf5tPrieKI/AAAAAAAAAyo/jAZqbQcqDAI/s1600/10139407.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 209px; height: 148px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-vLe76wKCBlo/Tkf5tPrieKI/AAAAAAAAAyo/jAZqbQcqDAI/s400/10139407.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5640751614003411106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;I miss you, still.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaris kalimat pembuka yang aku terima dari emailmu semalam. Email yang membuatku tersenyum sendiri dan mengingat sebuah episode tentang kita. Dulu. Episode yang (lagi-lagi) terpaksa ditamatkan karena waktu tayangnya yang sudah habis. Bukan karena kita tidak ingin memperpanjangnya menjadi season 2 seperti halnya sinetron di Indonesia, tapi saat itu kita sama-sama berdiri di tingkat kewarasan penuh. Sadar bahwa semua akan sulit untuk diperjuangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email semalam adalah perangkat komunikasi kita yang sempat terputus beberapa tahun lalu. Kita sama-sama berhenti berkirim kabar bahkan untuk saling mengucapkan selamat ulang tahun. Kamu yang meminta, katamu akan sulit untuk berhenti memikirkan tentang kita apabila kita masih intens berkomunikasi. Aku setuju, guna menjaga perasaanmu. Tidak ingin lagi ada kegiatan saling menyakiti, cukup bagiku pernah menyakitimu sekali waktu itu. Waktu aku akhirnya meninggalkanmu di bandara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu membuka emailmu dengan pertanyaan-pertanyaan ingatkah aku? Tentu saja aku ingat. Semuanya. Kamu dan memorinya masih menempati sepenggal ruang di dalam ingatanku, selamanya akan begitu. Aku tidak ingin menghapusnya dengan alasan apapun. Kamu terlalu istimewa untuk disingkirkan dengan mudah, terlalu indah untuk tidak dikenang sebagai masa lalu yang mendewasakan. Kamu akan tetap begitu, istimewa dan indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat bagaimana kamu mengkhawatirkanku saat aku menjalankan puasa di tengah musim panas yang melelahkan. Aku ingat bagaimana pertengkaran-pertengakaran kita ketika kamu bersikukuh menyuruhku membatalkan puasa karena katamu wajahku terlihat pucat. Aku ingat semuanya. Bahkan aku ingat bagaimana kamu menemaniku berbuka dan sahur sambil mengantuk di meja makan apartemen kita. Mukamu lucu ketika itu, ada sungkan tapi kamu merasa perlu. Perpaduan antara keberatan dan rasa sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katamu, kamu kemarin teringat aku karena ada mahasiswamu yang juga melakukan puasa. Dan itu seperti memacu ingatanmu untuk menaiki mesin waktu dan kembali ke masa lalu. Masa-masa yang pernah kita lalui bersama  yang di dalamnya terdapat irisan bulan puasa yang aku jalankan bersamamu. Ya bersamamu, karena kadang kamu juga melakukan puasa meskipun sering siang-siang aku terima sms mu yang mengabarkan kalau kamu minum karena tidak kuat, atau kamu yang meminta ijin untuk makan duluan pada jam-jam terakhir kita melakukan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ingatan berlarian minta ditayangkan dalam gambar kenangan. Mungkin itu juga yang kamu rasakan disana, berhenti pada titik-titik memori tentang kita. Tentang kita yang ternyata harus mengubur impian untuk terus berpegangan, saling berbesar hati untuk melepaskan mimpi yang kita genggam bersamaan. Semua demi tujuan yang tidak bisa lagi kita perjuangkan, tujuan yang ternyata mengharuskan kita berjalan berlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi seperti yang kamu bilang dulu ketika kita berpisah di bandara, tidak pernah ada yang sia-sia dengan cinta. Tidak ada yang salah ketika kita memutuskan untuk tidak lagi beriringan. Semua sudah ditasbihkan, semua hadir karena alasan. Dan katamu butuh banyak alasan untuk melepasku waktu itu. Masa studiku yang telah berakhir dan mengharuskanku kembai ke Indonesia, kariermu yang mulai menanjak dan tidak akan pernah gampang untuk ditinggalkan, semua jadi alasan yang mengantarkan kita pada perpisahan. Tapi kita sudah sama-sama dewasa, tidak ada lagi keegoisan dalam keputusan yang kita buat. Semua sudah dipikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan tahun ini kamu datang lagi, perantaraan kalimat-kalimat maya di layar komputerku. Saling mengenang satu sama lain untuk alasan yang mungkin sama. Demi masa lalu. Soal kerinduanmu, jangan khawatir. Aku juga merindukanmu dengan caraku sendiri yang mungkin tidak akan kamu mengerti.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-5523143747654427278?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/5523143747654427278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=5523143747654427278&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/5523143747654427278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/5523143747654427278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/08/ingatan-tentangmu.html' title='Ingatan tentangmu'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-vLe76wKCBlo/Tkf5tPrieKI/AAAAAAAAAyo/jAZqbQcqDAI/s72-c/10139407.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-2187396315648497884</id><published>2011-08-11T07:54:00.001+07:00</published><updated>2011-08-11T08:02:10.367+07:00</updated><title type='text'>Ayo Sekolah!!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-zVeUbXiwOoc/Tj5FVVgWQXI/AAAAAAAAAyg/P1XIdf5Pfqw/s1600/104881526.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 213px; height: 143px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-zVeUbXiwOoc/Tj5FVVgWQXI/AAAAAAAAAyg/P1XIdf5Pfqw/s400/104881526.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5638020016366829938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Baru baca Kening, bukunya Rakhmawati Fitri alias Fitri Tropika. Di tulisannya yang berjudul “Hello Good bye”, tepatnya di halaman 101 ada kalimat seperti ini: “ Jangan Cuma berwacana! Kamu mau lanjutin sekolah ke luar tapi bahkan nyari schoolarshipnya aja belum, Start to act, no talk only!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan gue rasanya seperti ditampar berulang-ulang. Panas. Gue disindir habis-habisan sama kalimat itu. Selama ini gue hanya berwacana untuk melanjutkan studi, tapi nggak banyak tindakan yang udah gue lakuin. Termasuk menghubungi professor-professor itu. Bawaannya males, bawaannya keder, bawaannya nyerah duluan. Nggak keukeuh kayak waktu dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama nggak belajar formal bikin gue males. Bikin otak gue mutung. Bikin gue nggak percaya diri apa iyah gue masih bisa belajar lagi kayak dulu. Gue tau itu cuma ketakutan gue aja, tapi beneran,  bekerja itu bikin otak gue berhenti membentuk lekukan-lekukan baru buat nyimpan memori. Aus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk studi lanjutan itu, gue udah nggak bisa pindah dari bidang ilmu yang gue gelutin di 2 tahapan sebelumnya. Sudah terlanjur terperosok jauh, jadi mau tidak mau, suka tidak suka, gue harus ngambil bidang ilmu itu lagi. Ilmu yang menurut kebanyakan orang tidak cocok sama sifat gue yang pecicilan dan banyak omong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditanya kenapa gue suka sama biologi, gue juga nggak tau jawabannya. Tiba-tiba jatuh cinta aja, dan keukeuh pengen kuliah di bidang itu. Gue nggak peduli waktu temen-temen gue sangsi kalau gue bakal tahan dengan ilmu itu. Mereka malah bikin taruhan berapa lama gue bakal tahan kalau misalnya gue jadi ngambil kuliah di jurusan biologi. Sialan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue bersyukur hidup gue penuh dengan keberuntungan. Jadi ketika akhirnya gue bisa kuliah dan masuk tanpa tes di Perguruan Tinggi ternama di kota gue, gue anggap itu keberuntungan. Atau bisa jadi hasil kasihhani panitia penerimaannya yang jatuh hati sama muka gue yang memelas. Apapun itu, gue bersyukur. Dan seperti bisa ditebak, gue kuliah di jurusan BIOLOGI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberuntungan gue nggak berhenti disitu. Gue beruntung bisa menyelesaikan studi gue tepat waktu, tanpa harus mengulang salah satu dari mata kuliah yang gue ambil. Memang sih di tahun pertama kuliah gue sempat keteteran meskipun nggak sampai harus mengulang. I do really hate physic and calculus, jadi bertemu dengan mereka di 2 semester awal cukup bikin kehidupan remaja gue yang cerah ceriah seperti di neraka. Lebay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis lulus, beruntung bokap gue masih mampu dan menawarkan diri untuk memberikan beasiswa lanjutan ke jenjang berikutnya. Iya sih nggak sampe mampu nyekolahin ke luar negeri, tapi gue anggap itu anugerah. Dan lagi-lagi gue mengambil bidang bioteknologi mikroba. Bidang yang lebih khusus dari biologi. Nggak tahu kenapa nggak kepikiran aja buat ngambil manajemen seperti yang disarankan banyak temen gue. Kadung cinta gue sama biologi. Jadi walhasil bergelutlah gue dengan per-DNA-an yang menurut nyokap gue ilmu abstrak yang bikin lieur alias pusing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung lagi gue bisa lulus, kali ini tidak tepat waktu tapi malah prematur. Kurang beruntung apa coba gue? Dan mulailah tragedi dimulai. Indonesia belum siap mengindustrialisasi bioteknologi seperti halnya negara maju. Nyari kerja setengah mati gue, nggak dalam negeri nggak luar negeri. Semuanya susah. Terpikir buat lanjutin sekolah lagi aja kayak yang disaranin pembimbing gue. Dia lagi banyak proyek dan gue disuruh ngerjain sambil dijadikan tema disertasi, gue berpikir dan mentok di kondisi buat apa? Buat apa gue jadi doktor kalau belum jelas mau jadi apa? Memang setelah jadi doktor gue bakal gampang nyari kerja? Memang setelah jadi doktor kampus gue bakal merekrut gue jadi dosen tetap? Dan diujung kegamangan, gue menemui tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya gue memutar haluan. Gue kerja yang masih ada bau-baunya biologi tapi tidak bersentuhan langsung. Dan terus terang, itu semua bikin ilmu gue sedikit-sedikit terkikis habis. Sampai akhirnya gue tersadar kalau semua ini tidak boleh dilanjutkan, gue masih punya idealisme yang harus diperjuangkan. Menjadi doktor. Ketika salah satu kementrian itu membuka kesempatan penerimaan pegawai untuk background ilmu gue, gue nggak lagi berpikir. Gue harus coba, sekarang atau nggak sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue beruntung lagi, dengan bekal pengetahuan bioteknologi gue yang sudah di level entah kemana, gue berhasil meyakinkan para pewawancara bahwa gue mampu dan bisa. Mungkin gue yang beruntung, atau lagi-lagi mereka yang kasihan akhirnya gue diterima. Sekarang gue bekerja di bidang bioteknologi sesuai dengan background pendidikan gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue mau sekolah, gue mau sekolah. Semangat itu yang dulu membuncah di dada gue. Semangat yang seiring waktu melempem kayak kue apem kelamaan direndem saus kinca. Dengan load kerjaan lab dan lapangan yang serba padat, yang bikin gue harus hilir mudik banyak kota dalam waktu yang ketat bikin gue keasikan selain bikin gue kena tipes yang berulang. Keinginan buat sekolah seperti terabaikan, seperti masuk ke prioritas kelas dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi gara-gara baca kening, gue seperti disadarkan. Selama ini gue hanya berwacana tanpa banyak bergerak. Nggak ada usaha memperbagus lagi kemampuan bahasa gue yang juga sudah menguap, nggak ada keinginan untuk memperbaharui proposal riset disertasi gue yang mungkin sudah kadaluarsa dan tidak kekinian. Mungkin sekarang saatnya gue buat bangkit, buat terbangun dari kenyamanan ini. Tolong gue diberi semangat dan didoakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo sekolaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Maaf curhatnya kepanjangan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-2187396315648497884?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/2187396315648497884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=2187396315648497884&amp;isPopup=true' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2187396315648497884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2187396315648497884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/08/ayo-sekolah.html' title='Ayo Sekolah!!'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-zVeUbXiwOoc/Tj5FVVgWQXI/AAAAAAAAAyg/P1XIdf5Pfqw/s72-c/104881526.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-3896083508567887935</id><published>2011-08-08T07:50:00.000+07:00</published><updated>2011-08-08T07:50:00.312+07:00</updated><title type='text'>Melupakan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ZP61pB2vCr0/Tj1kULR7jiI/AAAAAAAAAyY/Fe9gwwToMJo/s1600/a0022-000120.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 204px; height: 153px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ZP61pB2vCr0/Tj1kULR7jiI/AAAAAAAAAyY/Fe9gwwToMJo/s400/a0022-000120.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5637772606325886498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku bertanya pada kelopak kamboja bagaimana caranya menghapus cinta? Tapi belum sempat menjawab, kamboja yang awalnya menawan luruh dihempas angin dan membentur tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku beralih pada angin yang menghempas kamboja. Pikirku dia lebih hebat ketimbang helai petal kamboja yang rupawan. Aku bertanya, bagaimana caranya menghapus cinta?  Dan lagi-lagi ketika angin belum sempat menjawab, dia sudah berubah menjadi badai yang memporak-porandakan. Menyapu apa yang dilewatinya dan menimbulkan kesengsaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menantang badai. Berdiri di tepian curam tebing yang terjal. Bukan untuk mengajaknya berkelahi atau bertukar pemikiran, aku hanya ingin bertanya bagaimana caranya menghapus cinta? Tapi ternyata badai tidak datang berketerusan, badai hanya sesaat menyapu debu di jalanan. Bersama hujan yang rintiknya berubah perlahan dia ikut menghilang. Dan biasanya sebelum menghilang dia mengundang matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum bertanya pada matahari, aku bertanya pada hati, dapatkah matahari menjawab pertanyaan bagaimana caranya menghapus cinta? Sepertinya tidak. Matahari akan tergelincir kala senja, memberi kesempatan kepada bulan untuk menghiasi langit. Bahkan bulan tidak pernah egois, dia akan mengajak ribuan bintang untuk dihadirkan pada saat yang bersamaan. Berbagi lautan hitam yang tidak bisa dibingkai mata. Jadi sepertinya akan sia-sia kalau aku bertanya kepada mereka bagaimana caranya menghapus cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya ingin hari itu segera datang. Hari dimana akan aku buktikan kalau aku berani menjawab tantanganmu. Mungkin terlambat, karena seperti aku bilang aku tidak ingin tergesa-gesa. Tidak mudah mengenyahkan sesuatu yang sudah aku pelihara dalam rentang waktu yang terus mengalir dalam peredaran darahku setiap harinya. Tidak mudah mencampakkan sesuatu yang pernah aku reguk keindahan di dalamnya. Kalaupun pernah ada rasa sedih dan kecewa, aku anggap itu seperti jamu yang justru menguatkan. Menginduksi sel-sel limfosit untuk menjadi pejuang melawan bibit penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah memang, kamu tahu itu. Dan kamu memanfaatkannya. Datang dan pergi sesukamu tanpa pernah mau mengerti apa yang sebetulnya aku rasakan. Kamu tidak ingin pasti, tapi kamu ingin dihadirkan ketika kamu merasa perlu. Kamu merombak konsep matematika bahwa f(x) : 2x + 5 = bukan 2. Ketika kamu menganggap dirimu kuat, kamu menjauh seperti tak terengkuh. Tapi ketika hatimu sedang gundah, kamu datang lagi memporak porandakan pondasi yang aku bangun di dasar perasaan. Semua gara-gara rasa yang aku pelihara. Cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu pernah bilang dan sesumbar kalau aku tidak akan pernah bisa melupakanmu. Kamu bahkan menantangku untuk melakukannya, dan seperti sudah bisa kamu tebak aku tidak mampu. Bagaimana aku bisa lupa kalau kamu mengikutiku bagai hantu. Menyelusup ke dalam mimpi-mimpi terlarangku dan ikut mengalir dalam arteriku perantaraan ikatan oksigen dan haemoglobin. Mengisi setiap sel dalam tubuhku, membuatnya keracunan karena kamu menghindari masuk empedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya aku bertanya, pada kelopak kamboja, pada angin, pada badai dan belum sempat pada matahari serta bulan bagaimana caranya menghapus cinta? Mengikis perlahan apa yang sudah ditasbihkan berinteraksi dengan mereka. Kelopak kamboja terkikis angin, angin terkikis badai, dan badai terkikis hujan yang semakin perlahan. Mereka bisa sementara aku sepertinya mengalami kebuntuan. Stuck berada di titik yang sama sejak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin hari itu segera datang. Hari yang kurencanakan untuk menjawab semua tantangan. Hari dimana tanpa ragu aku akan berkunjung ke tempatnya tinggal. Tidak perlu berteriak, cukup berbisik. Aku akan bilang, kalau mulai hari ini aku akan melupakanmu. Pelan-pelan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-3896083508567887935?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/3896083508567887935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=3896083508567887935&amp;isPopup=true' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3896083508567887935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3896083508567887935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/08/melupakan.html' title='Melupakan'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ZP61pB2vCr0/Tj1kULR7jiI/AAAAAAAAAyY/Fe9gwwToMJo/s72-c/a0022-000120.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-4921653899553103143</id><published>2011-08-05T08:28:00.001+07:00</published><updated>2011-08-05T08:29:54.193+07:00</updated><title type='text'>Rumah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-V-Q8aXKy1Gs/TjtHfnVpFbI/AAAAAAAAAyQ/ar2S0pKaEO0/s1600/82250943.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 210px; height: 141px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-V-Q8aXKy1Gs/TjtHfnVpFbI/AAAAAAAAAyQ/ar2S0pKaEO0/s400/82250943.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5637177967045580210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rumah itu aku bangun dari puing-puing kepercayaan. Hasil dari aku memecahkan celengan yang rajin aku isi dengan serpihan-serpihan doa tanpa nama. Rumah yang wujudnya mungkin masih terlalu sederhana tetapi setidaknya sudah ada pintu dan jendela yang akan memudahkanmu masuk dan menelisik apa yang sudah aku persiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu aku susun dari bongkah-bongkah pengharapan. Dengan telaten aku rekatkan satu per satu dengan embun hasil gutasi rumput-rumput di halaman. Mungkin tidak kokoh, tapi setidaknya akan melindungi kita dari angin yang berhembus kencang. Bisa jadi ada yang masih bisa lolos masuk ke dalam, tapi percayalah bongkah harapan yang aku susun menjadi rancangan akan menyelamatkanmu dari gigil berkepanjangan. Setidaknya sementara. Kamu hanya perlu percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu tidak beratapkan genting atau rumbia. Aku tutup bangunan itu dengan helai-helai cinta yang aku anyam dengan penuh perasaan. Meski begitu, tidak usah khawatir, tidak akan kamu rasakan sengatan matahari atau guyuran hujan yang akan membawa penderitaan. Cinta yang aku punya membebaskan. Melindungi apa yang kelak aku punya termasuk kamu di dalam irisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuklah tidak perlu ragu. Tidak usah menilai terburu-buru apalagi ketika kamu belum sepenuhnya melangkah maju. Silahkan amati apa yang sekiranya kamu ingin tahu, dan jangan sungkan untuk mengajukan pertanyaan apabila ada sesuatu yang tidak sesuai dengan bentuk dan ruang. Aku memberimu kebebasan untuk itu semua. Datang, melangkah masuk, menilai kemudian memutuskan. Jangan jadikan beban karena semua itu memang proses yang harus dilalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun kamu memilih untuk keluar lagi dan hanya berdiri di halaman, aku tidak akan menyesalkan. Rumah yang kubangun dari puing-puing kepercayaan, bongkahan pengharapan dan beratapkan anyaman rasa cinta sudah aku gunting susunan sarafnya yang menghubungkan isi kepala dengan sekepal daging bernama hati. Aku akan membiarkan mereka berjalan masing-masing tanpa saling terkoneksi. Tidak akan ada sakit hati ataupun amarah sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan terlalu lama berdiri di halaman. Karena aku harus mencari kesempatan baru. Silahkan beranjak dan keluar batas pagar, kalau perlu naiklah kereta yang akan lewat pada jam berikutnya dan tidak perlu menengok kembali. Jangan pikirkan aku karena aku akan baik-baik saja. Aku hanya menjaring setiap peluang yang datang, mengajaknya mampir untuk berbincang tentang banyak hal. Kalaupun ternyata yang ditemui adalah kebuntuan maka aku akan mengangapnya itu seperti halnya kapur barus. Nyata kemudian menyublim menjadi gas yang tidak kasat mata. Kalaupun masih meninggalkan aroma, maka aku tinggal membuka pintu dan jendela lebar-lebar. Waktu akan menerbangkannya, entah kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu aku bangun atas nama masa depan. Sedikit demi sedikit aku benahi agar kelak nyaman untuk dihuni. Mengganti dan merombak perabot pada waktu-waktu tertentu ketika ternyata keberadaannya menyulitkan peluang untuk datang bertandang. Kalau suatu hari kamu melihat aku sedang membersihkan lantainya dengan sapu, anggaplah aku sedang mengenyahkan remah kenangan dan siap menanti cerita yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang aku bangun itu mungkin sederhana. Berdindingkan tempelan puing kepercayaan dan bongkahan harapan yang saling direkatkan oleh doa dan embun hasil gutasi rumput di halaman. Tapi semua itu aku akan persembahkan untukmu kelak, jodohku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-4921653899553103143?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/4921653899553103143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=4921653899553103143&amp;isPopup=true' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4921653899553103143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4921653899553103143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/08/rumah_05.html' title='Rumah'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-V-Q8aXKy1Gs/TjtHfnVpFbI/AAAAAAAAAyQ/ar2S0pKaEO0/s72-c/82250943.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-7894343504675054887</id><published>2011-08-02T06:39:00.000+07:00</published><updated>2011-08-02T06:39:00.312+07:00</updated><title type='text'>Laki-Laki yang Mencintaiku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-uDHKf7A8yRw/Ti_BDcAfXEI/AAAAAAAAAyA/sekJ7bY2FYQ/s1600/102968030.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 163px; height: 207px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-uDHKf7A8yRw/Ti_BDcAfXEI/AAAAAAAAAyA/sekJ7bY2FYQ/s400/102968030.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633933923665796162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Laki-laki itu mencintaiku dengan cara yang tidak dimengerti. Tidak biasa untuk ukuran cinta yang sebetulnya dia punya. Tanpa kata dia menunjukkan bongkahan perasaannya, tanpa suara dia mencurahkan sayang yang tidak terduga. Tanpa perlu aba-aba dia tetap mencintaiku. Dengan caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, aku tahu kalau dia mencintaiku. Tanpa syarat. Karenanya aku tidak banyak menuntut ini dan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nyaman berada dekat dengan laki-laki yang mencintaiku dengan cara yang  tidak dimengerti itu. Merasa dilindungi, merasa mempunyai pahlawan yang akan rela memanggangkan tubuhnya dalam bara ketika aku dalam bahaya. Tanpa harus aku minta. Dengannya aku merajut tawa, memintal kesedihan, dua hal yang dalam hidup ini tidak bisa dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku berkonflik dengan dia, dan dia lebih banyak mengalah. Menurunkan sedikit egonya hanya untuk melihat aku tersenyum kembali. Laki-laki yang mencintaiku dengan cara yang tidak dimengerti itu sepertinya tidak sudi berlama-lama melakukan konfrontasi langsung denganku. Terlalu besar cinta yang dia punya hanya untuk sekedar tidak  saling bertegur sapa atau saling berlari menghindar. Dia selalu mendekat duluan ketika perang dingin antara aku dan dia tengah kejadian. Berusaha berdamai dengan cara yang lagi-lagi sukar dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membalas cintanya. Dengan lebih sederhana. Dengan kadar yang sepertinya tidak sebesar yang dia punya. Dan aku mencintainya dengan cara yang pasti dia mengerti, apalagi sering kuumbar kata cinta ke udara. Dan kalaupun menguap sampai jauh, hujan akan mengembalikannya untuk jatuh di pelataran hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangga pernah dan masih mencintai laki-laki itu. Tidak peduli dia mencintaiku dengan caranya sendiri yang tidak aku mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, laki-laki itu bertambah usia. Putaran-putaran waktu sudah mengantarkannya pada berbagai macam persinggahan, tapi dia tetap kembali kepadaku. Mencintai dengan cara yang tidak dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ulang tahunnya hari ini, aku berdoa semoga dia diberi keselamatan dunia akhirat. Diberi umur panjang yang berkah dan dilimpahi kesehatan agar tetap bisa mencintaiku dengan caranya yang tidak bisa dimengerti. Aku juga berharap bahwa di undakan umurnya yang sekarang dia terus bertambah bijaksana, sehingga bisa membawa aku ke jalan kebaikan untuk seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kado istimewa yang bisa dipersembahkan selain berusaha untuk terus menjadi yang terbaik baginya. Tidak terus menjadi beban dalam pikirannya meskipun aku tahu dia tidak pernah keberatan. Dan aku berharap aku akan terus dan terus mencintainya meskipun tidak bisa menyaingi cintanya yang tidak bisa aku mengerti. Setidaknya aku berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintai laki-laki yang mencintaiku dengan cara yang tidak bisa dimengerti. Selamat ulang tahun Papih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-7894343504675054887?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/7894343504675054887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=7894343504675054887&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/7894343504675054887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/7894343504675054887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/08/laki-laki-yang-mencintaiku.html' title='Laki-Laki yang Mencintaiku'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-uDHKf7A8yRw/Ti_BDcAfXEI/AAAAAAAAAyA/sekJ7bY2FYQ/s72-c/102968030.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-2114370379713373772</id><published>2011-07-29T06:51:00.001+07:00</published><updated>2011-07-29T06:51:00.263+07:00</updated><title type='text'>Mohon Maaf</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-K2KSUUEHdyE/Ti-Z0x9fx0I/AAAAAAAAAx4/mtC6r0EMp-M/s1600/102057611.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 230px; height: 153px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-K2KSUUEHdyE/Ti-Z0x9fx0I/AAAAAAAAAx4/mtC6r0EMp-M/s400/102057611.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633890790907299650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kata orang mulut saya ibarat ketoprak berkaret 2. Pedes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bilang, tanpa mengucapkan sepatah katapun mimik muka saya selalu menghakimi. Menyakitkan. Dan mereka lebih memilih saya menghakimi perantara kata dan suara ketimbang mimik muka yang kadang tak jelas maksud tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali saya menjelma menjadi manusia Tuhan. Menghakimi dan menghukum orang-orang di sekeliling menggunakan takaran norma yang saya ciptakan sendiri. Ketika banyak yang tidak sesuai dengan norma tersebut maka mulai dari lintasan hati sampai hujanan kalimat kotor dari mulut akan mengalir bagai air bah yang tidak tertampung. Dan saya tahu, itu semua menyakitkan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seperti dibutakan keadaan, memilih tidak peduli, memilih mati rasa. Menganggap bahwa saya yang paling benar, dan orang harus berjalan di acuan kebenaran yang saya ciptakan. Apabila mereka melanggar, maka saya seperti halnya Tuhan memberi hukuman dari mulai mengucilkan sampai mengirimkan kesengsaraan. Saya seringkali puas dengan apa yang telah saya lakukan tanpa ada lagi rasa malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan Tuhan. Saya Tahu. Tapi saya justru mengambil porsi yang sebetulnya jauh lebih besar dari Tuhan itu sendiri. Tuhan saja kalaupun akan menghukum hambanya, seringkali tidak langsung ketika hambanya tersebut melakukan kesalahan. Sementara saya? Saya ingin langsung melampiaskan kemarahan saya dengan hukuman yang paling berat. Setidaknya dengan ucapan. Lihat, bukankah saya sudah jauh melampaui batasan yang sudah diberikan Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua menjadikan saya pendosa di hadapan Tuhan dan juga pendosa di tengah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelang Ramadhan tahun ini, saya ingin dimaafkan. Saya ingin menjadikan momentum Ramadhan ini sebagai waktu yang tepat untuk saya berubah menjadi lebih baik. Tanpa maaf, puasa yang akan saya jalani nanti pasti akan terbebani. Tanpa maaf, pastinya saya tidak akan kembali menjadi bersih di hari nan Fitri nanti. Karenanya saya memohon maaf lahir batin kepada semuanya atas segala lupa, alpa dan dosa baik yang disadari maupun yang tidak. Dari lintasan hati sampai perbuatan yang tidak terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Ramadhan yang akan kita jelang beberapa hari lagi menjadi ajang bagi kita semua untuk membenahi diri. Menjadi bulan untuk kita merefleksi dan mematut diri atas apa yang pernah terjadi sehingga kita bisa terlahir kembali dengan kebersihan hati yang hakiki. Banyak harap dan pinta yang pasti terlontar saat bulan ramadhan, dan semoga Tuhan mendengar seta mengijabahnya dan merealisasikannya di kehidupan nyata. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, menjelang bulan yang agung Ramadhan ijinkan saya untuk meminta dimaafkan dari segala bentuk kesalahan. Dan saya mengucapkan selamat menyambut datangnya bulan penuh berkah yang insya Allah akan mengantarkan kita semua pada kemenangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-2114370379713373772?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/2114370379713373772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=2114370379713373772&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2114370379713373772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2114370379713373772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/07/mohon-maaf.html' title='Mohon Maaf'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-K2KSUUEHdyE/Ti-Z0x9fx0I/AAAAAAAAAx4/mtC6r0EMp-M/s72-c/102057611.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-4779415670922664300</id><published>2011-07-25T07:38:00.002+07:00</published><updated>2011-07-25T07:38:00.229+07:00</updated><title type='text'>Metamorfosis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-WKqUoo_SSuk/TiuVjDFLPlI/AAAAAAAAAxw/BSKhOT4vjaM/s1600/108441791.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 212px; height: 140px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-WKqUoo_SSuk/TiuVjDFLPlI/AAAAAAAAAxw/BSKhOT4vjaM/s400/108441791.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5632760188311912018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Taman aksara yang  saya reka sudah berusia tiga tahun lebih, dan saya bersyukur karena saya tetap setia. Saya tetap mengumpulkan serakan aksara untuk dirangkai menjadi sekedar prosa, tidak untuk orang lain cukup untuk saya. Taman yang selalu membuat saya nyaman bersembunyi dari hiruk pikuk kehidupan yang sering kali melelahkan. Taman yang bisa menyembuhkan saya dari perasaan kehilangan atau sendirian. Taman yang membuat saya bertransformasi menjadi dewasa dalam hal tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya hanya ingin menulis, membuat seperti peta dari perjalanan saya sendiri melalui sederetan testimoni. Tidak peduli tulisan itu kemudian ada yang mengapresiasi ataupun tidak. Tujuan saya hanya menulis, dan kalau dalam perjalanannya ternyata banyak yang mengapresiasi maka saya anggap itu sebagai bonus. Hadiah dari konsistensi saya meronce aksara menjadi sebuah cerita. Cerita yang menurut sebagian banyak orang muram dan kelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya tidak peduli. Saya konsisten dengan kemuraman meskipun saya tidak pernah bermaksud membagi kemuraman itu dengan siapapun, apalagi menularkannya. Saya hanya ingin berbagi karena saya yakin banyak orang di luaran sana yang memiliki masalah yang relatif sama, atau bahkan lebih. Hanya saja saya mengemasnya dalam kacamata yang mungkin buram. Menyisakan kesesakkan ketika selesai menelisik sebuah cerita yang saya gurat perantaraan aksara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman saya memang muram, saya akui itu, dan dalam kemuramannya  dia juga bertransformasi. Dari berisi tulisan tanpa konsep menjadi penuh konsep bertaburkan diksi. Dari tanpa pembaca menjadi banyak pembaca dan kemudian tanpa pembaca (lagi). Itu saya anggap dinamika, sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tapi satu yang ternyata statis, tampilan taman aksara saya selalu itu melulu. Mungkin bagi orang lain membosankan dan saya mencoba mengabaikan dengan hidup dalam penyangkalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang berpikiran saya tidak bosan, maka itu salah besar. Saya bosan karena seperti halnya bagian lain dari taman aksara, saya ingin semuanya dinamis. Tidak hanya bertransformasi tapi juga bermetamorfosis seperti apisindica itu sendiri. Sayang kemampuan saya untuk berbenah taman yang sudah saya pelihara hitungan tahun sangat terbatas, jadi saya membiarkannya sepeti itu. Seperti lukisan tua yang menggantung di dinding muram sebuah musium yang banyak ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lihat, sekarang taman saya berubah. Dengan bantuan seorang karib bernama &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102); font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;a href="http://falling-eve.blogspot.com/"&gt;Enno&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;, taman saya beserta lebah madunya mengikuti titah alam. Bermetamorfosis. Lewat tangan terampilnya Enno menyuntikan hormon baru yang sudah lama lenyap sehingga taman saya dan lebahnya bisa keluar dari kepompong yang mati suri. Saya seperti hidup kembali, karenanya ijinkan saya mengucapkan ribuan serak terima kasih kepada karib saya itu untuk nyawa baru yang berhasil ditiupkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman saya sekarang lebih kekinian. Mengikuti gerusan jaman menjadi lebih dinamis. Dan semoga saja dengan perubahan baru ini tidak mengubah konsistensi saya dalam mengoreskan sebuah cerita yang lagi-lagi mungkin hanya untuk saya. Kalaupun ada yang merasa terdapat kemiripan dengan gubahan yang saya tuliskan, saya mengajak berkaca bersama-sama dan berkata sambil menggandeng  tangan bahwa kalian tidak sendirian. Setidaknya ada saya yang akan menemani bermain di taman aksara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih kepada Enno&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic;font-size:130%;" &gt; &lt;/span&gt;dan juga pembaca-pembaca lain yang sudah setia baik yang selalu menyisipkan komentar ataupun yang selalu membaca dalam diam. Tanpa kalian taman aksara bukan apa-apa, tanpa kalian lebah madu tidak akan bisa mengumpulkan nektar. Ijinkan saya dalam segala bentuk kesederhaan bersyukur karena memiliki kalian semua yang sudah saya angap keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga berdoa semoga dengan berubahnya tampilan taman aksara ini, saya segera bertemu jodoh saya. Karena sebetulnya dia curang, hobinya bermain petak umpet. Saya disuruh terus menjaga sementara dia asik bersembunyi. Entah dimana. Mungkin saja di taman aksara ini, tapi apapun itu saya mengucapkan dengan tulus kepada siapapun, mari kita bermain di taman aksara! Dan akan kalian temukan siapa saya sebenarnya. Seseorang yang tidak lagi bertopeng kata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-4779415670922664300?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/4779415670922664300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=4779415670922664300&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4779415670922664300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4779415670922664300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/07/metamorfosis.html' title='Metamorfosis'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-WKqUoo_SSuk/TiuVjDFLPlI/AAAAAAAAAxw/BSKhOT4vjaM/s72-c/108441791.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-7075234598372412606</id><published>2011-07-21T07:13:00.001+07:00</published><updated>2011-07-21T08:53:18.717+07:00</updated><title type='text'>Kontemplasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-2gN80XxOTSQ/TiaORwjLe2I/AAAAAAAAAwA/beRnaxD56tI/s1600/200158430-002.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 170px; height: 209px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-2gN80XxOTSQ/TiaORwjLe2I/AAAAAAAAAwA/beRnaxD56tI/s400/200158430-002.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631344819814759266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika saya sudah berhenti bertanya, itu bukan berarti saya tidak percaya lagi pada Tuhan. Saat saya tidak lagi banyak mendebat, tidak lantas saya menyepelekan Zat yang sudah menciptakan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertanya dan berdebat tidak menjadikan saya siapa-siapa. Tidak membuat saya kemudian mengerti mengenai rencana yang mungkin sudah saya tanda tangani dengan Tuhan ketika saya justru belum lahir. Sebuah perjanjian yang tidak pernah saya ingat bagaimana bunyinya, karenanya saya meraba-raba. Mencari jalanan yang harus dilalui agar saya keluar sebagai pemenang dan bukan pecundang. Meniti setiap kemungkinan yang menjanjikan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering salah langkah, terperosok pada lubang yang sebenarnya hanya itu melulu. Dulu saya tidak henti mempertanyakan, merapal kemarahan mengenai maksud sebuah penciptaan. Saya tidak bosan mengulang mendengungkan hal yang sama, mendebat segala sesuatu yang orang utarakan. Saya berfikir mereka tidak mengerti, jadi mereka sebetulnya tidak berhak untuk menghakimi. Saya yang menjalani, saya yang mengalami dan terus terang semua tidak sesederhana apa yang mereka bayangkan. Akhirnya saya tidak peduli dengan apa yang ada di kepala mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menggugat Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Tuhan bungkam, tidak melayani segala yang saya kemukakan. Tuhan tidak menggubris semua pertanyaan saya dengan jawaban, padahal yang saya butuhkan hanya sebuah jawaban. Tidaklah perlu jawaban panjang yang mendetailkan, saya hanya membutuhkan jawaban singkat yang memperjelas keadaan. Tapi seperti sia-sia, saya dipaksa mencari jawaban sendiri atas apa yang saya inginkan. Jatuh bangun dalam perasaan yang juga timbul tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beranjak dewasa, saya berdamai dengan keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Tuhan kemudian selalu berbincang dengan intim. Seperti pentas monolog sebetulnya karena saya sendiri  yang berbicara sementara balasannya hanya diam. Sunyi yang ternyata membuat hati dan kepala saya penuh. Tidak ada lagi proses menyalahkan, tidak ada segala bentuk penyesalan. Kepala saya diisi oleh pengertian bahwa semua yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi, dan saya tidak perlu tahu apa maksud Tuhan dengan menciptakan keadaan yang harus saya jalani. Tuhan selalu memiliki rencana indah, termasuk untuk saya. Dan itu yang saya yakini yang membuat saya kemudian berhenti bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apapun saya, saya pasti bermanfaat. Tidak peduli banyak orang yang menyangsikan tapi saya akan membuktikan kalau saya akan menjadi seorang pemenang dengan cara saya. Kaca mata kita mungkin berbeda, tapi saya yakin kaca mata Tuhan adalah sama. Jadi kenapa kalian tidak meniru Tuhan dengan tidak menilai saya secara keliru? Satu bagian hidup saya memang tidak sempurna tetapi itu tidak berarti keseluruhan hidup saya menjadi sia-sia. Saya punya potensi dan saya hidup dalam kebanggaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya ingin hidup lebih baik, bukan lagi dalam kebenaran menurut saya tapi dalam kebenaran menurut Tuhan. Jadi mohon didoakan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-7075234598372412606?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/7075234598372412606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=7075234598372412606&amp;isPopup=true' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/7075234598372412606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/7075234598372412606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/07/kontemplasi.html' title='Kontemplasi'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-2gN80XxOTSQ/TiaORwjLe2I/AAAAAAAAAwA/beRnaxD56tI/s72-c/200158430-002.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-6129440033001940719</id><published>2011-07-18T10:54:00.002+07:00</published><updated>2011-07-18T10:57:57.260+07:00</updated><title type='text'>Berpisah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ywdnFAhDXws/TiOvNyhSPKI/AAAAAAAAAv4/pKRWoTcC65k/s1600/103335930.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 201px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ywdnFAhDXws/TiOvNyhSPKI/AAAAAAAAAv4/pKRWoTcC65k/s400/103335930.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5630536610577792162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;If love wasa a bird, then we wouldn’t have wings. If love was a sky we’d be blue. If love was a choir, You and I could never sing. Cause love isn’t for me and you.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika cinta memang bukan untuk kita berdua, bukan untukku dan bukan untukmu, maka kita bisa apa. Sekuat apapun kita pertahankan maka yang ada hanya rasa saling menyakiti. Berusaha tak akan membawa kita kemana-mana, karena aku yakin jauh di dalam hati kita, kita sudah saling menghindari. Saling memadamkan pendar yang pernah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;If love was an oscar, You and I could never win, cause we can never act out our parts. If love is a bible, then we are lost in sin. Because its not in our hearts.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika semua yang kita lakukan tidak bersumber dari hati, maka semuanya akan bermuara pada kesedihan, kebencian. Hati adalah awal dari semua kebaikan, semua rasa sehingga ketika hati kita berkata bahwa kita tidak bisa bersama lagi, kita harus mengikuti intuisi itu. Banyak hal yang tak bisa dilontarkan dalam bentuk kata, tapi bisa dimaknai dengan hati. Tak perlu bersusah payah mencari penyangkalan melalui suara. Cukup kita lihat dan raba hati kita maka kita akan tersadar bahwa cinta antara kita memang sudah mati. Kenangan mungkin masih teraba tapi rasanya pasti hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;So why don’t you go your way and I’ll go mine. Live your life, and I’ll live mine. Baby you’ll do well and I’ll be fine. Cause we’re better off, separated.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpisah mungkin jalan terbaik yang memang harus kita tempuh. Akan kita rasakan sakit memang, karena rasa yang pernah ada pastinya tak bisa dihilangkan dalam sekejap mata. Tapi ketika muncul keyakinan bahwa kita akan lebih bahagia apabila kita tidak berjalan bersama, apa yang lebih purna? Berjalan di setapak kecil kita masing-masing justru akan membebaskan kita, melepaskan kita dari belenggu untuk saling menyakiti. Biarkan aku hidup dengan caraku dan kamu hidup dengan caramu. Berjalan menuju kebahagiaan yang sama tapi melalui cara yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;If love was a sport, we’re not on the same team. You and I are destined to lose. If love was an ocean then we are just a stream, Cause love isnt for me and You.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cinta memang bukan jawaban buat kita. Bukan alasan untuk tetap berjalan beriringan menyusuri pematang kehidupan menuju kebahagiaan. Mungkin bukan dengan cinta kita bisa bersama, mungkin dengan uluran persahabatan hubungan kita akan jauh lebih bermakna. Aku membebaskanmu menentukan arah, tak ada yang lebih sempurna selain melihatmu bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;I know we had some good times, its sad but now we gotta say goodbye. You know I love you, I cant deny. I cant say we didn’t try to make it work for you and I. I know it hurts so much but it’s best for us. Somewhere along this windy road we lost the trust. So I’ll walk away so you don’t have to see me cry. It’s killing me so, why don’t you go.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berpisah bukan karena kita tidak berusaha. Karena kita berusaha itulah makanya kita memutuskan untuk berpisah. Aku sangat mencintaimu, kekasihku atau bukan itu tidak akan merubah rasa itu. Masa-masa indah yang pernah kita lewati akan mengkristal dalam bola lampu di hatiku, bisa kukenang dengan mengamati dari beningnya kaca yang tercipta. Aku juga tahu bahwa ini menyakitkan, tapi akan lebih menyakitkan kalau kita tetap bersama. Bukan itu tujuan hubungan kita. Kita kehilangan kepercayaan, kehilangan pegangan yang justru dibutuhkan dalam suatu hubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izinkan aku pergi membawa semua rasa, kenangan dan semua kepahitan ini. Kamu tidak perlu menangis karena menangis justru akan memberatkan langkahku, padahal kepergianku justru akan membebaskanmu. Ini juga menyakitkan buatku tapi rasanya rasa sakit sudah bersahabat lama denganku semenjak mengenalmu. Kamu tak hanya memberiku bahagia tapi juga sakit tak terperi. Sehingga kini aku menginginkanmu untuk pergi, bebas. Jangan menoleh ke belakang, jangan berjalan mundur karena semuanya sudah usai. Ketika kau pergi, aku akan menutup semuanya, menutup pintu hatiku untukmu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-6129440033001940719?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/6129440033001940719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=6129440033001940719&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/6129440033001940719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/6129440033001940719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/07/berpisah.html' title='Berpisah'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ywdnFAhDXws/TiOvNyhSPKI/AAAAAAAAAv4/pKRWoTcC65k/s72-c/103335930.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-6873015931021898664</id><published>2011-07-15T08:15:00.000+07:00</published><updated>2011-07-15T08:15:00.599+07:00</updated><title type='text'>Somebody Else's Lover</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-vgz1_7YtCAk/Th8Xf9tSc-I/AAAAAAAAAvw/KrYI___A1Yg/s1600/89988944.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 192px; height: 128px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-vgz1_7YtCAk/Th8Xf9tSc-I/AAAAAAAAAvw/KrYI___A1Yg/s400/89988944.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629243897144308706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mencintai kekasih orang itu sering kali menyulitkan, terlebih ketika dia justru juga melayani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencintai kekasih orang itu sering kali tidak lebih dari memboroskan energi. Mengorbankan apa yang seharusnya tidak layak dikorbankan, membelanjakan hati pada sesuatu yang tampak nyata padahal palsu. Semua hanya sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi katanya tidak pernah ada yang sia-sia dalam cinta. Tidak ada percuma ketika kita berjalan di haluan yang kita yakini benar, walau itu akan menyakiti. Bukan hanya menyakiti pasangan resmi dari orang yang kita cintai, tapi lebih parah. Menyakiti diri kita sendiri. Menyodorkan dengan rela sebongkah perasaan untuk dibuat menjadi serpihan. Kita sering tahu benar resikonya, tapi kita tetap menjalaninya. Entah untuk alasan apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencintai kekasih orang itu sering kali menyulitkan, terlebih ketika jerat cinta itu berbekas tak mau hilang dari labirin bernama memori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencintai kekasih orang itu sering kali menyulitkan, terlebih ketika kita ternyata benar-benar jatuh cinta kepadanya. Memilih buta dengan menjalani apa yang tidak bisa ditolelir logika. Memilih didera ribuan kecewa karena ternyata kita seringkali menelan pahit yang dijejalkan paksa ke dalam selaksa. Membatin ketika dia, kekasih orang yang kita cintai itu dengan ringan bercerita tentang pasangannya. Rasanya hanya ingin berdua tanpa membicarakan sesuatu yang justru membuat luka semakin menganga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita dapat dari itu semua? Tidak ada, kecuali kesakitan dan perasaan terabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah mengalaminya. Mencintai dengan segenap hati seseorang yang masih dalam suatu hubungan. Berusaha menyelusup dalam runyam masalah yang sedang mereka hadapi. Menjelma menjadi zat yang justru memperkeruh. Layaknya rautan yang justru memperuncing, bagai apusan yang ingin menghilangkan apa yang telah dituliskan. Aku menjalaninya dengan sadar, sadar bahwa di akhir cerita aku pasti tidak akan mendapat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menikmati semuanya. Menikmati remah-remah sisa yang aku pungut di halaman orang. Memanfaatkan semua kesempatan kecil untuk menunjukkan bahwa aku punya hati warna perak yang siap dibagi. Bodoh memang, karena meskipun aku mendapat sesuatu, itu pasti hanya bagian kecil dari apa yang seharusnya tidak aku banggakan.Potongan-potongan kecil itu tidak akan membawaku kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku sadar, semua telah terlanjur jauh. Sudah banyak yang aku belanjakan. Sudah banyak fragmen-fragmen yang justru mengendap di labirin perasaan. Berkarat tak mau hilang, menancap menyebabkan luka ketika sedikit bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang menjauh. Dia juga menjauh. Tapi itu tidak lantas membuat semuanya usai. Sampai saat ini aku masih memendam perasaan. Entah untuk apa?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-6873015931021898664?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/6873015931021898664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=6873015931021898664&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/6873015931021898664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/6873015931021898664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/07/somebody-elses-lover.html' title='Somebody Else&apos;s Lover'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-vgz1_7YtCAk/Th8Xf9tSc-I/AAAAAAAAAvw/KrYI___A1Yg/s72-c/89988944.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-2216169066799134350</id><published>2011-07-13T08:19:00.001+07:00</published><updated>2011-07-13T09:09:57.563+07:00</updated><title type='text'>Melalui Angin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-GLiIbF53gIE/ThxKbvmt-XI/AAAAAAAAAvo/L_DpjxPJRh8/s1600/95043013.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 170px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-GLiIbF53gIE/ThxKbvmt-XI/AAAAAAAAAvo/L_DpjxPJRh8/s400/95043013.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628455474802063730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya mengenal orang ini perantaraan angin. Melalui aksara yang diterbangkan bersamaan dengan debu. Aksara yang kemudian mengendap dalam imaji dan membangun sosok tanpa wujud asli. Saya hanya berharap bahwa angin ikut menghembuskan nyawa sehingga membuatnya menjadi nyata, tak hanya berupa kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada angin saya kemudian selalu menitipkan pesan, mencoba mengenali jati dirinya. Mengorek detail relief hatinya yang seakan beku. Tetapi yang saya dapatkan hanyalah dingin, karena dia tidak mudah disibak. Dia berlindung dalam ketegaran laksana karang di tepian pantai. Kokoh berdiri diterjang gelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berjuang dalam keyakinan pada angin. Yakin bahwa angin akan menyampaikan semua pesan yang tak perlu saya ucapkan. Saya hanya yakin bahwa dibalik baju besi yang dia pakai, saya akan menemukan sesuatu. Sesuatu yang mungkin saya cari selama ini dalam pengembaraan hati, pengembaraan yang tak jelas ujungnya karena seringkali hanya menempatkan saya di gurun tandus tanpa suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memanjatkan doa perantaraan angin, berharap Sang Sutradara Hidup mendengar semua pinta. Saya hanya meminta diberi kesempatan untuk mengenal dia lebih jauh, menuntaskan apa yang sudah saya mulai. Menyelesaikan kepenasaran akan cinta. Melalui angin saya tak lagi berbisik, saya berteriak lantang : Tolong beri saya kepastian!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tak perlu ribuan anak panah yang terlepas dari busurnya seiring waktu, angin kemudian memberi saya jawaban. Keterbukaan yang saya cari selama ini akhirnya terpapar dengan sempurna. Saya melihat dia justru dalam perspektif yang tidak lagi sama, dan ternyata saya tidak siap. Dia, seseorang yang saya ingin ketahui aslinya ternyata sedangkan memanggangkan tubuhnya dalam bara. Menomorsekiankan logika hanya karena cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin tidak hanya memberikan jawaban, tapi angin juga membelot. Dia berubah menjadi badai, memporakporandakan hati dan perasaan saya. Memaksa saya untuk terhempas mundur dari dalam himpunan. Mencabuti rasa yang sedang saya semai, melucuti semua keyakinan saya akan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang dihempas kenyataan kemudian bergumam : “Angin, entah ini cobaan atau becandaan, tetapi kenapa engkau mengirim lagi sebongkah hati dengan status kekasih orang?”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-2216169066799134350?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/2216169066799134350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=2216169066799134350&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2216169066799134350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2216169066799134350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/07/melalui-angin.html' title='Melalui Angin'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-GLiIbF53gIE/ThxKbvmt-XI/AAAAAAAAAvo/L_DpjxPJRh8/s72-c/95043013.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-365269542723434545</id><published>2011-07-07T07:18:00.000+07:00</published><updated>2011-07-07T07:18:00.266+07:00</updated><title type='text'>Hujan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-GIcCU2yHNUY/Tg3zqH-OfDI/AAAAAAAAAvg/v_0s_sjknE4/s1600/200240352-001.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 199px; height: 132px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-GIcCU2yHNUY/Tg3zqH-OfDI/AAAAAAAAAvg/v_0s_sjknE4/s400/200240352-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624419414675717170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lihat, di luar masih saja hujan padahal beberapa hari kemarin aku sudah membaui kemarau. Sudah jarang aku lihat gelungan awan yang membentuk ekor hujan, bahkan bau tanah kering sudah memenuhi lorong-lorong jalanan seperti dupa yang dibakar di malam keramat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyukai kemarau, aku kecanduan kerontang. Dan aku benci hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan membuatku teringat padamu, melingkarkan lembar-lembar ingatan dengan ikatan kencang yang sebenarnya aku ingin terjang. Tapi bagaimana aku bisa beranjak kalau hujan sering memapah halaman, membasahi pepohonan yang belum sepenuhnya kering. Aku tidak suka hujan, karena menurutku hujan justru menyakitkan. Membawaku pada bongkah kesedihan yang seperti dikoyak berulang-ulang ketika debu digantikan becek jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membenci hujan seperti halnya aku membencimu. Sudah ribuan kata maaf aku ucapkan, karena katanya memaafkan akan membebaskan jiwaku dari pasung berkepanjangan. Memaafkan akan menyuburkan hati untuk siap lagi ditanami. Memaafkan...dan aku sudah melakukan itu, berulang-ulang kali. Tapi kenapa ketika hujan datang perasaan membencimu justru tumbuh lagi. Seperti akar belukar yang kehilangan dormansi perantaraan lindian air, kembali berdaun setelah sebelumnya mati suri. Hidup menggagas jalar merajalela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar hujan, dan aku masih saja memupuk dendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatkah apa yang sudah kamu lakukan waktu itu? Saat itu di luar hujan, dan aku menggigil.  Bukan gigil karena dibekukan dingin, bukan juga gigil karena diterpa angin yang hilir mudik menyelusup melalui kaca nako yang dibiarkan terbuka. Aku menggigil karena aku tidak terima dengan apa yang sudah secara sepihak kamu putuskan. Aku memang menggunakan hakku untuk berbicara, membela diri karena aku merasa perlu. Mempertahankan apa yang sebetulnya masih bisa aku pertahankan. Tapi kamu memilih tuli, mengabaikan semua sarana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih hebatnya dia sampai kamu memilih untuk beranjak dari hunian hati kita dan berpaling ke arahnya? Aku tidak bodoh, aku tidak akan mempermalukanmu di hadapan teman-temanmu. Aku tidak nista, dan meskipun aku nista aku akan berdiri setia kepadamu sampai kapanpun. Aku tidak miskin, aku punya pekerjaan yang menjanjikan yang artinya aku tidak akan menyusahkanmu secara finansial. Apa yang dia punya dan aku tidak? Apa yang dia tawarkan dan aku mungkin sungkan? Apa? Tidakkah kamu ingin menengok sejenak ke belakang untuk melihat apa yang sudah aku lakukan? Aku bukan perhitungan, aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku layak dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membencimu karena hujan. Saat kamu berlari ke arahnya dan meninggalkanku, hujan sedang deras membanjiri ladang. Mengaliri parit-parit dan membuatnya tergenang, menghanyutkan segala perasaan yang hanya bisa dikenang. Akhirnya kukemasi segala sesuatu yang pernah kupelihara di lubuk perasaan. Kupunguti tetesan rindu yang pernah kutampung dalam berlembar-lembar surat cinta. Kusimpan semuanya di halaman, berharap datang bandang yang  akan menghanyutkannya menabrak karang. Mengoyaknya hingga menjadi serpihan, hingga tidak ada lagi yang  bisa di kenang kecuali ketika hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benci hujan. Bagaimana aku bisa melupakanmu kalau setiap ada kesempatan kamu datang menunggang hujan. Menitis dalam rintik yang hinggap di pucuk cemara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-365269542723434545?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/365269542723434545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=365269542723434545&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/365269542723434545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/365269542723434545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/07/hujan.html' title='Hujan'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-GIcCU2yHNUY/Tg3zqH-OfDI/AAAAAAAAAvg/v_0s_sjknE4/s72-c/200240352-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-5126122024914799553</id><published>2011-07-04T07:16:00.000+07:00</published><updated>2011-07-04T07:16:00.647+07:00</updated><title type='text'>Perpisahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-FlKTgDUmaeQ/Tg3zE_seKXI/AAAAAAAAAvY/HZVivbuVSjw/s1600/200533183-001.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 157px; height: 192px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-FlKTgDUmaeQ/Tg3zE_seKXI/AAAAAAAAAvY/HZVivbuVSjw/s400/200533183-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624418776798603634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya tidak suka perpisahan. Perpisahan hanya akan membuat jambangan kesedihan saya bertambah lagi isinya. Perpisahan hanya akan meninggalkan bekas luka, jejak air mata. Karenanya saya sebisa mungkin menghindari perpisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana saya bisa menghindari perpisahan padahal sudah menjadi tasbih alam ketika ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Ketika ada awal pasti akan ada sebuah akhir. Meskipun begitu saya tetap saja tidak menyukai perpisahan. Perpisahan itu muram, menghambat sejenak langkah yang harusnya berpacu seiring waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam saya dipaksa mengucapkan perpisahan. Dipaksa karena sebenanrnya saya tidak ingin melakukannya. Keadaan membuat saya tidak punya pilihan, keadaan membuat saya egois untuk meningalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin berpisah dengannya. Bersamanya saya meraih apa yang saya mau, bersamanya saya pernah melalui hari-hari berat penuh rintangan dan keluar sebagai pemenang. Saya dan dia seperti tidak terpisahkan, terpautkan oleh sesuatu yang saya sebut dengan tujuan. Memang seringkali saya berbuat curang, mengkhianatinya dengan berbagai alasan tapi akhirnya saya tetap kembali kepadanya. Merapal lagi janji untuk setia sampai nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memberi saya kepuasan. Menghadiahi saya dengan bentuk yang selama ini saya idam-idamkan. Sebagian orang memanggil saya gila, memandang hubungan saya dengannya tidak lagi sehat. Mereka bilang, dia membuat saya menyiksa diri. Mereka bilang dia membuat saya sering menarik diri dari undangan perjamuan makan. Saya tidak peduli, saya suka dan nyaman hidup bersamanya. Orang lain boleh bilang saya menyiksa diri, tapi saya bilang saya mendapatkan kepuasan. Hidup dengannya seringkali membuat saya memperoleh multiple orgasm. Kepuasaan lahir batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah terbayangkan sebelumnya untuk mengucapkan perpisahan terhadapnya. Sekian tahun kami sudah hidup bersama, rasanya begitu berat ketika harus memutuskan mengakhiri apa yang dulu pernah kami sepakati. Jujur, saya tidak ingin berpisah darinya. Dijauhkan dari dia mungkin akan membuat saya gila, kehilangan pegangan yang selama ini menuntun saya untuk berjalan bahkan ketika saya berada di titik kulminasi paling rendah dalam hidup. Dia ada disana, di samping saya menyaksikan bagaimana saya tumbuh. Bertransformasi dari bentuk layaknya abstrak sampai bentuk mendekati yang saya mau. Dia testimoni hidup saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, keadaan tidak seterusnya berpihak kepada kami. Keadaan yang tidak menguntungkan seperti sekarang membuat saya harus menggagas ulang hubungan kami. Dan saya sampai pada keputusan bahwa hubungan ini harus disudahi. Mungkin nanti bisa digagas kembali, tapi tidak dalam waktu dekat ini. Keadaan tidak memungkinkan bagi kami untuk segera kembali. Saya yakin dia akan mengerti, meyakini bahwa ini adalah hal yang terbaik untuk saya saat ini. Dia akan baik-baik seperti biasanya, meski saya tidak yakin apakah saya akan baik-baik saja setelah perpisahan ini. Saya akan mencoba tegar, menjalani semua konsekuensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pesta perpisahan yang meriah. Tidak juga ada peluk mesra ketika kami akan berjalan berlawanan. Semua sudah takdir yang memang harus diikuti, demi kebaikan semuanya. Saya mungkin menangis, tapi saya yakin bahwa apa yang sudah saya putuskan adalah jalan yang paling baik untuk saat ini. Tidak boleh ada penyesalan di akhir cerita, tidak boleh ada pengingkaran di batas pengharapan. Saya dan dia resmi melakukan perpisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam saya hanya mengucapkan sepenggal kalimat perpisahan lirih tanpa rima. “Dengan aktivitas saya belakangan ini yang super padat dan sakit saya yang berulang dalam rentang jarak waktu hanya 6 bulan, sepertinya saya tidak bisa lagi melibatkan kamu dalam hidup saya. Biarkan saat ini saya sendiri dulu tanpa ada kamu, DIET!”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-5126122024914799553?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/5126122024914799553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=5126122024914799553&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/5126122024914799553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/5126122024914799553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/07/perpisahan.html' title='Perpisahan'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-FlKTgDUmaeQ/Tg3zE_seKXI/AAAAAAAAAvY/HZVivbuVSjw/s72-c/200533183-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-3065701918042499200</id><published>2011-06-30T08:26:00.000+07:00</published><updated>2011-06-30T08:26:00.430+07:00</updated><title type='text'>Disambangi dalam Mimpi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-eSQRF58g6Eo/TgnlDtoe56I/AAAAAAAAAvQ/u0TINn-4MT8/s1600/98106768.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 212px; height: 130px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-eSQRF58g6Eo/TgnlDtoe56I/AAAAAAAAAvQ/u0TINn-4MT8/s400/98106768.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5623277461700536226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Semalam aku bermimpi dia datang ke tempatku. Wajahnya bersih, bersahabat dan tanpa pandangan penuh selidik. Matanya hanya menyapu sekilas keseluruhan tubuhku, dan diakhiri dengan senyuman manis. Tak ada kesan menghakimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dalam mimpi itu dia datang, dia tak bersuara, tapi dari matanya aku bisa tahu banyak kata yang tercipta. Kebisuannya justru mengigilkan tubuhku, menggulungku dalam perasaan bersalah yang teramat sangat. Aku beringsut mencari pojokan untuk berlindung. Bibirnya yang tak berujar sepatah katapun justru menenggelamkanku dalam perasaan berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk berhadapan dengan dia dalam dimensi yang sulit dimengerti. Kita tidak saling berbicara, tapi hati saling berujar. Hatiku yang berujar banyak tepatnya. Dia hanya menatapku, lagi-lagi tanpa ada kesan menghakimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdosa pada dia, hatiku berisyarat. Aku telah mengambil banyak kesempatan ketika dia sedang tidak berada di sana. Aku menikmati setiap momen yang tercipta, menyelesupkannya dalam kompartemen hatiku. Aku bermaksud untuk memiliki semua momen itu padahal justru dia yang paling berhak untuk mendapatkan semuanya. Aku mencoba curang dengan menganggap dia tidak ada, padahal jelas-jelas dia ada disana. Mungkin tidak mengamati, tapi instingnya aku yakin bisa merabanya. Makanya dia datang dalam mimpiku malam tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berulang kali minta maaf dalam mimpi tadi malam, tapi dia hanya meresponnya dengan senyuman. Senyuman yang aku sendiri tidak bisa mengerti apa artinya. Aku hanya melihat sebuah telaga ketidakrelaan disana, tidak rela karena aku berusaha merenggut kebahagiaannya. Matanya kemudian mengirimkan banyak isyarat melalui perantaraan udara, memintaku untuk mengerti posisi dia. Aku kemudian dipaksa bergulat dengan logika hati dan rasa, sehingga aku terengah-engah sebelum akhirnya berdiri pada satu keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tatapan tanpa menghakimi, tanpa selidik justru membuatku tak berdaya. Hatiku luluh lantak kemudian otak dengan kesadaran yang masih sedikit tersisa memerintahkanku untuk mulai mengemasi hati kecil perakku yang tak terasa sudah lebur. Beranjak untuk memberi kesempatan kepada dia bahagia dengan apa yang sesungguhnya sudah dia miliki dari awal. Aku hanya berusaha merebut kebahagiaan itu. Makanya meskipun tanpa kata, aku tahu dia hanya meminta sesuatu yang menjadi miliknya. Dan memang sudah saatnya aku mengembalikan semuanya. Mengembalikan kebahagiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya semalam aku bermimpi tentang dia. Kekasih resmi dari orang yang aku cintai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-3065701918042499200?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/3065701918042499200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=3065701918042499200&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3065701918042499200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3065701918042499200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/06/disambangi-dalam-mimpi.html' title='Disambangi dalam Mimpi'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-eSQRF58g6Eo/TgnlDtoe56I/AAAAAAAAAvQ/u0TINn-4MT8/s72-c/98106768.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-5174630215979953207</id><published>2011-06-27T18:41:00.003+07:00</published><updated>2011-06-27T20:44:58.182+07:00</updated><title type='text'>Inikah Mati?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-RA6nKNQ3tDA/Tght72_ZFLI/AAAAAAAAAvI/dRAxV5DZqoU/s1600/108317077.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 137px; height: 206px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-RA6nKNQ3tDA/Tght72_ZFLI/AAAAAAAAAvI/dRAxV5DZqoU/s400/108317077.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5622865009913173170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Inikah Mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah lorong gelap dengan cahaya samar di kejauhan saat kemampuan mata hanya terbatas sampai sana. Lorong yang banyak orang perbincangkan karena merupakan penghubung antara dunia kasat mata dengan dunia antah berantah yang mereka sebut akhirat. Sebetulnya aku ragu, dari mana mereka tahu tentang lorong ini padahal mereka belum mengecap mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah Mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat raga merasa melayang seringan awan. Tanpa beban, tanpa persoalan. Katanya tidak berlaku lagi hukum gravitasi Newton yang membuat kita menapak pada tanah. Sesuatu yang juga katanya membedakan antara massa dengan berat. Entahlah apa itu karena aku sama sekali tidak mengerti. Yang aku tahu adalah sekarang aku melangkah bagai terbang. Tidak kurasakan gaya gesek yang biasanya menempelkan telapak kakiku pada tanah. Aku benar-benar melayang. Tanpa sayap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerongkonganku berat. Tak ada lagi suara yang bisa aku keluarkan dari sana, padahal banyak sekali kalimat yang ingin aku sampaikan. Bukan protes karena aku ingat bahwa kalau mati itu sudah tiba maka katanya tidak ada lagi proses tawar menawar. Katanya sejago apapun aku berkelit kata, semuanya hanya akan sia-sia. Lagi-lagi katanya, karena sungguh ini adalah pengalamanku yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah Mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat seseorang dengan wajah berpendarkan cahaya menunggu di ujung penglihatan. Seseorang dengan wujud yang tidak pernah kukenali sebelumnya. Diakah yang disebut malaikat? Perpanjangan tangan Tuhan yang bertugas untuk menghitung berapa banyak kebaikan dan kenistaan yang sudah aku lakukan? Tiba-tiba aku gemetaran. Kepalaku berdenyut tidak karuan karena sebelum aku sampai pada sosok itu, kepalaku mencoba menghitung. Semakin mendekat, semakin baur hitungan yang sudah aku lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu aku banyak dosa. Aku tahu hidupku nista. Aku meracau sambil terus berjalan mendekat ke arahnya. Mungkin sebenarnya aku tidak berjalan karena kakiku tidak berasa melangkah. Mungkin juga aku sebenarnya tidak mendekat karena dalam diriku aku merasa berlari menghindar. Sekuat tenaga aku beringsut mundur tetapi kenapa tetap saja jarak antara kami justru mendekat padahal dia tidak bergerak. Kepalaku semakin berdenyut. Telingaku semakin berdengung. Mataku semakin silau karena semakin dekat dia semakin berpendar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah Mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingung. Tidak ada sekelompok orang dengan jubah putih dan jubah hitam yang berdiri bersebrangan seperti yang aku lihat di film-film. Aku tidak bisa melihat mereka, padahal keberadaannya bisa dijadikan petunjuk bagaimana statusku sekarang. Mati ataukah bukan. Aku semakin limbung karena cahaya menyilaukan itu terus menghantam mataku, membuatnya kehilangan daya akomodasi sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya benderang itu terus menghadang dan dengan sisa keberanian yang terkandung di badan, aku berusaha menantang. Kubuka mataku lebih lebar, tak peduli kalau itu bisa membutakan. Membakar retinaku sampai hitam. Aku tidak peduli karena entah dari mana datangnya, keberanian itu terhunus bagai pedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya itu masih menyilaukan. Tapi perlahan aku menyadari kalau itu bukan datang dari sosok yang tidak pernah aku kenali. Cahaya itu terasa akrab, datang dari balik terali di atas jendela kamarku. Cahaya yang setiap harinya sengaja kubiarkan menerobos untuk memberikan sensasi terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, ternyata aku belum mati. Itu hanya cahaya matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-5174630215979953207?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/5174630215979953207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=5174630215979953207&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/5174630215979953207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/5174630215979953207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/06/inikah-mati.html' title='Inikah Mati?'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-RA6nKNQ3tDA/Tght72_ZFLI/AAAAAAAAAvI/dRAxV5DZqoU/s72-c/108317077.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-8950356218344541659</id><published>2011-06-22T11:19:00.001+07:00</published><updated>2011-06-22T11:22:50.782+07:00</updated><title type='text'>Kehilangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-o7vIJY9ZfDY/TgFt6T-2-NI/AAAAAAAAAvA/Zfqs6NmFz0M/s1600/93503676.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 219px; height: 168px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-o7vIJY9ZfDY/TgFt6T-2-NI/AAAAAAAAAvA/Zfqs6NmFz0M/s400/93503676.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5620894658498853074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya pernah memberinya langkah bimbang. Bukan sekali, tapi berulang kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyelusup perlahan diantara hubungan dia dengan kekasihnya yang hampir berakhir. Hampir, yang berarti belum benar-benar berakhir. Hubungan yang mungkin masih bisa dipertahankan dengan menggagas ulang tujuan mereka untuk bersama. Hubungan yang mungkin masih bisa diperbaiki dengan saling meraba hati masing-masing. Mungkin, karena saya saat itu tidak peduli. Saya memilih tetap menyelusup perlahan memanfaatkan keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menyuruhnya untuk memutuskan kekasihnya, tapi saya juga tidak lantas memberinya nasihat untuk mempertahankan apa yang sudah mereka jalani. Saya hadir sebagai saya sendiri, seseorang yang mencintainya diam-diam. Seseorang yang karena kedekatan beberapa saat merasakan ada yang lain dalam labirin perasaan, sesuatu yang tumbuh berawal dari persahabatan kemudian tanpa disangka menjadi apa yang disebut cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencintainya dalam hening. Bukan saya tidak berani mengungkapkan, tapi saya bertahan demi sebuah alasan. Biarkan dia menyelesaikan apa yang memang harus dia selesaikan, entah itu bertahan ataupun memilih untuk mengakhiri jalinan. Saya tidak ingin menginterferensi karena saya tahu benar ketika saya melakukan itu maka akan bermuatan sebuah tujuan. Saya tidak ingin sejahat itu, saya hanya berusaha adil terhadap kekasihnya yang menurut dia sudah tidak lagi mengerti dirinya. Tidak dapat lagi memahami jalan pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya menjelma menjadi seorang ksatria, selalu ada ketika dia ingin sekedar berkeluh kesah. Sebetulnya saya tidak ingin berada di posisi itu karena ada misi terselubung  yang saya semai dalam hati. Tapi saya ingin dianggap kalau saya ada, bisa diandalkan. Setidaknya saya bisa meminjamkan bahu saya ketika dia ingin menangis, atau menggenggam tangannya ketika dia tengah bimbang. Saya tahu saya salah, karena diam-diam saya memanfaatkan keadaan. Saya salah karena saya berada di tempat yang waktu yang salah. Menyemai rasa di pematang yang belum sepenuhnya dibebaskan. Memagari pekarangan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya, saya berada disana. Menjadi saksi saat bulir air mata menyublim dari kedua kelenjarnya. Saya disana menyaksikan betapa rapuh kelopak jiwanya. Dan sejak saat itu saya menggila, tidak lagi menyemai tapi menabur benih di setiap kesempatan. Saya memberanikan diri mengungkapkan apa yang berkecamuk dalam lobus hati, berusaha memberinya pengertian bahwa telah sekian lama saya menunggu saat ini. Membebaskan perasaan saya, membuka gerbang yang memenjarakan dan membuat saya kerdil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bimbang. Melayani kemudian beringsut mundur. Melayani lagi kemudian mundur dua langkah. Melayani dengan bentuk ketidakpastian yang membuat saya justru menebak-nebak kemana arah yang sebetulnya dia giring. Saya balas melayani dengan bentuk ketidakpastian yang hampir sama. Berjalan kadang bertolak belakang, kemudian bertemu di satu titik saat keduanya sama-sama lelah. Saling menyeka keringat yang meleleh di dahi. Entah untuk apa, karena semua masih dalam koridor ketidakpastian yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir pergulatan, dia memilih untuk pergi menjauh. Meninggalkan jejak yang sebetulnya masih dapat dibaui sampai sekarang. Memberi kenangan yang terus berputar-putar bagai gangsingan, sesaat berheti tapi kemudian dia putar lagi perantaraan kemunculannya yang terkadang tiba-tiba. Mengikuti bagai hantu, mengintil bagai anak kecil yang takut hilang di arena pasar malam. Dan saya terus terombang ambing turbulensi memori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah benar-benar kehilangan dia, karena kehilangan sesuatu yang sebetulnya tidak pernah saya punya adalah absurd.  Dan selayaknya rumput liar, akan ada saatnya bagi saya untuk menepi dan benar-benar pergi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-8950356218344541659?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/8950356218344541659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=8950356218344541659&amp;isPopup=true' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8950356218344541659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8950356218344541659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/06/kehilangan.html' title='Kehilangan'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-o7vIJY9ZfDY/TgFt6T-2-NI/AAAAAAAAAvA/Zfqs6NmFz0M/s72-c/93503676.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-6466368008604964928</id><published>2011-06-20T10:23:00.002+07:00</published><updated>2011-06-20T10:25:56.694+07:00</updated><title type='text'>Bercermin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-9gSNz66anY8/Tf69ruNYciI/AAAAAAAAAu4/3mpJWd7CZTE/s1600/88711412.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 216px; height: 163px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-9gSNz66anY8/Tf69ruNYciI/AAAAAAAAAu4/3mpJWd7CZTE/s400/88711412.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5620137943841141282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tadi pagi secara selintas saya mendengar ceramah subuh di salah satu televisi, dan diakhir ceramahnya si penceramah menyimpulkan bahwa ada tiga hal yang harus disegerakan ketika waktunya telah tiba. Pertama, segerakan sholat ketika adzan telah berkumandang. Kedua, segerakan membayar hutang ketika kita sudah ada rezekinya. Dan ketiga, segerakan menikah ketika kita sudah bertemu jodohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seperti biasa kemudian menganalisis versi saya. Menimpali dalam hati sesuka saya, tapi mau tidak mau saya seperti diajak berkaca di cermin buram yang saya punya. Cermin yang selalu saya bawa kemana-mana untuk sekedar mematut diri. Melihat bayangan yang terbentuk ketika saya butuh untuk melihat seperti apa saya sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya senang mematut diri di cermin? Dan kenapa harus buram? Saya senang bercermin di cermin saya sendiri karena cermin tidak pernah berbohong. Bayangan yang terbentuk murni bayangan saya ketika itu, dan cermin tidak pernah menghakimi. Dia tidak pernah protes mengenai penampakan saya, atau topeng yang sedang saya pakai. Dia jujur. Kalau masalah buram, karena sering kali saya hidup dalam kebenaran menurut saya dan bukan menurut Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kesimpulan penceramah tadi pagi. Menyegerakan sholat, menyegerakan membayar hutang dan menyegerakan menikah. Masalah sholat, saya sedang membenahi diri setiap hari. Berusaha menjalankan shalat dengan teratur tanpa meninggalkannya. Mungkin masih sekedar prosesi, rutinitas yang sudah menjadi bagian hidup tapi setidaknya itu adalah bentuk penghambaan saya terhadap Tuhan. Soal menyegerakan waktu pelaksanaannya, saya masih harus terus belajar. Seringnya saya tidak segera melaksanakannya ketika waktunya sudah tiba, ada saja alasan untuk mengulur-ulurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara membayar hutang, selama saya tidak kelupaan saya selalu membayar tepat waktu. Buktinya saya tidak pernah didenda bank penyedia kartu kredit saya. Saya mahir memberi pinjaman hutang tapi tidak mahir dalam proses penagihannya. Sudah beberapa pihak yang sampai sekarang tidak lantas mengembalikan pinjamannya. Dulu waktu memberi pinjam, saya jatuh kasihan, tapi setelah dipinjamkan mereka tidak jatuh kasihan terhadap saya yang harus menagih. Proses menagih kewajiban saya, tapi masalah mereka tidak mau mengembalikan pinjamannya itu urusan mereka. Mungkin mereka belum ada rezeki, makanya tidak lantas menyegerakan membayar hutang. Saya doakan semoga mereka dilimpahi banyak rezeki dan ingat akan hutangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang paling spektakuler, yang paling banyak menyita analisis saya tadi pagi. Menyegerakan menikah ketika sudah ada jodohnya. Saya bercermin kemudia saya menyimpulkan versi saya, saya belum menikah atau mengulur-ngulur menikah bukan karena apa-apa tapi lebih karena belum ketemu jodohnya. Saya malah balik bertanya, apa sih rasanya ketemu jodoh? Bagaimana bisa timbul keyakinan dalam hati bahwa dia adalah jodoh saya? Seseorang yang akan menemani saya sampai mati. Saya belum sampai pada tahapan itu,  itulah kenapa saya belum menikah sampai umur saya yang sekarang. Masih muda juga ( i wish).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman  menanggapi ketika masalah ini saya share di twitter. Katanya jodoh saya pasti ada, hanya saja belum sampai karena dia pakai angkot dan seperti kebanyakan angkot, sering ngetem. Jadi sampainya pasti lama. Saya mengamini dan turut meyakini kalau jodoh saya memang pasti ada. Kalau masalah disuruh menunggu, stok sabar saya masih banyak jadi tidak masalah kalau masih disuruh menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai bercermin, saya kemudian bergumam sendiri “Saya tidak sabar menunggu hari pernikahan saya sendiri, ingin tahu jodoh seperti apa yang sudah dikirim Tuhan untuk saya sampai sebegini lama”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-6466368008604964928?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/6466368008604964928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=6466368008604964928&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/6466368008604964928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/6466368008604964928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/06/bercermin.html' title='Bercermin'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-9gSNz66anY8/Tf69ruNYciI/AAAAAAAAAu4/3mpJWd7CZTE/s72-c/88711412.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-8329819255434747198</id><published>2011-06-17T15:44:00.002+07:00</published><updated>2011-06-17T15:47:46.158+07:00</updated><title type='text'>(Lagi-Lagi) Tentang Hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-M5zuAEaryQY/TfsUiyIYemI/AAAAAAAAAuw/C9ILSb-kuH4/s1600/101635418.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 138px; height: 208px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-M5zuAEaryQY/TfsUiyIYemI/AAAAAAAAAuw/C9ILSb-kuH4/s400/101635418.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5619107547879864930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jikalau aku memilih egois, tentu sudah kusuruh kamu pulang ke Indonesia sejak dulu. Atau mungkin justru tidak akan aku biarkan kamu pergi hanya untuk sekedar menunjukkan bahwa kamu bisa. Aku mengenal kamu lebih dari cukup kalau hanya untuk sekedar sampai pada satu kesimpulan bahwa kamu tidak akan bertahan lama. Aku tahu siapa kamu, orang seperti apa dirimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan aku menyepelekan usahamu untuk membuktikan bahwa kamu sudah beranjak dewasa, sudah mampu memutuskan apa yang sekiranya bisa dijalani dan mana yang tidak. Aku mengerti bahwa cepat atau lambat, proses itu akan segera menghampirimu. Mengajakmu berpetualang dalam rimba yang penuh dengan tantangan yang harus dipecahkan. Tapi sering kali kamu tidak tahu apa yang sebenarnya kamu mau. Kamu hanya mengikuti egomu tanpa berpikir panjang tentang ini dan itu di akhir sebuah keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghargai keputusanmu, bahkan aku mendukungmu seperti biasanya. Aku tidak ingin bersikap egois, menghambatmu menjadi dewasa dengan caramu sendiri. Kenapa? Karena waktu terus berpacu seiring dengan uban yang mungkin tumbuh di kepalamu. Dan kamu memang harus menjalani semua itu, makanya waktu dulu dengan berat hati aku menyetujui keputusanmu untuk hengkang dari Indonesia. Sekedar untuk melihatmu tumbuh seperti yang mungkin kamu mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tidak boleh menjadikanku egois. Cinta tidak boleh menghambat seseorang yang  aku sayangi tertambat pada titik yang sama yang justru akan membuatnya tidak bergerak kemana-mana. Cinta itu membebaskan, menggenggam tanpa cengkraman. Karenanya kamu bebas untuk bergerak semaumu, mengikuti alur yang sudah sebelumnya kamu cipta dalam ruang imajimu. Alur yang akan mengantarkanmu pada ujung yang pastinya kamu mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tidak boleh menjadikanku egois. Karenanya aku mengiyakan ketika kamu justru meminta aku menamatkan rasa itu sesaat sebelum kepergianmu. Cinta yang aku punya tidak boleh memberatkan langkahmu, membebani kakimu dengan sesuatu yang mungkin tidak perlu. Sudahlah, mengikhlaskan kamu untuk berlalu mungkin bentuk pengorbanan yang tidak harus dipermasalahkan. Aku dulu mencintaimu dan mau berkorban demi sesuatu yang kamu pikir akan lebih baik, dan aku bangga pernah melakukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun waktu sudah jauh berderap dari waktu itu, tapi lihat aku tidak berubah. Aku masih tetap sama seperti dulu, saat pertama kali kita bertemu di kantin kampusku. Kampus kita. Tidak banyak yang berubah, meskipun beberapa hati pernah singgah tapi masih kusediakan sedikit ruang untuk hatimu yang sekeras batu. Aku tahu dibalik semua kekukuhan yang kamu pelihara, kamu akan tetap kembali padaku seperti biasanya. Dan aku tetap menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggil aku bodoh karena menghabiskan waktu hanya untuk menunggu dan menunggu. Entah jampi-jampi apa yang kamu pernah ucapkan diatas namaku dulu sehingga aku sulit sekali berpaling darimu. Setia sampai saat ini memelihara rasa yang sebetulnya aku juga tidak tahu entah untuk apa. Disadari atau tidak kamu seperti memanfaatkan semua keadaan ini, menuai rasa nyaman tanpa ingin berkomitmen lagi seperti dulu. Dan bodohnya lagi, aku masih saja mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajarkan aku menjadi egois dan berani memintamu kembali ke Indonesia walau untuk alasan yang ambigu. Biarkan aku menyayangimu dengan caraku sendiri yang mungkin tidak bisa dimengerti. Jangan pertanyakan sebanyak apa cinta yang aku punya, cukup kau pegang pergelangan tanganku. Cari detak nadi dan hitung denyutannya. Sebanyak itu aku mencintaimu. Dulu, kini hingga mungkin nanti. Pasti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-8329819255434747198?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/8329819255434747198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=8329819255434747198&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8329819255434747198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8329819255434747198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/06/lagi-lagi-tentang-hati.html' title='(Lagi-Lagi) Tentang Hati'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-M5zuAEaryQY/TfsUiyIYemI/AAAAAAAAAuw/C9ILSb-kuH4/s72-c/101635418.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-3301719684875907657</id><published>2011-06-13T07:33:00.000+07:00</published><updated>2011-06-13T07:33:00.467+07:00</updated><title type='text'>Jealous</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-t9ZA1w6n7Ng/TfHJGWL7twI/AAAAAAAAAuo/Cnnsb8B7fBk/s1600/200502564-003.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 151px; height: 189px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-t9ZA1w6n7Ng/TfHJGWL7twI/AAAAAAAAAuo/Cnnsb8B7fBk/s400/200502564-003.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5616491321179748098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ternyata saya cemburu, padahal saya tidak berhak untuk melakukan itu. Dia bukan siapa-siapa saya lagi, jadi ketika dia memulai hidupnya lagi dengan berhubungan dengan seseorang kenapa saya harus cemburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin benar kata teman-teman saya, cemburu yang saya rasakan akibat karena saya sampai sekarang ternyata belum bertemu dengan seseorang yang bisa mengisi hati saya. Saya merasa kalah oleh keadaan, kalah bersaing dengan dia yang ternyata lagi-lagi lebih dahulu menemukan pelabuhannya yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Picik memang kalau MISALNYA saya merasa seperti itu, tapi sumpah, tidak sedikitpun saya merasa tidak senang ketika dia menurunkan jangkar hatinya dan kemudian berlabuh. Cerita diantara kami sudah berakhir, diterminasi dengan cara yang dewasa. Saling sadar bahwa hidup harus terus berjalan meskipun tidak lagi bisa bersamaan. Hidup harus terus dijalani, dan apabila dalam perjalanannya bertemu dengan pasangan yang baru itu adalah takdir yang tidak bisa dihindari. Tidak mungkin kita selalu terpaku pada masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya cemburu. Entah untuk alasan apa. Terdengar klise pastinya apabila saya mempertanyakan kemudian seperti tidak tahu jawabannya dengan pasti. Disadari atau tidak, kalau saja saya mau melihat hati saya lebih dalam saya akan tahu jawabannya. Dengan JELAS. Jawaban yang sebetulnya sudah saya temukan sejak pertama kali menyadari bahwa dia sudah mulai menata hubungannya yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian hati saya tergelitik untuk bertanya pada diri saya sendiri. Jangan-jangan saya masih mencintainya seperti dulu? Tapi seperti biasa diri saya menolak untuk menjawab, seperti diberi pertanyaan retorik yang sebetulnya tidak membutuhkan jawaban. Tidak mau mengakui karena ada hal-hal yang membuat saya melihat lagi jalanan yang pernah kami lewati ketika masih bersamaan. Menggugat cerita-cerita yang bagai onak dalam daging. Menyakitkan ketika berusaha untuk disingkirkan. Dan mungkin karena itu saya lebih memilih onak itu tetap bersarang ketimbang harus menyingkirkannya dan merasakan kepedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mungkin bodoh. Melepas sebuah jalinan  yang disadari atau tidak membuat saya berada di dalam bentuk kenyamanan yang luar biasa. Melepas seseorang yang sebetulnya mencintai saya jauh di luar kapasitas saya mencintai dia. Hanya gara-gara sedikit kesalahan yang sebetulnya dapat dengan mudah diabaikan, saya melepaskan genggamannya. Tapi itu bila dilihat dengan pikiran saya yang sekarang, dulu kesalahan itu tetap saja menyesakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyesal di hari kemudian memang seringkali tidak ada gunanya. Tapi menurut saya tetap berguna. Setidaknya kita menjadi tahu bahwa kita pernah membuat sebuah kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi di waktu yang akan datang. Pembelajaran yang berharga bahwa ternyata melepas seseorang yang sebetulnya berkualitas itu ternyata sebuah kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal cemburu, biarkan itu jadi urusan saya sendiri. Saya harus dengan dewasa belajar menjalani konsekuensi atas apa yang pernah saya perbuat. Lambat laun rasa itu mungkin akan terkikis seiring dengan kebahagiaan yang dia reguk dari hubungannya kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang melebihi kebahagiaan saya selain melihat dia, seseorang yang pernah mengisi labirin hati saya mendapatkan kebahagiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terucap sebingkai doa agar hubungannya kali ini bisa mengantarkannya pada kebahagiaan yang selama ini dia cari. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-3301719684875907657?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/3301719684875907657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=3301719684875907657&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3301719684875907657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/3301719684875907657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/06/jealous.html' title='Jealous'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-t9ZA1w6n7Ng/TfHJGWL7twI/AAAAAAAAAuo/Cnnsb8B7fBk/s72-c/200502564-003.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-1415397597061946865</id><published>2011-06-08T07:06:00.000+07:00</published><updated>2011-06-08T07:06:00.640+07:00</updated><title type='text'>Backpacker</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-cqIgKtB-RLo/Te3c6I9eDvI/AAAAAAAAAug/AJlgMMhoNY8/s1600/200257748-015.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 169px; height: 170px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-cqIgKtB-RLo/Te3c6I9eDvI/AAAAAAAAAug/AJlgMMhoNY8/s400/200257748-015.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615387201796706034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya orangnya tidak suka diremehkan, apalagi tentang hal-hal yang sebetulnya tidak tampak dari luar. Bukan berarti karena gaya hidup yang selama ini saya jalani kemudian orang-orang di luaran sana menilai bahwa saya tidak mau diajak ini dan itu yang nampak menyusahkan. Saya bisa kalau saya mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah tahun lalu saya ditantang untuk melakukan perjalanan backpacker ke negara tetangga. Biasa, ada promo tiket pesawat murah untuk terbang di tahun berikutnya. Merasa ditantang dan diremehkan karena teman-teman saya menganggap kalau saya tidak akan bisa, maka saya pun mengiyakan. Jadilah tengah tahun lalu saya dan beberapa teman membeli tiket untuk perjalanan Backpacker saya yang pertama. Negara yang ditujupun sebetulnya tidak asing buat saya. Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena terbang untuk tahun berikutnya, saya sampai lupa kalau saya ada rencana untuk pergi backpacker tersebut. Kalau saja sebulan sebelumnya pihak maskapai tersebut tidak mengirimi saya email tentang konfirmasi ulang keberangkatan saya, mungkin saya akan lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah minggu kemarin itu saya mengunjungi Singapura (lagi), bedanya dengan perjalanan sebelum-sebelumnya adalah kali ini saya beneran backpakeran. Pergi hanya dengan satu buah tas gendong, dan tanpa ada embel-embel masalah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selayaknya perjalanan backpacker, saya dan 4 orang teman menginap di salah satu hostel di dekat kawasan little India. Dan ini juga pengalaman pertama saya menginap di hostel yang satu kamar berisi 8 orang penghuni campur dengan tamu-tamu yang lain. Awalnya saya takjub dengan suasana kamarnya, tapi selama ada kasurnya pikiran saya aman. Dan untuk pertama kalinya pula saya tidur di ranjang tingkat bagian atas. Seru juga ternyata, karena harus mikir-mikir kalau mau banyak gerak takut si bule di bawah terganggu. Harus hati-hati pas turun tangga biar tidak jatuh dan tidak menimbulkan banyak suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kali ini, saya total mengikuti apa yang sudah direncanakan teman-teman saya. Turun naik MRT, jalan kaki, istirahat sambil curi-curi tidur siang sebentar di mushola, makan di tempat makan murah yang setiap mau makan yang pertama dilihat adalah harganya dan bukan menunya dan harus nasi. Semuanya menyenangkan, dan saya tidak mengeluh. Kecuali bagian gerahnya karena Singapura kemarin itu sedang benar-benar panas amat sangat. Tapi keseluruhan perjalan backpacker kemarin sungguh menyenangkan, dan saya tidak kapok. Catet, saya tidak kapok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan ke Singapura kalau tidak belanja, dan meskipun judulnya backpacker tetap saya dan teman-teman ‘menyempatkan’ diri untuk mengunjungi orchard semalaman. Dan karena ketertarikan masing-masing berlainan, maka kami memutuskan untuk berpencar dan berjanji untuk bertemu di tempat yang sudah ditentukan pada jam yang sudah ditentukan juga. Dan ini kesempatan bagi saya untuk melipir bertemu dengan calon mertua (tidak jadi) yang sebelumnya sudah janjian untuk bertemu. Sepertinya mereka masih sayang sama saya, meskipun anaknya sudah tidak (sedikit curcol). Mereka membawa saya makan di restauran yang lumayan dan membelanjai saya beberapa barang. Kata mereka mumpung Tangs lagi sale besar-besaran. Saya bukan memanfaatkan keadaan, tapi kalau dikasih saya tidak menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari perjalanan kemarin ke Singapura, Backpacker itu hanya slogan saat pergi karena pulang dari sana saya tetap menjadi miss jing-jing. Tapi saya tidak kapok lho buat pergi backpacker, jadi kalau misalnya ada yang mengajak saya untuk backpacker lagi. Asal cocok dengan jadwal kerjaan, saya pasti mengiyakan. So, anyone???&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-1415397597061946865?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/1415397597061946865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=1415397597061946865&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1415397597061946865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1415397597061946865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/06/backpacker.html' title='Backpacker'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-cqIgKtB-RLo/Te3c6I9eDvI/AAAAAAAAAug/AJlgMMhoNY8/s72-c/200257748-015.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-2254938923129566028</id><published>2011-06-06T07:06:00.000+07:00</published><updated>2011-06-06T07:06:00.080+07:00</updated><title type='text'>Mari Berbincang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-799VbdPnQuA/Tem9m0Y0xHI/AAAAAAAAAuQ/yyIecEBG7SA/s1600/104230502.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 201px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-799VbdPnQuA/Tem9m0Y0xHI/AAAAAAAAAuQ/yyIecEBG7SA/s400/104230502.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5614226885089477746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kemarilah, duduk di sebelahku dan mari kita berbincang seperti layaknya dua orang dewasa. Dua orang yang sudah paham benar apa itu hidup sehingga tidak lagi ada kata yang beramunisikan amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan kamu sama-sama sudah tahu bahwa dalam menuju ‘kita’ dibutuhkan banyak usaha. Diperlukan ribuan langkah berani untuk sekedar menjajal semua kemungkinan yang bisa dipertimbangkan. Dibutuhkan tidak hanya satu jalan karena jalan yang awalnya terlihat bisa saja berujung pada kebuntuan, atau ternyata jalan tersebut terjal sehingga menimbulkan sebuah ketidakmungkinan. Tapi aku dan kamu sama-sama berusaha, saling menggagas semua cara untuk sampai pada sebuah titik pemberhentian. Kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan kamu berproses. Saling meredam ego masing-masing, saling mengalah padahal mungkin sebetulnya tidak ada yang ingin merasa kalah. Tapi aku dan kamu melakukan itu, menghilangkan segala bentuk dominansi, sama-sama merasa memiliki tanggung jawab untuk sekedar membuat apa yang sudah dirintis setidaknya berguna. Tidak kemudian menjadi sia-sia karena terpentalkan oleh tindakan yang justru akan menjauhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sini, mari berbincang seperti layaknya dua orang dewasa. Dua orang yang sudah banyak pengalaman untuk urusan hati. Dua orang yang tidak akan saling mendendam ketika keadaan memaksa untuk melangkah mundur dan kemudian saling terpisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan menuju ‘kita’ proses mutlak dibutuhkan. Diperlukan aktivitas saling mengamati, menilik bagaimana sebetulnya kamu di mata aku dan sebaliknya. Proses saling mengenal karakter masing-masing untuk kemudian dipertimbangkan apakah memungkinkan untuk saling melangkah bergandengan. Dan itu tidak akan sebentar, dibutuhkan sedikit waktu ekstra untuk saling merefleksi. Saling meraba hati. Jadi jangan kamu umbar kata cinta terlalu dini, karena selayaknya manusia dewasa aku dan kamu sudah paham betul apa itu konsekuensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ternyata aku sekarang melangkah mundur, bukan berarti itu adalah keputusan yang tergesa-gesa. Bukan pula mengecilkan arti semua proses yang sudah kita jalani belakangan ini. Bolehlah kamu bilang aku menyerah, tapi aku merasa menyerah sekarang akan jauh lebih baik daripada nanti pada saat aku dan kamu sudah menjadi ‘kita’. Proses yang sudah aku dan kamu lewati ternyata tidak membawa ke sebuah titik nyaman, karena aku merasa banyak hal yang tidak bisa disatukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menutup mata, aku juga tahu benar kalau kamu merasakan hal yang serupa. Kamu hanya berusaha lebih, ingin memperbaiki ini dan itu sambil berjalan bergandengan. Kamu hanya ingin mempertaruhkan sesuatu yang sebetulnya kamu tidak yakin akan bermuara pada apa yang sebetulnya kita impikan. Aku tidak ingin seperti itu, karena pada akhirnya aku dan kamu hanya akan saling menyakiti. Dan aku tidak ingin menyakitimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita berbincang selayaknya dua orang dewasa. Kita bicarakan apa yang memang harus kita diskusikan. Tidak saling memaksakan keinginan apalagi kita sudah bisa mereka akhir cerita yang akan menghadang. Aku dan kamu berhak untuk bahagia, dan mungkin kebahagiaan tersebut harus diraih dengan menempuh jalan yang justru saling menjauhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak ingin hidup layaknya kelopak bunga, entah itu kelopak mawar atau justru kamboja. Indah sesaat yang kemudian luruh dan menjadi hiasan pusara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-2254938923129566028?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/2254938923129566028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=2254938923129566028&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2254938923129566028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2254938923129566028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/06/mari-berbincang.html' title='Mari Berbincang'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-799VbdPnQuA/Tem9m0Y0xHI/AAAAAAAAAuQ/yyIecEBG7SA/s72-c/104230502.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-2146390806555023163</id><published>2011-05-23T09:51:00.001+07:00</published><updated>2011-05-23T09:55:08.137+07:00</updated><title type='text'>Istriku Seorang Lesbian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-iLBeAvbo_0Q/TdnMTumOJ8I/AAAAAAAAAuE/97eiR5hz_gE/s1600/200556134-001.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 137px; height: 184px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-iLBeAvbo_0Q/TdnMTumOJ8I/AAAAAAAAAuE/97eiR5hz_gE/s400/200556134-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5609739450164586434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tenang, bukan saya yang mengalaminya karena saya memang belum menikah. Mungkin judulnya sangat propokativ, seperti halnya saya yang terprovokasi ketika melihat judul tulisan tersebut di salah satu tulisan majalah online sepoci kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai membaca artikel tersebut hati saya perih. Entah saya yang memang cemen atau terlalu mendalami artikel tersebut tapi kenyataannya saya memang sedih. Tidak habis pikir bagaimana seorang laki-laki yang baik kemudian disia-siakan dengan cara dimanfaatkan oleh seorang perempuan (baca : lesbian) untuk keluar dari sebuah masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan yang belum dikenalnya terlalu lama karena desakan dari pihak si perempuan. Setelah menikah mereka memutuskan untuk segera memiliki anak, dan beruntung sebulan setelah perkawinan si perempuan kemudian hamil. Semenjak kehamilan itu, si perempuan tidak lagi mau disentuh suaminya bahkan setelah kelahiran putri cantik mereka. Masalah tidak lantas selesai sampai disana karena setelah mempunyai anak, si perempuan menjadi lebih berulah yang pada akhirnya keluarlah pengakuan kalau dia adalah seorang lesbian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panjang kalau saya ceritakan bagaimana detailnya, tapi kalau mau baca cerita lengkapnya bisa dibaca &lt;a style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);" href="http://sepocikopi.com/2011/05/20/have-your-say-istri-saya-lesbian/"&gt;DISINI&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengerti bahwa dalam kultur kita, menikah adalah salah satu sarana membahagiakan orang tua. Menikah adalah jalan keluar dari serentetan pertanyaan panjang dari banyak orang yang kadang tidak berhenti mempertanyakan, meskipun kadang pernikahan bukan jawaban akhir dari sebuah pencarian kebahagiaan. Ini pendapat saya, jadi jangan terlalu dipermasalahkan karena bisa saja salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang orientasi seksual, saya juga tidak bisa menghakimi. Seseorang terlahir, tumbuh, besar dan berkembang dengan caranya sendiri-sendiri. Jadi ketika mereka sudah sadar benar dan menentukan orientasi seksualnya akan seperti apa, kenapa kita tidak berusaha untuk sekedar menghormatinya. Mereka yang telah memilih orientasi seksual yang mungkin menurut banyak orang tidak sesuai juga berhak memperjuangkan dan mendapatkan kebahagiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya adalah bagaimana memperjuangkan dan mendapatkan kebahagiaan itu. Bukan berarti untuk mendapatkan kebahagiaan, kita harus mengorbankan kebahagiaan orang lain. Kasus laki-laki yang berkeluh tentang istrinya yang seorang lesbian di atas adalah salah satu contoh ketidakbijaksanaan seseorang dalam mendapatkan kebahagiaannya. Apakah untuk membahagiakan kedua orang tua, jalan satu-satunya adalah menikahi laki-laki yang kemudian akan dia rusak kebahagiannya? Saya rasa tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya, ketika kita sudah memilih sesuatu termasuk orientasi seksual maka kita harus bertanggung jawab penuh terhadap pilihan kita tersebut. Saya yakin pada saat akhirnya memilih dan konsisten dengan pilihannya, semua konsekuensi sudah dipahami benar sehingga tidak adil ketika kemudian kita menghancurkan kebahagiaan orang lain hanya untuk sekedar mendapatkan sebuah kebahagiaan “semu”. Lagi-lagi ini menurut saya, jadi bisa jadi lagi-lagi salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat curhatan seorang sahabat lesbian yang orientasi seksualnya sudah diketahui orang tuanya tentang hidupnya yang sedang dihadapkan pada tiga opsi pilihan. Mencari pasangan pria dan menikah, memberi pengertian bahwa dia tidak akan menikah dalam waktu dekat, atau memilih egois dengan memutuskan untuk tidak mengabulkan permintaan orang tuanya yang mungkin adalah permintaan terakhirnya. Saya disana ketika dia dalam posisi sulit tersebut, tidak berusaha menginterferensi karena analisis saya mungkin akan salah. Saya hanya memberinya nasihat bahwa hidup dia harus dia yang memutuskan. Dia lebih tahu apa yang dia mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika dia balik bertanya kepada saya, akan mengambil langkah yang mana bila berada dalam posisi dia? Maka saya akan mengambil langkah yang pertama. Saya akan menikah, dengan pasangan yang saya lihat kualitas di dirinya bisa merubah saya ke arah yang lebih baik. Yang mungkin bisa memberi saya kebahagiaan lain yang selama ini saya menutup mata tentangnya. Pasangan yang juga bisa menumbuhkan usaha saya untuk mencintainya lahir batin, sampai mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan itu harus diperjuangkan, dan dalam prosesnya pantang untuk mengorbankan kebahagiaan orang lain yang sebetulnya tidak seharusnya terlibat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-2146390806555023163?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/2146390806555023163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=2146390806555023163&amp;isPopup=true' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2146390806555023163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2146390806555023163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/05/istriku-seorang-lesbian.html' title='Istriku Seorang Lesbian'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-iLBeAvbo_0Q/TdnMTumOJ8I/AAAAAAAAAuE/97eiR5hz_gE/s72-c/200556134-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-8145650019933334118</id><published>2011-05-19T08:01:00.001+07:00</published><updated>2011-05-19T08:01:02.132+07:00</updated><title type='text'>Sebuah Analogi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-xEX2upg-BQs/TdPT3vNiHlI/AAAAAAAAAt8/vkJYJObViv4/s1600/90079709.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 202px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-xEX2upg-BQs/TdPT3vNiHlI/AAAAAAAAAt8/vkJYJObViv4/s400/90079709.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5608058915525893714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Benda itu semakin berdebu seiring waktu. Tanpa pernah tersentuh, debu menumpuk ibarat karat yang menggerogoti hampir semua permukaannya. Mengaburkan sosok aslinya yang sebetulnya mengkilat dan berkilau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kehadirannya, benda itu tak pernah berpindah tempat. Tetap teronggok di atas meja seperti ketika pertama kali tiba. Kehadirannya dulu mungkin ambigu, didatangkan dengan fungsi yang jelas tapi entah untuk apa. Kalaupun akan disebut sebagai hiasan, benda tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai hiasan. Tapi baiklah, kita sebut saja dia sebagai hiasan meja. Penghuni salah satu sudut yang seringkali terabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mengerti kenapa dulu benda itu saya datangkan. Dari awal saya tahu kalau saya tidak akan menggunakannya sesuai fungsi. Kegiatan yang seharusnya melibatkan benda tersebut tidak pernah saya jamah, entah karena alasan kesehatan atau karena alasan karena saya memang tidak suka. Jadi kalaupun benda itu digunakan pasti akan melenceng jauh dari fungsi aslinya. Itupun dulu, sekarang dia sudah benar-benar terabaikan. Bak pesakitan yang hanya menempati sebuah pinggiran, dan berdebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar saya yang asosial membuatnya semakin tidak pernah terjamah peradaban. Mungkin dulu saya membelinya untuk berjaga-jaga kalau suatu hari kamar saya tidak lagi asosial, ada yang berkunjung kemudian membutuhkan kehadiran benda tersebut. Daripada mengotori ruangan, lebih baik saya menyediakan benda tersebut. Setidaknya membantu saya untuk tidak berjibaku dengan urusan membereskan kamar yang tidak saya suka. Tapi itu hanya sebatas teori. Sampai saat ini kamar saya masih asosial, dan benda itu tetap dingin mengigilkan kebisuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya saya pindahkan saja benda itu, atau kalau perlu saya buang sekalian. Tapi niat itu selalu urung sebelum eksekusinya benar-benar dilakukan. Saya masih berfikir bahwa suatu saat saya akan membutuhkan benda tersebut, entah akan sesuai dengan fungsinya ataupun tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sedikit ketidakrelaan di hati saya ketika harus sekedar menyingkirkannya. Entah kenapa, tapi rasanya berat. Seperti akan berpisah dengan sahabat lama yang sudah menemani saya bertransformasi. Sahabat yang menjadi saksi bisu tentang harapan-harapan yang saya umbar ke udara. Mungkin dalam ketidakterjamahannya, diam-diam dia mengucapkan amin atas semua doa yang saya ucapkan. Atau bisa jadi dia ikut berdoa tentang sesuatu yang akan membuatnya menjadi difungsikan. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemarin akhirnya saya menyerah. Saya buang benda itu ke dalam tempat sampah di depan kamar. Bukan karena saya mengubur semua impian yang berkenaan dengan benda tersebut, bukan juga saya ingin menyelamatkannya dari kesunyian panjang. Satu langkah ceroboh membuatnya membentur lantai dan menjadikannya serpihan. Umurnya tidak panjang, bahkan dia berakhir sebelum dia bertemu jodohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu kemudian saya berdoa, semoga saya tidak bernasib seperti asbak berdebu yang saya simpan di atas meja. Dipaksa menyerah oleh keadaan ketika belum bertemu dengan pasangan yang seharusnya. Sebatang rokok.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-8145650019933334118?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/8145650019933334118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=8145650019933334118&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8145650019933334118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8145650019933334118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/05/sebuah-analogi.html' title='Sebuah Analogi'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-xEX2upg-BQs/TdPT3vNiHlI/AAAAAAAAAt8/vkJYJObViv4/s72-c/90079709.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-4578182878262459831</id><published>2011-05-16T08:30:00.000+07:00</published><updated>2011-05-16T08:30:00.722+07:00</updated><title type='text'>Gamang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-YEssO0G3lpM/Tc_yWublbxI/AAAAAAAAAt0/RiSBIIFLauI/s1600/96376749.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 215px; height: 152px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-YEssO0G3lpM/Tc_yWublbxI/AAAAAAAAAt0/RiSBIIFLauI/s400/96376749.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5606966533334331154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kesimpulan obrolan saya dengan teman yang sedang berada di benua lain adalah : saya nggak tahu apa yang sebetulnya saya mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesederhana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan yang menyimpulkan rangkaian obrolan panjang melalui BBM itu juga saya. Jadi saya sebetulnya sudah tahu biang masalahnya, obrolan tersebut hanya bentuk penguatan opini saya terhadap diri saya sendiri melalui sudut pandang orang lain. Mungkin terlihat rumit, tapi jangan khawatir saya memang rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun saya butuh teman diskusi. Teman yang mengerti benar siapa saya, tahu (sedikit) mau saya seperti apa, dan teman yang ada bukan untuk menghakimi. Saya memiliki teman-teman seperti itu, teman-teman yang ternyata sudah bahagia dengan jalan yang mereka tempuh masing-masing. Teman-teman yang sudah sangat tahu apa mau mereka, dan kemudian memperjuangkannya. Saya ikut bahagia ketika perjuangannya membuahkan hasil seperti yang sekarang mereka alami. Saya senang meskipun akhirnya teman-teman tersebut seperti terenggut paksa dari cengkraman. Ada, tetapi tidak lagi nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya yang paling terlambat tahu, bahkan belum tahu sampai saat ini. Sebodoh itukah saya sampai-sampai tidak tahu apa yang saya mau dalam hidup ini. Tapi sepertinya bodoh tidak cocok untuk disandingkan dengan terlambat mengetahui keinginan dalam hidup. Kenapa? Karena menurut saya hidup tidak bisa dipelajari. Hidup hanya bisa dijalani kemudian kita belajar dari perjalanan tersebut. Memang apa bedanya? Silahkan cari tahu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saya masih gamang, bimbang menentukan jalan yang akan saya lewati kedepannya. Usia boleh hampir 30 tahun, tapi ternyata angka tidak mencerminkan kepandaian menentukan langkah yang seharusnya diambil. Otak dan hati saya seringkali tidak bisa diselaraskan. Mereka saling memblokir jalan yang awalnya sudah saya yakini untuk dilewati. Kalau seperti ini saya (lagi-lagi) terpuruk dan kembali ke titik nol. Bingung sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya orangnya memang banyak pertimbangan. Dan hal itu ternyata menyulitkan saya sendiri, memberatkan langkah kaki. Saya ingin menyenangkan orang-orang yang terlingkarkan dengan hidup saya, tapi ternyata tidak mudah kalau dengan cara yang saya punya. Mau tidak mau saya harus menyelaraskan berbagai kepentingan dengan kebahagiaan saya. Kalau sudah seperti ini ingin rasanya menetas menjadi egois. Tidak banyak mempertimbangkan orang lain dan hanya memperjuangkan kebahagiaan saya. Sayang saya tidak seberani itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi salahkan saya saja kalau memang ternyata sampai sekarang saya belum tahu apa yang sesungguhnya saya mau. Banyak keinginan yang bertentangan dengan norma, banyak harap yang bertabrakan dengan dosa. Dan itu yang kemudian membuat gamang saya semakin kronis, semakin mengaburkan apa yang pernah dan masih tergambar jelas di ujung penglihatan. Saya ingin bahagia, saya ingin kedua orang tua saya bahagia, saya ingin semua pihak yang langsung beririsan dengan saya juga merasa bahagia. Andai semuanya bisa saya sederhanakan dalam sebuah persamaan matematika yang mudah dipecahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi katanya bukan hidup kalau tidak banyak pertentangan. Bukan hidup kalau tidak pernah bingung ketika sampai pada sebuah persimpangan. Jadi saya hanya akan berusaha menjadi lebih bijaksana, menggunakan bukan saja takaran saya ketika menilai sesuatu tapi juga takaran orang lain dan mungkin Tuhan. Memang saya sudah berhenti mempertanyakan kepada Tuhan sejak lama, tapi saya yakin Dia selalu bekerja dengan cara yang tidak saya sangka-sangka. Saya hanya perlu percaya dan meyakini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi bijaksana itu adalah hasil sebuah pembelajaran panjang. Buah dari mengurai kusutnya sebuah jalinan yang dinamakan hidup. Saya belajar untuk terus menjadi lebih bijaksana setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya yang lain melalui BBM pernah bilang kalau saya beruntung karena diberi anugerah menjadi bijaksana seiring dengan bertambahnya usia. Tidak semua orang bisa memaknai hidup secara bijaksana meskipun umurnya bergerak ke arah senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum kemudian membalas BBM-nya. “Kalaupun saya memang diberi anugerah berupa kebijaksanaan, bolehkah saya tukarkan kebijaksanaan yang saya punya dengan sebuah sosok nyata yang akan saya panggil pacar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENDADAK HENING&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-4578182878262459831?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/4578182878262459831/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=4578182878262459831&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4578182878262459831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4578182878262459831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/05/gamang.html' title='Gamang'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-YEssO0G3lpM/Tc_yWublbxI/AAAAAAAAAt0/RiSBIIFLauI/s72-c/96376749.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-8153167647803204144</id><published>2011-05-05T06:44:00.000+07:00</published><updated>2011-05-05T06:44:00.547+07:00</updated><title type='text'>Melogikakan Hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Wih4aC7VGgU/TcDaUg79j0I/AAAAAAAAAtk/iGhKmp1HzHM/s1600/92296059.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 146px; height: 201px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Wih4aC7VGgU/TcDaUg79j0I/AAAAAAAAAtk/iGhKmp1HzHM/s400/92296059.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602717982422568770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mereka sedang duduk berdampingan, sesekali saling berpandangan dan salah satu dari mereka kemudian tersenyum. Saya melihat pancaran yang sama dari kedua mata mereka, saling mengirimkan pesan tanpa suara. Berpendar dalam area temaram yang diciptakan suasana malam. Seperti kembang api yang memercik perlahan tapi tetap indah menghiasai hitam sebagai layarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih terpaku memandang apa yang tersaji dengan begitu jelas di hadapan. Tidak bisa bergerak seakan tersihir oleh keindahan yang terpampang tanpa riasan. Tanpa bermaksud merusak jalan cerita, saya mendekati mereka setelah berusaha menguatkan hati. Meyakinkan diri bahwa apa yang saya tengah lakukan adalah sesuatu yang benar. Hal yang tidak akan saya sesali kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya hadir di hadapan mereka, salah satu dari mereka berdiri kemudian memeluk saya dengan erat seperti layaknya dua orang sahabat yang sudah lama tidak berjumpa. Saya tenggelam sesaat dalam pelukannya, sesaat yang ternyata menghasilkan getar sama seperti beberapa tahun lalu. Hati saya hangat. Hati saya seperti diganjar hujan setelah dilanda kemarau berkepanjangan. Saya merasa menemukan sesuatu yang pernah hilang. Sesuatu yang pernah saya relakan terlindi ke dalam saluran ketika badai datang memporakporandakan. Mengoyak impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan tersadar, saya beringsut keluar dari dekapan. Melogikakan keadaan bahwa saya sebetulnya hanya terbuai angan yang pernah singgah. Saya kemudian tersenyum kepada seseorang yang sedari tadi memandangi ketika kami saling berlekatan, mengulurkan tangan kemudian mengucapkan nama saya sendiri. Dia menyambut uluran tangan saya dan menyebutkan namanya. Dari bibirnya senyum tidak pernah lepas tersungging, dan hati saya tidak pernah lepas membatin. Betapa beruntungnya dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertiga kemudian kami terlingkarkan dalam obrolan yang tidak jelas juntrungannya. Mereka seakan lebih sering saling melempar senyum, dan saya lebih banyak diam. Meraba hati saya sendiri mungkin tepatnya. Sesekali mereka saling menggenggam tanpa ada rasa canggung, sementara saya seperti dipaksa melihat tontonan yang sebetulnya saya tidak suka. Entah kenapa tiba-tiba saya merasa cemburu padahal dari awal saya tahu benar kalau saya di luar irisan. Saya sudah meyakinkan dari awal bahwa ini hanya sebuah kegiatan memenuhi undangan tanpa ada bumbu perasaan. Saya sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk yang terburuk sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya salah, lagi-lagi saya salah. Bagaimanapun saya tidak bisa mendustai nurani, saya gagal melogikakan perasaan. Saya gagal memagari hati untuk tidak keluar dari batasan yang sudah saya tentukan. Hati dengan caranya sendiri bertamasya hilir mudik dalam lintasan yang dulu pernah saling menghubungkan, melindas bekas luka yang saya pikir telah sembuh benar. Dari bekas luka itu ternyata masih mengeluarkan aroma cemburu, menguak kisah masa lalu yang sebetulnya sudah benar-benar usai. Tanpa ada lagi urusan yang belum genap terselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu saya menulis di account twitter pribadi saya : “Apa yang akan kamu lakukan ketika mantan pacar mengajak bertemu untuk memperkenalkan pacar barunya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak respon yang menanggapi dan hampir semuanya menyarankan saya untuk tidak memenuhi undangan tersebut. Semua teman mengkhawatirkan dampak dari pertemuan itu. Tapi saya bergeming. Saya merasa bahwa yang sudah berakhir pasti akan berakhir tanpa meninggalkan perasaan apa-apa, terlebih perpisahan yang  dulu disepakati didasari oleh kesadaran beramunisi penuh. Saya mengabaikan  kekuatan napak tilas rasa, mengabaikan kenyataan bahwa perasaan sering kali ingkar terhadap apa yang diperintahkan kesadaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam saya bertemu dengan dia dan kekasih barunya. Si mata segaris yang pernah mengisi kompartemen khusus di hati dan kepala saya. Si mata segaris yang (lagi-lagi) membuat saya gagal  melogikakan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;Apisindica - Untuk memahami postingan ini diperlukan membaca sebanyak : 1-2 kali&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-8153167647803204144?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/8153167647803204144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=8153167647803204144&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8153167647803204144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8153167647803204144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/05/melogikakan-hati.html' title='Melogikakan Hati'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Wih4aC7VGgU/TcDaUg79j0I/AAAAAAAAAtk/iGhKmp1HzHM/s72-c/92296059.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-7711280079595476008</id><published>2011-05-02T06:03:00.000+07:00</published><updated>2011-05-02T06:03:00.546+07:00</updated><title type='text'>Siklus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-dLep2NyJdmk/TbvQ349rrmI/AAAAAAAAAtc/JuOFytF7IiQ/s1600/99054805.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 219px; height: 147px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-dLep2NyJdmk/TbvQ349rrmI/AAAAAAAAAtc/JuOFytF7IiQ/s400/99054805.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5601300220167827042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di dunia ini semuanya bersiklus, mengikuti alur yang itu-itu saja. Bisa jadi kita sendiri yang menjalani putarannya atau justru orang lain yang mengikuti lintasan yang pernah kita lewati sebelumnya. Tanpa kita sadari ternyata kita mengikuti alur yang sudah pernah orang lain lalui, dan banyak orang di luaran sana yang juga mengikuti kita. Dunia memang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah beberapa teman yang membuat pengakuan kalau mereka rajin mengikuti tulisan-tulisan saya di blog ini. Kalaupun mereka baru menemukan blog saya, mereka kemudian tidak keberatan untuk membacanya dari awal. Bayangkan, mereka membaca setiap postingan yang jumlahnya sudah sekian ratus. Entah untuk apa. Entah karena penasaran, entah karena tertarik atau justru karena mereka seperti sedang berkaca. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja jumawa kalau saya mengakui ternyata ada selintas bangga yang muncul di hati saya. Bangga karena ternyata tulisan-tulisan saya yang seringnya berisi curhatan ala ABG, tulisan penuh drama, ada yang mengapresiasi sedemikian rupa. Bangga ketika mengetahui bahwa kemuraman yang seringkali saya bagi ternyata bisa membuat orang lain tersenyum karena mereka merasakan hal yang serupa. Untuk saya apresiasi tersebut adalah bonus dari konsistensi  dalam menulis meskipun tujuan utama menulis buat saya adalah membuat testimoni. Bukti jalanan yang pernah saya titi ketika saya mengikuti sebuah titah takdir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin banyak dari kita yang akan menyangsikan ketika ada orang yang mengaku bahwa telah mengikuti tulisan kita sejak lama. Bisa saja orang tersebut hanya melakukan lip service untuk dekat dengan kita atau apalah. Tapi saya tidak. Saya yakin ketika ada seseorang yang bercerita bahwa dia sudah membaca postingan-postingan kita sejak lama, artinya mereka memang melakukannya. Apa saya terlalu naif? Saya pikir tidak. Kenapa? Karena dulu saya juga melakukan hal yang sama. Mengikuti kehidupan seseorang perantaraan tulisannya di blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang telat mengenal blog. Baru pada awal tahun 2008 saya mengetahui eksistensi blog dan sejak saat itu saya seperti memiliki kewajiban baru. Menulis. Perkenalan saya dengan blog juga diperantarai sebuah buku yang sebetulnya berisi kumpulan postingan seorang penulis di blog pribadinya. Blog tersebut yang kemudian menjadi salah satu blog favorit saya, blog yang menginspirasi saya tiada henti. Melalui tulisan-tulisannya saya berkaca, perantaraan kalimat-kalimat di blognya saya kemudian merasa tidak kesepian. Tidak merasakan berat beban yang sedari dulu saya pikul sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal perkenalan, saya menyempatkan waktu hampir setiap hari menyambangi blognya. Membaca dari awal postingannya yang jumlahnya sudah ratusan, dan saya tidak pernah lelah karena di akhir kunjungan saya selalu tersenyum atau paling tidak mengelus dada. Sebuah hiburan yang seperti mengangkat kisah hidup saya sendiri melalui tangan orang lain. Dari sana saya kemudian mencoba membuat cerita saya sendiri melalui tangan saya. Tidak ada niatan untuk dijadikan cerminan bagi orang lain, saya hanya ingin menjadi penulis kisah hidup saya sendiri. Tapi ketika kemudian ada yang tidak sengaja membaca dan merasa seperti cerita mereka, maka saya bersyukur karena saya bisa membuat orang lain tersenyum melalui prosa yang saya umbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengerti benar kalau tulisan saya sering kali muram. Berisi lebih banyak kesedihan dibandingkan kebahagiaan. Tapi kalau ada diantara kalian para silent reader, yang tidak pernah meninggalkan jejak di setiap kunjungannya, merasa ada kesamaan dengan apa yang kalian pernah atau sedang alami. Saya hanya ingin berbagi dan bukan meratapi kesedihan dengan berkepanjangan. Jangan kemudian berpikir bahwa ketika saya sedih maka saya akan berketerusan dan menyebarkan aura muram. Seringnya setelah menulis cerita yang sedih saya menjadi seperti dipulihkan. Menulis sesuatu yang sedih untuk saya adalah sebuah terapi untuk lepas dari kesedihan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila nanti, suatu hari, ketika membaca sebuah postingan di blog ini kemudian merasa ingin berbagi, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya. Saya siap berbagi, saya siap mendengarkan. Dan saya janji tidak akan menghakimi. Jangan mengulang kesalahan saya ketika dulu tidak berusaha mengontak sang inspirasi blog saya ini karena dibelenggu malu. Saya siap berbagi karena bukan saya merasa lebih tapi justru karena saya merasa bukan siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;Apisindica - Untuk memahami postingan ini diperlukan membaca sebanyak : 1-2 kali&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-7711280079595476008?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/7711280079595476008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=7711280079595476008&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/7711280079595476008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/7711280079595476008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/05/siklus.html' title='Siklus'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-dLep2NyJdmk/TbvQ349rrmI/AAAAAAAAAtc/JuOFytF7IiQ/s72-c/99054805.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-1015026780039807570</id><published>2011-04-28T13:50:00.003+07:00</published><updated>2011-04-28T13:54:03.283+07:00</updated><title type='text'>Getting Old</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-makMTe0mVjQ/TbkOyHE9nsI/AAAAAAAAAtU/p0ZcfdVgazo/s1600/104888728.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 132px; height: 198px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-makMTe0mVjQ/TbkOyHE9nsI/AAAAAAAAAtU/p0ZcfdVgazo/s400/104888728.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5600523865668034242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bagaimanapun umur tidak akan bisa dibohongi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu bagian dari buku kicau kacaunya Indra Herlambang, dia pernah menulis kalau dia sempat ketiduran di sofa ketika sedang dugem. Jujur, saya sempat mentertawakannya. Bagaimana mungkin bisa tertidur ketika suasana sangat ramai bahkan seringnya lebih ramai dari pasar malam. Berasa tidak masuk akal, meskipun ada teman saya si dokter itu yang juga bisa tertidur dimanapun termasuk tempat dugem. Alasannya sih cape habis jaga, tapi apapun itu tetap berasa aneh buat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemarin hal yang sama terjadi pada saya, memang sih bukan ketiduran di tempat dugem tapi sesuatu yang tetap membuat saya berpikir bahwa umur memang tidak bisa dibohongi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal semangat yang menggebu dengan beberapa teman, kami berniat untuk menghentak lantai dansa di Bandung. Mumpung bisa kumpul semua pas long week end dan merayakan selesainya UAN salah satu teman. Iya, UAN. Lihatlah bagaimana kami semua meracuni anak yang baru (akan) lulus SMA dengan dugem untuk  merayakan keberhasilannya melewati UAN. Tapi sumpah, dia yang ingin ikut kok. Bahkan dia yang paling semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sih tertarik karena memang sudah beberapa bulan ini saya berhenti dari aktivitas yang sempat membuat saya kecanduan. Jadi semacam ritual mengenang masa kejayaan pikir saya, apalagi tempat yang akan kami datangi belum pernah saya datangi sebelumnya. Maka saya menerima ajakan teman-teman saya untuk menjajal (kembali) dunia pergaulan malam Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sebut Apis kalau misalnya tidak asik sendiri ketika DJ memainkan musiknya. Ini jugalah yang sering dikomplain teman-teman, katanya bagaimana mau dapet pasangan di dugeman kalau suka asik sendiri pas ‘goyang’.  Igh, saya tidak pernah nyari pacar atau pasangan di dugeman yah. Tapi kalau ada yang nyantol &lt;span style="font-style:italic;"&gt;itumah &lt;/span&gt;saya anggap bonus meskipun saya yakin benar kalau bonusnya tidak akan pernah bertahan lama. Jadi seringnya saya anggap seperti dapet hadiah uang gopean dari dalam kemasan chiki. Hiburan sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin di tengah euphoria massa, di tengah musik yang memekakkan telinga, ketika peluh sudah membasahi hampir seluruh badan, tiba-tiba saya berhenti. Saya seperti menjejak tanah setelah mengawang, tanpa awahan. Tanpa persiapan. Dan saya merasakan bosan yang luar biasa, bosan layaknya didera rutinitas yang itu-itu saja. Saya seperti berada di luar dunia saya, tersingkir begitu saja dari antrian. Saya kehilangan semua nafsu dan semangat saya untuk melanjutkan pesta malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bergerak ke area bar di pinggiran kemudian membisikan keinginan untuk pulang pada salah seorang kawan. Saya benar-benar kehilangan keinginan untuk berpesta, entah karena apa padahal malam rasanya masih sangat panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak biasanya hal seperti itu terjadi, saya adalah pecandu pesta. Orang terakhir yang mungkin akan pulang setelah pesta benar-benar usai. Tapi itu dulu, ketika usia saya masih belia. Ketika tidak banyak beban yang berlarian di kepala untuk dituntaskan. Sekarang berbeda, pesta mungkin bukan lagi dunia saya. Dunia gemerlap bukan lagi tempat untuk berlari dari kejenuhan perasaan. Dan semuanya pasti karena satu hal, saya sudah beranjak tua. Dan umur tidak bisa dibohongi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;Apisindica - Untuk memahami postingan ini diperlukan membaca sebanyak : 1 kali&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-1015026780039807570?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/1015026780039807570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=1015026780039807570&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1015026780039807570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1015026780039807570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/04/getting-old.html' title='Getting Old'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-makMTe0mVjQ/TbkOyHE9nsI/AAAAAAAAAtU/p0ZcfdVgazo/s72-c/104888728.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-204671743034429106</id><published>2011-04-25T22:04:00.001+07:00</published><updated>2011-04-25T22:29:39.092+07:00</updated><title type='text'>Mengenang Sang Dokter</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-AdpeEbvb_kw/TbWTJM6z3EI/AAAAAAAAAtM/GL7By90nYeM/s1600/95630097.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 148px; height: 187px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-AdpeEbvb_kw/TbWTJM6z3EI/AAAAAAAAAtM/GL7By90nYeM/s400/95630097.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5599543498001079362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya pertama kali mengenalnya sekitaran tahun 2000. Perkenalan profesional antara dokter dengan pasiennya. Waktu itu wajah saya dipenuhi jerawat, mungkin sedang puber sehingga ada ketidakseimbangan hormon yang menyebabkan tumbuhnya banyak jerawat. Saya memilihnya menjadi dokter kulit saya karena tempat prakteknya yang tidak jauh dari rumah dan waktu prakteknya yang malam. Saya bisa berobat sepulang kuliah, pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya saya lupa bagaimana rupanya waktu itu, tapi ada yang membuat saya terkesan. Mungkin marah atau kecewa tepatnya. Saat saya berkonsultasi, dia hanya megarahkan senter ke wajah saya kemudian mengeluarkan dua pertanyaan. Apakah saya punya pacar dan suka keluar malam. Dua pertanyaan yang saya jawab dengan iya. Setelah itu dia menuliskan resep dan memberikan saya tagihan yang lumayan mahal untuk kantong mahasiswa jaman itu. Saya marah bukan karena harganya yang mahal, saya marah karena dia tidak sedikitpun memegang saya. Saya pikir kalau hanya bertanya punya pacar dan suka keluar malam, pembantu saya juga bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi obatnya mujarab, dan itu menghapus kemarahan saya. Dan karena obat yang diberikannya manjur saya tidak pernah lagi mengunjunginya.Tidak pernah lagi melakukan kontak secara profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2004, ketika saya mengambil program Magister saya bertemu dengan seorang teman yang kemudian menjadi sahabat terbaik saya, sampai sekarang. Namanya Diana Veranita. Suatu waktu dia bercerita kalau ibunya adalah seorang dokter kulit, dan mengalirlah kisah saya dengan dokter kulit di tahun 2000 itu. Tanpa diduga ketika dia menyebutkan tempat praktek ibunya, dan saya menyebutkan nama dokter kulit saya ternyata orangnya sama. Dokter kulit saya adalah ibu dari Diana Veranita, sahabat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak itu, hubungan saya dengan dokter kulit itu terjalin lagi meskipun bukan secara profesional apalagi setelah pernikahan sahabat saya dimana saya menjadi MC nya. Saya semakin dekat dengan keluarganya, saya semakin dekat dengan Mami, panggilan saya kemudian kepada dokter kulit itu. Kami menjadi akrab satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keakraban saya semakin bertambah ketika Mami dan ibu saya ternyata bekerja di rumah sakit yang sama. Mereka sering terlibat perbincangan yang intim khas ibu-ibu, apalagi kalau bukan soal anak-anaknya. Mami sering bercerita tentang harapannya kepada anak-anaknya dan Ibu saya juga demikian. Mungkin harapannya itu akan tersampaikan ke kedua belah pihak karena saya sering ngobrol dengan anak-anaknya Mami, begitupun mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan lalu Mami sakit, dia sempat jatuh dan kepalanya membentur piano sehingga mengalami pendarahan. Sejak itu kondisinya menurun meski sudah keluar dari rumah sakit. Dengan alasan selalu pusing, Mami tidak mau beranjak dari tempat tidurnya dan melakukan semua aktivitasnya di atas tempat tidur. Saya pikir kondisinya akan membaik mengingat semangat kerjanya yang masih tinggi, tapi saya salah. Tuhan punya rencana lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat kemarin, 22 April 2011. Mami dipanggil Allah di usianya yang 72 tahun. Mami menyerah pada penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Mami berpulang karena mungkin sudah menyelesaikan semua tugasnya, buat anak-anak dan keluarganya. Saya mungkin orang luar tapi saya merasa memiliki kedekatan tersendiri dengan Mami, dan saya bisa merasakan semangat juangnya bagi keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalam Mami, semoga Mami mendapat tempat yang paling baik di sisi Allah dan mendapatkan kelapangan dalam menuju surga-Nya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang, dr. Sri Werdari, Sp.KK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Notes: Pertemuan saya terakhir dengannya sekitar 2 minggu yang lalu. Waktu saya menjenguknya, dia sedang makan rempeyek. Kami ngobrol sangat akrab berdua di kamar mengenai hal ini dan itu sambil saya usap-usap tangannya. Terakhir ketika saya akan pamit pulang, dia bilang : “Pis, Mami pengen kepiting canary” Dan saya bilang nanti kalau saya ada tugas ke Balikpapan saya pasti akan bawakan. Maafkan Mi, saya belom sempat membawakannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Apisindica : untuk memahami postingan ini diperlukan membaca sebanyak : 1 kali&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-204671743034429106?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/204671743034429106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=204671743034429106&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/204671743034429106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/204671743034429106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/04/mengenang-sang-dokter.html' title='Mengenang Sang Dokter'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-AdpeEbvb_kw/TbWTJM6z3EI/AAAAAAAAAtM/GL7By90nYeM/s72-c/95630097.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-46658070196738130</id><published>2011-04-21T07:59:00.000+07:00</published><updated>2011-04-21T07:59:00.986+07:00</updated><title type='text'>Polisi vs Ulat Bulu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-VvwZ0V_f5Cg/Ta8SGcXsoJI/AAAAAAAAAtE/FfmeJ79kdPI/s1600/sb10069281j-001.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 186px; height: 186px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-VvwZ0V_f5Cg/Ta8SGcXsoJI/AAAAAAAAAtE/FfmeJ79kdPI/s400/sb10069281j-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597712763748917394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Indonesia belakangan ini dilanda demam 2 hal, Briptu Norman Kamaru dan Ulat bulu. 2 Hal yang tentu saja berlainan tetapi menyita perhatian sama besarnya. Saking besarnya perhatian masyarakat, dapat dengan mudah menenggelamkan BESARnya kasus Malinda Dee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya apa sih hebatnya Norman Kamaru atau ulat bulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Norman, seorang polisi brimob dari Gorontalo yang tiba-tiba terkenal karena vidio lipsync indianya di you tube. Sebentar, saya harus mengucapkan terima kasih dulu pada Norman karena berkat dia saya jadi tahu kalau Gorontalo itu sekarang sudah jadi provinsi dan bukan lagi sebuah kota kecil. Boleh bilang saya ketinggalan jaman, atau salahkan pengetahuan geografi saya yang dari jaman sekolah memang tidak pernah bagus. Sudahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa istimewanya sebuah video lipsync yang kemudian diunggah ke situs youtube? Seharusnya tidak ada kan? (dilafalkan dengan nada sirik dan mata yang memincing). Banyak orang sebelum Norman yang sudah melakukannya, tapi kenapa tidak sespektakuler Norman? Kenapa tidak membuat orang-orang tersebut menjadi “selebritis” dadakan seperti halnya Norman? Jangan bilang masih ada yang tidak mengenal siapa itu Norman Kamaru! Kalau belum tahu siapa dia, segera nyalakan televisi. Dari stasiun tv favorit sampai stasiun tv lokal semuanya mengulas tentang dia,dan tiap hari. Saya ulangi, tiap hari, seakan setiap kegiatannya harus diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia (Ya, saya kembali nyinyir yang mungkin dibumbui sedikit sirik lagi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian tergelitik untuk bertanya, meski saya tidak tahu kepada siapa saya harus bertanya. Sebegitu kurangnyakah sosok yang bisa diidolakan oleh masyarakat Indonesia? Sebegitu hausnyakah orang-orang tersebut terhadap sosok panutan yang bisa dijadikan semacam “pahlawan”? Terus terang saya miris, sumpah kali ini saya tidak sirik. Saya miris karena ternyata masyarakat kita masih terjebak dalam paradigma dangkal yang justru reaktif terhadap hal-hal yang sebetulnya tidak perlu. Mungkin saya apatis, tapi lihat apakah masyarakat mengelu-elukan juga pemenang olimpiade biologi internasional misalnya seperti yang mereka lakukan kepada Norman? Saya yakin semua juga tahu jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi (mungkin) Norman Kamaru memang sosok yang berbeda. Spesial karena dia berasal dari kelompok yang tidak biasa. Seorang polisi yang biasanya penuh wibawa kali ini tampil dengan tingkah pecicilan atau banci tampil kalau boleh saya meminjam istilah salah satu presenter di televisi swasta. Dan kalau banyak yang terhipnotis dengan kehadirannya, mungkin saya bisa bilang karena dia man in a uniform. Siapa sih yang tidak mengidolakan man in a uniform? Bahkan banyak kalangan yang masih memiliki fantasi “liar” terintimidasi oleh man in a uniform. Hayo yang merasa tersindir pada angkat tangan!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ya sudahlah, mungkin rezekinya Norman juga. Lebih baik kita mendoakan dia supaya tetap menjadi pribadi yang katanya sederhana. Tidak silau oleh popularitas yang sekarang memayunginya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan ulat bulu? Fenomena binatang menggelikan itu juga menyedot perhatian khalayak. Mungkin tidak masuk nalar bagaimana binatang itu bisa mengalami ledakan populasi sampai ratusan ribu jumlahnya di suatu daerah. Tapi ketika dikaitkan dengan anomali alam, siapa yang bisa menyangkalnya. Alam punya bahasa sendiri untuk bereaksi terhadap ketidaknormalan situasi yang tengah terjadi, ledakan populasi ulat bulu salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau satu mungkin masih bisa dibilang lucu, tapi ketika jumlahnya sudah ratusan ribu kesannya jadi horor. Dan terus terang saya geli melihat ulat bulu meskipun tidak jijik. Hal tersebut juga membuat saya bertanya kenapa dulu waktu jaman kuliah ngambil mata kuliah entomologi yang salah satu materinya tentang ulat bulu. Pernah untuk kepentingan praktikum saya keluar masuk kebun untuk mengumpulkan beragam jenis ulat, dan saya tidak keberatan. Tapi ketika jumlahnya sudah di luar nalar melihanya saja nyali saya menciut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hubungan Norman dengan ulat bulu? Tidak ada sebenarnya, terlepas dari Norman mungkin mempunyai “ulat bulu” atau tidak (apasih?). Tapi ternyata apabila dikaitkan bisa kita temui benang merahnya. Karena booming ulat bulu ini, banyak peneliti yang berusaha memecahkan masalah tersebut. Mereka berlomba-lomba mengeluarkan “senjata” rahasia mereka untuk penanggulangan ulat bulu ini tidak terkecuali saya. Dan mungkin ada harapan apabila berhasil bisa terkenal di seantero Indonesia. Oh please, itu mungkin hanya ada di pikiran saya yang sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu lalu saya dikirim kantor ke Probolinggo untuk mencermati fenomena ini sambil membawa senjata tentu saja. Kebetulan di laboratorium yang saya kelola, saya mengembangkan cendawan entomopatogen untuk memberantas hama tanaman. Yang tidak mengerti cendawan entomopatogen itu apa, silahkan googling di wikipedia (bercanda). Cendawan entomopatogen adalah cendawan yang akan menginfeksi tubuh serangga termasuk ulat bulu bila terjadi kontak langsung dan kemudian membunuhnya perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efektivitasnya cendawan entomopatogen yang saya kembangkan untuk ulat bulu yang sedang merajalela di lapangan memang belum diketahui, tapi kemarin saya sudah menyebarnya di titik-titik booming. Sampai sekarang masih monitoring, dan jangan berharap prosesnya akan instan seperti halnya zat kimia. Rekasinya memang perlahan tetapi ramah lingkungan (pasang selendang green peace) dan user friendly. Jadi kita tunggu saja hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditanya apa yang saya harapkan? saya berharap formulasi saya berhasil menekan perkembangbiakan ulat bulu tersebut , sehingga memutus siklus metamorfosisnya. Hanya itu? Tidak. Saya juga berharap lain. Kalau berhasil memecahkan masalah tersebut, saya juga berharap akan terkenal tanpa harus merekam video lipsync semacam lagu India Chaya-Chaya dan kemudian mengunggahnya ke youtube seperti yang dilakukan Norman. Tapi kalau ternyata meskipun saya berhasil tetapi tidak menjadi pusat perbincangan masyarakat seperti halnya Norman bagaimana? Ya sudahlah mungkin memang nasib saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Note: Ditulis ketika kepala sedang diduduki beban kerjaan sebesar Gajah bunting kembar 10 dan mengalami eklampsia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;Apisindica – Untuk memahami postingan ini diperlukan membaca sebanyak : 1 kali&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-46658070196738130?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/46658070196738130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=46658070196738130&amp;isPopup=true' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/46658070196738130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/46658070196738130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/04/polisi-vs-ulat-bulu.html' title='Polisi vs Ulat Bulu'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-VvwZ0V_f5Cg/Ta8SGcXsoJI/AAAAAAAAAtE/FfmeJ79kdPI/s72-c/sb10069281j-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-4346163037400020086</id><published>2011-04-18T10:39:00.001+07:00</published><updated>2011-04-18T10:41:22.015+07:00</updated><title type='text'>5  Tahun Lalu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-CbxuA9keNOE/Tauytw1zquI/AAAAAAAAAs8/81Fa_Cp6ABM/s1600/83266446.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 136px; height: 206px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-CbxuA9keNOE/Tauytw1zquI/AAAAAAAAAs8/81Fa_Cp6ABM/s400/83266446.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5596763461212416738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari ini, tepat 5 tahun yang lalu dia masih berada di kampusnya. Kampus yang menurut dia bisa mengantarkannya pada pintu-pintu realisasi mimpi masa kecilnya. Di kampus itu dia tumbuh menjadi dewasa melalui pembelajaran yang tidak hanya soal materi tapi juga soal hidup. Di kampus itu dia kemudian mengerti bahwa kenyataan hidup ternyata tidak semudah apa yang didikte oleh otak polosnya. Hidup tidak pernah gampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, tepat 5 tahun yang lalu dia sampai pada salah satu pintu impiannya. Satu pintu dari sekian serial pintu yang harus dia lewati untuk mewujudkan impiannya. Pintu-pintu yang menurut kebanyakan orang terlalu muluk untuk diwujudkan, terlalu memaksakan bila harus dilalui dalam rentangan waktu yang telah dia bataskan. Tapi dia bergeming, dia percaya dengan kekuatan doa dan usaha dia pasti akan mampu melewati pintu-pintu itu satu per satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, tepat 5 tahun lalu, saat usianya masih terbilang cukup muda dia membuktikan bahwa ternyata dia bisa. Mendobrak ketakutan yang membelenggunya dan keluar sebagai pemenang. Tidak untuk orang lain, dia menjadi pemenang untuk dirinya sendiri. Mengalahkan stigma dan ego yang memberondongnya dengan berbagai keniscayaan yang mustahil untuk diwujudkan. Dia berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan pengujinya hari itu, dia menggunakan pakaian terbaiknya. Pakaian yang mungkin dia cari lebih lama dari lama waktu penulisan karya ilmiahnya.  Hari itu, di depan para penguji dia mempertahankan hasil penelitiaanya. Dengan sedikit gemetaran pada awalnya, dia berargumen mengenai ini dan itu untuk membuktikan kesahihan teori yang dia hasilkan. Sekuat tenaga dia memutar otak ketika mendapatkan pertanyaan yang memaksanya mengingat lebih lama, semisal bahwa reaksi antara asam laktat dan alkohol akan menghasilkan senyawa baru bernama ester. Sayang dia lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, tepat 5 tahun lalu disaat usianya masih 24 tahun dia lulus sidang S2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu mimpinya kembali terealisasi. Sesuai dengan target hidup yang sudah dia tentukan. Menurutnya hidup harus memiliki target agar dia terpacu untuk berusaha lebih keras. Tidak menyerah ketika banyak kegagalan. Dan hari itu target untuk lulus S2 ketika usianya 24 tahun terwujud setelah target sebelumnya untuk lulus S1 di usia 21 juga terwujud. Hari itu dia berhasil (lagi) melewati satu pintu impiannya. Meretas asa yang menurut banyak orang entah untk apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, ketika usianya mendekati angka 30 dia belum juga beranjak. Target untuk merampungkan S3 di usia 30 sepertinya tidak akan terwujud. Hari ini, 5 tahun lalu dia pernah berikrar pada dirinya sendiri untuk meraih gelar doktornya di usia paling tidak 30. Tapi ternyata kali ini dia gagal membuktikannya. Dia mengaku kalah pada target yang pernah dia tulis di kertas semangatnya. Tapi dengan kalah tidak berarti kemudian dia memadamkan semangatnya, dia tidak menyerah. Dia hanya merevisi ulang target hidupnya karena ternyata jalan hidup lagi-lagi tidak mudah. Banyak hal yang bisa saja menjadi rintangan untuk sekedar mewujudkan sebuah idealisme. Yang penting dia tidak pernah menyerah. Itu sudah jauh dari cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, 5 tahun lalu, saya, Apisindica pernah berjanji untuk menjadi seorang doktor. Dan hari ini, 5 tahun kemudian, Saya Apisindica tetap berjanji untuk mewujudkan keinginanannya menjadi seorang doktor meskipun tidak lagi pada koridor yang sama yang dulu pernah dia bayangkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong bantu saya dengan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Apisindica – Untuk memahami postingan ini dibutuhkan membaca sebanyak : 1 kali&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-4346163037400020086?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/4346163037400020086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=4346163037400020086&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4346163037400020086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/4346163037400020086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/04/5-tahun-lalu.html' title='5  Tahun Lalu'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-CbxuA9keNOE/Tauytw1zquI/AAAAAAAAAs8/81Fa_Cp6ABM/s72-c/83266446.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-6902941011082983035</id><published>2011-04-14T07:38:00.000+07:00</published><updated>2011-04-14T07:38:00.149+07:00</updated><title type='text'>Saya Tidak Tahu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-65VKuFM8pWQ/TaMwplCsvII/AAAAAAAAAs0/kpZwbYkx1sY/s1600/78329098.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 183px; height: 121px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-65VKuFM8pWQ/TaMwplCsvII/AAAAAAAAAs0/kpZwbYkx1sY/s400/78329098.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594368653000490114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika sebuah hubungan berakhir haruskah semuanya juga berakhir? Menutup semua akses komunikasi semisal menghapus nomor telpon, PIN BB, ID YM bahkan me-remove pertemanan di jejaring sosial macam facebook atau twitter hanya untuk alasan meminimalisir rasa sakit hati yang mungkin akan muncul kemudian. Perlukah melakukan semua itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja ikatan pernikahan bisa berakhir apalagi hanya hubungan spesial bernama pacaran. Saya meyakini bahwa sesuatu yang memiliki awal akan mengandung akhir, entah itu akhir yang menyenangkan atau akhir yang justru menyedihkan. Dan bukankah ketika kita sudah memutuskan untuk memulai sesuatu kita harus siap dengan sebuah akhir? Jadi kenapa harus terlalu reaktif dengan akhir yang sebetulnya kita tahu mungkin saja menghadang di hadapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tahu kalau tiap orang berlainan. Memiliki cara sendiri-sendiri untuk mengatasi kesakitan yang ditimbulkan oleh sebuah perpisahan. Setiap orang dengan caranya sendiri menyikapi kenyataan bahwa sesuatu yang diperjuangkannya tidak bisa lagi beriringan. Banyak yang marah, banyak juga yang didera sedih berkepanjangan, tapi tidak sedikit juga yang sepertinya santai menghadapi semua itu. Tergantung pada individunya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu waktu saya masih hijau, dan mungkin masih sehijau shreek saya pasti akan mengalami sedih berkepanjangan ketika hubungan yang saya perjuangkan ternyata harus diterminasi. Entah itu berdasarkan kesepakatan bersama atau keputusan sepihak. Yang pasti saya akan bersedih dan merasakan bahwa saya sedang berada di titik kulminasi paling rendah dalam siklus kehidupan saya.  Merasa bahwa itu mungkin akhir dari segala-galanya. Membuat saya hidup dalam kebencian terhadap sang mantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya dengan perasaan sedih saya membereskan barang-barang kenangan pemberian  sang mantan ke dalam satu box kemudian mengembalikan kepadanya. Kalaupun dia tidak mau menerimanya maka saya akan membuang semua benda-benda tersebut. Tidak ingin saya terlingkarkan dengan kenangan  yang akan datang perantaraan barang-barang tersebut. Keberadaannya hanya akan menjadi semacam siksaan yang menempatkan saya pada perasaan marah dan sedih. Menyingkirkan semuanya adalah langkah yang saya pikir paling tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekarang saya tidak lagi hijau. Kehidupan membuat pemikiran saya matang, membuat saya mengerti bahwa siklus itu akan terus dijalani. Bukan hanya siklus ketika saya harus menghadapi perpisahan tapi juga siklus ketika saya mencari pelabuhan untuk bersandar. Pelabuhan yang kemudian saya merasa aman dan nyaman untuk melemparkan jangkar dan mengaitkan hati pada dermaga yang penuh dengan pengharapan. Pelabuhan yang sampai saat ini ternyata belum saya temukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya menginginkan sebuah hubungan yang dewasa. Hubungan yang tidak banyak drama meskipun laga bagai sinema itu diperlukan sesekali untuk mengusir kebosanan. Saya ingin hubungan yang bisa mendewasakan pemikiran dalam menapaki jalan yang terpampang di depan. Jalan yang pastinya tidak gampang karena dua ego yang akan beriringan. Tapi ketika seseorang itu nanti dikirim Tuhan, saya akan mempersiapkan diri untuk menjadi yang terbaik. Buat dia, buat saya, buat kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah itu kamu? Seorang mantan yang tinggal di benua seberang, yang dua tahun lalu sempat singgah sebentar dan kini kembali datang? Saya tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Apisindica – Untuk memahami postingan ini diperlukan membaca sebanyak : 1 kali &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-6902941011082983035?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/6902941011082983035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=6902941011082983035&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/6902941011082983035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/6902941011082983035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/04/saya-tidak-tahu.html' title='Saya Tidak Tahu'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-65VKuFM8pWQ/TaMwplCsvII/AAAAAAAAAs0/kpZwbYkx1sY/s72-c/78329098.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-7531386704998513481</id><published>2011-04-11T07:01:00.000+07:00</published><updated>2011-04-11T07:01:00.763+07:00</updated><title type='text'>30 Anniversary</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-7R26eEoOdEo/TaGry0sjkLI/AAAAAAAAAss/WOtTSZZaMoM/s1600/sb10065491p-001.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 123px; height: 186px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-7R26eEoOdEo/TaGry0sjkLI/AAAAAAAAAss/WOtTSZZaMoM/s400/sb10065491p-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5593941101798199474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selamat Ulang Tahun Pernikahan yang ke-30&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Semoga undakan baru ini bisa membuat kalian terus bertransformasi menjadi sesuatu, dan bersinergi serta mengokohkan janji yang sudah kalian ucapkan ketika pertama kali saling mengikatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga di usia pernikahan yang semakin tua, justru membuat kalian menemukan (lagi) berbagai kebahagiaan yang sebelumnya belum sempat dikecap. Kebahagiaan yang  membuat kalian tidak akan pernah menyesal untuk senantiasa berdampingan. Kebahagiaan yang justru merekatkan ikatan yang sebetulnya telah kuat, dan membawa kalian pada rasa syukur berkepanjangan karena telah mempertahankan sebuah ikatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu ikut mendoakan demi datangnya kebahagiaan-kebahagiaan itu. Tidak lelah juga saya mengucap syukur karena telah menjadi bagian dari perjalanan kalian. Menjadi semacam saksi atas pergerakan kalian mengitari hidup yang seringnya tidak gampang. Saya bangga menjadi bagian itu, saya bangga menjadi sebuah kebahagiaan yang mungkin pernah hadir dalam kehidupan kalian. Saya bangga memiliki kalian selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sampai saat ini saya yang justru belum memberikan kebahagiaan lain yang pastinya kalian harapkan. Saya tahu bukan harta atau kekayaan yang kalian harapkan dari saya. Kalian sudah memiliki itu semua, tapi bentuk kebahagiaan lain yang sampai saat ini belum bisa saya berikan. Bukan saya tidak mau, bukan juga saya tidak berusaha, tapi ternyata sulit sekali mendapatkan kebahagiaan yang kalian harapkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf karena sampai usia pernikahan kalian yang ke-30 ini saya belum juga bisa membahagiakan kalian dalam hal itu. Jangankan cucu, pendamping hidup saja saya belum menemukannya. Saya tahu tanpa diucapkan, kalian mengharapkan itu. Melihat saya berdampingan dengan jodoh saya dan mengikuti jejak kalian menjalani hidup sambil berpegangan dan bukan sendirian. Saya benar-benar minta maaf karena semuanya tidak semudah yang kalian bayangkan. Tapi saya berjanji saya akan berusaha mengabulkannya. Kalau tidak sekarang mungkin nanti, bantulah saya dengan doa seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perlu kalian tahu, bahwa sebenarnya saya juga sudah tidak sabar untuk menunggu hari pernikahan saya sendiri. Saya ingin melihat jodoh seperti apa yang dikirim Tuhan sampai lama begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Apisindica - Untuk memahami postingan ini diperlukan membaca sebanyak 1 kali&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-7531386704998513481?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/7531386704998513481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=7531386704998513481&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/7531386704998513481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/7531386704998513481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/04/30-anniversary.html' title='30 Anniversary'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-7R26eEoOdEo/TaGry0sjkLI/AAAAAAAAAss/WOtTSZZaMoM/s72-c/sb10065491p-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-2418600191259453253</id><published>2011-04-07T08:33:00.000+07:00</published><updated>2011-04-07T08:33:00.613+07:00</updated><title type='text'>Harusnya Kubunuh Saja Dia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-OdDKXZi7C34/TZyIyenuXsI/AAAAAAAAAsk/9MkSWIn7paY/s1600/dv1161056.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 180px; height: 180px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-OdDKXZi7C34/TZyIyenuXsI/AAAAAAAAAsk/9MkSWIn7paY/s400/dv1161056.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592495238081830594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Harusnya kubunuh saja dia. Kubunuh sejak aku sadar bahwa dia mengikuti hidupku selayaknya bayangan yang tak mau enyah. Menguntitku kemanapun aku pergi, bahkan dia bersekolah di tempat aku sekolah. Berteman akrab dengan teman-temanku. Sampai sekarang. Ya, memang harusnya aku membunuhnya saja dari dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, aku merasa sangat nyaman hidup dengannya. Bermain dengannya membuatku selalu nampak ceria walaupun hatiku sedang berdarah-darah. Bersahabat dengannya membuatku banyak disukai oleh orang lain. Dampak dari kedekatanku dengannya tentu saja. Dia juga yang mengajarkan bagaimana selalu bersikap manis di depan orang-orang. Tapi kemudian dia juga yang melatihku bagaimana tidak punya malu. Argh, complicated juga bersahabat dan hidup bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekarang aku baru tahu, ternyata dampak jangka panjang dari berteman dengannya adalah menyulitkan. Menyulitkan aku untuk lepas dari bayang-bayangnya. Dia kadang mendominasi perilakuku sehingga jati diriku yang ingin aku munculkan tercover dengan sempurna. Kalau sudah seperti ini aku kadang hanya bisa berdamai dengannya. Mengikuti jalan alur pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bosan dengan tingkahnya. Aku kadang ingin menjadi diriku sendiri. Makanya sudah sepantasnya aku membunuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu temanku pernah bilang, jangan dibunuh karena suatu waktu pasti aku akan membutuhkan lagi kehadirannya. Menopengiku dengan keluguan yang bisa dimengerti, bisa dianulir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bersahabat karib dengannya selama hampir 30 tahun, memang sangat menyulitkan ketika ingin beranjak meninggalkannya. Dia seperti sudah terikat erat dengan jiwaku. Menyatu dengan ikatan yang lebih dari sebuah persaudaraan. Dia sudah sedemikian menjelma dalam setiap tindak tandukku, menyerobot ketika aku berusah ingin mengenyahkannya sekejap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin lepas dari belenggunya sebentar saja, hanya untuk mengetahui reaksi teman, sahabat dan orang-orang terdekat dengan kepribadianku yang tidak dipengaruhinya. Makanya aku ingin membunuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, harusnya aku bunuh saja dia. Dari dulu. Anak kecil yang ikut tumbuh dalam diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Apisindica - Untuk memahami postingan ini diperlukan membaca sebanyak 1-2 kali&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-2418600191259453253?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/2418600191259453253/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=2418600191259453253&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2418600191259453253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2418600191259453253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/04/harusnya-kubunuh-saja-dia.html' title='Harusnya Kubunuh Saja Dia'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-OdDKXZi7C34/TZyIyenuXsI/AAAAAAAAAsk/9MkSWIn7paY/s72-c/dv1161056.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-1191541931747359664</id><published>2011-04-04T07:54:00.000+07:00</published><updated>2011-04-04T07:54:00.158+07:00</updated><title type='text'>Teman Seperjalanan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Ew5NLSjI6OI/TZXbmVvxAmI/AAAAAAAAAsc/swjdawgLrR4/s1600/200524590-001.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 137px; height: 199px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Ew5NLSjI6OI/TZXbmVvxAmI/AAAAAAAAAsc/swjdawgLrR4/s400/200524590-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5590615964169339490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mau tidak mau, suka tidak suka, kalau kita bepergian agak jauh apalagi perginya sendirian pasti kita akan punya temen seperjalanan. Temen seperjalanan dalam artian orang asing yang duduk di sebelah kita. Mau pergi pake travel, bus umum, kereta api, bahkan pake pesawat terbang sekalipun, kita pasti akan bertemu dengan temen seperjalanan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, temen seperjalanan nggak bisa kita pilih. Masih mending kalau kita datangnya belakangan, kita punya hak prerogative penuh buat milih dengan orang yang kaya gimana kita pengen duduk. Inipun kalau konteksnya dalam bis umum. Tapi kalau duduknya sudah ditentukan berdasarkan nomer di tiket, berarti tinggal nunggu nasib aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan nomer satu kalau kita bepergian pake bis umum dan kita punya hak untuk milih dengan siapa kita mau duduk adalah don’t judge a book by it’s cover. Jangan tertipu penampilan. Gaya oke, tampang menjanjikan tapi pas diajak ngobrol tulalit dan garing bisa bikin kita mati gaya. Apalagi kalau jarak tempuhnya jauh, derita lo bakal panjang. Kalo dah gini mending pura-pura tidur aja (meski nggak ngantuk) atau sibuk sendiri dengerin iPod (meski iPod lo abis batere). Pretending is better than garing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo temen seperjalanan lo udah diatur pake nomor di tiket, peraturannya laen. Lo boleh memulai pembicaraan, tapi inget jangan terlalu bersemangat. Bisa-bisa temen seperjalanan lo malah ilfil dan berusaha ngindarin lo dengan sok sibuk sendiri. Biasa-biasa aja. Lempar topik yang sederhana, jangan yang berat-berat, yang bisa ngasih lo gambaran dia orangnya kayak apa. Syukur-syukur kalo asik, tapi kalo garing……kembali ke peraturan awal, sok sibuk sendiri. Kalo nggak bisa, tinggalin tidur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman gue, maka temen seperjalanan itu bisa dikelompokan menjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Temen seperjalanan yang pendiam&lt;/span&gt;. Dari mulai duduk aja dia udah sok pura-pura tidur. Itu tandanya dia ngasih warn buat “jangan ganggu gue!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Temen seperjalanan yang ramah&lt;/span&gt;. Selalu tersenyum dan bertanya ini itu atau menjawab pertanyaan kita dengan sopan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Temen seperjalanan yang suka nawarin cemilan&lt;/span&gt;. Semua yang dia makan atau dia minum selalu ditawarin ke kita. Kalo mau, lo boleh ambil. Tapi kalo kata gue mendingan jangan. Bukannya suudhon, tapi kalo besoknya lo ditemukan pingsan tak sadarkan diri sementara barang lo raib semua kan lebih berabe. Mending ati-ati timbang kejadian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Temen seperjalanan yang egois&lt;/span&gt;. Dari mulai ngobrol, yang diomongin cuman dia dan kehidupannya. Waktu lo nguap pura-pura ngantuk, dia malah nawarin permen kopi. Biar nggak ngantuk katanya. Hu-uh. Bikin keki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Temen seperjalanan yang suka pamer&lt;/span&gt;. Symptomya jelas. Omongannya selalu tinggi, bahkan nggak jarang suka nepuk-nepuk dada sendiri. Orang kayak begini biasanya juga nggak mau disela omongannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Temen seperjalanan yang tulalit&lt;/span&gt;. Kita ngomong kemana, dia nanggepin kemana. Kalo ada yang begini, langsung minum antimo biar ngantuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Temen seperjalanan yang sok asik&lt;/span&gt;. Laganya kayak yang gape akan semua hal, tapi lama kelamaan kok malah ketahuan kalo wawasannya nggak luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Temen seperjalanan yang asik beneran&lt;/span&gt;. Yang beginian bisa dibawa enjoy sepanjang perjalanan. Nyambung terus, even for some hard topics. Berasa surga deh kalo uadah nemu temen seperjalanan kayak gini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Temen seperjalanan yang minta digampar&lt;/span&gt;. Nanya-nanya mulu, bahkan untuk masalah-masalah pribadi yang nggak mungkin juga gue umbar sembarangan. Ngejar-ngejar terus sampe dia ngedapetin jawaban yang dia harapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Temen seperjalanan yang punya maksud terselubung&lt;/span&gt;. Abis asik ngobrol ngalor ngidul, eh ujung-ujungnya nawarin produk MLM nya dia. Mana maksa mau maen ke rumah buat ngenalin produknya. Igh….dasar mental MLM. Jualan aja pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita boleh mengharapkan temen seperjalanan kayak gimana, tapi alangkah lebih baiknya kalo kita menset diri kita biar jadi temen seperjalanan yang menyenangkan buat orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok-besok gue mau jadi temen seperjalanan yang lebih tau diri ah………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Apisindica - Untuk memahami postingan ini diperlukan membaca sebanyak : 1 kali&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-1191541931747359664?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/1191541931747359664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=1191541931747359664&amp;isPopup=true' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1191541931747359664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/1191541931747359664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/04/teman-seperjalanan.html' title='Teman Seperjalanan'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Ew5NLSjI6OI/TZXbmVvxAmI/AAAAAAAAAsc/swjdawgLrR4/s72-c/200524590-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-8379080995219127056</id><published>2011-04-01T08:39:00.000+07:00</published><updated>2011-04-01T08:39:00.241+07:00</updated><title type='text'>Saya Takut</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-rqJT-0e8K-A/TYwOiHV_SdI/AAAAAAAAAsM/xu1WQS6qjjA/s1600/103576693.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 222px; height: 149px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-rqJT-0e8K-A/TYwOiHV_SdI/AAAAAAAAAsM/xu1WQS6qjjA/s400/103576693.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587857216909560274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Gemetar saya membuka surat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai ketakutan hadir bergantian ditayangkan dalam bingkai ketidakpastian. Saya mencoba menguatkan hati saya, mencoba siap dengan segala kemungkinan. Yang terburuk sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baris demi baris saya lewati dengan detak jantung yang berdegup di luar ritme kewajaran. Belum sampai di akhir surat mata saya terasa kabur. Air mata yang mengambang membuat penglihatan saya seperti tertutup embun. Saya mendadak lemas, tulang rasanya dilolosi dari tubuh saya sendiri. Tidak lagi ada kekuatan untuk sekedar menopang bobot tubuh,  Saya terduduk lemas di bangku tunggu rumah sakit tadi malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya saya siap. Seharusnya saya sudah bisa menebak hasil diagnosis yang akan dokter berikan. Tapi saya salah duga, saya tidak sekuat apa yang saya bayangkan. Vonis itu tetap membuat saya seperti dihadapkan pada kiamat kecil. Bagaimanapun saya tidak akan kuat untuk menerima kenyataan bahwa penyakit itu memang benar bersarang di badan saya. Ikut tumbuh dengan leluasa tanpa bisa dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin memang saya yang telat memeriksakan. Mentolelir semua tanda keberadaannya hanya sebagai penyakit biasa. Tidak pernah berpikir lebih lanjut bahwa itu bisa saja merupakan symptom dari penyakit yang mematikan. Saya akui saya salah. Terlambat menyadari, terlambat memeriksakan, dan terlambat melakukan serangkaian tes untuk membuktikan bahwa sebenarnya itu hanyalah penyakit biasa. Saya salah prediksi, semakin saya biarkan ternyata penyakit itu justru dengan gegap gempita mensabotase tubuh saya. Membuatnya kehilangan kendali atas kekuatannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat mati, dan saya belum siap untuk itu. Saya belum membahagiakan kedua orang tua saya. Saya belum memberikan kesempatan untuk jodoh saya bertemu dengan pelabuhan terakhirnya, saya. Semakin mengingat itu, semakin menyesakan beban yang seperti tertanam di rongga dada saya yang sempit. Sesak. Saya juga ingat dosa, sekian lama saya hidup pasti dosa saya tidak lagi sedikit. Bagaimana saya bisa menguranginya kalau ternyata waktu yang tersisa tidak lagi lama. Saya takut mati. Saya benar-benar takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sel-sel tidak wajar itu entah bagaimana bisa sampai hidup menumpang di otak saya. Tumbuh dengan subur kemudian memblokade fungsi otak itu sendiri dengan membuat saya sering mengalami &lt;span style="font-style: italic;"&gt;black out&lt;/span&gt;. Harusnya dari sana saya menyadari ada yang tidak beres dengan kepala saya, tapi seringkali saya mentolelirnya. Saya pikir itu hanyalah efek dari rutinitas saya yang akhir-akhir ini diluar batas kemampuan. Efek kelelahan luar biasa akibat tubuh dijejali beban diluar kemampuannya. Ternyata saya salah. Lagi-lagi saya salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi minggu lalu saya menyerah. Saya menyeret tubuh saya yang sudah kehilangan banyak fungsi ke rumah sakit. Malam sebelunya saya mengalami kejang hebat kemudian sakit kepala dan mual yang disertai muntah yang tidak mau berhenti. Saya tahu ada yang tidak beres, makanya dari kamar kos saya memaksakan diri ke rumah sakit menggunakan taksi. Saya memeriksakan diri ke dokter yang kemudian menyarankan saya untuk melakukan serangkaian tes laboratorium. Dokter memberi diagnosis awal yang menakutkan, tapi untuk menyakinkan sebaiknya saya melakukan tes laboratorium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil tesnya baru keluar hari ini. Diagnosis dokter dan ketakutan saya terbukuti. Seperti jalan yang terhalang kemudian mendadak terang. Sejelas saya melihat titik akhir di ujung pandangan, sebuah kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum sampai akhir membaca surat hasil analisa laboratorium itu. Belum sampai akhir, saya sudah mengulangnya lagi dari awal. Dengan demikian saya berharap bahwa ada keajaiban  yang akan mengubah akhir dari surat tersebut. Tidak sanggup saya meneruskan sampai akhir, saya ketakutan. Baru sampai kalimat kanker stadium 4, saya mengulanginya lagi dari awal. Begitu terus sampai beberapa kali. Saya benar-benar takut mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada kekuatan yang menggerakan yang entah datang darimana. Kekuatan itu memaksa mata saya yang kabur untuk terus membacanya sampai akhir. Menamatkan ketakutan saya, menyelesaikan sebuah kekhawatiran yang tidak lagi tidak beralasan. Saya meneruskan membaca kalimat setelah kanker stadium 4. Kalimat yang kemudian membuat saya sedikit lega, karena di akhir kalimat selanjutnya saya membaca tulisan : Maaf, anda sedang saya kerjai karena ini April Mop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Apisindica – Untuk memahami postingan idi diperlukan membaca sebanyak : 1 kali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Note: setelah menulis ini saya mengetok-ngetok kepala dan meja secara bergantian. Knock on wood, knock on wood. Amit-amit, amit-amit.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-8379080995219127056?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/8379080995219127056/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=8379080995219127056&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8379080995219127056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/8379080995219127056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/04/saya-takut.html' title='Saya Takut'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-rqJT-0e8K-A/TYwOiHV_SdI/AAAAAAAAAsM/xu1WQS6qjjA/s72-c/103576693.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-2993016281515861280</id><published>2011-03-28T08:29:00.000+07:00</published><updated>2011-03-28T08:29:00.765+07:00</updated><title type='text'>Serendipity</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ZUIFqjVNPGc/TY4jTQhZgiI/AAAAAAAAAsU/cDH6Uy_6t80/s1600/103115929.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 212px; height: 103px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ZUIFqjVNPGc/TY4jTQhZgiI/AAAAAAAAAsU/cDH6Uy_6t80/s400/103115929.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5588443001372901922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya tidak tahu apakah kemarin itu hanyalah sebuah kebetulan atau justru takdir Tuhan. Sebuah rencana yang mungkin sudah Tuhan reka untuk saya alami sejak lama. Rencana yang membuat saya mau tidak mau mengingat lagi masa-masa dulu. Saat saya baru pertama kali mengenal apa yang disebut cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehlah cinta pertama itu disebut cinta monyet, tapi bagi saya tetap memberikan kesan yang sebetulnya tidak mudah dilupakan. Pengalaman pertama saya bagaimana menata hati, mengenal cemburu, belajar memaafkan dan tidak egois. Cinta monyet itu jugalah yang mengenalkan saya tentang apa itu patah hati kemudian berdamai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenalnya di kampus. Pertama kali bertemu di parkiran dan setelah itu seringnya juga bertemu disana. Awalnya tidak ada yang istimewa, tapi setelah proses pendekatan yang tidak sebentar saya melihat kualitas lain di dirinya. Kualitas yang pada akhirnya membuat saya benar-benar jatuh cinta kepadanya. Di balik kesederhanaannya saya menemukan apa yang mungkin selama ini saya cari. Sesuatu yang menamatkan rasa penasaran saya tentang apa itu cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menjalani hubungan yang cukup lama untuk ukuran saya yang egois dan seringnya keras kepala. Dia dengan kedewasaannya mampu meredam letupan-letupan emosi yang sering saya pertontonkan. Dengan sabar dia mendampingi  kekeraskepalaan saya dengan sering mengalah dan menekan egonya sendiri. Itu semakin membuat saya jatuh cinta kepadanya. Hal itu jugalah yang membuat saya lambat laun berubah karena saya tidak mau kehilangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sesuatu yang berawal selalu mengandung akhir. Kami dihadapkan pada situasi yang mengharuskan kami memilih perpisahan. Bukan karena kami tidak lagi saling mencintai, bukan juga karena ada orang lain yang mengisi hati salah satu dari kami. Perpisahan harus dijalani karena dia memutuskan untuk kembali ke kota asalnya. Setelah lulus dia memilih untuk membangun kota kelahirannya. Sebuah idealisme yang juga membuat saya jatuh cinta setengah mati kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara kami waktu itu tidak ada yang percaya dengan cinta yang berjarak. Naif rasanya mempertahankan cinta berlabel jarak jauh pada usia kami yang masih terbilang muda. Kami memilih perpisahan sebagai jalan keluar. Dan pada perpisahan itu saya mengantarnya ke bandara, hari terakhir saya melihatnya. Sampai kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disangka kemarin kami bertemu dalam acara yang tidak pernah saya bayangkan akan mempertemukan lagi saya dengan dia. Sebuah seminar tentang minyak bumi. Dan secara kebetulan kami berdua menjadi pembicara dalam konteks yang berbeda. Dia berbicara mengenai teknik eksplorasi baru minyak bumi di sumur dangkal, sedangkan saya berbicara mengenai MEOR, perananan mikroba dalam meningkatkan perolehan minyak di dalam reservoar. Kebetulan yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat dia sekarang sudah jauh lebih dewasa. Lebih matang dari saat kami berhubungan dulu. Waktu sepertinya telah menempanya dan membuat dia menjadi sosok yang tidak lagi sama. Tapi tidak ada yang berubah dari raut wajahnya, senyum itu masih tetap sama. Senyum yang pernah mengantarkan saya menaiki podium ketika saya membacakan pidato kelulusan saya dulu. Senyum yang mengembang ketika kami menyudahi sesi berpelukan di bandara di hari perpisahan itu. Senyum yang menguatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya melihat ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa lepas dari pandangan saya. Sesuatu yang membuat saya ikut bahagia untuknya. Tidak ada kesedihan, tidak ada perasaan ditinggalkan. Yang ada hanyalah perasaan gembira karena akhirnya dia menemukan jalannya untuk pulang. Jalan yang mungkin dulu sempat dia ragukan keberadaannya ketika bersama dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa melepaskan pandangan dari benda itu. Sebuah cincin kawin yang melingkar di jari manisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Apisindica - Untuk memahami postingan ini diperlukan membaca sebanyak : 1 kali&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/651824519443623913-2993016281515861280?l=tamanaksara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tamanaksara.blogspot.com/feeds/2993016281515861280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=651824519443623913&amp;postID=2993016281515861280&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2993016281515861280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/651824519443623913/posts/default/2993016281515861280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tamanaksara.blogspot.com/2011/03/serendipity.html' title='Serendipity'/><author><name>Apisindica</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18227048660343781959</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_u0SrLp1RWgQ/ScPYA-linBI/AAAAAAAAAI8/g6fGDPyBn9M/S220/apisindica.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ZUIFqjVNPGc/TY4jTQhZgiI/AAAAAAAAAsU/cDH6Uy_6t80/s72-c/103115929.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-651824519443623913.post-7509156791064506073</id><published>2011-03-24T10:42:00.004+07:00</published><updated>2011-03-24T10:50:53.437+07:00</updated><title type='text'>Anonim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-pMXm9347pLc/TYq_LZPtuoI/AAAAAAAAAr0/sObAMlG39Eg/s1600/dv365034.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 213px; height: 158px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-pMXm9347pLc/TYq_LZPtuoI/AAAAAAAAAr0/sObAMlG39Eg/s400/dv365034.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587488490182785666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pengalaman. Saya tidak mau lagi punya pacar (nanti) yang tahu kalau saya suka nulis di blog ini. Bukan apa-apa, kadang mereka justru merepotkan dengan cara mengekang kreativitas saya dalam menulis. Sebetulnya mereka tidak pernah bilang saya tidak boleh menulis ini dan itu, tapi saya merasa punya beban mental untuk tidak menulis sesuatu yang akan memperunyam hubungan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, sering kali saya menulis apa yang ingin saya tulis. Tentang keseharian saya, tentang saya bertemu dengan teman baru yang ternyata lucuu. Tentang mantan-mantan saya yang secara tidak sengaja bertemu atau terang-terangan mengajak saya bertemu (lagi). Saya ingin menulis semua itu tanpa beban, tanpa merasa dimata-matai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berniat untuk tidak jujur karena saya sudah punya komitmen. Pantang bagi saya untuk mengingkari komitmen yang saya sudah sepakati hanya karena saya bertemu dengan orang baru yang lucu atau mantan yang masih mengganggu. Kalaupun akhirnya saya menemui mereka, tidak akan terjadi apa-apa karena pasti saya akan bilang kalau saya sudah termiliki. Dan bukan alasan karena punya pacar kemudian saya tidak boleh bersosialisasi dan menuliskannya di blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sering saya mendapat pertanyaan “eh itu siapa yang kamu tulis di blog?” dari mantan-mantan yang kadang masih kepo. Atau “aku kenal nggak orang yang kamu temui kemarin?” entah terlontar dari sang mantan atau justru dari seseorang yang masih berstatus pasar saya. Urusan amat mereka. Apa kepentingannya tahu siapa yang saya tulis, kenal atau tidak mereka dengan siapa yang saya umbar lewat tulisan. Kalau terhadap pacar saya selalu cerita semuanya, tapi tidak saya bumbui seperti yang saya tulis panjang lebar dalam tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang paling mengganggu adalah ketika sang mantan menggugat dengan mengirimkan komentar dengan status anonim. Kadang komentarnya mempertanyakan, kadang menghakimi, meskipun seringnya hanya menggoda. Tapi itu benar-benar mengganggu saya. Tidak perlulah ikut campur (lagi) dengan setiap detail hidup yang sekarang sedang saya jalani. Hidup saya biarkan saya yang yang menentukan mau diarahkan kemana. Kalaupun menurut kalian saya terlalu bitchy, terlalu naif, atau mungkin terlalu munafik, biarkan itu menjadi urusan saya sendiri. Biar saya yang mempertanggungjawabkannya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis untuk saya adalah arena kebebasan. Saya memiliki kemutlakan perasaan untuk mengumbar apa yang saya ingin ungkapkan perantaraan aksara dan kata. Dengan hanya membaca tidak ada kemudian hak kalian untuk menggugat, karena sebetulnya kalian juga tidak akan pernah tahu apakah yang saya tuliskan itu benar terjadi atau hasil rekaan saya. Hasil membumbui kejadian singkat yang sebetulnya tidak menimbulkan kesan apa-apa. Saya hanya ingin menulis. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, kepada mantan-mantan yang masih kepo dengan hidup saya, yang suka mengintip kegiatan saya melalui apa yang saya tulis disini. Please, jangan ganggu saya (lagi)! Biarkan saya tetap menjadi saya yang dulu, yang sudah menulis sebelum mengenal kalian. Yang suka mengumbar kejadian dalam bentuk postingan-postingan. Yang suka mendokumentasikan fragmen-fragmen hidup dalam narasi terbumbui. Biarkan seperti itu, saya mohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, dengan menuliskan anonim bukan berarti saya tidak tahu itu siapa. Saya mengenal dengan cukup rinci seseorang yang pernah dekat dengan saya.
